Saturday, February 18, 2012

A Little Secret




Tak seperti biasanya, hari ini Utari masih bermalas-malasan di kamarnya. Tubuhnya masih bersembunyi di balik selimut, namun matanya telah terjaga sejak subuh tadi. Ah, mimpinya semalam membuatnya semakin merasa aneh. Ya, ada sesuatu yang ia pikirkan. Tapi, Utari tak tahu harus menceritakannya kepada siapa.

Tak lama kemudian, ia duduk di tepi pembaringannya. Dibolak-baliknya buku yang belum juga habis dibacanya. Ia masih ribut sendiri dengan pikirannya yang terus berkelana. Tetiba handphonenya berdering. Layarnya berkedip-kedip. Huruf-huruf kecil itu tersusun sempurna membentuk sebuah nama. 

"Pagi, ada apa Aryo?" segera Utari menjawab telepon.
"Kamu gak kuliah Tar?" teriak suara di seberang. Berisik sekali, sepertinya si empunya suara sedang berada di jalan.
"Kuliah, kenapa Yo?" sambung Utari cepat. 
"Aku jemput kamu ya?" sekali lagi Aryo mengeraskan suaranya.
"Gak usah, aku bisa berangkat sendiri, lagian aku belum siap-siap," ujar Utari sedikit ketus. 
Aryo pun tak bisa memaksa. Ia menyudahi pembicaraannya, dan menutup telepon.

Uuuhh... Utari makin bingung dengan telepon dari Aryo. Apalagi sih maunya cowok ini, pikirnya kesal. Dengan segera Utari beranjak bangun, berseiap-siap berangkat ke kampus. Mending buruan berangkat deh, daripada kedulua di jemput si Aryo, batin Utari sembari melenggang ke kamar mandi.

***

Baru saja beberapa langkah Utari melangkahkan kakinya di pelataran kampus. Seseorang berteriak memanggilnya.
"Utari..."
Ah.. si Aryo lagi. Utari hanya tersenyum.
"Tadi aku ke rumah Tar, kamunya udah berangkat." Aryo berusaha membuka percakapan
"Kan udah aku bilang, aku berangkat sendiri."
"Tapi Tar, aku mau ngomong sesuatu," perkataan Aryo kali ini menghentikan langkah Utari menuju kelasnya.
Utari melirik jam tangannya. Kuliah akan dimulai sepuluh menit lagi. Ia tak punya waktu untuk bercakap-cakap lebih lama dengan Aryo.
"Ehhmm, tapi maaf Yo, aku ada kuliah statistik. Nanti siang aja ya, kita ketemunya," ujar Utari tegas. Lalu melangkah meninggalkan Aryo sendirian.
***

Siangnya, Aryo sengaja datang ke ruang kuliah Utari. Utari tampak masih sibuk dengan laptopnya. Aryo pun berjalan mendekat.

"Kamu masih sibuk?" sapa Aryo dengan tiba-tiba duduk di samping Utari. 
Utari terkejut, "Eh, kamu Yo.. ada apa?" Utari balik bertanya. Utari menutup layar laptopnya yang masih menyala.
"Ehmm... kita makan dulu yuk Tar, kan udah waktunya istirahat," ajak Aryo.
Utari masih diam. 

Dari sudut ruangan, tampak Adelia melambaikan tangannya pada Utari. "Tari, sini deh, soal nomer lima tadi gimana deh caranya?" tanya Adelia.
"Bentar Del, aku liat punya aku sebentar," jawab Utari sambil membuka kembali laptopnya. Belum sempat ia memerhatikan soal yang ditanyakan Adelia, Adelia sudah menyeret Utari untuk datang ke bangkunya. "Ayoo...kamu ke tempat aku aja..." rajuk Adelia.

Sementara Utari pergi ke meja Adelia, ada yang menarik perhatian Aryo dari laptop Utari. Aryo mendekat ke laptop itu, di layarnya, menghampar satu tulisan di blog milik Utari. Perlahan, dibacanya kalimat demi kalimat yang tertulis di blog itu. Ada keringat dingin yang mengucur makin deras dari kening Aryo. Aryo pun terpaku dengan kalimat "Bukan karena aku gak suka sama dia, tapi aku tau betul, sahabat dekatku, suka sama cowok itu. Cowok yang juga dekat dengan aku."

Belum selesai Aryo membaca serentetan tulisan-tulisan itu Utari berjalan mendekat ke tempat duduknya semula. Aryo terburu-buru membetulkan letak laptop Utari seperti semula.

“Kamu kenapa Yo? Kok kaget gitu?" ujar Utari sembari duduk kembali di tempatnya.
“Ah.. nggak.. gak apa-apa Tar, yuk temenin aku makan, sekalian aku pengen ngomong sesuatu sama kamu."
"Okelah, kita ke kantin biasanya aja ya," Utari kali ini menyerah dan mengikuti kemauan Aryo.

***


"Si Adel titip salam buat kamu. Tadi dia mau ikut makan sekalian tapi harus nemuin dosen pembimbingnya," Utari membuka percakapan sambil menikmati semangkuk mi ayam didepannya.


Aryo terdiam sesaat. Ia teringat tentang tulisan yang ia baca tadi.

Aryo menghela nafas panjang. Kalimat yang sudah disususnnya sejak tadi malam dan ingin ia ungkap kepada Utari, sekarang berantakan. Jujur saja, Aryo tak pernah bayangkan bakal seperti ini kejadiannya. Aryo terdiam. Bungkam, ia hanya mampu menatap Utari yang dengan lahapnya menikmati menu kesukaannya. Sedangkan dirinya, membiarkan semangkuk baksonya menguap. Menguap bersama harap yang tetiba ia hapus sendiri. Mungkin.

"Tar, kamu sayang sama Adelia?" tanya Aryo tiba-tiba. 
"Yaiyalah, kenapa musti tanya," jawab Utari ketus.
Aryo kembali terdiam. Ia mencoba menyesap es capucino yang dipesannya. Tetap saja, tak menyusut keraguannya untuk berkata-kata.

"Tar...." suara Aryo sedikit parau.
"Hmm..." Utari tak serius menimpali. Ia sibuk menambahkan saus sambal ke dalam mangkuk mi ayamnya.
Utari berusaha menyembunyikan kebingungannya. Ia berusaha menebak-nebak apa yang akan dikatakan Aryo padanya. 
"Haahh.. pedes banget nih ternyata," ceplos Utari mengurangi ketegangan. Padahal, itu tak terlalu pedas, ia hanya ingin menyamarkan keringat yang mulai mengucur dari keningnya.

Aryo mulai menangkap gelagat aneh Utari. Ia mulai paham, Utari pun bingung menghadapi dirinya yang tak mampu mengucap apa-apa. 

"Tar, maaf, selama ini bukan tak ada alasan kenapa aku selalu memperhatikan kamu. Aku......." Aryo berucap terbata-bata.
"Taaarraaa... haaaaaiiiii... kalian masih asik aja disini... gabung dong...." Belum selesai Aryo mengungkap kalimatnya, tetiba Adelia datang dengan semangkuk bakso dan langsung duduk di sebelah Aryo.
"Hai... ayok aja... kita belum kelar koook," sambut Utari sambil nyengir.
"O iya Yo.. ntar malem ada acara nggak?" Adel membuka pembicaraan diantara mereka bertiga
Dengan spontan Aryo dan Utari saling melemparkan pandangan.
"ya maksudku mau refreshing, jalan-jalan gitu Yo" lanjut Adel.
"Hmmm... lain kali aja ya kita jalan-jalan bertiga. Kalau malam ini, aku belum bisa..." Aryo memberikan jawaban seraya tersenyum pada Adelia.
Adelia memasang tampang cemberut.
"Tenang aja, kamu nggak usah sedih gitu, lain kali Aryo pasti mau kok jalan bareng kamu..." hibur Utari pada sahabatnya itu.

Aryo dan Utari kembali saling berpandangan. Mereka sama-sama tak mampu berkata-kata. Entah mana yang harus dipertahankan. Untuk saat ini, Utari memilih diam.

Sejak siang itu, Aryo mulai mengurangi intensitas pertemuan dengan Utari maupun Adelia. Aryo memilih menyimpan perasaannya dan entah kapan ia kan meluruhkannya.




Tulisan kolaborasi @wulanparker dan @sawitrii21

Friday, February 17, 2012

"Double R"




“Pagi!!!”
Rara berteriak sambil membuka jendela kamarnya. Pagi itu matahari bersinar cukup cerah diselingi suara burung yang berkicau ramai. Rara membuka buku catatan yang tergeletak di meja belajar. Hari ini dia harus menemui dosen pembimbingnya untuk konsultasi tugas akhir. Dan, hari ini juga ulang tahun sahabatnya, Risa. Rara meringis. Ia belum menyiapkan hadiah apapun.

Sambil mengemasi buku serta draft tugas akhir yang telah dibendel rapi, Rara mencoba menyusun kejutan untuk Risa. Kemungkinan besar, Rara baru bisa menemui Risa nanti malam. Semoga saja tak ada urusan mendadak. Ouucchh... kepala Rara terasa sangat penuh.

***


"Oke, silakan revisi untuk BAB IV nya, saya tunggu besok jam sembilan pagi," kata Pak Basuki, dosen pembimbing Rara setelah memriksa draft Rara.

Rara hanya bisa menelan ludah. Tak mungkin ia menolaknya. Untuk bisa bertemu Pak Basuki saja, Rara sudah harus menunggu berminggu-minggu. 

"Siap Pak, besok pagi saya konsultasikan lagi hasil revisinya," ucap Rara mantap, meski bayangannya masih saja mengarah pada Risa, ya, sahabat dekatnya yang hari ini berulang tahun.

Kalau besok pagi revisi harus jadi, artinya malam ini aku harus lembur. Siang ini aku masih ada kuliah 3 SKS. Ah, lalu kapan aku bertemu Risa. Rara bermain dengan pikirannya sendiri.

Pikirannya sekarang bercabang. Ia harus menyelesaikan revisi tugas akhir malam ini dan ia juga harus menemui Risa. Tapi Rara belum menyiapkan apapun. Rara mengacak-acak rambutnya dengan gusar. Hingga tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang.

“Risa?” ucap Rara setengah teriak setelah menoleh pada seorang yang menepuk bahunya.

"Hai.. kamu kok kaget gitu?" sapa Risa dengan wajah cerianya.

"Ya abis, kamu tiba-tiba muncul gitu sik, gak pake suara," Rara berusaha menyembunyikan kegelisahannya sambil nyengir.

"Hmm... mau makan siang bareng gak? Kamu kayaknya lagi capek banget gitu deh," ajak Risa.

"Boleh, yuk, kita ke kantin FE aja, banyak pilihannya," Rara setuju.

Meski ngobrol kesana kemari, Rara masih bingung harus mengatakan apa pada Risa. Masa iya Rara hanya memberi ucapan selamat. Padahal tahun-tahun sebelumnya, Rara selalu punya kejutan buat Risa. Bukan apa-apa sih, Risa adalah sahabat Rara sejak kecil. Bahkan keluarga mereka juga sudah saling kenal. Tak jarang Risa memberikan bantuan untuk Rara. Termasuk saat ia kesulitan mencari responden untuk tugas akhirnya. Dan, masa iya, sekarang di hari bahagia Risa, Rara tak memberikan kado istimewa buat Risa.

“Kamu kenapa? Wajahmu kusut banget,” ucap Risa.

“Gak apa-apa kok,” Rara masih mengelak.

“Gak pengen mengatakan sesuatu buat aku?” rajuk Risa.

“Eh,” Rara menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Dia bahkan belum mengucapakan selamat ulang tahun. Tapi… Rara semakin pusing sendiri.
"Rara, kamu kenapa? Kamu...kamu lupa ya sama hari ini?" tanya Risa dengan nada sedih.

"Oh, iya... Selamat ulang tahun ya Risa sayang... semoga impian kamu segera terwujud..." ucap Rara dengan gembira sambil memeluk sahabatnya itu.
Tapi Risa diam, ia tak menjawab apa-apa. Dia bingung, kenapa Rara tak seperti biasanya, yang selalu penuh kejutan untuknya. Apakah Rara tidak lagi menganggap dirinya sebagai sahabat, batin Risa. Belakangan ini Rara memang lebih banyak sibuk sendiri. Mereka sudah jarang hangout bareng.

Rara pun merasa bersalah ketika melihat ekspreasi wajah Risa. "Hmm... Risa... kamu jangan sedih... aku inget kok kalau hari ini kamu ulang tahun. Tapi maaf, aku belum punya kado buat kamu," Rara menjelaskan sambil menatap Risa yang masih tampak sedih.

Risa masih diam, dan merasa Rara tak peduli padanya.

"Ehmm... maaf ya Risa jangan sedih gitu dong... aku punya kejutan kok buat kamu... mau denger gak?" ujar Risa berusaha menghibur Risa.
Risa mendongakkan kepalanya. Ia mulai melukis sedikit senyum.
"Risa, minggu depan aku ujian. Tugas akhirku sudah disetujui Pak Basuki. Tinggal sedikit revisi, dan besok harus aku kumpulkan. Jadi kita gak sia-sia memperjuangkan responden-responden itu," cerita Rara semangat.

“Benarkah?” tanya Risa terkejut. Tawanya mulai renyah kembali. Mereka sama-sama tahu bagaimana susahnya mendapatkan persetujuan sidang dari dosen yang satu itu.

Risa memeluk sahabatnya itu. Sekarang, ia pun tahu apa yang mengganggu pikiran Rara belakangan ini. Ya, segala yang yang menyita waktu Rara. Risa sedikit lega. Risa khawatir kehilangan keceriaan yang sudah lama ia perjuangakan bersama Rara. Persahabatan yang bukan seumur jagung. Bahkan, orang-orang di sekeliling mereka pun, memberikan julukan "Double R" pada Rara dan Risa.

“Tapi mana hadiah untukku?” tanya Risa sambil pura-pura memasang wajah cemberut.
"Besok ya, kalau revisi aku udah bereeess....... ehmmm atau setelah ujian aja? hahaha..." goda Rara sambil kembali konsentrasi pada semangkuk mie ayam jamur yang sudah nyaris menguap. 

"Hahahahaha... kenapa gak sekalian aja tahun depan, dirapel..." timpal Risa.

Rara menghentikan suapan mie ayam ke dalam mulutnya. Ia merangkulkan tangannya di pundak Risa dan Risa membalasnya.

“Tenang aja, Ra, langgengnya persahabatan kita udah jadi hadiahnya kok,” lanjut Risa seraya menyisip senyum.

Rara menganggukkan kepalanya tanda setuju. Usai menghabiskan menu favorit masing-masing, mereka berjalan, menjauh dari kantin. Tapi tidak untuk persahabatan mereka. Mereka akan selalu saling dekat. Persahabatan yang penuh pemahaman satu sama lain. Termasuk saling toleransi atas kekurangan masing-masing dan memaafkan semua kesalahan. 

A friend in need is a friend indeed





Tulisan kolaborasi @violetkecil dan @wulanparker

Thursday, February 16, 2012

Kereta Impian




Masih pagi, Lintang telah mengemasi buku dan beberapa helai pakaian yang sejak semalam telah ia persiapkan. Ya, kali ini Lintang akan mengunjungi Jogja, entahlah, di usianya yang ke-dua puluh, Lintang sangat penasaran dengan Benteng Vredeburg yang terletak di pusat kota kesultanan ini. Gadis tomboy yang tak pernah takut pergi sendirian ini, memang sangat menyukai sejarah, dan penuh rasa penasaran untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah, di tempat yang jauh sekalipun.

Dengan ransel di punggung, sepatu kets, serta syal yang mengalung di leher, Lintang siap menempuh perjalanan menyenangkan, Jakarta-Yogyakarta. 

"Mam, Lintang berangkat dulu yah... hari minggu, Lintang udah balik ke Jakarta lagi kok," pamit Lintang kepada Mama, seraya mencium punggung tangan Mama dan mengecup pipi Mama, dengan manja.

"Hati-hati, nggak usah mampir-mampir ke tempat yang aneh-aneh loh ya..." pesan Mama.

"Ah, Kak Lintang pergi-pergi mulu... belajar aja di rumah. Biar cumlaude kayak Kak Yudhis tuh..." sambar Galuh, si bungsu sambil cengar-cengir.

Lintang hanya diam. Ya, dia memang berbeda dari Kak Yudhis, yang kuliah arsitek dan selalu menjadi mahasiswa teladan. Bahkan, si bungsu, Galuh yang centil itu pun, sudah punya banyak piala atas prestasinya di setiap perlombaan karya ilmiah yang ia ikuti sejak duduk di bangku SMP.

Lintang tersenyum, "Nanti, kamu pun akan mengerti dengan sesuatu yang menjadi pilihanku, Galuh sayang," seraya mengedipkan mata pada adik tersayangnya itu.

Lintang sudah berada di dalam kereta, yang siap mengantarnya menuju Jogja. Kembali dilihatnya list tulisan tentang bangunan sejarah yang harus ia persiapkan. Ya, untuk naskah sebuah buku. Sebuah buku yang entah kapan mampu ia tunjukkan kepada dunia. Lintang hanya berusaha untuk melangkah, pada tujuan yang sudah menjadi impiannya. Ya, seperti kereta yang berjalan tepat di atas rel. Kali ini, Lintang telah memilih rel-nya sendiri, menuju ke tempat yang ia impikan.

Jogja, sebuah tempat yang sedang menarik perhatiannya. Kota tua yang masih kental dengan sejarah dan budaya, mungkin karena kota itu dekat dengan kesultanan. Tapi suasana disanalah yang ia suka, cukup mendukungnya untuk fokus dengan apa yang dia kerjakan sekarang, menulis naskah bukunya. Ia harap bisa juga ia temukan inspirasi baru di sana. 

Di dalam kereta, ia duduk di samping seorang pemuda dengan ransel besar dan beberapa peralatan kamera. Diliriknya sebentar. Lintang kembali menatap keluar jendela, sambil membayangkan, betapa menyenangkannya Jogja, dan museum itu, Vredeburg.

"Hai, mau ke Jogja?" sapa pemuda itu tiba-tiba. Sedikit mengejutkan Lintang. 
"Eh, Iya, kamu?" jawab Lintang cepat, seraya balik bertanya.
"Aku juga. Aku mau hunting foto untuk buku travel tentang Jogja." jawab pemuda itu dengan santai.
"Oh ya? Menarik sekali!" ujar Lintang bersemangat.
"Ehh... anyway, maaf saya lupa memperkenalkan diri, nama saya Bram, kamu?" 
"Lintang." 

Sepanjang perjalanan, di dalam kereta menuju Jogja, Lintang dan Bram cukup asyik mengobrol dan menceritakan tempat-tempat menarik yang layak dikunjungi di Jogja. Bahkan Bram pun menawarkan untuk mengajak Lintang ikut serta dalam perburuan fotonya.

"Hah, harus berangkat jam lima pagi ke candi-candi itu?" tanya Lintang terkejut mendengar penjelasan Bram.
"Iya, kalau siang kan ramai banyak pengunjung dan pemotretan outdoor harus dilakukan sebelum pukul sepuluh pagi, saat matahari belum berada tepat di atas kita," lanjut Bram mantap. 

Ah, sampai juga di Jogja. Pemandangan khas menghampar di hadapan Lintang dan Bram, di depan stasiun banyak sekali bapak tukang becak dan sado menawarkan jasanya. Di pinggiran kereta juga banyak sekali nenek berbalut kain kebaya menjajakan salak pondoh. Pelan, Lintang menghirup hawa Jogja, yang punya rasa berbeda.

Menyenangkan. Kadang memang harus berani memilih, untuk mewujudkan impian. Menyusun langkah, meniti jembatan, hingga sampai dalam suatu tujuan.

"Kenapa kamu pergi sendirian Lintang?" tanya Bram.
"Ya, emang mau sama siapa, nggak banyak orang yang mendukung keinginanku ini," jawab Lintang seraya melepas syal dari lehernya.
"Hmm bagus lah... kamu punya tekad yang cukup besar untuk impianmu," sambut Bram seraya menepuk bahu Lintang.
"Ya, bahkan Papa pun memandang sebelah mata padaku. Karena yang diinginkan papa adalah aku sebrilian kakak dan adikku. Bukan malah mengejar sesuatu yang menurutnya nggak jelas," sambung Lintang sambil tetap tersenyum.
"Lalu?" kejar Bram.
"Tapi aku yakin, aku akan bisa mewujudkan impianku, meski harus menempuh jalan yang berbeda," jawab Lintang mantap.

Mereka pun berpisah, untuk bertemu kembali di Vredeburg. Mereka akan melanjutkan petualangan di Jogja. Termasuk mengunjungi candi-candi yang bisa melengkapi naskah tulisan Lintang. Lintang harap ini bisa membantunya mengeja langkah menuju impiannya.



Tulisan kolaborasi @wulanparker dan @Victoriadoumana





Wednesday, February 15, 2012

Aku yang Utuh


Bagas

Aku mengerjap-ngerjapkan mata ketika pandanganku tertumbuk pada jarum jam yang telah menunjukkan pukul tujuh pagi. Iya, dan ini sudah terlambat sekali, teman! Aku pun mandi kilat dan sarapan cepat. Hiyaaa.... sempat juga yah sarapan. Ya daripada pingsan di jalan, mendingan sarapan, kan?

Dengan sangat terpaksa pagi ini aku harus main kebut-kebutan di jalanan. Bulan ini aku sudah terlambat lima kali. Bayangkan! namaku akan terpampang di papan Ruang Tatib sebagai murid paling banyak terlambat. So? Apa yang harus kuperbuat. Sebenarnya akupun tak pernah sengaja menginginkannya. Tapi apa mau dikata, lebih seringnya tubuh ini tak mau move on dari tempat peraduan. Tsaahh.

Oke, jam pertama ini Pak Gugun, guru Matematika yang mengajar. Entah konsekuensi apa lagi yang aku dapat hari ini. Aku harus masuk kelas, tak ada alasan untuk membolos lagi.

"Kamu terlambat lagi, Gas?" tanya Pak Gugun padaku, sambil menurunkan kacamatanya sampai ke ujung hidung.

Aku cuma bisa mengangguk, sambil menunduk.

"Kerjakan dulu soal di papan tulis ini," tegasnya, sembari menyodorkan spidol padaku.

Ouchh... belum juga kuletakkan tas punggungku, ini materi aljabar seakan menjejal mulut yang sudah penuh,  aku, semacam mabuk laut. Tapi, mau apalagi. Mau tak mau aku berjuang menyelesaikan satu soal, yang...yang...yang aku belum paham. Iya, ini kan pertama kalinya masuk bab ini. Aahhh.. perlahan, tapi pasti, keringat dingin mengucur dari dahiku.

"Jam pelajaran pertama telah selesai," bel sekolah meraung mengejutkan. Konsentrasikupun makin buyar.

"Ya sudah, duduk di bangku kamu, Gas. Nanti baru terima tugas tambahan dari saya," kata-kata Pak Gugun ini bermakna dua. Satu membuat saya tenang, Selanjutnya, saya merasa diajak perang. Tapi ya sudahlah, aku harus menurutinya.

*** 
Ini jam istirahat, aku sengaja memilih perpustakaan untuk menenangkan pikiran. Ah, seorang pemalas seperti aku, terduduk di jajaran murid-murid brilian. Aku hanya ingin bertanya pada diriku, dan, mungkin pada buku-buku ini, adakah yang bisa membuat kebiasaan burukku ini berakhir? Harus sampai titik mana, aku bisa berubah, dan menjadi diriku yang lebih utuh?

Tiba-tiba sesosok mungil duduk dihadapanku dan dia tersenyum menatapku. Ah, menggemaskan sekali gadis ini, pikirku.

"Hai Bagaaaas..sendirian aja nih..ati ati kesambet," Fika gadis mungil yang ramah, cerewet dan amat cerdas. Tak ada yang mampu menahan rasa simpatik padanya. Ehm..dan sepertinya termasuk aku! Ah, imaji macam apa ini.

"Heii..disapa malah diem aja..kenapa suntuk gitu? Mikir utang ya?" Afika memburu tanya sambil mengibas-kibaskan buku yang sedang dibawanya.

"Iya nih..utang ngerjain tugas tambahan dari pak Gugun..sumpek banget..mana aljabar pula.." timpalku spontan.

"Salah sendiri datangnya telat..hmm..Butuh bantuan gas?" tanya Fika lagi disusul senyum manis yang membuatnya makin menggemaskan.

Ya Tuhan..mimpi apa aku semalam..Fika, seorang gadis brilian yang diidolakan banyak cowok di sekolah ini menawarkan bantuan padaku?! Ya, pada seorang Bagas, pemuda yang malasnya sudah stadium empat.

"Gak salah denger nih fik?" tanyaku heran.

"Gak lah..beneran ini..kalau mau ntar kita kerjain bareng pulang sekolah nanti..ok?", jawab Fika santai.

"Ok deh..tar aku tungguin di depan gerbang ya..", tak ada alasan untuk membuang waktu banyak hanya untuk menyetujui tawaran dari seorang Afika.

Afika pun tersenyum dan mengangguk. Kemudian ia beranjak dari kursi di hadapanku. Aku hanya bisa terdiam menatapnya menjauh. Sepertinya aku baru saja bermimpi, seperti ada sesuatu yang menggelitik otakku saat menatap senyum itu. Seperti ada ingatan yang manis di lengkung bibir itu. Hari apa ini? Rasanya aku hanya ingin waktu berhenti saat Fika duduk di depanku..

Afika


Meninggalkan perpustakaan, Afika melangkahkan kakinya menuju kantin, Afika pun hanya bisa terdiam. Batinnya mulai bercerita, merunut sebuah ingatan, yang memang belum sanggup ia lupakan. Bagas, entah berapa lama waktu yang sudah aku tempuhi, hingga detik ini, aku ingin mempertanyakan sesuatu, ingatkah kamu padaku? Seperti aku yang selalu mengingatmu dalam satu windu ini.

Iya, tentang masa kecil kita di Linggau, yang penuh kenangan saat kita bermain di hamparan bukit yang hijau. Dan, tentu saja, tentang mahkota dedaunan yang kamu pasangkan di kepalaku saat itu, seraya kamu katakan, "Afika..selamanyaaa...kamu itu ratunya Bagas..jangan pernah lupakan itu."

Aku benci saat kamu tiba-tiba harus pindah ke Jakarta. Aku benci saat aku marah dan tidak mengantar kepergianmu. Aku benci saat aku begitu gengsi untuk menghubungimu. Tahun ini, ayahku pindah tugas di Jakarta, dan aku sengaja mendaftar di sekolah yang sama denganmu, berharap aku bisa bertemu denganmu, yang menjadikan aku, ratumu.

Sekali saja, pertama kali aku bertatap muka denganmu di awal semester baru, aku masih selalu ingat wajahmu. Apakah kau tahu itu Bagas?

Bagas

Seperti yang tadi sudah kita janjikan, aku menunggu Afika di depan gerbang sekolah. Afika berlari dengan terburu-buru menghampiriku. Sambil terengah-engah dia bertanya, "So..jadi minta bantuan?"

"Ya jadi dooong..lumayan ada guru privat..hehehehe.." jawabku sambil nyengir.

"Okeee deh, bayarannya terang bulan coklat keju ya..hahaha..", kata Afika sambil duduk di boncengan motorku. Gelak tawanya renyah juga, batinku.

Aku hanya bisa gelengkan kepala, "Ok deh bos..gak gratis brarti ya.."

Afika terkikik menahan tawanya.

Setengah jam kemudian, kita sampai di rumah Afika. Les privat pun dimulai. Aku serius mengerjakan tugas tambahan dari Pak Gugun. Satu demi satu soal berhasil aku kerjakan. Afika menjelaskan caranya dengan cara yang amat mudah dimengerti. Perfect! Satu setengah jam kemudian, semua tugas itu telah selesai.

"Eh..makan dulu yuk..pasti lapar kan habis ngerjain matematika..hahahhaha..", ajak Afika.

"Aah..gak usah repot repot Fik..nih aja sirup juga belum habis..", jawabku.

"Gak papa..ntar ya..aku ke belakang dulu nemuin simbok..biar bisa disiapin makanannya..", lanjut Afika seraya melangkah menuju dapur.

Sambil menunggu Afika, aku melihat ke sekeliling ruang tamu dan ruang keluarga Afika. Banyak foto yang tergantung di dindingnya. Sampai akhirnya, aku terpaku menatap satu pigura yang dipajang di meja kecil di ruang keluarga.

Foto itu sungguh menarikku dalam sebuah ingatan. Ada sesuatu yang membuatku berpikir keras saat menatap gambar gadis kecil bermahkota rantai dedaunan sambil memeluk boneka. Ingatan lama itu tetiba menghentak dalam otak. AFIKA..apakah ini afika yang sama? Gadis kecil di foto itu, apakah dia ratu kecilku dulu?


Afika


Afika yang berjalan menuju ruang tamu, menghentikan langkahnya saat melihat Bagas berdiri terpaku di pojok ruang keluarga.

"Bagas...kamu kenapa?" tanyaku.

Tetiba dia berbalik, dan berjalan terburu ke arahku.

"Fika..kamu afika..kamu Afika kan..Linggau..apakah kamu Afika yang sama?", Bagas bertanya tanpa henti sambil mengguncang-guncang pundakku.

Aku terdiam. Aku sendiri tak paham rasa apa yang tengah menjulur di sekujur tubuhku. Aku kaget, senang, terharu, semua seperti sedang mengguncang pertahanan diriku. Aku hanya ingin diyakinkan, bahwa Bagas telah mengingat aku, Afikanya yang dulu. Aku masih tak bisa berkata-kata namun mataku mulai berkaca-kaca.

"Kamu afika kecilku kan? Kamu ratu ku kan? Jawab Afika..yakinkan bahwa aku gak bermimpi! Apakah kamu Afika kecilku? Jawab Fik...", tandas Bagas.

Aku tersenyum. Aku menangis. "Ya Bagas..iyaa...aku Afika..Afikamu yang dulu," jawabku sambil masih terisak.

Bagas pun seketika memelukku. Tak pernah kubayangkan saat ini segera tiba.

"Ya Tuhan..terimakasih telah mempertemukanku dengan Afika..Afikaa..8 tahun Fik..8 tahun..ya Tuhan. Afika, kamu tahu begitu sedihnya aku saat harus pindah? Begitu sedihnya aku saat kamu gak mau mengantarku? Dan begitu putus asanya aku mencari kabar tentang kamu?"

Bagas terus merengkuhku dalam pelukannya..aku begitu bahagia hingga tak tahu harus berkata apa.

Bagas terus menderuku dengan segala ucapannya,"Jangan pernah jauh lagi dari aku Fika..tetaplah disini..karena cuma dengan kamu aku bisa bersemangat lagi..cuma dengan kehadiranmu aku bisa merasa utuh lagi..berjanjilah padaku Fika.."

"Iyaa..iyaa..aku janji..aku janji Gas..maaf kalau aku selama ini tak pernah mau bilang yang sejujurnya..aku hanya takut kalau perasaan sayang di masa kecil kita hanya aku yang rasa..", jawabku terbata-bata.

Bagas tiba- tiba melepas pelukannya, " Dengar ya ratu nya Bagas..rasa itu sudah ada sedari kita kecil..tak sedetikpun aku melupakanmu dari 8 tahun yang lalu. Kau pikir kenapa sampai sekarang aku begitu malas melakukan kegiatan apapun..bahkan di sekolah? Karena tak ada hadirmu disampingku seperti dulu..", katanya sambil mencubit pipiku.

Aku dan Bagas tersenyum sambil nyengir.




Tulisan kolaborasi @wulanparker dan @aLinachubbyy



Tuesday, February 14, 2012

I Hope It's The Best Choice


Mendung menggantung. Tapi aku menepati janjiku untuk bertemu denganmu sore ini. Di resto unik, tempat kita biasa bertemu. Aku tunggu kamu di saung no dua puluh tujuh.

Pukul enam belas kurang lima belas menit, aku sudah duduk manis, dengan segelas jus stroberi kesukaanku. Bayanganku tentangmu mulai kembali mengunjungiku. Ah, kembali aku merapal mantra agar aku tak bermain dengan imajinasiku sendiri. Membayangkan tentang apa yang akan kita bicarakan sore ini.

Tepat pukul enam belas, kamu datang, duduk di hadapanku, dan sikapmu masih sama, begitu dingin. Aku ingin mengbaikan rasa itu, aku berusaha melumerkan semua suasana yang terlanjur beku.

"Sayang, kamu mau pesen apa? Mau kopi?, tanyaku penuh perhatian sembari memberimu bonus senyuman paling manis.

"Boleh," jawabmu pendek, sambil melayangkan pandang ke luar saung. Menatap jalanan yang semakin basah karena gerimis yang makin rapat.

Aku menarik nafas panjang, mencoba membungkam mulutku untuk tidak membuat sore ini menjadi semakin keruh. Semuanya bergeming, tetap hening. Bahkan derap langkah pelayan pun bisa ditangkap telingaku dengan jelas. Aku ingin memulai percakapan. Tentang kita. Tapi aku tak tahu harus memulainya dari mana. Aku, yang merasa ada yang sesuatu yang salah dalam hubungan kita.

"Hmmm.. jadinya kita mau prewed di mana? Ke pantai ya sayang... aku pingin sekalian main air di sana," aku mencoba membuka percakapan. Tapi kamu masih saja diam, seakan tak peduli dengan rajukanku. Ihh, padahal kamu dulu tak begitu.

"Kamu yakin kita masih bisa melanjutkan semuanya? Pernikahan kita," satu kalimat meluncur cepat dari mulutmu. Bersaing dengan petir di luar sana, mengiring hujan yang menderas.

Ada yang mencekat tenggorokanku. Aku bahkan kesulitan memberi balasan. Padahal, detak jantungku menderap semakin kencang. Bahkan, air mataku pun seakan tak mampu terbendung. Tapi aku tak mau menangis di depanmu. Berkali-kali aku menelan ludah dan menarik nafas dalam-dalam.

Ternyata kebersamaan kita yang sudah berjalan di tahun ke tiga ini belum cukup mampu membuat kita bisa saling memahami dan menerima apa adanya diri kita masing-masing. Keyakinan yang tercipta ketika setahun lalu, saat kamu menggenggam jemariku dan menatap dalam-dalam mataku, sampai kemudian meluncur kalimat ajaib "will you marry me?" itu, seakan ikut terkikis seiring berjalannya waktu. Waktu itu kamu meminta aku untuk menjadi ibu dari anak-anakmu kelak. Dan masih jelas juga dalam ingatanku, binar matamu menyatu dengan kebanggaan karena kamu mendapat promosi jabatan yang cukup bagus di kantormu. Ya, kamu pun mengatakan siap untuk melangkah lebih jauh dan membangun masa depan,  bersamaku.

Karirmu yang semakin menanjak membuat kita harus menunda pernikahan untuk sementara. Lalu aku menyadari, kenyatannya melejitnya karirmu itu justru membuat intensitas kebersamaan kita berkurang. Waktumu yang tersita karena kamu lebih sering sibuk mengurus event-event pameran yang kebanyakan
di luar kota, mau tak mau mulai merentang jarak antara kita. Mulai dari telepon dan sms yang tak terbalas, sampai janji bertemu yang harus batal di menit-menit terakhir. Itu membuatku merasa kamu begitu jauh. Sikap posesifku yang dulu kamu anggap sebagai bentuk perhatianpun mulai kamu bilang melebihi batas kewajaran. Tapi semua itu bukan tanpa alasan. Tak jarang, pertemuan kita yang seharusnya jadi ajang untuk melepas rindu dan bertukar cerita hanya menjadi arena perdebatan yang tak jelas muaranya.

Dan sore ini kamu menanyakan sesuatu hal yang sudah lama aku takutkan.

"Aku sudah memikirkan hal ini sejak aku pulang dari Banjarmasin", sambungmu yang melihat aku hanya terdiam dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Terus?", tanyaku singkat karena tenggorokanku tercekat.

"Sepertinya aku tidak sanggup melanjutkan hubungan kita selama kamu masih bersikap posesif seperti ini. Kalau kamu ingin aku kembali seperti dulu, jujur aku katakan aku tidak bisa. Aku masih akan terus sibuk, bahkan mungkin lebih sibuk lagi di masa mendatang. Perusahaan semakin berkembang. Karirku sedang di puncak, dan yang aku butuhkan adalah seorang pendamping yang bisa mendukungku, bukan seseorang yang tiap menit berusaha menyelidiki apa saja kegiatanku."

"Seseorang seperti Dewi maksudmu?", kusela kalimatmu dengan nada sinis dan airmata yang tanpa kusadari sudah mengalir di pipiku.

"Terserah kamu mau bilang apa. Kamu tahu dari awal hubunganku dengan Dewi hanya sebatas hubungan kerja. Tidak lebih."

"Sekarang mau kamu apa?", tanyaku semakin memahami alasanmu mengajakku bertemu sore ini.

"Sebaiknya kita tunda pernikahan kita", ucapanmu terdengar lebih menggelegar daripada petir yang makin sering saling sambar.

"Tunda?? Lagi? Dengar ya Pras, tak perlu lagi ada penundaan. Pernikahan kita batal!! Kamu tidak perlu jelaskan apa-apa padaku ataupun keluargaku. Dan cincin ini aku kembalikan padamu," ucapanku terdengar begitu emosi seraya melepaskan cincin yang sudah setahun ini melingkari jari manisku dan meletakkannya di atas meja tepat di depanmu, Prasetyo, yang sekarang adalah mantan tunanganku.

Aku beranjak dari dudukku, meraih tas yang kubawa tadi, melihatmu untuk yang terakhir kali dan kemudian melangkah pergi. Air mataku sudah tak terbendung. Setengah berlari aku mulai terisak. Beradu dengan air langit yang semakin deras. Sampai di pelataran parkir, masih dengan air mata yang mengalir, tanpa sengaja
aku melihat mobil Nissan Terrano hitam milikmu, dan jelas terlihat ada seorang wanita duduk di bangku depannya. Wanita itu aku kenal betul. Dia, Dewi.


Tulisan kolaborasi @wulanparker dan @cute_codew

Monday, February 13, 2012

Dan, Semuanya Hilang


"Maaa... kirim lagi ya Ma uangnya, Icha mau beli buku lagi.. banyak banget deh Ma," Icha merajuk lagi saat menelepon mama. Bulan ini sudah ketiga kalinya, Icha minta uang kiriman tambahan.

"Iya, sayang, nanti jam makan siang mama transfer ya.. Belajar yang rajin ya nak ya...", mama menjawab dengan sabar di seberang. Dan, apa yang tak diberikan mama untuk Icha, anak semata wayang mama.

Tak perlu menunggu lama, Icha sudah bisa melihat saldo di rekeningnya bertambah, bahkan lebih dari yang ia harapkan. Ini hari Jum'at, Icha sudah siap hangout bersama teman-temannya. Dimulai dari makan bareng, belanja bareng, sampai hura-hura bareng. Begitu terus.

"Cha, hari ini aku mau ke salon dulu deh, kamu mau join kan? Ini rambut aku udah harus dipermak lagi biar kece," kejut Rena yang udah siap jalan bareng teman-teman mereka yang lain.

"Iya lah, sekalian aku juga mau facial, ini muka udah tebel banget deh rasanya... Yaudah, biar gak kelamaan, kita berangkat aja yuuk...," ajak Icha seraya menggeret Rena.

Setelah mengunjungi salon langganan mereka, Icha dan Rena pun menuju mall tempat janjian dengan teman-teman yang lain. Kelima gadis belia ini sudah cukup lihai memilah-milih barang belanjaan, mulai dari baju hingga aksesoris kecil yang kerap meramaikan dandanan mereka.

Dan... perjalanan pun dilanjutkan dengan makan-makan sambil ngerumpi pastinya. Ya, seperti layaknya anak gaul lainnya, Icha dan teman-temannya punya kebiasaan yang sama juga. Seperti tak kenal lelah, mereka bisa menikmati saat-saat itu dengan penuh canda dan tawa.
Begitupun Icha, gadis berambut lurus sebahu yang masih terdaftar sebagai mahasiswi Ilmu Komunikasi di universitas ternama di Jakarta ini, sangat menikmati gaya hidup yang ia anggap sebagai surganya dunia.

***

"Halo, Cha, kamu gak ke kampus?" sapa Rena di seberang telepon.

Icha yang masih di atas tempat tidur, menjawab dengan suara berat, "Aku lagi gak enak badan Ren... uhuk..uhuk...". Icha merasakan tubuhnya kehilangan daya. Lemas, ia berusaha meraih botol kecil yang tergeletak di tepi tempat tidurnya, dan, botol itu telah kosong.

Tubuhnya berkeringat dingin, Icha terus memegangi kepalanya yang terasa sakit, semakin dan semakin sakit. Ia tak bisa lagi peduli dengan suara Rena di telepon.

"Mama..mama..." desah Icha. Hanya dinding kamar kosnya yang mampu mendengar suara lemah Icha.

Hingga malam Icha masih berada di kamarnya. Tadi siang Rena sempat datang untuk menjenguknya dan membawakan bubur ayam. Hanya empat suap Icha tak sanggup untuk meneruskannya. Rena juga sempat mengajak Icha untuk ke dokter namun ditolaknya karena ia merasa akan lebih baik tak lama kemudian. Tapi ternyata ia juga masih lemah. Ia hanya bangun dari tempat tidur untuk ke toilet, selebihnya meringkuk di balik selimut tebalnya.

Jarum jam di kamarnya menunjukkan pukul 22.00. Masih terpeluk selimut, Icha meraih telepon genggamnya. Dipencetnya speed dial nomor satu, Mama.“Tuuuut… tuuuttt”. Tidak ada jawaban. Dicobanya lagi. Masih tidak ada jawaban. Sepuluh menit kemudian ia masih mencoba menghubungi Mama tapi tak ada jawaban apapun dari sana. Dengan sedikit putus asa, Icha mengirimkan pesan pada Mama.

Ma, Aku Sakit.

Biasanya kalau Icha SMS, Mama selalu membalas tidak lebih dari lima menit. Apalagi kalau ia mengirim pesan yang berisi keluhan, Mama pasti akan langsung menelepon. Tapi anehnya tidak untuk kali ini. Mama hanya membalas SMS dan itupun baru dibalasnya jam 9 pagi keesokan harinya. SMS dari Mama berbunyi, “Ya, makan yang benar, minum obat, istirahat”. Icha hanya bisa pasrah.

***
Rena datang untuk mengajak Icha ke rumah sakit. Icha masih enggan pergi. Sebenarnya karena malas dan merasa sangat lemah, alasan Icha adalah karena saldo di tabungannya menipis. Rena masih terus memaksa Icha.

“Ren, aku lagi nggak ada uang”.

Rena membelalakkan matanya. Seorang Icha? Nggak ada uang? Kok bisa? Begitulah yang ada di pikirannya.
“Kok bisa sih? Bukannya waktu lalu itu kamu masih traktir aku? Katamu kan Mamamu baru aja kirim uang?”

“Iya, tapi itu kan dua minggu yang lalu?”, jawab Icha lemah.

“Nngg.. Kamu nggak minta lagi? Bilang aja kamu sakit. Bisa kan?”, Rena masih memburu lagi.

Icha menggeleng lemah. Ia mengambil telepon genggamnya. Dipencetnya beberapa saat untuk menuju pesan masuk. Ia membuka kembali satu pesan dari Mama. Ia tunjukkan pesan itu pada Rena.

Mama baru kirim uang 2 minggu lalu, kan. Kamu pakai apa aja? Mama nggak suka, kamu sekarang sudah pintar buat alasan-alasan.



Tulisan kolaborasi @opathebat dan @wulanparker

Sunday, February 12, 2012

Aku Ikat Lebih Erat


Bima tampak sibuk membongkar rak buku hingga ke laci meja. Sejak tadi pagi, ia tak keluar kamar, bahkan ketika teman-teman kosnya mengajak keluar untuk makan, Bima hanya bergeming. Kardus buku yang tadi telah dibongkarnya lalu disusun rapi, kini ia bongkar kembali. Bima tak pernah seheboh ini mencari sesuatu, apalagi hanya di dalam kamar kos mungil yang sudah tiga tahun ini menjadi saksi penat dan semangatnya.

Bima beranjak, ia duduk melantai di sudut kamarnya. Tatapannya kosong, seperti ada sesal yang tengah memenuh bahkan menyesak dalam diri pemuda dua puluh-an tahun itu. Hanya sebuah kitab suci saja, tak mampu ia temukan dengan mudah. Dia mencoba mengingat kembali kapan terakhir kali benda itu dilihatnya. Jika membaca pasti sudah terlalu lama untuk bisa diterka, setidaknya buku itu adalah buku dari segala buku. Tak mungkin meninggalkan kamarnya tanpa dia tahu. Ah, apa ini? Ia mulai menyusup ke dalam ingatan tentang apa yang telah dilakukannya setahun belakangan ini.

***

"Ayolah Bim, sebentar saja, nanti kan kita sambil wawancara di kafe," ajak Bang Gigih, yang akan menjadi narasumber untuk tulisan tentang Suku Badui.

"Tapi besok saya ada ujian, Bang, makanya saya datang ke kantor abang, supaya bisa lebih cepat saya kerjakan tulisan ini," Bima mencoba menolak secara halus.

"Yaahh tapi tadi saya baru saja rapat dengan atasan, jadi saya agak pusing, ayolah pergi sebentar, sambil cari-cari inspirasi baru lahh.." ajak Bang Gigih sekali lagi disusul senyum penuh persahabatan yang sulit sekali Bima tolak.

Sore itu, pergilah Bima bersama Bang Gigih ke sebuah kafe yang memang begitu banyak menawarkan pilihan hiburan. Ya, ini bukan kafe biasa. Bima yang awalnya tampak canggung, mulai menyesuaikan dirinya dengan suasana di tempat itu. Demi selesainya wawancara, demi matangnya tulisan yang harus Bima kirimkan kepada sebuah redaksi majalah, dimana ia menjadi penulis freelance.

Sejak saat itu, Bima terbiasa dengan hedonisme, hingga lama-kelamaan, ia menguapkan janji yang selama ini telah ia ikat dengan rapat. Bima seperti terbawa begitu saja dalam kehidupan yang membuatnya lupa tanpa sengaja pada banyak hal. Pada orangtua, pada kuliah, pada teman-teman, dan bahkan pada Tuhan. Sampai kemudian suatu hal yang luar biasa sederhana seakan mencoba mengingatkannya untuk pulang.

Tamparan keras itu datang dalam bentuk surat peringatan, resmi diatas kop surat, diketik dengan huruf Times New Roman 12 poin. Tanpa basa basi, pihak kampus Bima memberikan peringatan bahwa mereka akan mencabut beasiswa yang selama ini diterimanya jika ia tak mampu memperbaiki nilainya hingga akhir semester ini. Bukan hanya itu, di depan mata Bima hanya tersisa satu tahun untuk menyelesaikan seluruh tunggakan SKS-nya. Hanya satu tahun untuk memperbaiki nilai, kuliah normal, sekaligus menyelesaikan tugas akhir. Satu tahun yang tampaknya akan jadi tahun yang berdarah-darah bagi Bima.

"Kau kurang apa Bim? Beasiswa bisa kau pegang, belum lulus pun sudah ada perusahaan besar yang melamarmu. Ayah dan ibumu, serta adik-adikmu, begitu berharap, kau bisa menjadikan kehidupan kalian lebih baik," Kemal, sahabat Bima ikut gusar dengan kejadian itu. Kemal tak kurang-kurang mengingatkan Bima untuk kembali pada kebiasaannya yang dulu dan meninggalkan gaya hidupnya yang sekarang.

Bima hanya bisa diam, memutar otak.

"Bim, kau boleh menjadi penulis lepas, tapi tak usah lah kau lalu mengikuti tawaran-tawaran yang sebenarnya hanya mampir. Itu cobaan untukmu, Bim..." Kemal sedikit menurunkan nada bicaranya. Bukan karena Kemal tak lagi kesal, tapi karena ia pastilah orang kesekian yang telah menasehati Bima dengan segala logika itu. Dan diantara semua orang, Kemal lah yang seharusnya paling bisa mengerti bahwa Bima tak perlu lagi diceramahi panjang lebar tanpa solusi.

"Baiklah. Mal. Jadi menurutmu aku harus mulai dari mana?", Bima baru bisa menjawab setelah keheningan membungkam mereka beberapa saat.

"Oke, kalau begitu dengarkan aku sekarang dan jangan menyela sampai aku ijinkan."

Bima mengangguk. Tak ada pilihan.

"Fokus, Bim. Fokus. Itu yang pertama harus kamu bereskan. Buatlah komitemen dengan dirimu sendiri, dan jalani satu persatu dengan istiqamah. Satu per satu, Bim. Bukan semua dalam sekali tebas," Kemal mencoba meyakinkan Bima.

Rasanya ada yang menggelitik di telinga Bima ketika Kemal mengucapkan kata istiqamah. Sudah lama sekali rasanya, sejak Bima mengucapkan janji di malam itu, menjelang ujian sekolahnya, sebuah janji yang tak dia ceritakan pada siapapun karena hanya ia ucapkan di hadapan Tuhan. Bahwa kalau dia bisa mendapatkan beasiswa, kalau dia bisa mendapatkan posisi freelance yang selama ini dia idam-idamkan, dia berjanji akan istiqamah menjalaninya. Tekun belajar, rajin menulis, menyeimbangkan kehidupan sosial dan interaksi dengan keluarga. Sebuah janji yang kedengaran sederhana namun sungguh sulit menepatinya.

***

Dan, disinilah Bima sekarang, duduk bersimpuh di atas sajadah. Apa yang dicarinya sudah berhasil ia temukan di pojok kamar, diantara tumpukan fotokopi catatan kuliah dan coretan tulisan tangan. Wajahnya masih basah oleh air wudhu, dan tangannya pelan-pelan mengusap sampul Al Qur'an yang tampak berdebu. Dibukanya pelan-pelan, lembar demi lembar, untuk mencari kertas pembatas yang selalu dia selipkan sebagai penanda. Bima menemukannya, ada di sepertiga bagian pertama. Diambilnya kertas itu dan diletakkan di atas meja.

Bima tak peduli lagi. Dia akan mengulang semuanya dari awal. Mengadu dan memohon ampun dalam sujudnya. Mengikat janji lebih erat dengan Tuhan. Mencoba lebih kuat, bertahan diantara cobaan, yang kadang menawarkan ribuan bahkan jutaan kesenangan.

Bima, melanjutkan perjuangannya. Menemukan kebahagiaan di jalan Tuhan.


Tulisan Kolaborasi @wulanparker dan @diahrizka

Inspirasi Itu Istimewa :)

Untukmu yang teristimewa, Inspirasi

Entah seberapa lama dalam langkah-langkah perjalananku, aku sangat membutuhkanmu. Aku, selalu menunggu kehadiranmu. Apa kau tak pernah merasa istimewa ketika aku menyambutmu? :D Kalau nggak ada kamu, aku nggak tahu apakah aku masih bisa menyusup di hutan kata dan bermain-main di dalamnya.

Bagaimanapun, aku sangaaaaaattttt berterima kasih padamu. Atas kerja sama selama ini, dan... sampai nanti. Ehhmm... aku minta maaf juga ya, kalau saja aku tak menyambutmu dengan baik, ketika kau datang tiba-tiba. Iya, aku tahu bahwa itu kejutan darimu, tapi aku sendiri bukanlah manusia sempurna yang selalu mampu mengendalikan diriku dengan baik.

Meski begitu, ada sisa sesal ketika aku nggak bisa menjamu kehadiranmu dan memersilakanmu untuk bermain dengan imajinasiku. Ah, sayang sekali yaaahh... aku harap kau tak semena-mena marah dan ngambek nggak mau datang lagi... :( jangan yaaahhh... :D

Aku sangat menyukaimu, terlebih akhir-akhir ini, sebulan belakangan ini, ketika aku memutuskan untuk ikut memeriahkan #30HariMenulisSuratCinta, hehehe..... Meski aku pernah bolos beberapa hari, tak menulis surat... :P

Paling tidak, aku bisa mengenalkanmu kepada kakak-kakak Pos tercinta.. @hurufkecil @ekaotto @heykila @adimasimmanuel dan @perempuansore. Nah, kita juga harus terima kasih sama mereka, mereka yang telah memberi kesempatan, supaya aku dan kamu bisa selalu bersama, bermain kata...dalam cinta... :D

Oke, jangan bosan-bosan menemaniku ya, aku akan berusaha agar bisa menyambutmu dengan sebaik-baiknya. Dan mengajakmu bermain di hutan kata, seperti biasa. Aku, semakin sayaaaanggg... sama kamu....


Aku,

yang "bernafas" dengan inspirasi :)

Saturday, February 11, 2012

I Didn't Mean To Hurt You


Dari kejauhan, kilauan lampu-lampu kapal terlihat cantik, melambai, membisu. Menawarkan fatamorgana kebahagiaan namun hening dalam sepi. Hanya deburan ombak yang terdengar lirih sukses menggelitik begitu mesra membran timfani dan merefleksikannya dengan sempurna ke gendang telinga.

"Jika Aku nanti jauh darimu, jangan menangis ya! Aku tak suka melihatmu menangis"

"Jauh darimu? Maksudnya?"

"Tidak, Mmm.. ambil ini! Jangan buka sebelum Aku pulang nanti", katanya sambil menyodorkan amplop putih kepadaku.

"Apa ini, Rei?"

"Sesuatu", jawabnya singkat.

"Sesuatu apa? Kau aneh hari ini!", kataku ketus karena rasa penasaran yang membuncah.

"Ayo pulang! Sepertinya sebentar lagi hujan. Jaga kesehatanmu ya! Aku sayang Kamu", serunya sembari mengulurkan tangan kanannya dan membelai rambutku. Dan Rei benar-benar aneh saat itu.

Setelah puas menjelajah pantai, Ia pun mengantarkan aku pulang. Dan, sesampainya di rumahku...

"Kenapa diam saja? Kau tak ingin berbicara padaku?"

Aku hanya menggeleng. Menandakan tak ingin berbicara apapun saat itu.

"Aku minta maaf jika nanti membuatmu cemas. Tapi keadaanku akan baik-baik saja", jawab Rei. Ia palingkan wajahnya, pelan, lalu melajukan sepeda motornya, melesat cepat. Aku hanya mampu melihatnya beberapa detik sebelum lajunya menghilang.

Tak lama setelah Rei pulang dan merebahkan tubuhku di ranjang, dering telepon genggamku mengalahkan lelahku. Gemetar telepon genggam itu terasa di sekujur tubuhku. Aku pun beranjak dan duduk di tepi ranjang.

"Halo", kataku begitu telepon menempel di telingaku.

"Halo Intan. ini Tara, kakak Rei"

"Iya, Kak. Ada apa?"

Perempuan di telepon itu tak langsung menjawab. Sepertinya ia menjauhkan gagang telepon dan berbicara dengan seseorang di sampingnya. Aku juga mendengar jeritan dan tangis kala itu. Entah apa yang terjadi. Tiba-tiba jantungku berderap lebih kencang, ada pikir yang tak masuk akal yang sedang aku bayangkan. Iya, aku cemas, sangat!

"Aku hanya ingin mengatakan, Rei.......Rei sudah meninggal. Parasit Toksoplasma Gondii menggerogoti otaknya. Dan tadi dia kabur dari rumah sakit. Dia menemuimu bukan? Dia menitipkan pesan untuk segera mengabarimu dengan apa yang terjadi nantinya", kata Kak Tara terbata-bata.

Telepon genggamku terlepas dari tanganku seketika, terjatuh dengan suara keras di lantai. Kakiku mendadak lemas, Aku pun jatuh terduduk di lantai. Sebelah tanganku memegang dada, berusaha menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang. Aku merasa dingin, dingin sekali. Rintik airmata tak mampu aku bendung lagi. Dan aku teringat akan sesuatu. Surat itu........

Ada sesal yang mungkin tengah menjamah seluruh batinku. Ada keangkuhan yang mungkin tanpa sengaja aku lumurkan dalam pertemuanku dengan Rei tadi sore. Aku bahkan tak mendesaknya dengan semua tanya yang mencekat tenggorokanku. Ah, kata-kata seperti apa lagi yang masih akan dimengerti Rei, yang kini telah membujur kaku tanpa sukma.

Rei, yang begitu peduli padaku dengan sempurna, meski aku tak memberikan balasan seperti yang ia punya. Kini, hanya aku dan surat itu. Iya, barisan aksara yang merekam semua rasa Rei, yang seharusnya bisa aku balaskan dengan sempurna tadi sore. Ia, bahkan tak menuntutku menjawabnya.

Aku tahu, tangan Tuhan yang akan menyampaikan pelukku untuk Rei. Tuhan, aku juga sayang Rei.


Tulisan Kolaborasi @crystalzizahh dan @wulanparker

Friday, February 10, 2012

Menanti Senja


Aisha melayangkan pandang ke hamparan pantai yang biru, ditemani sapa angin yang mendesir lembut. Ia hanya terdiam, menantikan senja yang telah lama ia rindukan. Hanya imajinasi dan ingatannya yang kadang bertumbukan. Perlahan mulai ia menyusun cerita dalam pikiran yang
mungkin saja mampu ia ceritakan. Ah, tapi pada siapa, batin Aisha. Aisha tak lagi menemukan telinga dan senyum yang selalu siap mendekap dan menyeka semua air mata luka yang ia punya. Iya, ia tak dapat lagi menemukan Kinar, sahabatnya, sesuka hatinya.

Aisha tahu bahwa waktu yang telah menggulung kesenangan mereka bersama sejak mereka sudah memulai kehidupan masing-masing seperti yang pernah mereka cita-citakan. Meski, saat itu, mereka saling berjanji untuk tetap saling menjaga. Tapi, apalah mau dikata. Sekarang mereka lebih banyak bercerita pada semesta, dan menitip pada angin atas rindu-rindu
mereka.

Bukan jarak yang memisahkan mereka, mereka ada dalam satu kota. Tapi, padatnya tugas di tempat kerja, dan komunitas-komunitas yang mereka ikuti, banyak menyita perhatian. Dan, yang kemudian disadari adalah, ketenangan dan kesenangan tak berbanding lurus.

Aisha paham akan kesibukan Kinar sebagai seorang Karyawati sebuah Bank dengan cabang terbanyak di Indonesia, yang seringkali memaksa Kinar pulang sampai larut malam, bahkan kadang masih harus bekerja di akhir pekan. Tak jarang, Aisha merasakan rindu yang sangat pada seorang Kinar, untuk sekedar berbagi cerita atau bahkan berdiskusi mengenai bahan thesis yang saat ini sedang berusaha diselesaikannya.

Seperti saat ini, Aisha seakan tak mampu menahan rindunya pada Kinar. Sudah dua bulan mereka tak bertemu. Saling bertukar kabar pun bisa dengan hitungan jari. Banyak sekali hal yang ingin Aisha ceritakan pada kinar. Iya, mulai dari cerita tentang Tody, gebetan Aisha, seorang wartawan yang sekarang makin dekat dengannnnya. Dan yang paling penting, adalah cerita tentang perkembangan thesisnya sekaligus berdiskusi. Jujur saja, saat ini Aisha sedang buntu, mood-nya untuk mengerjakan thesis bahkan menghilang semena-mena. Kinar itu selain sahabat, temen curhat, fashion stylist, juga bisa jadi dosen pembimbing thesis buat Aisha. Otak encernya tentang Psikologi Industri selalu bisa membantu Aisha.

Ah, ini sudah pukul 6 sore, tapi langit masih terang, dengan jingganya. Sepertinya mentari enggan pulang ke peraduan, sama seperti Aisha yang masih betah duduk-duduk di tepi pantai, dengan rangkai imajinasinya. Diantara kelana pikirnya, tiba-tiba mata Aisha menangkap siluet perempuan berambut panjang, dengan rok sepan dan menenteng high heels di tangan kirinya. Ia bermain air dengan kakinya, menendang-nendang pasir yang basah sambil sesekali tersenyum.

"KINAR!!" Aisha hampir menjerit ketika mengenali sosok perempuan itu.

Perempuan dengan rok sepan itu juga tak kalah kaget dan berteriak "AISHA?! Ya ampun akhirnya ketemu juga kita, kangen banget niiihh! Kamu ngapain disini?" Kinar langsung memberondong Aisha dengan pertanyaan.

"Aku lagi buntu sama thesis nih, makanya aku kesini cari inspirasi hehehe, kangen kamu taauuuukkk!" seketika Aisha memanja dan langsung memeluk sahabatnya itu. "Eh tapi kok kamu bisa ada disini sih? gak lembur?" tanya Aisha pada Kinar setengah menyindir.

"Enggak, bosku ada jadwal yoga tiap kamis, jadi aku bisa kabur pulang cepet hihihi" timpal Kinar sambil mengedipkan mata. "Kebetulan tadi lagi sumpek di kantor, project lagi stuck trus aku kelaperan pengen makan cumi goreng tepung di restoran deket sini, tapi gak tahan liat laut pengen celup-celupin kaki nih" sambung Kinar makin nyerocos. "Ehm, ya udah makan dulu yuk kesitu sambil cerita-cerita" Kinar menunjuk satu tempat makan di ujung pantai.

Mereka bergandeng tangan menyusuri pantai, berpayung langit senja yang jingga. "Ehmm, Aisha, berhubung bosku tiap kamis ada jadwal yoga, kayaknya kita bisa deh ketemu tiap Kamis sore disini, gimana?" tanya Kinar di sela teduhnya senja.

"Hah serius?? Asyiiikk!" Aisha menimpali dengan berteriak kegirangan.

Senja yang dinanti telah tiba. Dan, di lain senja, mereka akan selalu bertukar cerita, meluruh semua penat, luka, dan air mata. Mengadu pada jingga, tentang eloknya rasa suka mereka, di setiap senja.


Tulisan Kolaborasi @wulanparker dan @rintadita

Thursday, February 09, 2012

Membicarakanmu Dengan Tuhan

Aku, memang belum pernah bertemu denganmu, sungguh.. memang belum...
Tapi, aku begitu sering, berpikir tentangmu, bahkan mengkhawatirkanmu, takut kalau-kalau, nanti kamu kamu akan luka, tau kecewa... Tak jarang pula, aku mencari-cari cara agar aku bisa bertemu denganmu dengan cara sebaik-baiknya dan dalam kondisi yang sebaik-baiknya juga...

Dahsyat bukan, seperti aku telah mengenalmu sangat lama dan berusaha memahami kamu sebaik-baiknya. Aku harap, kamu juga akan suka dengan segala yang aku lakukan sekarang. Kamu tahu tidak? Selama ini, untuk bisa memahami kamu, aku selalu bercakap-cakap dengan Tuhan. Termasuk tentang bagaimana cara untuk bisa bertemu denganmu dalam keadaan sebaik-baiknya.

Dan, aku percaya, bahwa hanya Tuhan yang mampu menunjukkan jalan agar aku bisa membuatmu bahagia, karena kebahagiaanmu, adalah kebahagiaanku juga. Semoga.

Aku merunut do'a untuk kita.
Aku bertaruh usaha untuk kita.
Sederhana saja, agar kita bahagia.

Ini, sederet kata, yang aku tulis dengan rasa istimewa. Iya, untukmu masa depanku.
Segala sesuatu yang belum pernah aku tahu, tapi Tuhan selalu menuntunku, bertemu...kamu.

Kamu, masa depan, yang nantinya akan menjadi bagian dari hidupku.
Aku harap, bisa sebaik-baik yang telah Tuhan janjikan atas do'a dan usaha yang aku lakukan.


Aku,

dengan selangit harapan, bertemu kamu.

Wednesday, February 08, 2012

Hidung Kebanggaan Saya


Kepada yang terhormat HIDUNG kesayangan saya...

Saya merasa, emang kondisimu sedang tidak menentu, kadang lancar kadang buntu...
Duhhh... memang cukup menyiksa saya... saya nggak bisa bernafas lega...
Hmmm.. mungkin kamu marah yaaa?! Beberapa kali saya menelantarkan kamu tanpa pelindung ketika nafsu keluyuran nggak terbendung...



Melalui surat ini, saya ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya atas keteledoran saya. Yaaahh.. saya akui, kondisi ini cukup menghambat kerja saya. Selain kepala pusing, saya harus buang-buang tissue segunung. Ini sangat berlawanan dengan prinsip kecintaan kepada bumi *tsaaaahh

Sekarang, yang dapat saya lakukan hanyalah menunggumu untuk pulih kembali dan tak lagi-lagi membiarkanmu mengalami tragedi polusi yang merasuk ke dalam tubuh ini. Sekali lagi, maafkan saya yaahhh.... *sungkem

Dengan ini, saya menyatakan bersedia menerima konsekuensi dan bekerjasama kembali sebaik-baiknya dengan kamu. Mungkin, saya juga perlu bekerja sama dengan pihak-pihak terkait, untuk ngingetin saya agar tidak semena-mena terhadap hidung kesayangan saya. Karena pada akhirnya, saya juga yang sengsara. Maaf yaaaaa.... Sungguh, saya selalu membutuhkanmu.

Taukah kamu, kamu pintu kehidupan saya, saksi helaan-helaan nafas saya!!
Jadi, tak ada alasan untuk tidak mencintaimu.


Saya,

dengan segenap semangat membuatmu kembali berfungsi secara utuh.. *pasang iket kepala*




Tuesday, February 07, 2012

Aku, Semakin Menghargai


Halo juga....

Ini, aku sediakan kamu sarapan pagi, senyumku yang selalu tulus.. untukmu....

Tak apa kau belum mampu menyebut namaku. Aku membolehkanmu, menyebut namaku, kapanpun kamu mau..


Kau tahu tidak, dari jauh aku memandangmu, lewat tulisanmu...
Aku berusaha mengerti kamu, yang mungkin, kini juga tengah merindukanku...
Aku, yang sendiri, disini, akan mengaminkan do'amu. Aku turutkan semua yang menjadi cita-citamu, semoga kelak menjadi sebuah kebaikan bagimu....

Oh, iya, jika nanti kau benar-benar jauh dariku, aku harap kau tak membuang semua rindu yang mungkin masih sempat kau simpan untukku. Nyanyikan pada semesta, ceritakanlah, sampai akhirnya rindu itu sampai padaku. Aku harap aaku bisa memberimu senyum di setiap langkahmu.

Aku percaya, bahwa do'a akan mempu menjaga kita meski kita tak bisa melihat bulan yang sama.

Aku akan memintal setiap helai rindu yang kau kirim untukku. Sampai tiba saatnya, rindu-rindu itu mampu memeluk tubuhmu, dengan erat, dengan hati yang saling lekat, karena cinta yang hebat.

Aku,

dengan do'a atas segala impianmu.

Balasan untuk Surat Cinta @rizkymamat "Lebih Menghargai"

Monday, February 06, 2012

Manusia Ensiklopedia


Untukmu Manusia Ensiklopedia, @arifnoto

Ah, sementara ini, aku ingin diam dulu...
Aku bingung... bagaimana harus menyapamu...
Mungkin, karena aku sudah terlalu lama tak bertemu denganmu...
Iya, kamu...


Oke... baiklahh..
Aku mulai dengan menanyakan kabarmu...
Apa kabarmu sekarang? Pasti sudah banyak berubah, yang aku tak pernah tahu.. Atau, kau ceritakan pada semesta untuk menceritakannya padaku? Hmmm.. apapun itu.. terserah padamu...

Aku tak tahu, apakah ini berbeda, sama, atau biasa saja kau merasa, ketika surat ini kau baca. Iya, aku pun masih ingat, kita sering bertukar kabar dengan tulisan, yahh.. surat elektronik... :D yang kemudian, entah kemana muaranya...

Karena kupikir, kita adalah syair-syair yang tak pernah menyatu dalam satu puisi. Iya, entah karena berbeda, atau memang rimanya tak sama. Tapi, ya sudahlah, aku tak mau mendebatkannya.. untuk apa...

Sekarang, yang ingin aku bilang, aku beruntung mengenalmu, yang suka membagi ilmu. Kamu yang tak pernah pelit sedikit pun membagi apa yang belum aku tahu... meski kadang kau hanya memberiku kata kunci dan membuatku belingsatan mencari jawaban sendiri... But i love that way.... paling tidak, aku tidak manja... dan sengaja membuta...

Hmmm... mungkin suatu ketika aku akan menyebutmu manusia ensiklopedia.. haha.. iya... dengan semangat membacamu, kadang aku kehabisan jempol untuk memujimu. Yaaahh.. cintamu pada buku melebihi canduku pada tulisan dan rima...

Aku pun tahu, kau telah membaginya denganku, dan mungkin dengan siapa saja yang membutuhkannya. Aku yakin, kau pasti dengan suka rela memberinya. Tapi, apakah kamu masih belum rela untuk mengabadikannya dalam deretan alinea, yang terus bercerita. Layaknya kau membaca, suka-suka.

Kalau kau ingat sebuah quote dari seorang idolamu yang istimewa, dimana aku juga sangat menghargainya... Pramoedya Ananta Toer, yang mengatakan "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah".

Ketika manusia bertemu dengan lupa, hanya catatan sejarah yang bisa mengingatkannya. Bahkan untuk sesuatu yang penting dan istimewa. Kau tak ingin kah anak cucumu masih bisa mewarisi segala cerita dan mungkin saja ada impian yang belum sempat kau wujudkan, dan mereka yang akan melanjutkannya tanpa kau paksa? Ijinkan segala yang ada padamu, menjadi inspirasi bagi orang lain. Semoga bisa menjadi tanda syukur atas kelebihan yang ada padamu... :)

Baiklah, beretepatan dengan #PramsDay ini, aku hanya ingin kau tak membiarkan penamu membujur sendiri. Ijinkan ia menari, melucuti semua ide-ide yang mungkin saja, suatu ketika mampu membawa kebaikan bagi manusia-manusia yang masih sempat bertanya, di dunia.

Eeehhhmmm.. oiya jangan lagi kau sebut Pram sang inspirator dengan sebutan "ORANG ITU", aku tak suka!!! Dan, kau boleh tak suka rima, tapi, kau harus yakin bahwa kehidupanmu, selalu berirama.

Terima kasih telah memberikan waktu dan meminjamkan mata untuk sejenak membaca. Aku sudah mulai kehabisan kata... :D Terima kasih juga untuk semuanya... apa yang telah kamu bagi, baik dengan ataupun tanpa sengaja...
Mungkin, di lain waktu kita bisa berjumpa, bercerita, sambil bertatap mata, tanpa perantara...


Aku,

yang menunggu senyummu di senja :)

Saturday, February 04, 2012

Rindu Kamu, Ukhti

Dear @anan1n0

Assalamu'alaikum ukhti...
Apa kabarmu sekarang, kakak? Apakah langkahmu telah semakin dekat dengan impianmu, yang selalu kau bumbu dengan usaha dan do'a itu? Aku harap kau selalu dalam pelukan kasih yang memang tak ternilai harganya itu. Karena aku tahu, sejengkal pun kau tak ingin jauh dari Sang Pencipta Semesta... :)

Aku merasa sangat beruntung, diberikan kesempatan untuk bisa berkenalan denganmu dan menjadi kawan yang selalu kau beri waktu untuk kau bagi dengan ilmumu... Sungguh, aku menyukainya. Terima kasih ya... sudah mengajarkan aku untuk selalu berjalan di jalan yang lurus, mengingatkan aku di kala aku terlalu bebal untuk mencapai akal yang benar. Fiiuhh.. kau pasti lelah dengan kebiasaan-kebiasaan yang sering membuatmu kecewa. Maaf ya... aku memang hanya gadis bandel yang nggak pernah bisa tenang di dalam kamar saja.. :D

Aku berantakan? Cuek? Bawel? Mwihihihiihii.. tak apalah... ku serahkan saja padamu bagaimana kau menilaiku. Aku tak akan pernah menaruh luka meski kau bilang apa saja... :D Yang jelas, tempat kos ini terasa makin sepi, dan aku berubah jadi sendiri lagi. Maka itu, aku semakin tak betah di kamar, pasti keluyuran, mencari-cari teman... :D Tapi tenang, dengan bekal ilmu yang kau bagi, aku akan berusaha untuk tidak bandel lagi... dan, semoga.. lebih rajin mengaji... ^^v

Aaahh, aku sudah rindu melihatmu, mendengar cerita-ceritamu, dan... membagi cerita absurd-ku untukmu... wkwkwkwkwkwk....

Meski bagaimanapun, aku haram, kau masih bersedia menjadi kakak bagiku... :p
Jangan bosan mendengar ceritaku yaa....
Karena aku selalu rindu bercerita... padamu...

Baik-baiklah kau di sana. Aku do'akan kau semakin kuat dan semangat melangkah menggapai impianmu. Dan, semoga kita bisa segera bertemu. Seperti waktu itu. Memenuhi hariku, bersamamu. Duduklah di sebelahku, dengan atau tanpa kubikel sekalipun... :D

Aku,

yang selalu rindu padamu

Wednesday, February 01, 2012

To: My Kuca-Kuca

Dear my kuca-kuca :)

Hei dek, kamu sedang apa? Ini aku kakakmu tercinta, tetiba ingin menyapa... ^^v
Menyapa di satu bulan sebelum usiamu genap 17 tahun.. :D Waaahhh sudah gede ya kamu sekarang....

Bihihiikkk.... aku jadi ingat bertahun-tahun lalu, waktu kamu selalu nggak bisa pisah sama aku... Haha, emang kenapa kamu memilih aku dan masmu daripada tinggal sama bapak dan ibu?
Ya, gak papa sih, kita jadi bisa latihan mandiri bareng-bareng.... :D

Aku juga mau terima kasih sama kamu, paling enggak, kamu gak menjadi si bungsu yang merepotkan aku. Kamu sangat kooperatif.. :D Meskipun kadang kamu juga kumat manjanya... tapi untunglah, aku berhasil meredamnya... ;P

Hmmm.. yang mengharukan adalah, kita bisa menjadi teman cerita yang menyenangkan... Padahal, ketika kamu duduk di bangku kelas 1 SD, aku sudah kelas 2 SMA, huahahaha... tapi kita tetep bisa gembira, bermain bersama, putar-putar kota, atau nonton film di rumah aja.

Aku juga masih ingat, ketika aku sudah akan melangkah untuk bekerja, kamu pernah bilang, agar aku gak kerja jauh-jauh biar tetep bisa nemenin kamu.. :D Kamu lucu yaaa... Tapi aku pasti nurutin kamu... Mungkin, kayak gitu nantinya kalau aku sudah punya anak... Ada hati yang membutuhkan aku di dekatnya... untuk menjaganya... mwihihihihihi....

Aku nggak pernah nyesel harus menikmati perjalanan panjang untuk meraih impianku, bersamaan menjadi kakak yang berjuang untuk menjaga dan memberi perhatian buat kamu. Sampai tiba saatnya kamu rela aku jauh dari kamu, karena kamu sudah besar... :D

Makasih ya dek, sudah memberikan aku banyaaaaaaaaakkkkk sekali pengalaman, dan semoga selalu menjadi kakak kesayangan.. :D :D

Maaf ya, aku selalu gak sukses bikin masakan buat kamu. Bahkan dengan ancaman dari kamu untuk gak masuk sekolah pun, aku belum bisa masak yang enak buat kamu. Tapi sekarang...aku sedang belajar dan berjuang untuk itu... Kowawa....

Nah, sekarang, saatnya kamu yang berjuang demi cita-citamu. Aku akan mendukungmu, selalu.
Aku kirim peluk dari jauh ya...
Ingat... Jagan jauh-jauh dari Tuhan ya... :)

Tuesday, January 31, 2012

Aku dan Kamu, Dulu

Dear You.... :)

Haalloow... apa kabarmu, teman masa kecilku? Apa kamu masih punya rindu buatku? Hehehe... becanda aja....
Wahh.. berapa lama ya kita tak bertemu?? kamu masih ingat tidak, waktu kita masih duduk di bangku SD dulu? Katanya, kamu pacarku.... *eeaaaaa*

Padahal sejujurnya aku nggak ngerti apa artinya pacar waktu itu. Kita cuma sering belajar bareng, maen bareng dan ... pulang bareng.... kita juga pernah janji untuk tidak saling melupakan yaaa.... Ahahahaaha....

Aku suka kalau mengingat-ingat tentang masa itu, waktu kamu boncengin aku naik sepedamu... mwihihihihi... maaf ya, sudah merepotkanmu. Terusss, kita juga sering nonton kartun Dragon Ballz di rumahku... Hag hag hag.... apa banget deh yaa... gitu aja kita udah ngerasa seneeeeeeengggg banget....

Sampai akhirnya.... aku harus pindah ke luar kota, karena ikut ayah yang mutasi kerja.. :(
Tapi kita janji untuk tetap saling menjaga komunikasi. Karena biaya telepon SLJJ cukup mahal, jadinya kita maen kirim-kiriman surat dehh... :) Aku selalu suka membaca kabar darimu, dan selalu ingin cepat-cepat ketemu kamu.

Mungkin, kebiasaan itu juga ya, yang membuat kita suka menulis cerita, sampai sekarang. Iya, kamu suka menulis juga kan sampai sekarang? :D

Yaaahhh.. apalah daya.... mungkin saat itu kita sudah lelah ya... kita pun tak lagi punya cerita bersama, meskipun... kadang-kadang aku nggak lupa... sama kamu.... :P

Tahun-tahun berikutnya... kita ketemu lagi ya... tapi... aahhh.. entah, aku lupa saat itu aku merasakan apa. Aku ingat, adikmu, yang sering kamu ajak main bersamaku, pernah bilang padaku, biar aku deket lagi sama kamu...

Dan sempat juga aku bertemu ibumu, yang pernah mengajari aku memasak, di rumahmu... Ah, aku juga masih malu-malu.... Ehhmm kapan beliau kau beri hadiah menantu? *eehhh

Oh iya, lebaran tahun lalu, kamu ingin bertemu denganku. Tapi, sayangnya kita belum sempat bertemu. Katanya, kamu ingin bertukar tulisan denganku... Atau kamu malah mau mengenalkan calon ibu untuk anak-anakmu? Iya, gadis yang ada di rengkuh pelukmu saat itu.
Iya lebaran tahun lalu, saat kita tak jadi bertemu, aku melihat kamu dengan gadis itu. Mungkin kamu tak melihatku, maaf juga aku sengaja tak menyapamu. Maka dari itu, aku memutuskan untuk tidak memberitahumu, bahwa aku masih di kampung halaman kita, waktu itu.

Maafkan aku. Aku tak mau ada yang kemudian salah sangka. Memang ada hati yang harus kita jaga, agar kita tak menyakitinya.
Jadi, biarlah do'a saja yang menjadi media komunikasi kita. Aku do'akan semoga kamu bahagia, dengan apapun yang akan menjadi kehendak-Nya.

Terima kasih sudah memberiku masa lalu yang membuatku tersenyum saat mengingatnya. Iya, tentang aku dan kamu, dulu.