Sunday, April 25, 2010
Saturday, March 20, 2010
Suami Piala Dunia
Jadi gadis pemimpi itu mengasyikkan!! Menahun, kegiatan yang tidak pernah berhenti dan tidak pernah ingin untuk dihentikan, adalah bermimpi. Tentang apa saja, yang jelas sesuatu yang membuat diri senyum-senyum sendiri membayangkan masa-masa yang akan terjadi. Wuahh spektakuler yang terbentuk atas sugesti sendiri, wkwkwkwkwk…..
Sebagai penikmat bola bau kencur, kadang aku juga punya mimpi aneh dari kegiatan persepakbolaan itu. Mulai dari jadi pemain bola, jadi psikolog sebuah tim sepak bola, atau sekadar menjadi supporter sejati yang bakal rela nonton secara langsung laga negeri Indonseia di sebuah perhelatan akbar Piala Dunia *ini sih harapan yang sangat diidam-idamkan*. Seperti saat itu....
Juni-Juli 2006
Sebuah program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang merupakan tugas wajib dari kampus mengharuskan aku bergulat dengan kehidupan sosial di sebuah kawasan terpencil di ujung timur Provinsi Jawa Timur *pemindahtanganan kegagalan untuk pergi ke Sawahlunto*. Menerima tugas negara yang cukup menyenangkan *lebay* dan melelahkan, tak menghalangi naluriku untuk berjuang mendapatkan siaran Piala Dunia 2006 di Bumi Bondowoso itu.
Memaklumi tak semua warga memiliki televisi layak tonton, harus sabar menunggu pertandingan-pertandingan besar yang memikat warga untuk menontonnya juga, sehingga mereka siap pasang channel dan tentu saja siap "digerebek" sekompi mahasiswa pegila bola yang tak tahu diri *malem2 buta nebeng nonton bola*.
Untungnya, signal ponsel lumayan bisa diandalkan. Info dari rekan-rekan nun jauh di kota bisa diakses lebih cepat dan akurat. Tapi tetep, pertandingan final harus disaksikan dengan mata kepala sendiri.
Masih ingat betul, perjuangan mencari tumpangan nonton final cukup sulit. Tadinya, Koramil bakal menjadi tempat asyik buat nonton bareng begundal-begundal KKN yang aneh itu. Sayangnya, televisinya bener-bener nggak kooperatif. Hingga akhirnya, tetangga seberang menjadi pilihan terakhir meski layar tipi banyak ‘semut’nya hehehehehe…
Duduk di kursi paling depan *nyadar ukuran badan paling minim* lengkap dengan sarung, kerpus, kaos tangan dan kaos kaki, aku nangkring dengan indahnya menyaksikan setiap pose yang dipamerkan para pemain Italia dan Perancis. Maklum ingin menjadi fans Azzuri yang setia :p. Mendampingi papa Cannvaro untuk merebut gelar juara dunia lewat adu pinalti. wuiiihhhhh kereeennnn abezzzz.....
Tapi detak jantungku jadi dobel kerjanya. Sang pemilik rumah ternyata punya piaraan yang namanya kucing. Lalu, kebawelan kawan-kawan yang justru mengganggu konsentrasiku makin membuatku tidak tenang. Dikit-dikit noleh, dikit-dikit ngecek kolong kursi, dan dikit-dikit nabok temen pake bantal yang berisik bilang, "Eh, kucing, eh, kucing," padahal itu kucing lagi lelap di bawah meja. Inilah yang membuatku makin bersikeras menambah satu impian lagi. Di ajang Piala Dunia selanjutnya, empat tahun berikutnya, akan lebih aman jika aku menonton bersama belahan jiwa yang telah dimuhrimkan secara sah (baca: husband) tanpa harus was-was diributi kucing…wkwkwkwkwk…kacau!!! Bakal lebih asyik juga acara taruhan nantinya, hehehehehe…
Menjelang Juni 2010
Nah, sekarang telah sampai empat tahun berikutnya, dan ternyata aku bisa aman tanpa kucing tanpa diamankan oleh belahan jiwa yang telah dimuhrimkan itu. Pertaruhan masih akan berlangsung antara aku dan kawan-kawan di setiap penjuru dunia. Lalu, apakah masih akan bermimpi Suami Piala Dunia lagi…???? Wkwkwkwkwkwk……
Friday, January 15, 2010
Bahaya Laten Laper!!!
kali ini sengaja menulis tentang kisah yang nyata...
saat lapar menjadi satu bagian yang paling penting dalam dunia nyata... *kalo masalah laper aja, mo bikin kisah nyata*
sebagai manusia awam yang biasa, pura-pura bisa analisis, mengamati bahwa untuk masalah laper yang terjadi pada perut, kayaknya orang juga nggak bakal pake acara tawar-menawar.... apapun bakal dilakukan, mulai dari makan di mana saja, merayu, mbaik-mbaikin orang, "ngerebut" punya orang sampe yang namanya jadi "jahat".... hmmmm nakutin ahh....
daripada ngebayangin yang enggak-enggak... yuk mari mesam-mesem mantengin yang di bawah ini..... :p
gambar ini diambil dengan sengaja, di tengah keramaian, tanpa maksud apa-apa.... aku heran... nasi bungkus yang mereka makan rasa apa ya? beraroma apa? itu yang di tengah-tengah jalan kan ampas kotornya kuda..... ihhhhhh......
tuch kan, orang jadi nggak peduli apapun, demi yang namanya perut....
katanya, sumber kehidupan itu otak... *katanya sapa juga nggak tau*
tapi, tanpa mengisi perut, otak juga nggak bisa kerja *jadi inget pepatah TANPA LOGISTIK TIDAK DAPAT BERPIKIR LOGIS*
tapi lagi, entahlah apa jadinya ketika makhluk Tuhan yang paling cute macam kita semuwa ni memasukkan apapun dengan cara apapun untuk meredam rasa lapar di perut....
bukannya berpikir logis, malah tambah semrawut......kekenyangan bisa menurunkan daya konsentrasi.... orang jadi bertindak ngawur dan serakah.... jadi kebayang satu stiker yang nempel di almari bos saia.... AWAS!! BAHAYA LATEN KORUPSI *nggak ngerti maksudnya*
PS:
maaf, tulisan ini dibuat semrawut, seruwet penulis yang lagi pengen klik "F5"... merci bien.... :)
Monday, December 14, 2009
Dasar, Ayam Mengaum
Dialihkannya perhatian untuk komputer di meja kerjanya, bukan untuk melanjutkan pekerjaan, tapi justru untuk nge-game. Refreshing dulu, batinnya. Baru setahun ia bekerja di perusahaan itu. Tapi bener-bener udah ratusan lembar cerita yang ia torehkan adalah tentang bos gila macam itu. Tanaya pun heran, kenapa dirinya bisa selemah itu, sedikit-sedikit mengeluh, sampai-sampai ia berharap bisa segera keluar dari neraka dunia ini.
“Saya tidak menganak tirikan divisi anda, saya tidak pernah mencabut fasilitas apapun pada divisi anda,” hardikan sang bos besar itu sungguh memekakkan telinga Tanaya , apalagi dia baru saja pulih dari penyakit diare langganannya akibat stress melanda. Ow ow ow ow…..kalimatku yang sebelah mana yang menunjukkan bahwa aku melakukan protes tentang fasilitas dan bla bla bla….. “Saya sudah melakukan penelusuran secara detil!” tandas big bos. Hah? Penelusuran gombal!!!! Tanaya merasa perlu ada hitam di atas putih untuk penelusuran itu, ia merasa dicatut namanya.
Tanaya berusaha sabar, dan beruntunglah dia memiliki perangai yang ‘tidak tau malu’ hingga ia dapat meredam kemarahan tanpa penyangkalan apapun dan tetap percaya bahwa yang benar pasti akan menang pada akhirnya…. Slow down beibeh…. Take it easy….
Tapi, kesabarannya pun terasa ngedrop seketika setelah tau pelaku pencatut namanya, WHAT????? Kepala divisi gue sendiri?????? Hantu muka rata, babi berkepala rusa, ayam mengaum….haduw….entahlah, analogi apalagi yang cocok???? Rasanya nafas Tanaya berhenti untuk beberapa sekon… Tanaya berjanji tidak akan memedulikan kadiv itu selama satu mingu, bukannya kekanak-kanakan tapi biar dia tahu, nggak akan ada lagi anak buah goblok yang bisa dia kibulin…. Mungkin gue terlalu polos, batin Tanaya….
“Hmmmm, aku kan manusia yang bisa diajak omong, aku salah apa coba? Kerjaan pasti beres, ngelembur pun gue jabanin kan La?” curhat Tanaya pada Lala, temen sekantornya. No solution, tempat neraka itu memiliki birokrasi yang aneh dan sarat dengan permainan kotor. Tanaya membayangkan apakah di tempat lain juga seperti neraka? Lebih baik memilih menjadi pengusaha dan menjadi bos yang baik, memanusiakan manusia, dan nggak sok pinter di depan orang lain.
Tanaya mengguncang mouse komputernya karena jengkel, pingin dibanting sekalian, tapi was-was hantu muka rata itu bakalan masang kamera CCTV di ruang kerjanya, dan mengada-ada peerbuatannya…. Tanaya bersumpah kalau dia kaya, dia nggak akan pilih rumah megah dan membangga-banggakan miliknya seperti yang dicontohkan ‘mandor-mandor’nya itu… berharap bisa bersikap lebih elegan yang bijaksana saja! *khayalan aneh sih memang, tapi mau gimana lagi*
Nay, Maafin Dooong…
“Gosh, gue nggak pernah speechless kayak gini,” desahnya.
Nayla melepas kerudung dan cardigan yang tadi dikenakannya lalu meletakkannya di gantungan baju samping meja riasnya, lalu mengganti stelan t-shirt dan jeans belel itu dengan piyama pink bergambar teddy bear.
Sekejap kemudian, Nayla meringkuk di atas ranjang kecilnya, sambil sesekali membuka-buka majalah Alia yang tergeletak di salah satu sisi ranjangnya. Bukannya konsentrasi membaca, justru pikirannya menerawang. Entah kepenatan apa lagi yang singgah di benak gadis cubby ini.
Yudhis baru saja pergi, meninggalkan keraguan (lagi) buat Nayla. Dua jam tadi, Nayla hanya mampu memandangi Yudhis dengan t-shirt polo-nya. Hati Nayla masih pekat, tenggorokannya seperti tiba-tiba tercekat saat akan mengeluarkan kata-kata. Sedikit sekali yang berhasil ia lontarkan. Padahal Nayla si ratu bawel buat Yudhis. Menurut Nayla, cara yudhis cukup smooth untuk membongkar permasalahan yang tengah mereka hadapi.
Seperti biasa, Nayla nggak pernah mau membicarakan sebab musabab jika dia memang sakit hati dengan Yudhis. Pacar bukan sodara bukan, males ah cepet-cepet baekan, pikir Nayla sambil mlintirin ujung cardigannya. “Kamu kenapa?” kejar Yudhis. Nayla menggeleng-geleng, sambil sesekali meneguk Nescafe original yang sengaja dibuatnya untuk menemani sesi obrolan mereka.
Yudhis sudah mengajak Nayla ngobrol ngalor ngidul tanpa batas, tapi Nayla hanya memberikan jawaban-jawaban pendek. Setiap Nayla ingin angkat bicara, ia selalu teringat saat-saat itu. Betapa ia merasa ditampar oleh orang yang selama ini dia sayangi secara diam-diam.
Menurutnya, untung-untungan jika seorang Nayla yang introvert mampu menceritakan hal yang cukup privasi sama orang lain. Butuh kepercayaan khusus untuk bisa melakukan hal itu…tapi sayangnya, Yudhis melanggarnya, entah paham atau tidak, sengaja atau tidak yang jelas Nayla sangat sakit hati. Nayla paham, Yudhis telah menyadarinya, tapi nggak tau kenapa Nayla belum bisa mencairkan suasana itu, saat hanya ada dia dan Yudhis. Sebenarnya, Nayla tahu, Yudhis orang yang pengertian, laki-laki yang baik dan cukup baik kontrol dirinya.
“Ayo Nay, udah biasa aja, maafin aja dia,” suara-suara itu terus melintas di benak Nayla selama ia berada di hadapan Yudhis. Meski nggak disuruh, Nayla juga tahu itu, tapi berat banget untuk kembali terbiasa dengan Yudhis. Belum lurus bengkoknya tulang hati, dan belum kering luka tikam yang menyayat (mulai lebai). Bagi Nayla, ini masalah pertaruhan harga diri. Bagian dari perjuangan hidup Nayla yang tiba-tiba tumbang oleh Yudhis. Tapi paling tidak, ia sudah bisa tegar, tidak ingin menangis seperti sebelumnya.
Nayla meletakkan majalah yang tadi dibacanya, berganti memeluk guling kesayangannya, dan menarik nafas panjang. Ingin rasanya memejam mata untuk melupakan semuanya. Merebah, memejam, plaaasssss, tidur pulas dan menyambut besok pagi dengan perasaan yang lebih baik, menghargai semua maksud Tuhan, seperti yang ia upayakan untuk menghargai maksud Yudhis yang beritikad baik memperbaiki semua kesalahan yang ada. “Masih sayang kamu, kok Dhis,” desah Nayla sebelum memejam matanya. Tidur kali ini, diawali dengan senyum kecil buat Yudhis yang mungkin juga lagi bingung mikirin gue, hehehehe ngarep kali…batin Nayla.
**sepucuk naskah teenlit yang belom juga laku :p
Tuesday, December 01, 2009
Membahas Kesibukan
Di sepanjang jalan terlihat berbagai kendaraan yang melewati jalan pintas sekitar perumahan yang Naya tinggali, yang baru saja dibangun sekitar satu tahun lalu. Yah, operasionalnya sih begitu, baru ramai sekitar setahun belakangan ini.
Sayangnya, sudah tak cukup layak untuk dilewati lagi, jalannya sudah pada bolong. Pasalnya yang lewat bukan cuma motor atau mobil pribadi, tapi truk besar, trus tanki bahkan bus sekolah setiap hari juga ikut wira-wiri di jalan pintas itu.
Apalagi kalau malam hari, awas bisa jadi ranjau, terutama bagi para pengendara motor, bukannya apa-apa, lubang itu ada yang sedalam sepuluh centi-an, dan tak hanya satu. Bahaya sekali saat terjadi papasan kendaraan.
Entahlah, semakin ilfil alias ilang feeling saat Naya harus melewatinya berkali-kali untuk mencapai tempat kerjanya. Huuh, bagaimana tidak, sudah ekstra hati-hati tapi pengendara lain justru semakin ngawur. Polisi yang ‘sepertinya wajib’ berjaga di ujung perempatan pun terlihat ogah-ogahan untuk mengatur lalu lintas kecil itu. Terlebih saat hujan turun, sepertinya mereka (para polisi itu, pen) justru menikmati hibernasi. Buktinya, mlompong tuh perempatan, yang ada hanya adu klakson antar kendaraan….ooppsss, where are you mr. police??? Is it not your part of life?
Bukannya Naya marah, tapi sedikit bertanya…
Bukankah setiap pekerjaan ada konsekuensi…?
Bukankah bayaran itu datangnya dari sebuah konsekuensi…?
Dan, adakah hukuman atas pelanggaran konsekuensi?
Saat seseorang memutuskan untuk memilih sebuah pekerjaan, apakah ia berpikir soal konsekuensinya? Mungkin saja tidak, justru setiap orang akan berpikir tentang akibat dari konsekuensi itu, BAYARAN! Hingga akhirnya, letak konsekuensi menjadi buram bahkan dengan sengaja dihilangkan.
Mungkin kita lupa dengan ikhlas
Mungkin kita lupa dengan yang namanya pengabdian
Mungkin kita lupa dengan tugas sebagai khalifah…
Semua kendaraan yang berhenti sibuk menunggu giliran untuk bisa mendapatkan bagian jalan. Sejenak, Naya menatap genangan air pada sebuah lubang di jalanan itu. Bercerminlah sahabat, genangan itu sangat kotor, apalagi dengan segala tingkah ‘kotormu’ akan semakin pekat.
260309
Sunday, November 01, 2009
Ku-pu-ku-pu-ku (Aku punya, aku punya aku)
Tapi, terlihat segumpal awan yang tak terlalu hitam, ia terarak paling depan di antara yang lain. Sedikit aku mengintai sesuatu di balik awan itu, ada cercah yang mengkilat… ummm itu matahari, kenapa dia malu-malu, aku ingin melihat kilaunya menembus embun pagi ini, walau sebentar saja. Aku hanya bisa berucap dalam hati sambil tersenyum.
Aku tinggalkan awan ku sebentar, indera penglihatanku terarah pada sesuatu yang tampak menungging di ujung kuncup bunga di taman milik mama. Warnanya sama dengan cercah sinar mentari yang bersembunyi itu, iya, kuning keemasan, ia mencari madu di bunga itu, tapi bunga itu masih kuncup… lalu aku memanggilnya dengan senyum, ia terbang ke arahku, dia menungging di ujung hidungku, kusapa dia dengan sebaris gigi yang terbungkus bibir mungilku. Ia tak beranjak, kutiup angin dari bibirku, ia terperangah. Kejutanku tak membuatnya pergi, dikepak-kepakkannya sayap kecil itu seolah mengacau bola mataku.
Kuhitung berapa detik ia betah melakukan itu. Ia cukup betah, tapi kakinya mulai lelah, lalu bertanya, “Kenapa kau memanggilku? Apa kau ingin menitip sesuatu?” tanya dia. aku pikir, baik juga kupu-kupu ini. Aku tak menggeleng ataupun mengangguk. Sepertinya ia mulai jengkel, ia pindah ke sebelah kiri pandanganku. Lagi-lagi ia menggerakkan kakinya. Aku hanya mampu terdiam.
Tak berapa lama, kakinya menyentuh ujung jariku yang menelungkup bersama telungkupan lengan yang mendekap dua kakiku yang menekuk di depan dada. Dia memaksa aku untuk bercerita, tapi aku tak mampu bicara. Aku kedipkan saja mataku, aku bicara padanya dengan hatiku. “Katakan pada matahari itu, kenapa dia bersembunyi di balik mega, padahal aku ingin melihatnya tersenyum, senyumnya yang mengkilat, yang mampu menerangi redupnya satu ruang di hatiku,” ucapku.
Kalau saja kupu-kupu kecil itu bisa bicara pada Yang Maha Segalanya, untuk ijinkan aku melihat senyum itu sebentar… saja. Jika memang masih ada waktu lagi, aku akan berjalan dengan cahaya itu dalam dekapan syahdu peluk-Nya. Hanya itu saja…
SUMPAH, Senyum Membawa Luka, PEMUDA!
Dan memang sudah takdir pula, bila seorang Kania selalu datang di tempat kerja pada batas maksimal, eh kepagian lima menit ajah Kania justru merasa bersalah… kasian bener Kania selalu menjadi ratu telat dari bayi…xixixixixi…
Segala macem aturan tak jua membuat Kania berhasil memerbaiki kasus kemangkirannya. Meski bukan potong gaji, infotainment dadakan lah yang bakal menjadi hukuman sosialnya.
Suatu pagi, entah mimpi apa yang membuat Kania datang 25 menit lebih cepat dari batas maksimal. Mungkin saja perayaan Sumpah Pemuda yang membuatnya bulat tekad memerbaiki diri. Mengejutkan, bukan hanya bunyi check clock Kania yang terlalu pagi, tapi…baru saja Kania berbalik menjauh dari mesin check clock , senyuman termanis yang belum pernah ia lihat sekalipun selama mengais rejeki di gedung biru itu, tiba-tiba menyungging dari bibir perempuan paruh baya yang manis. Tak lain dan tak bukan, Kania’s big bos… ooow, seperti tak percaya, Kania membalas dengan ragu, “Buset, jangan-jangan aku ke-GR-an?!” batinnya.
Sambil membawa puluhan teka-teki, Kania berjalan menuju ruang kerjanya. Batinnya senyum-senyum sendiri, makin mirip orang nggak waras. Antara senang, bangga, heran, aneh bercampur kayak rujak gobet. Sampai…”Jeglukkkk”, Kania pun mengaduh, kakinya terkilir, dan parahnya… HAK SEPATUNYA PATAH! Kania harus berjalan menyeret sejauh beberapa meter. “gosh, what happen aya naon”. Sepertinya Kania mengalami resistensi terhadap mimpinya semalam. Ia tak mampu mengingatnya sedikit pun….
Bukannya menyambar buku kerja, ia justru bergegas mencari pinnjaman lem ALTECO yang dikenal mantap mengobati luka-luka patah semacam yang terjadi pada hak sepatunya. Kania harus menguda-udal bakat nge-sol sepatunya detik itu juga, DILARANG MALU. Meskipun, sejumlah temannya terus saja melontarkan komentar dan cibiran nggak penting. “Udah lah, kalo biasa pake bakiak, bakiak aja…” Tasya mengomentari sambil cekikikan. Kania menyimpan balasan, dan tetap konsentrasi dengan ‘usaha sol sepatu’ barunya.
Mulanya, kania pengen ikut-ikutan iklan sebuah permen pedes jadul itu, PATAHKAN SAJA, dan BERES! Ternyata nggak enak sama sekali dipakenya, so, IKLAN ITU BO'ONG!!! >.<
Akhirnya, hak sepatu yang udah ia patahkan, harus dilem dengan teknik sebisanya:
1. Oleskan lem pada bagian yang hendak ditempeli
2. Biarkan lem agak mengering
3. Lekatkan hak sepatu
4. Gencet dengan benda berat supaya rekat
Untuk melakukan teknik 1-3, Kania bisa mengerjakannya dengan lancar. Tapi…untuk yang terakhir, Kania bingung. Biasanya, yang Kania liat di tukang sol sepatu itu, mereka pake kayu dan menambahkan paku kecil *keliatan banget sering nge-sol-in
sepatu*. Nah kalo di kantor, di tempat formal ini, apa yang bisa Kania lakukan.
Untunglah, bebalnya Kania bisa berguna untuk masalah semacam ini. Dia nggak bisa liat meja dispenser nganggur gitu aja saat ia sedang mengalami masalah besar. Kania menggencet sepatu dengan kaki meja itu. Orang-orang yang lalu lalang pun pasti bertanya, dan Kania CUMA NYENGIR! Yang penting…SEMUA BERES!!!Sepatu sudah bisa dipake seperti biasa, lem pun sudah disimpan kembali.
Tapi ternyata, bekas-bekas yang mengiringi usaha sol sepatu Kania itu sedikit mengganggu. Entah kebodohan apa yang ia perbuat, hingga lem pun berceceran di lantai. “Kaki gue bisa rusak nih kena Alteco,” protes Sabrina. Kania cuma menepuk jidatnya, dan berganti menyalahkan Sabrina yang melepas sepatu sembarangan hingga menginjak lem di lantai.Huuuh, bener-bener di hari SUMPAH PEMUDA, ada SENYUM MEMBAWA LUKA. Nggak pengen lagi deh. Pesan ku untuk para pemuda, nggak perlu bangga dengan senyum seorang bos judes! *Kania mengumpat-ngumpat dalam hati sambil terus berusaha membersihkan ceceran lem Alteco yang susah banget ilangnya.
Sunday, October 04, 2009
Unyil, Aku Kangen
Mungkin iya, apa hanya karena dalih aku kangen jalanan?! God, kenapa kau takdirkan aku untuk mencintai jalanan? Ternyata aku masih moody, sayang, kapan mau dewasa? “Yah kadang2 doang kaleee....” kilahku sedikit mencibir diriku sendiri.
Sekotak french fries dan segelas sundae strawberry bercampur debu pagi, membawaku terawang atas apa yang menyesak di dadaku kali ini serta tingkah konyolku tadi pagi. Lelah mencari seseorang yang telah lama tak kujumpai, sosok yang... sering ditepikan oleh mayoritas rakyat seperti kita, sok suci, sok kaya dan sok terhormat. Hanya karena sering melihatnya berteman dengan yang kumuh dan berumah 'kebebasan' seperti yang aku idamkan...
Unyil, aku mencarimu, aku kangen dihibur sama kamu, bulu matamu yang lentik, lincah gerakmu tanpa alas kaki, rambutmu yang keriting, kulit mu yang hitam karena terbakar daya paling bermankna, sang matahari dan satu lagi, kelihaianmu menghisap sepuntung racun yang dibalut rapi dengan kertas yang terasa manis katanya. Ya, semua yang ada dalam dirimu, seorang bocah berusia 7 tahun, ooops mungkin saat ini usiamu telah bertambah. Aku masih ingat, bercerita denganmu membuatku terasa menerima perihnya hidup.
Aku, memang tak lebih sengsara daripada kau, tapi kenapa kini aku harus sesenggukan di telinganya... (pasti dia geram...memalukan sekali ya...). aku tak pernah berpikir, jika aku yang memiliki takdir seolah lebih baik dari kau, dan tiba-tiba harus berjalan di atas roda kehidupan sepertimu, pasti aku tak akan setegar kamu, bocah. Aku hanya bisa bilang ini pedih, karena suatu kenyataan yang tidak, oops, maksudku kurang sempurna bagiku, aku, merasa diperlakukan bagai kacung oleh orangtuaku, mereka tak lagi pengertian, bahkan kejam pada batinku. Itu luka bagiku, Unyil.
Tapi kini aku tak dapat menemuimu, aku rindu saat kau membuka mataku kembali saat aku mulai roboh dan hampir terkalahkan oleh kekerasan hatiku. Di matamu ada kebebasan. Mungkin, orang lain tak melihatmu menggenggam masa depan dengan pasti, tapi aku tahu, kau mampu mengatasi semua masalah dengan kecerdikan dan ketangkasan jemari yang kau miliki. Bukannya malah sesenggukan sepertiku.
Kembali kulayangkan pandanganku pada pelataran pusat kota yang cukup luas itu. Masih pagi, tak cukup banyak orang bergerombol atau sedang temu kangen di trmpat itu. Ranting-ranting kecil beringin itu sedikit berayun saat angina pelan menghembusnya. Sejuk, tapi tak cukup lama, kalah oleh asap-asap tumpangan manusia-manusia pekarya itu. Setiap sudut bangku batu kuperhatikan, belum kutemukan sosokmu, Unyil. Sungguh, aku merindukanmu. Mungkin berjabat denganmu sudah cukup menguatkan aku.
Beberapa teman kecilmu mulai berlarian membawa kaleng bekas kosong yang siap menampung receh sumbangsih pejalan kaki. Berlari-lari kecil, hingga tak sadar kedua bocah itu menabrakku yang tengah memerhatikan sekawanan dara terbang kian-kemari. Seorang bocah gundul mendongakkan kepalanya, aku tersenyum, bukannya membalas senyumku, malah ia sodorkan kaleng dengan tangan kirinya. Aku diam sebentar, “Hei siapa namamu?” tanyaku. Dia hanya menggeleng. Aku ulang pertanyaan itu sambil sedikit mundur. “Iwan,” singkatnya. “Kau tahu dimana Unyil?” tanyaku lagi. Ia menggeleng. Aku ingin bertanya banyak, tapi aku sedang tak ingin bicara, aku masukkan satu koin 500 perak ke dalam kaleng milik Iwan, sebentar kemudian ia belari lagi mengikuti kawanan dara yang hendak pergi.
“Mbak, ini French fries dan sheaker kejunya,” sapaan waitrees berseragam kuning-merah itu membuyarkan lamunanku. “Terimakasih,” jawabku singkat sambil menarik sekotak kentang yang aku pesan untuk kedua kalinya pagi ini. Senyum waitrees itu seolah mengisyaratkanku untuk tenang saja.
Mungkin ini yang Tuhan maksudkan. Maunusia yang wajib belajar. Aku selalu bertanya, kenapa aku mencintai jalanan? Sedangkan Unyil pernah berkata padaku, kadang dia pun ingin menjadi anak rumahan, tidak pusing katanya. Tapi, dia selalu bisa menikmati setiap sisi hidupnya. “Ya nggak apa-apa,” itu jawaban pasrah yang selalu muncul dari bibir tipisnya yang kian menghitam akibat isapan ‘racun’ berbungkus itu. Matanya tidak pernah berkaca-kaca saat bercerita hal yang paling pedih sekalipun.
Ibu dan ayahnya saja sudah renta, kakak-kakak yang dia miliki saja tidak pernah menghiburnya. Justru ibunya memberikan seorang adik bayi, yang entah dia tak tahu kenapa bisa datang bayi itu. Kacau balau, rumah petak itu tak muat lagi. Ia hanya mampu berdalih senang bersama teman-temannya dan menyimpan harapan-harapannya dalam tiap kepulan asap rokok yang telah ia hisap. Unyil belum pernah berpikir untuk menjadi ranking satu di sekolahnya, belum sempat memikirkan cita-citanya di masa depan. Ia selalu menggeleng saat kutanya. “Yang penting bisa hidup,” mungkin itu yang ia pikirkan.
Pertahanan dirinya cukup hebat, untuk bocah sekecil itu. Sedangkan aku, hamper seperempat abad usiaku masih saja kacau saat menemui suatu ketidak sempurnaan. Tapi bagi Unyil, kesempurnaan itu tidak hadir dalam satu garis lurus dengan harapan. Kesempurnaan itu, ada di dalam hatinya, ia sendiri yang merangkai kesempurnaan itu. Ia bebas dengan hidupnya.
Aku pulang tanpa putus asa, ingin meraih besok pagi dengan senyumku, aku harap Unyil kini sudah bahagia.
Wednesday, July 11, 2007
life so beatifull
ketika roda kehidupan berputar, manusia tak pernah sanggup menghentikan...
jika benar hidup itu adalah takdir, maka setiap takdir adalah bagian dari kehidupan...
aku lebih merasa sedih jika harus meninggalkan, karena itu adalah buah dari pilihan...
tapi saat aku ditinggalkan, aku menerima dengan sedikit kesedihan, tapi inilah takdir..
ketika semua terjadi bertubi, manusia hanya akan bisa jadi perasa...
tapi jiwa telah diisi dengan segala karsa, aku pasti bisa menembus semuanya...
katakan itu setiap kau merasa sedikit kalah, atau hendak terkalahkan...
merangkai mimpi untuk mendapatkan senyum di esok hari sebagai kekuatan saat apapun terjadi di depan mata....
menutup diri, menutup mata dan menutup hati adalah sesuatu yang sama sekali nggak berharga. Itu hanya akan membuat kita semakin bosan dengan hidup, padahal masih banyak yang harus dicari dalam hidup untuk bekal ke alam yang lebih kekal kelak....
some people give me love....
some people give me light....
some people make me bright....
some people show me a wonderful thing....
some people show me many beautifull places....
some people hold me on the warm....
some people smile at me like a star....
some people let me look so sweet....
some people give their hands to reach me together....
some people stay here n not let me alone....
some people say "Go ahead 4 ur dream"....
some people want to live here with me for so long....
jika soulmate itu ada, hatimulah yang bisa merasakannya....
Wednesday, September 27, 2006
My Best Friend is My Best Rival
“Aku juga gak tau Ra, kok aku ilfil aja ya liat cewek-cewek di sini...” pasti itu jawaban yang keluar dari mulut Rian. Padahal, cewek yang naksir Rian tu banyak banget, cakep-cakep lagi. Abis Rian emang cakep, pinter, kaya lagi. Walopun kalo di depan aku, dia tu orang yang longor banget gitu… hehe…
Aku seneng juga sih kalo ada cewek yang lagi deketin Rian, coz aku juga kena imbasnya, mereka jadi perhatian juga sama aku. Jadi sering dapet lunch gratis cuma buat kasi informasi tentang Rian. Buat Rian, its ok aja kalo aku ngomong2 soal dia ke cewek-cewek itu, coz dia percaya, aku gak bakal bilang yang jelek-jelek tentang dia. Ini juga untuk aku, biar dia bisa lepas dan aku bebas… Bahkan ya, ada yang sampe kasi kado pas aku ultah cuma biar bisa ikut makan bareng aku sama Rian, dan tau nggak, kado yang dikasi ke aku tu lebih istimewa daripada yang dikasi Rian ke aku, dia kasi lukisan yang kereeeeen banget… aku jadi heran, dia salah ngasi kali, harusnya ini buat Rian kali, ato jangan-jangan dia lesbi, hahaha pikiranku mulai gak karuan. Tapi ya udah lah namanya juga rejeki buat aku.
Herannya, tiap kali cewek-cewek itu dah iya-iya, si Rian malah jadi ilfil, mulai ogah ngajakin kencan, ogah nganter jemput, dan payahnya lagi dia jadi ogah nembak…… o-m-g… Gila tu anak gak tau diri, cewek-cewek udah yang pada berkorban gitu dan dia cuma ngerelain aku yang yang dapet seneng, bego banget yak!!! Mulai dari Diva, Reni, Vika, Joy, Melinda, Gita, Zevina, Dewi, halah udah capek deh pokoknya…dan semuanya LEWAT sodara-sodara. Akirnya aku juga nyerah, udahlah biar aja ntar kalo ada yang nempel juga dia bakal nempel terus. Lagian aku juga gak tega ngebiarin dia sendirian tanpa temen. Abis dia orangnya emang diem banget sih, temennya selain aku pun cuma seorang Ali yang juga pendiem dan lebih study oriented gitu. Dasar emang Rian orang yang aneh…
“Yan, gue tadi baru diajakin kenalan ama cowok cakeeeep banget”, ceritaku pas lagi makan siang bareng Rian. “Kenal dimana? Anak mana?”, Rian menimpali sambil mulut masih penuh makanan. “Anak sini aja sih, anak Hukum, kayaknya dia baik deh Yan”, jawabku sambil senyum-senyum.
“Darimana kamu tau dia baik?” lanjutnya.
“Mungkin chemistry kali ya Yan”.
“Halah baru ketemu sekali doang lo dah kelepek-kelepek gini”, Rian nimpuk aku pake buku yang dari tadi ada di atas meja sambil cengengesan.
***
“Yan, kayaknya dia emang baik deh. Dia ngajakin keluar weekend ini”.
Rian diem aja, masih asik baca F1 Racing yang dari tadi dipelototinnya. Dia emang gitu sih, aku pasti kalah telak sama majalah favoritnya itu.
“Rian, aku ngomong pake mulut neh, mau aku ngomong pake nonjok?!”, belom sempat Rian komentar aku dah keburu melayangkan tinjuku ke lengannya.
“Aah, lo apaan si Ra? Sakit neh…”. Rian teriak kesakitan dan aku nyengir aja.
“Abis lo dari tadi gak dengerin gue cerita sih. Gue kan mau curhat ama elo!” aku mulai merajuk.
“Iya dari tadi gue dengar kok…”, Rian membela diri.
“Yan, gue
“Rara yang manis, baca tu pake mata, dengerin tu pake kuping, nah lo beda
“Ya deh, gue percaya ama lo, lo bisa denger gue. Walopun gue tau dua-duanya dilakukan oleh otak yang sama!”.
Rian diem, trus dia naruh majalahnya dan mulai dengerin aku.
“Lo suka ama Miko?”, Tanya Rian. Aku mengangguk.
“Dia juga gak masalah kalo gue temenan sama lo. Dia nggak kayak yang lain, yang tiba-tiba mundur setelah tau gue deket ama lo”, lanjutku.
“Baguslah kalo gitu, jadi gue gak matiin pasaran lo lagi
Aku tersenyum.
“Tapi ati-ati sebaik-baiknya cowok, juga bisa bejat, hehehe…”, kata Rian sambil mengusuk kepalaku.
Malem ini Miko datang ke rumah, katanya ada sesuatu yang penting yang pengen diomongin sama aku. Wah, dia mo nembak kali ya, pikirku gila.
Aduh, to the point aja deh Mik, ayo buruan gue udah gak sabar ni lo tembak, hatiku sudah berteriak-teriak ingin ditembak.
Aku cuma senyum-senyum simpul aja dengerin semua kata-kata Miko. Aku gak ngerti harus ngomong apa.
“Ra, lo sayang sama gue
Aku terbelalak, aku bingung mau jawab apa. Aku cuma bisa mengangguk pelan. Miko langsung melukiskan senyum senangnya. Semacam dia merasa lega gitu.
Siip dahhh, batinku.
“Rara, kalo lo sayang sama gue berarti lo mau dong bantuin gue?”.
Ooow aku ngerasa ada yang salah neh, bantuin apa? Kalo jadi pacarnya dia, berarti bantuin dia kali ya… hehehe…
“Emang bantuin apaan, Mik?”, tanyaku balik dengan nada agak terbata-bata.
“Aku bingung, harus mulai darimana ngomongnya. Tapi gue percaya ama lo Ra, gue harap lo bisa bantuin gue”.
“Iya, soal apa Mik??”, aku mengulang pertanyaanku.
“Emmm, bilang ke Rian, kalo gue suka sama dia, gue mau dia jadi pacar gue, please ya Ra…”, Miko bercerita dan mengucapkan kata-katanya dengan penuh kehati-hatian.
Aku rasanya mau pingsan, tenggorokanku tercekat. Aku melotot semelotot-melototnya. Speechless gitu deh pokoknya. Aku gak mengeluarkan satu kata pun, jangankan kata, decakan atau desahan pun enggak. GILA!!!!
“Dari dulu gue dah suka banget sama Rian, tapi gue bingung cara deketinnya gimana. Begitu ada kesempatan buat kenal lo dan gue tau kalo lo temen deketnya Rian aja bukan pacarnya, akhirnya gue yakin gue bisa jadian sama dia. Thanks banget Ra, selama ini lo udah bikin aku deket sama Rian. Dia pasangan ideal buat gue”, lanjut Miko dengan menggebu-gebu.
Gila, ideal. Gue harus bilang lo apa Mik? Lo gay? Gue gak sampe hati nyebut lo kayak gitu. Gue suka sama lo, gue sayang sama lo, terus gue harus gimana.
“Mau lo apa Mik?”, Aku baru bisa membuka mulutku setelah sekian menit.
“Temuin gue sama Rian, gue mau nyatain cinta gue sama dia”, pintanya.
Gila, emang Rian mau. Aduh, masa temen gue ditaksir gay juga sih. Oh My God, my best friend is my best rival neh kayaknya…
***
“Yan, gue gak tau deh harus gimana sama lo. Kayaknya emang takdir gue cuma jadi comblang lo aja!”
“Maksud lo…?”, Rian bengong.
“Miko gak suka sama gue, Miko gak bakalan nembak gue!! Tapi dia suka sama lo dan bakalan nembak lo. Ini serius Yan!!!!”, aku dah emosi banget, gak ngerti harus gimana lagi. Setelah ngomong semua ke Rian, aku langsung pergi ninggalin dia dan berharap dia gak gay juga karena selama ini dia selalu ilfil sama cewek-cewek yang ngedeketin dia. Sumpah, aku shock banget dengan kenyataan hidup yang harus aku hadapi. Menurut kalian aku harus gimana lagi… life must go on man!!!!
PS: Apa benar kita terlalu naïf dalam melihat dunia, seperti Rara??
Thursday, June 15, 2006
negeriku yang menangis
baru saja negeri ini bangkit dari derita tsunami....
baru saja bisa berjabat dari keruhnya perang saudara....
baru saja peringatan kerintihan rakyat tujuh tahun lalu itu selesai....
bersyukur masih diberi umur....
bersyukur masih ada rezeki...
tapi apa lupa juga dalam do'a....
tak kusebut semua saudara dan makhluk Tuhan di seluruh semesta....
hingga lagi bencana ada....
mohonkan lagi perlindungan....
hentikan hujat untuk saudara kita sendiri....
perih....pedih....sakit....dan...NELANGSA....!!!!
cuma ini kah yang bisa diberikan untuk hidup yang disini,saat ini dan esok....?????
Bali kita sudah sekian terenggut....
Aceh dan Toba tersambar....
kini pun Jogja porak poranda....
relakah apa yang indah kau lihat kian menyusut....hilang...dan LENYAP....
apa arti syukur...
apa yang bisa diperbuat dengan syukur...
Rob...lindungilah kamiyang tak ada daya ini....
tunjukkan arah di jalan-Mu....
hmmmm.... miris banget emang denger n ngeliatnya....
kita bisa apa saudara...
berikan hatimu untuk dia, aku, mereka dan kita semua....
berikan senyummu untuk dia, aku, mereka dan kita semua...
aku.....hhhhh...hhhhh
cuma tau, yang sudah, tak akan kembali....
tapi kita masih punya besok, lusa dan masa depan....
Saturday, June 03, 2006
hello....
it's my first join...
akhirnya, aku sempat juga membuatnya...
semoga lain hari bisa tetap ada dan memberi arti...
see ya... ;p