Showing posts with label #30HariMenulisSuratCinta. Show all posts
Showing posts with label #30HariMenulisSuratCinta. Show all posts

Wednesday, January 16, 2013

Ingin Menjadi Sahabatmu, Ibu

gambar dipinjam dari sini


Untuk yang Selalu Tercinta, Ibu

Assalamu'alaikum Ibu...

Ibuuuuuuuuuuuuu...... Aku berteriak riang.... apa ibu mendengarnya? Semoga ibu mendengarnya. Meski aku berteriak dengan rajutan aksara ini :) Hari ini ibu sibuk apa? Sepertinya sudah lama kita tak saling bercerita. Tapi aku sungguh suka, libur akhir tahun kemarin bisa aku luangkan lebih banyak untuk bercerita dengan ibu. Merangkum semua perjalanan yang kita lalui. Membaginya dalam tawa meski duka sedikit menyisip di dalamnya.

Aku ingat, saat pertama kali aku menulis surat untuk ibu dengan sendirinya, bukan untuk membalas surat yang selalu ibu kirim kepadaku setiap bulannya. Ya, tinggal berjauhan membuatku terbiasa dengan bahasa-bahasa tulis daripada lisan. Aku tak begitu pandai bercerita saat menjawab telepon dari ibu yang seminggu sekali itu. Hmmm... waktu itu aku masih duduk di bangku SMA, aku merasakan rindu yang teramat sangat. Aku menulis cerita berlembar-lembar dan membubuhkan nama lain setelah tandatanganku. Nama itu, Martina Cannavaro. Nama yang kemudian membuat ibu penasaran dan aku merasa semakin diperhatikan. Mungkin, saat itu, yang ada dalam pikiran ibu, aku sudah bukan anak yang bersikap dingin. Lebih bisa menyampaikan yang dirasa, yang dipikirkan dan disukai. Bukan lagi anak gadis ibu yang lebih suka menutup diri dari orang lain, termasuk dari ibu.

Perlahan memang semua berubah, aku pun merasakannya. Ada kehangatan yang sejujurnya aku rindukan. Ya, aku merindukan masa-masa itu sebelumnya. Aku sendiri sebenarnya tak tahu, bagaimana semua bisa dimulai. Mulai banyak hal yang selalu ingin aku bagi dengan ibu. Termasuk rahasia-rahasia kecil yang aku punya... :D

Hingga sekarang, aku pun merasa senang bisa menjadi pendengar untuk cerita-cerita ibu. Bahkan berbicara di telepon sudah membuat aku ketagihan. Maaf jika dulu, aku tak begitu menikmati pembicaraan kita di telepon. Aku sendiri tak tahu, tapi sungguh, aku tak pernah punya keinginan untuk tumbuh menjadi gadis kecil yang dingin, yang cerianya hanya dibagi sesuka-sukanya. Terlalu egois ya, padahal jika aku mau ceria kapan pun pasti bisa menghibur ibu yang lelah sepulang kerja.

Tapi lihatlah, sekarang, jika aku pulang ke rumah, dan ada ibu di sana, aku memilih untuk setiap hari ada di rumah. Selalu rela berangkat siang-siang hanya untuk menamatkan cerita yang diiring jeda tidur malam... :) Sekarang, ibu selalu tahu cerita tentang aku. Tak lagi menebak-nebak, meski aku tahu, naluri ibu lebih kuat dari itu.

Terima kasih atas semua kasih sayang yang ibu beri. Aku tahu, ibu memang sosok yang pendiam dan tak banyak bicara. Tapi denganku, ibu selalu berusaha banyak bercerita dan bertanya. Mungkin dulu aku yang tidak peka, sehingga selalu bercerita seadanya. Tak merasakan kehangatan yang sejatinya aku rindukan. Tuhan sayang kepada kita, membukakan kesempatan untuk saling dekat. Mmm... yang ibu perlu tahu, sesungguhnya aku ingin selalu menjadi sahabat, untuk ibu.

Diam-diam begini, aku selalu memperhatikan setiap langkah ibu, pengorbanan ibu, yang aku tahu, aku ingin tegar seperti ibu. Ingin sabar dan kuat seperti ibu. Ingin setia seperti ibu. Sampai hari ini, ibu tak pernah lelah menjaga aku, adik-adik dan juga ayah. Keluh dan peluh menjadi pengikat kasih yang lebih hangat. Terima kasih masih sabar menunggu kebahagiaan yang pasti sudah dinanti-nantikan.. ;) Doa ibu semakin menguatkan aku, meyakinkan aku. Suatu kali, kita akan menikmati kebahagiaan itu bersama-sama. Yaa.. sesuatu yang sering kita bicarakan sebagai rahasia kecil kita... Aku selalu melukis senyum kecil sendirian ketika mengingatnya. Nanti yaaaa... segera... semoga segera Tuhan hadiahkan kepada kita... Aku yang akan menggenapkan kebahagiaan menjadi perempuan sempurna seperti ibu.. ;)

Selamat menikmati hari-hari ibu... Tersenyumlah selalu. Di sini, aku pun...


Aku,
putri manismu

Tuesday, January 15, 2013

Ternyata Hanya Wira

Dear You, @wira_panda



Hai Wira Triasmara... Semoga kamu selalu dalam keadaan baik yah.. meski mungkin, tadi pagi sempat menikmati kemacetan yang dipersembahkan ibukota... hehehe...

Ini adalah surat ke-dua yang aku tulis untukmu. Ya, yang pertama adalah pada event yang sama di tahun lalu. Aku sendiri tak punya pilihan lain. Sampai hari ini belum ada selebtwit lain yang membuat aku jatuh cinta seperti kepadamu... Entahlah.. Meski sungguh, aku jatuh cinta bukan karena sosokmu di dunia nyata. Aku merasa apa-apa yang ada dalam rasa dan juga pikiranku tersampaikan atas tulisan-tulisanmu. Baik di linimasa atau pun dalam karya-karyamu, termasuk wira allstar-nya yaaa... :D

Istimewanya adalah sebagian besar linimasa kamu :) Tidak terlau berat, tidak terlalu ringan. Aku rasa, kamu tidak pernah mengada-ada. Begitu yang kemudian terpikir olehku. Maka, aku selalu menikmatinya. Tak jarang aku me-retweet atau sekadar manggut-manggut dan mengikik sendirian setelah mengikuti linimasamu.

Oh iya, maaf yaa... karena terlalu sering mengikuti linimasamu, aku sempat cemburu, sungguh-sungguh cemburu. Ketika kamu begitu sering menulis tentang pacar barumu. Aaaahh... aku sendiri pun tak tahu, kenapa harus merasakan cemburu itu. Mungkin karena ilmu yang disukai pacar kamu, sama dengan yang aku suka... haha.. atau ada hal lain yaa... aahh sudahlah... yang penting sekarang aku tak lagi seperti itu.. XD

Semoga kalian langgeng, bisa segera sah... dan bisa menikmati menjadi pasangan serasi sampai kakek nenek.. aamiin...

Aku bahagia kok, kamu tak lagi menjadi Ksatria Patah Hati. Karena kutahu, kamu adalah Ksatria Penuh Kasih. Pasti pacar kamu senang bisa punya pacar yang perhatian dan pengertian seperti kamu.. :P

Terima kasih ya sudah menawarkan rasa linimasa yang berbeda untukku. Semoga suatu waktu bisa menjadi kenangan yang menyenangkan.. :)


Aku,
yang menyukai ceritamu :)


Monday, January 14, 2013

Aku Bangga, Ayah :)

gambar dipinjam dari sini


Assalamu'alaikum Ayah...

Apa kabar ayah Senin ini? Semoga ayah selalu bersemangat menjalani hari. Maaf ya.. kemarin pulang hanya sebentar dan terlalu banyak alasan. Tak bisa menemani ayah makan bersama seperti hari libur-hari libur sebelumnya. Hehe.. aku sedang menyembunyikan sesuatu dari ayah memang. Iya, tentang aku yang sempat sakit. Demam karena kelelahan. Karena itu, aku tak menelepon ayah dan juga tak kunjung pulang. Aku hanya tak ingin ayah khawatir, seperti waktu itu, ayah langsung ingin mengunjungi aku ketika mendengar suaraku begitu parau. Tenang Yah, sebenarnya kalau aku sakit, aku cuma butuh waktu bermain yang lebih banyak. Tak selalu butuh dokter. Kalau dokter cinta sih... mungkin... hehehehehe...

Ya sudah, yang penting kemarin aku sudah datang, mengunjungi ayah. Membayar rindu-rindu kita karena liburan akhir tahun banyak kita habiskan bersama. Jadi, kita semakin merindukan pertemuan itu. Yah, jika aku tak datang, itu bukan karena aku takut kehujanan atau kelelahan. kadang aku pun merasa bersalah kepada ayah, ada hal lain yang aku belakan dan membuat ayah lebih lama menunggu pertemuan kita. Ini bukan perkara aku tak lebih sayang kepada ayah. Tapi ayah tahu kan, aku selalu ingin tahu banyak hal baru. Aku tak begitu betah berdiam di rumah tanpa mengerjakan apa pun. Aku banyak merindu bertemu orang-orang baru, yang bukan hanya itu-itu.

Tenang Yah, aku masih putri kecilmu yang lugu dan selalu lucu :) Aku akan selalu menjaga semua kepercayaan yang ayah berikan. Aku tak bisa memberikan apa-apa yang istimewa untuk ayah. Aku hanya ingin melakukan banyak hal yang berguna untuk orang banyak dan menyimpan pengetahuan untuk masa depan. Ya, seperti yang biasa ayah ajarkan. Aku ingin ayah tahu bahwa semua yang ayah ajarkan, masih aku lakukan.

Oh iya, aku selalu senang jika ayah rindukan, ayah pedulikan, dan aku tak merasa ayah nomor sekiankan diantara kesibukan yang ayah kerjakan. Ayah pernah bilang kan, semua ayah lakukan untuk kami. Tak berkurang kehebatan ayah meski usia ayah semakin senja. Aku dan adik-adik tetap bisa bebas bercerita dan berbagi apa pun dengan ayah. Apalagi aku, yang sekarang lebih kerap bertemu ayah daripada adik-adik. Aku inginnya semua keberpisahan kita yang bertahun-tahun itu bisa terbayar. Meski masanya sudah berbeda.

Kadang aku terharu ketika di masa seperti ini ayah masih ingin membelikan aku boneka, "Kan dulu belum suka-suka banget. Sekarang masih suka kan sama yang lucu-lucu?" ungkapmu sesekali ketika menemukan penjual boneka di sepanjang perjalanan kita pergi. Aku juga ingin memeluk erat-erat ketika ayah masih suka mengajakku berwisata kuliner seperti yang dulu biasa ayah lakukan ketika pulang bertugas. Ketika satu atau dua hari kita bertemu setelah entah berapa purnama kita tak saling melihat satu sama lain. Sekarang, aku bisa menemui ayah sesuaku. Meski lebih banyak kita menempatkan pertemuan itu di penghujung minggu.

Ayah... keberpisahan yang menahun itu pun ternyata tak pernah mengurangkan kedekatan kita ya... Tak mengurangkan kesempatanku untuk bermanja denganmu. Meski masanya adalah sekarang. Aku tak lagi peduli dengan rasa-rasa sakit yang hinggap dan pergi semena-mena. Toh aku masih memiliki kasih sayang dari ayah. Maaf ya Yah, jika sampai hari ini aku masih sering merepotkan ayah. Masih belum bisa membuat ayah sebahagia ayah-ayah yang lain. Tapi ayah harus yakin, aku selalu berjuang. Aku juga ingin membahagiakan ayah seperti ayah-ayah yang lain.

Terima kasih ya Ayah.. sudah menjadi ayah yang baik untuk aku dan adik-adik. Terima kasih sudah menjadi pria paling romantis sampai detik ini. Terima kasih sudah mengenalkan banyak hal diantara suka duka perjalanan yang ayah tawarkan. Ini cara Tuhan menyayangi kita. Cara Tuhan mmbuat kita saling paham. Aku tak ingin lagi marah pada ayah yang dulu kerap aku lakukan ketika masih kecil. Itu mungkin caraku menyikapi rinduku pada ayah yang telah lama tak menemui aku dan adik-adik. Tapi lama-kelamaan aku paham, ayah tetap menjaga kami dari jauh. Mengajarkan kemandirian kepada kami. Dan, tak meratapi kesendirian. Tentunya, ada yang selalu menjaga kita semua, Tuhan.

Sekarang, ayah jangan khawatirkan aku ya... aku sudah besar... ayah berdoa saja, supaya aku bisa memberikan kebahagiaan juga kepada keluargaku nantinya. Aku ingin anak-anakku merasakan kebanggaan yang sama denganku. Bangga kepada ayahnya. Semoga aku bisa memberikan ayah yang sebaik engkau kepada anak-anakku ya Yah... ;)


Aku,
putrimu yang paling lucu :)



Sunday, February 12, 2012

Inspirasi Itu Istimewa :)

Untukmu yang teristimewa, Inspirasi

Entah seberapa lama dalam langkah-langkah perjalananku, aku sangat membutuhkanmu. Aku, selalu menunggu kehadiranmu. Apa kau tak pernah merasa istimewa ketika aku menyambutmu? :D Kalau nggak ada kamu, aku nggak tahu apakah aku masih bisa menyusup di hutan kata dan bermain-main di dalamnya.

Bagaimanapun, aku sangaaaaaattttt berterima kasih padamu. Atas kerja sama selama ini, dan... sampai nanti. Ehhmm... aku minta maaf juga ya, kalau saja aku tak menyambutmu dengan baik, ketika kau datang tiba-tiba. Iya, aku tahu bahwa itu kejutan darimu, tapi aku sendiri bukanlah manusia sempurna yang selalu mampu mengendalikan diriku dengan baik.

Meski begitu, ada sisa sesal ketika aku nggak bisa menjamu kehadiranmu dan memersilakanmu untuk bermain dengan imajinasiku. Ah, sayang sekali yaaahh... aku harap kau tak semena-mena marah dan ngambek nggak mau datang lagi... :( jangan yaaahhh... :D

Aku sangat menyukaimu, terlebih akhir-akhir ini, sebulan belakangan ini, ketika aku memutuskan untuk ikut memeriahkan #30HariMenulisSuratCinta, hehehe..... Meski aku pernah bolos beberapa hari, tak menulis surat... :P

Paling tidak, aku bisa mengenalkanmu kepada kakak-kakak Pos tercinta.. @hurufkecil @ekaotto @heykila @adimasimmanuel dan @perempuansore. Nah, kita juga harus terima kasih sama mereka, mereka yang telah memberi kesempatan, supaya aku dan kamu bisa selalu bersama, bermain kata...dalam cinta... :D

Oke, jangan bosan-bosan menemaniku ya, aku akan berusaha agar bisa menyambutmu dengan sebaik-baiknya. Dan mengajakmu bermain di hutan kata, seperti biasa. Aku, semakin sayaaaanggg... sama kamu....


Aku,

yang "bernafas" dengan inspirasi :)