Semangat menyeru tak berkesudahan. Membumbungkan rindu-rindu mewujudkan satu impian yang berdua idam-idamkan. Itulah Bayu dan Galuh saat ini. Saat senangnya menanti. Mulai meniti hari dengan saling menghadiahi senyuman.
Rencananya bulan depan Bayu akan mengajak kedua orangtuanya untuk datang ke rumah Galuh. Ya, Bayu ingin secara resmi melamar sang pujaan hati.Tak ada lagi yang ia pikirkan selain mewujudkan impiannya bersama Galuh. Membangun keluarga yang bahagia, ya, sudah sampai disitu yang Bayu pikirkan, Bayu bayangkan, dan ingin menjadikannya kenyataan.
"Bayu, kamu sudah sudah yakin dengan Galuh?" tanya ibu tiba-tiba.
"Sudah, memangnya kenapa, Bu?" Bayu mmerasa ingin tahu.
Ibu terdiam, kemudian menggeleng.
"Ibu kenapa? Ibu katakan saja, aku nggak apa-apa kok.." bujuk Bayu kepada Ibu.
Ibu menarik nafas. Duduk di sebelah Bayu yang sedang asyik chatting dengan Galuh melalui sebuah messanger.
"Kalau ibu masih gamang, Bay. Entah kenapa, maafkan ibu ya, Nak..." ucap ibu sambil menepuk bahu Bayu.
Bayu terdiam, merunduk, mengalihkan perhatian dari laptopnya. membiarkan sekian pesan masuk dari Galuh tak terbalas.
"Hmmm, karena keluarga kita ya Bu?" tanya Bayu.
"Salah satunya, Nak. Sekali lagi maafkan ibu". Ibu meninggalkan Bayu sendirian.
Bayu membaca serentetan kalimat di kotak chattingnya dengan Galuh. Emoticon-emotico suka, tawa, bahagia, bertaburan disana.
Seketika jemari Bayu kaku. Tetiba terpikir dalam benaknya, ia takut memberi khayalan yang terlalu tinggi tentang dirinya dan Galuh. Ia tak ingin dianggap sebagai pembual. Bayu tak tahu lagi harus melakukan apa. Adakah satu hal yang bisa membantunya memecahkan masalah peliknya. Ya, keluarganya. Tentang prinsip keluarganya yang berat untuk ia lawan. Berkali ia memilih jalan tengah, membicarakan baik-baik. Nyaris ia berhasil mewujudkan impiannya. Tapi, ibu memberikan rambu-rambu yang membuat Bayu harus berpikir ulang.
Sesungguhnya, tak ada hal lain yang ia pikirkan selain tentang dirinya dan Galuh di masa depan.
Ada yang tertahan, hmmm.. ditahan tepatnya. Ada pikiran yang mulai mengacau di kepala Bayu. Ia tak ingin Galuh menerima perih kembali seperti dulu. Sungguh ini bukan sekalinya Bayu mengatakan pinangannya kepada Bayu. Sejak Galuh masih menjadi milik orang lain pun, Bayu telah berani mengatakannya. Seperti ada yang mendesaknya, Bayu sangat yakin kepada Galuh. Namun, baru kali ini Bayu memiliki kesempatan terbaik bersama Galuh. Tanpa ada keberpihakan siapa-siapa tentang rasa. Baru kali ini, berdua sama-sama meyakini untuk bersama.
***
Galuh sedikit kesal, semakin sering Bayu mengelak berbicara panjang melalui telepon, terutama tentang rencana mereka. Sering pula, Galuh harus berdiam memberikan kesempatan Bayu untuk berpikir, menenangkan diri katanya.
Hingga Galuh merasa lelah. Ia berusaha memercayai bahwa ini sungguh cobaan yang nanti, akan ada ujung yang menyenangkan.
Penundaan kedatangan keluarga Bayu ke rumah Galuh mulai membuat Galuh tak tenang. Ia ingin berbicara serius tentang semua itu dengan Bayu. Lagi-lagi, Bayu belum punya waktu. Ingin rasanya Galuh pergi menghampiri Bayu. lagi-lagi, Bayu melarang.
Bersabar, belajar lebih dewasa, begitu katanya. Galuh menurut, meski sedikit terpasa. Ia hanya tak ingin, masalah semakin berlarut-larut.
***
Minggu ini, Bayu datang ke Jakarta, memaksa untuk datang ke tempat kos Galuh. Galuh mengiyakan, meski sederet pertanyaan muncul di kepalanya.
"Aku harap ini kejutan. Kejutan terbaikmu, setelah tentang bandara waktu itu", ucap Galuh setelah berapa lama Bayu berdiam di hadapannya.
Bayu merunduk, lesu. Matanya berubah sayu. Bibirnya setengah bergetar.
"Bay", panggil Galuh lemah.
Bayu mengangkat wajahnya. menatap gadis yang ada di hadapannya dengan jantung yang tak sanggup ia atur degupnya.
"Galuh...."
Entah kenapa air mata tak sanggup Galuh bendung, ada sesak yang tak sanggup ia tahan. Semua kesahnya membuncah. Seakan ingin mengajaknya berteriak, sekeras-kerasnya.
Belum lagi Bayu mengungkap apa yang harus ia ungkap, ia harus menyaksikan Galuh yang mulai sesenggukan.
"Kamu nggak usah ngerjain aku kayak gini deh. kamu mendingan bilang semuanya. sebenarnya ada apa?" Galuh berucap diantara isakannya.
"Maaf Galuh. Aku dihadapkan pada pilihan yang aku sendiri tak bisa memahaminya"
"Apa? Ibumu? Keluargamu", Galuh semakin tak mampu menahan sesak yang terus menderak.
Bayu merunduk.
"Bukankah saat itu aku sudah bilang tentang masalah itu. Tapi, kamu bilang semua bisa beres... Bayu, aku serius sama kamu..."
Bayu berusaha menenangkan Galuh. ia ceritakan semua , tanpa mengurangi tanpa melebihkan. ia tahu, Galuh memiliki rasa tulus yang luar biasa. Ia gadis yang kuat. Bayu pun tak sanggup menetapkan satu pilihan yang sungguh tak menjadi yang ia inginkan.
Isakan Galuh mereda. Seketika ia tak sanggup memahammi takdir Tuhan. Entah ia yang tak punya pengalaman atau ada sesuatu yang ia biarkan menguasai tanpa peduli pada cerita-cerita kecil Tuhan.
Perlahan Galuh menganngguk. Ia berusaha tegar dan tegak dengan segala kenyataan. Menyesap kembali perih-perih yang pernah menghampiri.
"Akan lebih baik kalau kamu menuruti semua saran ibumu, keluargamu. Aku tahu Tuhan itu Mahaadil".
"Boleh aku bertanya sedikit, Luh?"
Galuh mengangguk.
"Bukankah ibu Ikram begitu menyayangi kamu. Kenapa kamu bertahan dengan pilihanmu sendiri?"
Galuh terdiam. Semburat resah melesat diantara sesak dadanya. Menubruk satu ego yang mati-matian ia pertahankan.
"Galuh, ini pelajaran untuk kita. Tentang takdir Tuhan", ucap bayu pelan.
Seperti yang pernah kita ungkapkan. Kita harus berani merelakan. Menerima setiap jejak yang telah diatur oleh Tuhan. Mengecup semua hadiah dengan kerelaan tentang sebuah perpisahan. Tak ada yang perlu diagungkan, ketika semua telah sampai pada masanya. Tak ada yang perlu disesalkan, ketika semua telah sampai pada usainya.
Aku diam. Mengingat satu janji yang pernah aku kait dengan senyum Bayu. Bayu yang kemudian harus aku relakan dengan pilihan Tuhan. Dinar namanya, yang aku sendiri belum pernah mengenalnya. Aku relakan Bayu dengan segenap keteguhannya, untuk dia.
Bayu terdiam menatap langit-langit kamarnya. matanya tak bisa terpejam, secepat biasanya. Masih terngiang kata-kata ibu tadi sore. Hari Minggu ini aku harus ikut ke Jombang. Mengunjungi relasi ayah, yang katanya pula aku akan dijodohkan dengan seorang putrinya. Aku pernah bertemu dengannya, sekali. Dinar namanya. Cantik memang, berhijab, pun ia gadis yang santun, lagi pandai memasak, kata ibuku.
Bayu mengerjap-ngerjapkan matanya seolah melihat sesuatu yang tak ia duga. Lagi, bayangan tentang Galuh menghampiri. Ya, Galuh. Sampai kini pun entah apa yang harus ia terjemahkan tentang perasaannya kepada Galuh. Ia sederhana dan memiliki makna yang luar biasa. Ah, terlalu subyektif, batinnya. Namun, kadang begitulah cinta. Menjelmakan pesta semesta di setiap cerita, meski luka kadang menjadi sekat yang sedikit menyiksa.
Sekali lagi ia meyakinkan dirinya, Galuh akan menjadi milik pemuda lain, yang memang telah Tuhan kirimkan untuknya. Tak hendak Bayu lupakan Galuh begitu saja. Meski tak sedikit gadis-gadis yang datang menyapa kehidupannya. Ini, kali ke-tiga pun ibu menjodohkan aku dengan gadis yang lebih dulu dikenalnya.
***
Jombang. Pukul delapan malam Bayu dan keluarganya berpamitan, meninggalkan rumah Dinar. Tak banyak yang Bayu bicarakan dengan Dinar. Bahasa Bayu, ia tak temukan chemistry. Ia tak bisa tertawa lepas seperti ketika Galuh ada di dekatnya. Tak pula dengan gadis-gadis lain yang sempat dengannya. Mungkin Bayu sudah terobsesi. Mungkin.
***
Pagi ini aku berangkat ke Jakarta. Dua hari aku tugas di sana. Boleh kita ketemu?
Galuh membaca pesan singkat Bayu. Ia tergagap. Belum genap matanya terbuka. Tubuhnya kembali lunglai ketika mengingat pertemuan terakhirnya dengan Bayu waktu itu. Bayu telah meyakini bahwa dirinya akan benar-benar menikah dengan Ikram. Ia tak berani mengatakan kepada Bayu bahwa dirinya sungguh tak bisa menerima Ikram. Ikram baik, namun mungkin belum tentu sekarang. Galuh belum sekuat itu berjuang untuk masa depannya dengan Ikram.
Galuh bingung harus memberikan jawaban apa kepada Bayu. Saat ini ia bebas bertemu siapa saja. Galuh menyudahi semua komitmen yang pernah ia bangun bersama Ikram. Galuh mengaku kalah. Namun ada ketakutan yang entah dari mana asalnya. Ia takut tak ada lagi kemungkinan untuknya menyatu kembali dengan Bayu.
Hari ke-dua Bayu di Jakarta. Galuh tak juga memberikan kesanggupan bertemu dengan Bayu. meski ia tahu, ia sungguh ingin menatap lagi mata Bayu lekat-lekat, menemukan dirinya jauh di dalam tatapannya. Sangat dalam. Mengulang lagi tawa-tawa yang mengalir begitu saja diantara mereka bersama semesta.
Aku pulang malam ini. Pesawat jam sembilan. Mungkin sore aku berangkat ke bandara.
Sekali lagi, Galuh hanya memandangi layar ponselnya dan membaca pesan Bayu berulang-ulang. Ya, berulang-ulang.
***
Bayu meminta sopir taksi berhenti sebelum memasuki tol menuju arah bandara. Tetiba terbesit untuk menemui Galuh di kantornya. Tapi kemudian Bayu mengurungkan niatnya. Ia memilih melanjutkan perjalanannya menuju bandara.
Galuh cepat-cepat membereskan barang-barangnya, dan pulang tepat waktu. Entah bagaimana ia menata perasaannya yang kemudian memutuskan untuk menyusul Bayu ke bandara. Tak banyak yang bisa ia lakukan. Terpenting, adalah berdoa bisa bertemu Bayu. Cukup.
Kamu di terminal berapa?
Bayu yang sudah sampai di bandara, baru saja sempat membaca pesan Galuh yang dikirim 45 menit yang lalu.
Terminal 1B
Bayu membalas cepat. Kemudian ia sengaja keluar, menuju ruang tunggu. Ia berharap, Galuh benar-benar datang, menemuinya.
Bayu menatap jam tangan. Jam enam lebih sepuluh menit. Ia belum sholat maghrib. Ia pun bergegas menuju musholla bandara. Tak lupa, ia sempurnakan doa.
Kembali dari musholla, Bayu melihat sosok yang dikenalinya. Galuh, ya, itu dia.
"Galuh", Bayu setengah berteriak.
Pemilik nama seketika menoleh. "Bayu", Galuh tergagap. Terkejut, Bayu telah ada di depannya sekarang.
Tak banyak bicara, Bayu mengajak Galuh menuju ke sebuah tempat makan cepat saji. Mereka duduk berhadapan. Saling diam. Saling menatap. Saling diam, menatap, begitu seterusnya
Bayu berdehem, memecah kesunyian tempat makan yang hanya diisi kira-kira lima orang pengunjung itu.
"Kamu lagi sibuk ya?" tanya Bayu memulai percakapan.
"Maaf, aku...." Galuh tergagap.
Sebelum Galuh mampu melanjutkan kalimatnya, Bayu mengangguk-angguk, seakan mengerti.
"Sudahlah, kita tak punya banyak waktu. Aku hanya ingin tahu kabarmu", katanya sambil tersenyum.
"Terima kasih Bay, kamu masih memedulikan aku", balas Galuh.
Hening sejenak, hingga kemudian Bayu menarik nafas panjang dan bertanya, "Jadi, kapan kamu dan Ikram..... menikah?".
Galuh menatap Bayu dengan matanya yang sayu. Perlahan ia menggeleng. Banyak yang ingin ia katakan, ia ceritakan. Namun tak satu kata pun mau menyatu dengan suaranya.
"Galuh, kamu? Kamu nggak jadi menikah sama Ikram?" Bayu pun mulai tergagap.
"Aku nggak bisa membohongi diriku sendiri, Bay... Ikram bisa menerima semuanya. Aku pun katakan padanya, ia tak perlu bersusah payah menungguku. Aku siap dengan semua yang harus menjadi konsekuensinya", cerita Galuh.
Kemudian, Bayu memberanikan diri untuk menceritakan tentang Dinar. Ia ingin tak ada lagi yang ia sembunyikan dari Galuh. Bayu tak sanggup sekali lagi kehilangan Galuh. Selama ia masih mampu berjuang, ia akan lakukan itu.
Bayu kembali sanggup tertawa, memendar tatapannya mencipta semu merah di pipi Galuh. Ada tenang diantara mereka. Menggurat sisa senyum senja. Kembali mereka menyusun impian-impian yang nyaris mereka musnahkan. Tak ada yang tahu dengan ketentuan Tuhan.
Bayu mengambil pulpen dari sakunya, kemudian menyobek selembar kertas dari agendanya.
10-11-12 <3 i="i">3>
Tulisan di kertas itu, terlihat jelas. Artinya tanggal sepuluh bulan sebelas tahun dua ribu dua belas. Bayu menyodorkan kertas itu kepada Galuh.
"Kamu boleh merencanakan dan membuat semuanya menjadi hal yang paling kamu suka. Disana, nanti ada kita, berdua".
Galuh tak bisa menahan rasa yang terus menderak-derak ingin diungkap. Ingin rasanya memeluk pemuda di depannya saat ini. Galuh mencoba mengendalikan dirinya. Bersabar atas inginnya. Hingga semua luapan itu berganti buliran air mata yang jatuh membasah pipinya bersama senyum yang tak kehilangan pendar.
Bayu memberikan tissue agar Galuh menghapus air matanya. Bayu menemani Galuh tersenyum. Bahkan ia menghadiahkan satu tawa suka.
"Terima kasih Galuh".
"Kita harus berterima kasih kepada Tuhan, Bay. Tuhan yang telah mengembalikan kebersamaan kita. Semoga tetaplah menuntun sampai terwujudnya impian kita".
Bayu melirik jam tangannya. Sudah saatnya ia melanjutkan perjalanan. Membawa pulang tawa untuk kemudian menjemput impian.
Galuh melambaikan tangan kepada Bayu yang punggungnya beranjak jauh.
Galuh melangkah sambil menahan senyum yang sungguh ingin ia luapkan saat itu juga. Ia pulang. Begitu pun perasaannya, telah pulang, pada hati yang membuatnya nyaman.
Aku tak mau menghitung rindu
Karena bisa menghitung luka pula lah aku jika kau tak juga rindu
Aku tak rela terlalu rindu
Karena tanpa kau tahu, kau telah memadamkan kelip asa setiap kali kau memalingkan wajahmu dariku
Aku tak mau menyekat rindu
Itu lebih sakit daripada saat aku hanya bisa menikmati senyummu dalam imajiku
Kini rindu yang pernah kugenggam menelusup dari sela-sela jemari
Menguar serupa kabut tanpa tahu akankah ada mentari esok hari
Mungkin semesta tahu, bahwa aku sengaja membiarkan rindu terbang mencari tuannya,
Berharap tanpa sangkal menerimanya, bahagia
Kelak ia akan tahu bahwa aku takkan menunggunya lagi
Sekeping rindu itu tak akan kembali, ia terapung di belantara tanpa tepi
Lalu aku?
Aku akan tetap bernyanyi diantara sepi dan riuhnya semesta
Tanpa membingkai nestapa sebab ia yang tak tentu, rindu
Tapi kita tahu tak ada yang mengijinkan aku memagut langkah kepadamu
Tanyaku cuma satu, apakah ada namaku terpatri di hatimu?
Jangan
ragu mengatakan apa pun itu
Mungkin itulah nanti yang akan
menyelamatkan sebuah rasa
yang selama ini kita mainkan dramanya
Puisi Berbalas Farah Lestari dan Wulan Martina Editor: Ayu Yudha ;)
Tepat hari ini 1 bulan lalu. Saat pertama aku berpisah denganmu. Aku masih ingat bagaimana senyummu menyusup menjelma rindu setiap harinya. Aku ingat bagaimana kau melepas tawa kecilmu atas canda yang begitu saja tercipta diantara kita. Satu bulan, ternyata itu waktu yang sangat singkat. Seolah baru kemarin aku bertemu denganmu. Sekarang, aku hanya bisa menatapmu melalui sebuah gambar.
Apa kabarmu? Apa rinai hujan pagi ini sanggup menyampaikan rinduku, padamu? Aku harap kau mendengarnya, aku bernyanyi, untukmu, atas rinduku padamu. Kau tahu? Semalam aku berbincang dengan Tuhan. Menanyakan apakah perjalanan ini masih dapat aku lanjutkan, atau sampai disini saja. Kadang aku lelah, menahan rasa yang harus aku sekat-sekat.
"Lassie....aku kangen kamu..." kataku sambil memandang foto Lassie. Ya, Lassie, anjing kesayanganku. Sahabat setiaku yang sealu menemaniku kala suka maupun duka. Ayahku memberikan Lassie padaku sebagai teman untuk melewati hari-hariku selama aku menempuh pendidikan di tanah tetangga. Aku terlalu menyayanginya, mungkin. Ah, tidak. Pasti. Iya, aku sangat menyayangi Lassie. Alasan apa aku ingin mencampakkannya. Tapi aku tak bisa membawanya pulang.
Tadinya, aku menitipkan Lassie kepada sahabatku, yang memang penduduk asli, Marry. Sayangnya, Marry harus hijrah ke Australia dan bekerja disana. Terakhir aku mendapatkan kabar, Lassie sering jatuh sakit. Tubuhnya mengurus. Aku membayangkan, apakah bulunya masih secantik dulu. Aku sangat ingin pergi menjenguknya, mungkin juga membawanya pulang. Tapi bagaimana, tugas-tugas kantor tak bisa aku tinggalkan meski hanya untuk menikmati liburan yang hanya sebentar.
Akhirnya, rasa rinduku mengalahkan segalanya. Aku membulatkan tekadku untuk mengunjungi Lassie. Tapi, masihkah dia mengingatku? Masihkah dia menganggapku sebagai sahabatnya? Keraguan itu mulai muncul. Ketakutan akan kehilangan Lassie seutuhnya makin menyelimutiku. Satu yang aku inginkan. Aku ingin ia membangunkan aku pagi-pagi, lau mengajakku joging di taman dekat asrama. Ah, itu masa paling indah yang aku punya bersama Lassie. Dia itu selalu menjadi mood booster bagiku.
Sebisa mungkin aku perhatikan kebutuhannya. Makanan, minuman, kesehatan, hingga mainan. Ya... mungkin juga bisa kami mainkan bersama. Aku ingin membawakan oleh-oleh untuknya. Mungkin, bisa membuatnya kembali sehat dan ceria seperti biasa. Oh iya, aku masih menyimpan pita merah yang sering aku pasangkan di lehernya, nanti aku akan bawa juga.
Kenangan akan masa-masa indah itu kembali membulatkan tekadku untuk mengunjungi Lassie. “Mungkin ini kenapa cowok gue selalu jealous sama Lassie. Gue lebih perhatian sama Lassie daripada sama dia”, batinku.
Aku melihat ke kalender dan mulai membuka laptopku untuk mencari-cari waktu yang tepat untuk mengunjungi Lassie. Setelah 15 menit berlalu “YES!!!” seruku “Dapet tiket murah PP buat ketemu Lassie”.
“Lassie….I’m coming bebi” tulisku di akun twitterku.
Kurang dari 1 menit sahabatku Marry mebalas twitterku, “Hahaha….you never that exited with your boyfriend” katanya.
Aku menahan pingkal tawaku sendirian. Absurd. Mungkin. But it's real... hahahahaha... I love you always, Lassie.. Kukecup sekali lagi foto Lassie dan mulai packing segala perabotan yang akan aku bawa untuk menemui Lassie.
Kolaborasi Nurul Soraya dan Wulan Martina
*saat langit belum maksimal menuntaskan rindunya kepada bumi
Sulis berseru pada Teguh, ketika cowok berambut bergundi itu menyambar dengan kasar buku tulisnya.
“Apa-apaan si lo?!”
Teguh hanya cengar-cengir dan teetap menyembunyikan buku tulis Sulis di balik punggungnya. Sulis mencoba meraih sebisanya. Tapi Teguh justru membawa buku itu, berlari ke seluruh penjuru kelas. Spontan teman-teman sekelasnya bersorak-sorai. Pipi Sulis memerah. Ia malu, kesal, dan entahlah.
“Oh, pangeran! Kapankah enggkau datang? Menghampiriku dengan cinta yang menggebu-gebu!” Teguh membacakan tulisan yang tertera di buku tulis Sulis keras-keras. Sorak-sorai di kelas semakin menjadi-jadi, bahkan sampai ada yang tertawa terpingkal-pingkal sambil menunjuk-nunjuk Sulis.
Wajah Sulis lama-kelamaan berubah menjadi merah, tak kuasa menahan malu yang ia tanggung akibat berbuatan Teguh yang menurutnya telah di ambang batas. Tapi karena ia tak bisa berbuat apa-apa, rasa kesal serta malu, juga rasa-rasa yang lainnya pun menjadi satu dan membuat kantong air matanya pecah.
“Lo TEGA!”
Sulis menangis. Ia berlari keluar kelas. Ia bersembunyi di kamar mandi. Sulis sesenggukan. Mirna, sahabatnya, mengejar Sulis, dan berusaha menenangkannya.
Teguh terdiam diantara riuh teman-teman sekelasnya. Ia sebenarnya bingung harus berbuat apa. “Kejar Guh.. kejar…” sorak beberapa teman kepadanya.
Teguh membuka lagi tulisan Sulis, kemudian cepat menutupnya kembali. Ia berlari mengejar kemana Sulis pergi. Langkahnya pun terhenti, tak mungkin ia masuk ke kamar mandi putri. “Ahh”, desahnya sambil menggaruk kepalanya.
“SULIS!!” Teguh berseru nyaring, tak tahu apa yang harus ia lakukan lagi. Beberapa orang yang lewat menatapnya heran, namun rasa bersalah membuat rasa malunya mengkerut seketika.
“SULIS!! MAAFIN GUE!” Lagi-lagi Teguh berseru, kali ini lebih nyaring dari sebelumnya
Di dalam Sulis dan Mirna mendengar jelas teriakan Teguh. Mirna mencoba membujuk sahabatnya untuk keluar dan menemui Teguh.
Sulis berjalan pelan, di depan pintu kamar mandi, Sulis melihat Teguh sudah basah dengan keringatnya sendiri. Seperti habis mengikuti lomba lari. Seketika matanya berbinar mendapati Sulis ada di depannya. “Maafin gue ya.. gue nggak punya niat nyakitin lo.. Ini buku lo”, katanya pada Sulis.
“Gue suka aja dengan tulisan-tulisan yang ada di setiap halaman belakang buku lo. Dan, ini buat lo…” lanjut Teguh sambil menyerahkan selembar kertas dari saku seragamnya.
Wahai bidadariku, aku akan datang menjemputmu. Mengajakmu menari di angkasa, melukis bahagia. Maukah kau menjadi milikku?
Sulis menganga melihat tulisan di selembar kertas yang diberikan Teguh padanya. Ada kupu-kupu yang menari dalam perutnya. Ia tak bisa menahan derap jantung yang kian cepat.
Wajahnya semburat memmerah. Ini rona malu karena cinta. Terjawab sudah segala tanya dalam puisi-puisinya. Ya, pangerannya telah hadir dihadapannya.
Fin
“Colaboration Benedicta Sekar with Wulan Martina”
*tantangan dalam kelas "Menulis Bersama Penikmat Senja"
Mungkin
suatu saat aku hanya bisa berjalan tanpa harus menentukan arah sendiri.
Mungkin suatu saat aku hanya bisa melihat tanpa mampu memberikan
komentar tentang apapun yang sedang ataupun telah aku lihat. Mungkin
suatu saat aku hanya bisa mendengar tanpa bisa mengatakan tidak setuju.
Kemudian aku terdiam. Mengunci pintu kamarku rapat-rapat dan menangis
sendirian.
Berapa
lagi rentang waktu yang mesti aku tunggu. Berapa panjang cerita lagi
yang harus aku tulis. Berapa banyak lagi orang-orang asing yang harus
aku temui. Berapa kejadian lagi yang mesti aku saksikan. Jika semua
hanya ada untuk membuat aku terbungkam. Seperti aku yang sengaja
memenjarai diriku sendiri.
Bising.
Iya, hanya bising dengan tawa-tawa di atas nestapa-nestapa pada sekian
luka. Mereka, tak pernah memedulikannya. Mereka reguk semua kemenangan
di atas segala lemah diantara dosa-dosa yang tak pernah mereka tahu
lebih atau kurangnya dibanding milik mereka sendiri.
Gusar.
Iya, justru balasan gusar, kasar, bahkan kadang lebih tajam daripada
cakar macan paling besar. Mereka bangga dengan segala kepemilikan besar
yang tengah bersembunyi di balik punggung-punggung rapuhnya. Tak pernah
pula mereka sadar bahwa apa yang kini dirasakannya bukan atas
perjuangannya, sendirian.
Dan
sekarang adalah masanya. Ketika aku tak lagi melihat taman-taman dengan
pohon-pohon yang rindang, yang selalu memaksaku menari dan bernyanyi
pada semesta. Tentang apa saja, semua yang aku rasa semestinya.
Dan
sekarang adalah masanya. Ketika aku dipaksa diam dan terbungkam atas
semua cerita yang aku saja enggan menikmatinya. Aku tak boleh membenci,
katanya. Aku harus bersabar, katanya. Lalu, lama-kelamaan aku semacam
melindaskan tubuhku diantara roda-roda kendaraan yang bertuan, yang
mungkin aku kenal, yang mungkin juga tak perlu aku kenal atau justru
belum dan tak pernah aku kenal.
Jika
memang semua telinga tak lagi punya ruang untuk mendengar, jika memang
semua bahu tak lagi mau menjadi tempat bersandar, jika semua mata hanya
mau melihat dengan sebelah saja, jika semua hati tak lagi memiliki
empati, jika semua kisah telah dipaksakan antiklimaksnya. Baiklah, aku
berjuang... berjuang... tak ingin berkesah dalam pasrah. Aku takut Tuhan
marah.
Sebenernya saya nggak ngerti kenapa tiba-tiba saya ingat sama salah satu karya biangnya romansa, Teguh Puja, yang judulnya Semesta Rasa. Ya mungkin memang sudah saatnya saya sedikit cerita tentang bku itu.. :D Itu juga kumpulan cerpen seperti buku sebelumnya yang pernah juga saya ceritakan. Tapi di buku ini ada juga yang merupakan tulisan kolaborasi, yang cukup keren.
Mmmm kalau nggak salah ngitung ada sekitar 26 cerita pendek gitu deh di dalamnya. Seperti judulnya, semua yang diurai adalah tentang rasa. Yaa... semua rasa... suka, duka, bahagia, kecewa, keraguan, hingga ketulusan. tema yang diangkat juga sederhana kok, mudah dipahami, dan pastinya dikemas dengan bahasa yang sungguh mendayu-dayu.. *tsaaahh
Ya semakin kesini, semakin bisa diyakini lah bagaimana gaya kepenulisan penulis yang satu ini. Oh iya, satu lagi yang menarik, disini juga ada beberapa cerita yang mungkin memunculkan rasa-rasa gelisah, amarah, dan kegundahan lainnya yang dipaparkan tanpa kita menyebutnya jahat ataupun terbawa dalam benci-benci yang mendendam. Mungkin karena selalu diselipkan kebijaksanaan dan kebersahajaan ya... :D
Dari sekian cerita yang ada, ada beberapa yang menurut saya layak diistimewakan, seperti Menjelma Malaikat, Berdamai dengan Kehilangan, dan tentu saja Jingga di Ujung Senja. Cerita-cerita yang sangat mengesankan. Tapi sejujurnya, saya paling suka dengan satu cerita, dengan judul Ketulusan. Hmmm gimana yaa.. Lebih banyak kejutannya mungkin ya...
Ku Tak Salah Melepasmu Piyu feat Anji Pelan-pelan ku benamkan pikiranku Bahwa akupun tak salah melepasmu Selamat tinggal kisah indah bersamamu Selamat tinggal cinta yang sudah berlalu Sempat kurasakan sepi Tapi ternyata hanya pikiranku saja Masih banyak pilihan ada di depan mata Ku tak salah melepasmu Oo ku tak salah melepasmu Lambat-lambat waktu makin memacuku memacuku Setidaknya aku masih mengingatmu Selamat tinggal kisah indah bersamamu Selamat tinggal cinta yang sudah berlalu Sempat kurasakan sepi Tapi ternyata hanya pikiranku saja Masih banyak pilihan ada di depan mata Ku tak salah melepasmu Oo ku tak salah melepasmu Lambat-lambat waktu makin memacuku memacuku Setidaknya aku masih mengingatmu Selamat tinggal kisah indah bersamamu Selamat tinggal cinta yang sudah berlalu dicopy dari sini
Ehem... akhirnya... saya bisa dengerin lagu ini sampe abissssss.... :D Dari awal aja saya udah sukaaaa bangeeetttt.... Tapi di soundcloud-nya Kak Anji cuman di-upload separuh lagu aja. Dan tadi saya iseng searching, bisa dengerin dari sini xixixixixi..... Ini lagunya Mas Piyu berasa ada ceritanya banget deh dari yang pertama dulu, dan sekarang waktunya dia ngajakin move on... ehehehehe... ciaaaaapp... Mas Piyu ini memang baik banget yaahhh... :D Cobain ya... kalian dengerin jugaa... dan mudah-mudahan sukaa... seperti saya... ;)
Malam diiring hujan tanpa perhentian. Aku merasa dingin, beku, kemudian membisu. Seakan tak mampu menahan sesak yang terus mendesak. Iya, seperti ada yang menghunus jantung. Aku tak lagi peka terhadap do'a ataupun kalimah sakti yang mestinya aku rapal. Aku seperti dibunuh pelan-pelan. Merasakan sakit yang tak lagi mampu aku tahan. Malam diiring hujan tanpa perhentian. Aku merasa dingin, beku, kemudian membisu. Seakan langit begitu gelap, pekat. Gemuruh pun enggan peprgi. Menyaksikan aku yang terlunta dalam ketidakberdayaan. Aku berdiri. Namun kau tahu? Hatiku lumpuh. Beruntung tubuhku tak kemudian rubuh, terjatuh. Malam diiring hujan tanpa perhentian. Aku merasa dingin, beku, kemudian membisu. Aku bersimpuh. Membiarkan air hujan jatuh memukuli tubuh. Tak lagi mampu aku menahan air mataku. aku ingin berteriak, memanggil nama-Mu. Mendekat pada-Mu, berlindung di peluk-Mu. Mungkin benar, aku melupa-Mu. Maafkan Aku. Malam diiring hujan tanpa perhentian. Aku merasa dingin, beku, kemudian membisu. Aku beri ruang hatiku untuk bercerita pada-Mu. Tentang semuanya. Semua yang terlanjur aku anggap luka. Segala yang telah Engkau tentukan untuk menyempurnakan imanku. Maaf, aku baru bisa memahami itu. Tuhan, aku tahu Engkau tak pernah enggan menuntunku lagi. Aku, tak lagi ingin, salah memahami. Tentang Semalam. Malam diiring deras hujan tanpa perhentian Aku merasa dingin, beku, kemudian bisu Antara perih, sesak, serta lelah yang mengerak Fatwa luka macam apa?
Tuhan, terlambatkah aku menyapa? Untuk bercerita panjang Pada-Mu Hingga habis semua keluh yang aku punya Aku tersesat dalam penat Nafasku pun tersengal menahan sesak
Tuhan... Entahlah, rupanya aku melupa-Mu Namun, aku masih ingin di peluk-Mu Tuhan... Aku renta pada luka Namun, tetaplah tak mampu mengakrabinya lama-lama Gagalkah aku sebagai manusia-Mu?
Sungguh, aku tahu, bahkan meyakininya Engkau tak pernah merenggangkan peluk sekalipun Menyeka semua air mata luka yang tumpah bagai bah Aku boleh memohon satu, Tuhan? Lebih dekatkan aku pada-Mu Agar aku tak sempat lagi melupa-Mu Meski tengah melumpuh kuasaku
Bahkan siluetnya pun masih aku kenali dengan baik. Apalagi punggung tegaknya, sepasang lengan kokoh yang... ah... sudahlah. Aku tak perlu memastikan wajah pemilik siluet itu. Aku sangat yakin. Bahwa itulah dirinya. Ia yang masih mengisi desakan-desakan rindu. Rindu yang bertuan namun tak mungkin aku kirimkan.
Kamala menghela nafas panjang. Jemarinya ia genggam sendiri. Menahan getar yang entah sudah ia tahan berapa ratus detik. Kali ini ia menyelesaikan tegukan terakhirnya, dari gelas ke dua air mineral yang sengaja ia ambil di meja prasmanan.
Anggita datang menghampiri. Kamala tampak kikuk, kemudian melukis senyum yang diusahakannya menjadi senyum terbaiknya malam itu.
"Kamu kenapa, Kamala? Ayolah bergabung dengan yang lain. Katamu kamu ingin bertemu dengan orang baru, yang mungkin saja berjodoh denganmu". Anggita menarik lengan Kamala. Kamala menyambutnya dengan malas dan sedikit menahan.
Ini reuni. Artinya kita bisa bertemu dengan masa lalu. Bukan jebakan, ini kenyataan. Mungkin, akan menguji kejujuran dan kekuatan hati mengahadapi apapun.
Kamala, berdiri diantara kerumunan teman-teman SMA-nya. Mereka tertawa, mengenang semua yang terjadi di masa lalu. Kamala, beradu dengan dirinya sendiri. Berbicara dengan hatinya. Menuruti perasaannya yang katanya sudah pekat, bahkan memandang pun menyesak. Kamala tampak begitu mengatur segala sikapnya. Hingga mengatur jarak pandang kepada tamu-tamu yang hadir.
Namun, mungkin Tuhan yang telah menggerakkannya. Pandangan Kamala menumbuk satu wajah yang sejak tadi ia hindari. Pemilik wajah itupun tersenyum. Kamala membalas dengan malas. Kamala tak menampik, sebuah lengan lain menggamit lengan sang pemilik wajah. Seorang teman di jaman sekolahnya, yang tidak begitu ia kenal. Dan kenyataannya, Kamala justru mengenal baik sang pemilik wajah. Pemuda dengan sepasang lengan kokoh yang menjerat Kamala dalam sebuah ingatan.
"Nanti ada acara nemenin temen reunian"
Itu kalimat yang kemudian terngiang di kepala Kamala. Satu kaliamat diantara panjangnya pembicaraan dengan Rama di kotak chatting.
Bahkan Kamala pun tak sempat menduga bahwa ia akan melihat dengan mata kepalanya sendiri, seorang Rama menjadi salah satu tamu dalam acara reuni sekolahnya.
Sungguh, tak ada yang tahu bahwa, Parama adalah teman dekat Kamala selama bertahun-tahun. Mereka jarang bertemu. Namun, dunia maya selalu menjadi ruang yang luas bagi pertemuan mereka.
"Sudahlah, kamu harus bisa mengurus dirimu sendiri, tanpa aku", kata Rama santai, menyudahi pembicaraannya dengan Kamala.
Kamala tetiba tersedak, nyaris makanan yang ada di dalam mulutnya bubar keluar, "Maksud kamu?"
"Kamu harus bisa mengurus impianmu sendiri", lanjut Parama.
Lihatlah Parama yang awalnya begitu sayang pada Kamala, kini memilih pergi darinya. Ia adalah penyokong semangat terbesar untuk Kamala selama ini. Teman brain storming yang sangat bijaksana dalam penyelesaian naskah novel-novelnya. Sekarang tak ada lagi. Ia pergi. Bukan sekadar menjauh, bahkan menghilang.
Dari semua akun sosial medianya pun, Rama tak bisa ditemui. Kamala menyerah. Percuma saja menantikan sesuatu yang sudah tak mungkin ia raih. Parama sudah bahagia dengan hiupnya. Mungkin. Begitupun Kamala, jalan hidupnya masih panjang.
Hingga malam itu, Kamala tak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan. Sebuah email dengan pengirim Parama ia terima. Rama menyapa, bercerita, seakan tak pernah ada luka diantara mereka. Entah bagaimana, Kamala larut dalam keterkejutannya dan terus menyelam dengan segala pertanyaan, kabar dan segala kisah Parama.
Seperti ingin membayar kesalahannya, Parama memperbaiki hubungannya dengan Kamala.
"Mungkin aku salah besar padamu. Semoga masih ada kesempatan untuk mengembalikan niat baikku", kata Rama malam itu.
Kamala, memang tak lagi berharap besar kepada pemuda yang sekarang ada di hadapannya. Ia masih takut sakit itu menyapa lagi. Kamala hanya tersenyum.
"Terserahlah dengan niat baikmu yang seperti apa. Aku tak lagi berani jatuh cinta kepada yang belum muhrimku". Seakan ada yang mendikte Kamala menimpali Parama.
Bukannya mudah Kamala berhadapan kembali dengan Parama. Ia berusaha kuat membatasi segala perasaannya kepada Parama. Ia tak mau jatuh di lubang yang sama, sekali lagi. Kamala mencoba berfikir lebih positif dan percaya kepada Parama meski tak sepenuhnya.
Sayangnya, acara reuni itu justru menghunus jantungnya sekali lagi. Dari sekian cerita Parama yang menyebut dirinya masih juga sendiri, Kamala justru menyaksikan kenyataan lain. Kamala tak marah kalaupun Parama pergi dengan siapa saja. Tapi, semua temannya pun tahu bahwa Parama adalah kekasih perempuan yang ia lihat menggamit lengan Parama.
Ada dendam apa kau padaku, Rama? Sampai di titik mana kau akan mengakhiri semua ini? Aku tak pernah tak rela kamu bahagia. Dengan siapapun. Dengan cara apapun. Tolong jangan sekat satu takdir terbaikku hanya dengan prasang-prasangka burukku padamu. Jika luka yang pernah kusemat di jantungmu tak lagi bisa sembuh, kau boleh benci aku dengan caramu. Namun tidak dengan menyiksaku, membunuhku perlahan, tapi pasti. Parama, Tuhan Maha Melindungi. Aku... dan juga kamu. Bertemanlah dengan-Nya. Agar ada cara yang lebih baik untuk menyelsaikan semuanya.
Kamala menekan tombol "send". Email untuk Parama telah terkirim. Namun entahlah, kapan terbaca oleh Parama. Atau bahkan justru Parama memilih untuk tak membacanya. Kamala membiarkan pikiran itu menghilang. Meski pelan tapi pasti. Kamala memilih lupa. Membiarkan gemuruh langit melumat segalanya. Membiarkan hujan mengguyur tubuhnya senja kali ini. Tanpa jingga.
Kepada malam,
aku titip salam..
Untuk yang selalu menanti hujan dan rindu pulang..
Kepada malam,
aku titip salam..
Untuk yang tak kasat mata, tak mau tunjuk hidungnya sendiri..
Kepada malam,
aku titip salam..
Untuk sepasang telinga yang terus merindu kabar dari seberang laut jawa..
Kepada malam,
aku titip salam..
Untuk sekarung tawa yang tersimpan menanti temu bahagia..
Kepada malam,
aku titip salam..
Untuk yang sedang merasa bukan siapa-siapa..
Hei..take my hands..
Mari, main layang-layang..
Kemudian, kita terbang dan tertawa-tawa..
Kepada malam,
aku titip salam..
Untuk semesta yang merekam semua cerita..
Aku..kamu..dia..mereka..
Semuanya..
Cinta..
"Kamu balik lagi ke Jakarta kapan?" tanyamu siang itu.
"Nanti sore", jawabku.
"Ya udah, nanti aku anterin ya.. Naik pesawat juga kan?" lanjutmu.
"Iya, eh tapi aku udah pesen travel kok. Daripada kamu repot-repot nganterin aku segala", tapi sepertinya kamu memilih tak mendengarkan alasanku.
"Batalin aja travelnya, aku mau nganterin kamu ke bandara".
Entah kenapa dengan mudahnya aku menuruti semua katamu. Mulai dari membatalkan travel, sampai mengijinkan kamu mengantarku sampai ke bandara.
Sepulang dari pesta pernikahan Ambar dan Dani, kamu memilih untuk terus melanjutkan perjalanan, bersenang-senang katamu. Kamu, aku, Arga, dan Enggar. Ya, kita mengunjungi tempat-tempat yang sering kita kunjungi di jaman kuliah dulu.
Aku tak ingin bertanya apa-apa, yang aku tahu, semburat tawalah yang aku lihat saat itu. Semoga benar, kita sungguh-sungguh berpeluk suka... :)
"Buruan pulang yuk... aku belum packing nih..." ajakku setelah menyelesaikan suapan terakhir semangkuk es campur di kedai favorit kita.
" Iya nih, kayaknya sebentar lagi juga hujan", gayung bersambut, Arga mengiyakan ajakanku.
Padahal, biasanya cuaca tak mendung seperti hari itu. Itu juga menurut ceritamu. Jadi, kenapa hari tiba-tiba mendung dan langit seakan tak mampu menahan tangisnya. Ah, mudah-mudahan karena ia bahagia, melihat kita bahagia. Ehmmm.. kamu... iya, melihat kamu bahagia.... bertemu kembali denganku. Aku mengikik dalam hati. Kamu lucu sekali, aku hanya bisa membatinnya.
Setelah mengantar Arga dan Enggar, kamu mengantarku pulang, menungguku packing, dan siap mengantarku ke bandara.
Perjalanan kali ini ditemani langit sore dengan gerimisnya. Kemudian menderas. Aku pun nyaris beku di dalam mobil yang kamu kendarai. Kamu menatap jalanan dengan begitu serius, sepertinya pandanganmu mulai terganggu gerimis yang kian deras itu. Aku, berada di sampingmu, diam. Mungkin, tanpa sadar aku telah membeku.
Sesekali kamu menatapku, aku cuma bisa tersenyum.
"Ini benar-benar tanpa logika" keluar juga suaramu setelah tarikan nafas panjang yang terdengar jelas di telingaku.
"Maksudnya?" tanyaku yang tak mengerti sekali.
"Iya, yang aku lakukan sekarang ini, nggak ada logikanya", lanjutmu.
"Mmmm... nganterin aku maksudnya?" tanyaku lagi.
Kamu mengangguk. Pasti.
Kemudian ingatanku berlari ke belakang, pada waktu-waktu yang panjang. Masa-masa yang mungkin sangat indah untuk dikenang.
"Kamu nggak nyanyi-nyanyi lagi?" tanyamu tiba-tiba.
"Haaa? Nyanyi apa?" aku malah balik bertanya.
"Yang dari tadi kamu nyanyiin laahh..." jawabmu santai.
Aku mengernyit, "Apaan sih?"
"Yaaahhh... malah lupa... itu yang tadi...." lanjutmu sambil cengar-cengir.
Aku pun terbahak ketika menangkap apa yang kamu maksud. Iya ya, kenapa juga harus lagu itu yang keluar. Ah....
Ijinkan aku.. untuk terakhir kalinya... Semalam saja bersamamu... Mengenang asmara kita.... (Berharap Tak Berpisah - Reza Artamevia)
"Kamu ingat, Bay?" tanyaku dalam hati. Aku tersenyum kecil. Dan kamu, justru terus memerhatikan aku. Ah, Bayu...
"Kenapa lagu itu, Luh?" tanyamu.
Aku tak bisa memberikan jawaban apa-apa. Aku menggeleng.
"Galuh, jadi jawaban apa yang akan kamu berikan pada lelaki yang melamar kamu itu?" tiba-tiba kamu menanyakan sesuatu yang aku tak pernah ingin bahas, ketika aku hanya ada denganmu.
Aku mengambil sebuah boneka lumba-lumba yang ada di dashboard mobilmu.
"Itu buat kamu Galuh, bawa aja. Kamu suka ikan, kan?"
"Enggak ah, ini pasti punya adik kamu.. hehehe.." aku menimpali, mencoba meruntuhkan kaku yang tetiba membelenggu.
"Sejak kapan aku lupa bahwa kamu suka semua hal tentang ikan".
Mobil yang kamu kendarai memelan, kemudian berhenti di belantara parkiran. Ya, kita sampai di bandara. Artinya, perjumpaan kita kali ini, sampai di sini saja.
Tetiba handphone kamu berbunyi. Kamu menatapku sebelum kemudian menjawab telepon itu.
"Halo..."
Entahlah pertanyaan apa dari si penelepon, aku hanya mendengar sederet kalimat jawabanmu.
"Lagi nganter ke bandara,"
"Eemm... nganterin... kekasihku yang dulu".
Deg.
Aku belum pernah mendengar kata-kata seperti itu sebelumnya, Bayu.
Maaf Bayu...
Katamu, kita harus saling merelakan. Harus kuat dengan segala ketetapan Tuhan. Bayu,waktu itu kita sedang diijinkan. Entah kapan lagi... sampai hati akan bertaut, entah diantara aku dan kamu, atau bukan.
Mungkin ini malam kesekian Maya merindu. Entah kepada siapa. Mungkin saja... kepada apa. Sepertinya sih lebih tepat ia merindu pada sesuatu. Ia duduk di sudut ranjang, membolak-balik sebuah album foto. Sesekali Maya tersenyum. Kemudian, sesekali ia pun cepat-cepat membalik lembar-lembar foto.
Kemudian Maya kembali menatap meja, dimana dua buah buku dan sebuah majalah berjajar disana. Iya, buku yang diterbitkan dengan nama Maya sebagai penulisnya. Sebuah perjuangan panjang yang ia lalui untuk mewujudkan impiannya. Dan, di majalah itu pun, artikel yang ia tulis kini akan dibaca sekian pasang mata. Bukan decak kagum yang ia nantikan, tapi memanglah sebuah kepuasan baginya saat mampu bercerita dan menyampaikan banyak hal yang ada di kepalanya. Maya menyebutnya, berbagi.
Bukunya, satu judul tentang puisi-puisi yang sering ia tuliskan atas nama cerita tentang cinta, kebebasan, serta perjalanan. Satu lagi, tentang cita-cita, yang ia bagi untuk para remaja. Ah, sederhana bukan? Tapi tahu kah? Maya selalu bahagia dengan apa yang dimilikinya, saat ini dan seterusnya. Semoga.
Maya memeluk album foto yang sejak tadi masih ada di genggamannya. Maya memejam. Dan, senyum ikhlasnya mengembang saat itu juga.
"Yah, Maya cuma ingin belajar. Maya ingin belajar dengan menulis," rajuk Maya kepada Ayah malam itu. Ayah keberatan atas pilihan Maya untuk menjadi penulis dan meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang karyawati di sebuah perusahaan swasta.
"Kamu yakin dengan keputusan kamu? May, ayah sudah tidak bekerja lagi, mungkin ayah tak bisa membantumu sewaktu-waktu nanti," ayah mencoba menasihati Maya.
"Ayah, penulis itu juga pekerjaan kan? Tak ada yang perlu ayah khawatirkan. Mudah-mudahan Maya sanggup bertanggung jawab atas pilihan Maya," jawab Maya mantap.
"May, kehidupan ini mungkin permainan. Tapi bukan berarti kita bisa main-main dengan sebuah keputusan, Nak," ucap Ayah lebih serius. Menatap lekat-lekat putri perempuan satu-satunya itu.
"Maya tak pernah main-main, Yah. Maya serius, dan berjanji akan memperjuangkannya," Maya mendekat, duduk di sebelah ayah dan merangkul lengan ayahnya.
Ayah hanya terdiam, seraya membenamkan kepala Maya dalam pelukannya.
"Kalau nanti Maya sudah di Jogja, ada Kak Awan dan Bayu yang akan menjadi teman cerita ayah setiap sore. Kalau ayah kangen, ayah bisa kok telepon Maya kapan aja. Nanti Maya pesan juga sama Mama, kalau harus memasak menu istimewa buat ayah setiap akhir minggu, hehehehe...." celoteh Maya berusaha membuat ayahnya tenang dan tidak mengkhawatirkannya.
Ya, memang Maya memilih untuk magang di sebuah penerbitan kecil di Jogja, milik kakak kelasnya ketika kuliah. Maya yang mencintai menulis, bertekad mendalami ilmu kepenulisan di penerbitan itu. Menjadi asisten editor, dengan gaji yang tidak seberapa. Bahkan, untuk tempat kos saja, Maya harus rela berbagi dengan seorang temannya lagi.
***
Ini Hari Minggu. Jam sepuluh pagi. Telepon genggam Maya terus berdering tak berhenti. Sang empunya masih lelap dalam tidurnya dan justru menelungkupkan bantal di telinganya. Sebentar saja dering itu berhenti. Berganti dering pesan singkat berkumandang. Maya sekalipun tak memedulikan telepon genggamnya.
Seperti sudah menjadi kebiasaan, Maya hanya membalas cepat pesan singkat tentang pekerjaan. Pun begitu dengan telepon darurat, semuanya Maya utamakan untuk pekerjaan. Jangankan pacar, keluarga pun kerap ia nomor sekiankan.
***
"May, tuh ada paket dari Jakarta. Makanan lagi deh kayaknya," Gea, teman Maya mengabarkan berita yang menurutnya bagus. Dan, selalu sambil cengar-cengir.
"Ya udah, buka aja, pasti juga kamu yang kepengen ngabisin, hahaha..." Jawab Maya santai. Disambut kerlingan mata Gea yang kemudian membuka bungkusan. Bisa dipastikan isinya makanan, dari ayah Maya.
Karena Maya jarang pulang dan ayah juga tak sempat berkunjung ke Jogja, ayah selalu mengirimkan makanan-makanan kesukaan Maya. Katanya, biar Maya semakin semangat. Ah, tapi nyatanya, yang semangat menghabiskan makanan juga teman-teman kantornya.
Sekarang, sudah genap satu tahun Maya meninggalkan ayah yang begitu mengkhawatirkannya. Waktu yang singkat mungkin bagi Maya, karena ia lebih banyak disibukkan dengan segala urusan pekerjaannya. Tapi, bagaimana dengan ayah? Apakah ini juga waktu yang singkat?
Ternyata tidak. Dalam setiap pesan singkatnya, ayah selalu mengatakan sangat merindukan Maya, karena sudah begitu lama tak bertemu. Tak mendengar tawa Maya yang ceria. Tak ada lagi sore yang penuh cerita. "Nggak, ayah nggak pernah bosan dengar cerita Maya. Malah selalu seru," jawab ayah sambil terkekeh. Menjawab pertanyaan Maya yang khawatir ayahnya akan bosan mendengar semua ceritanya sepulang kerja. Namun, selama jauh dari ayah, Maya tak begitu banyak punya waktu untuk bercerita dengan ayah.
***
Maya mengambil sebuah buku besar dan tebal dari rak bukunya. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Iya, itu kado ulang tahun dari ayah. Ayah yang membeli khusus untuknya, karena Maya tak suka selalu diberi baju ataupun boneka-boneka yang sudah semakin membuat kamarnya sesak.
Begitupun dengan sebuah tape recorder. Oleh-oleh dari ayah ketika tahu Maya menyukai korespondensi. Betapa senang ketika Maya menerima hadiah-hadiah itu. Mungkin, tak penting bagi orang lain yang tak membutuhkannya. Tapi ayah tahu, Maya sangat membutuhkannya. Dan pastinya, Maya menyukainya.
Kini Maya duduk di hadapan meja, dimana dua buah buku dan sebuah majalah berjajar disana. Kembali dibukanya album foto kesayangan yang sengaja ia bawa untuk mengobati rindunya kepada ayah, mama, Kak Awan, dan Bayu. Maya tahu, betapa sayangnya ayah padanya. Kekhawatirannya bukan karena tak suka. Itu tanda ayah sayang pada Maya, selalu peduli dengan keadaan Maya.
Ah, aku terlalu sering mengesampingkan segala urusan tentang ayah. Tapi, aku bisa semakin semangat juga karena dukungan ayah. Ayahku adalah ayah hebat. Ayah pendengar yang baik. Ayah kemudian memahami semuanya. Dan....membuktikan dukungannya.
Maya mengemas buku-buku dan majalah di atas mejanya. Dimasukkannya ke dalam ransel yang telah dipersiapkannya. Maya akan pulang besok pagi. Ke rumah ayah. Membawakan kejutan untuk ayah. Ayah tidak akan pernah sia-sia dengan dukungannya. Tuhan mengemasnya dengan indah. Menghadiahkan impian Maya yang sekarang menjadi nyata. Sederhana, tapi indah. Lewat dukungan dan do'a ayah.