Wednesday, August 29, 2012

Jangan Khawatir, Ayah




Mungkin ini malam kesekian Maya merindu. Entah kepada siapa. Mungkin saja... kepada apa. Sepertinya sih lebih tepat ia merindu pada sesuatu. Ia duduk di sudut ranjang, membolak-balik sebuah album foto. Sesekali Maya tersenyum. Kemudian, sesekali ia pun cepat-cepat membalik lembar-lembar foto.

Kemudian Maya kembali menatap meja, dimana dua buah buku dan sebuah majalah berjajar disana. Iya, buku yang diterbitkan dengan nama Maya sebagai penulisnya. Sebuah perjuangan panjang yang ia lalui untuk mewujudkan impiannya. Dan, di majalah itu pun, artikel yang ia tulis kini akan dibaca sekian pasang mata. Bukan decak kagum yang ia nantikan, tapi memanglah sebuah kepuasan baginya saat mampu bercerita dan menyampaikan banyak hal yang ada di kepalanya. Maya menyebutnya, berbagi.

Bukunya, satu judul tentang puisi-puisi yang sering ia tuliskan atas nama cerita tentang cinta, kebebasan, serta perjalanan. Satu lagi, tentang cita-cita, yang ia bagi untuk para remaja. Ah, sederhana bukan? Tapi tahu kah? Maya selalu bahagia dengan apa yang dimilikinya, saat ini dan seterusnya. Semoga.

Maya memeluk album foto yang sejak tadi masih ada di genggamannya. Maya memejam. Dan, senyum ikhlasnya mengembang saat itu juga.

"Yah, Maya cuma ingin belajar. Maya ingin belajar dengan menulis," rajuk Maya kepada Ayah malam itu. Ayah keberatan atas pilihan Maya untuk menjadi penulis dan meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang karyawati di sebuah perusahaan swasta.

"Kamu yakin dengan keputusan kamu? May, ayah sudah tidak bekerja lagi, mungkin ayah tak bisa membantumu sewaktu-waktu nanti," ayah mencoba menasihati Maya.

"Ayah, penulis itu juga pekerjaan kan? Tak ada yang perlu ayah khawatirkan. Mudah-mudahan Maya sanggup bertanggung jawab atas pilihan Maya," jawab Maya mantap.

"May, kehidupan ini mungkin permainan. Tapi bukan berarti kita bisa main-main dengan sebuah keputusan, Nak," ucap Ayah lebih serius. Menatap lekat-lekat putri perempuan satu-satunya itu.

"Maya tak pernah main-main, Yah. Maya serius, dan berjanji akan memperjuangkannya," Maya mendekat, duduk di sebelah ayah dan merangkul lengan ayahnya.

Ayah hanya terdiam, seraya membenamkan kepala Maya dalam pelukannya.

"Kalau nanti Maya sudah di Jogja, ada Kak Awan dan Bayu yang akan menjadi teman cerita ayah setiap sore. Kalau ayah kangen, ayah bisa kok telepon Maya kapan aja. Nanti Maya pesan juga sama Mama, kalau harus memasak menu istimewa buat ayah setiap akhir minggu, hehehehe...." celoteh Maya berusaha membuat ayahnya tenang dan tidak mengkhawatirkannya.

Ya, memang Maya memilih untuk magang di sebuah penerbitan kecil di Jogja, milik kakak kelasnya ketika kuliah. Maya yang mencintai menulis, bertekad mendalami ilmu kepenulisan di penerbitan itu. Menjadi asisten editor, dengan gaji yang tidak seberapa. Bahkan, untuk tempat kos saja, Maya harus rela berbagi dengan seorang temannya lagi.

***

Ini Hari Minggu. Jam sepuluh pagi. Telepon genggam Maya terus berdering tak berhenti. Sang empunya masih lelap dalam tidurnya dan justru menelungkupkan bantal di telinganya. Sebentar saja dering itu berhenti. Berganti dering pesan singkat berkumandang. Maya sekalipun tak memedulikan telepon genggamnya.

Seperti sudah menjadi kebiasaan, Maya hanya membalas cepat pesan singkat tentang pekerjaan. Pun begitu dengan telepon darurat, semuanya Maya utamakan untuk pekerjaan. Jangankan pacar, keluarga pun kerap ia nomor sekiankan.

***

"May, tuh ada paket dari Jakarta. Makanan lagi deh kayaknya," Gea, teman Maya mengabarkan berita yang menurutnya bagus. Dan, selalu sambil cengar-cengir.

"Ya udah, buka aja, pasti juga kamu yang kepengen ngabisin, hahaha..." Jawab Maya santai. Disambut kerlingan mata Gea yang kemudian membuka bungkusan. Bisa dipastikan isinya makanan, dari ayah Maya.

Karena Maya jarang pulang dan ayah juga tak sempat berkunjung ke Jogja, ayah selalu mengirimkan makanan-makanan kesukaan Maya. Katanya, biar Maya semakin semangat. Ah, tapi nyatanya, yang semangat menghabiskan makanan juga teman-teman kantornya.

Sekarang, sudah genap satu tahun Maya meninggalkan ayah yang begitu mengkhawatirkannya. Waktu yang singkat mungkin bagi Maya, karena ia lebih banyak disibukkan dengan segala urusan pekerjaannya. Tapi, bagaimana dengan ayah? Apakah ini juga waktu yang singkat?

Ternyata tidak. Dalam setiap pesan singkatnya, ayah selalu mengatakan sangat merindukan Maya, karena sudah begitu lama tak bertemu. Tak mendengar tawa Maya yang ceria. Tak ada lagi sore yang penuh cerita. "Nggak, ayah nggak pernah bosan dengar cerita Maya. Malah selalu seru," jawab ayah sambil terkekeh. Menjawab pertanyaan Maya yang khawatir ayahnya akan bosan mendengar semua ceritanya sepulang kerja. Namun, selama jauh dari ayah, Maya tak begitu banyak punya waktu untuk bercerita dengan ayah.

***

Maya mengambil sebuah buku besar dan tebal dari rak bukunya. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Iya, itu kado ulang tahun dari ayah. Ayah yang membeli khusus untuknya, karena Maya tak suka selalu diberi baju ataupun boneka-boneka yang sudah semakin membuat kamarnya sesak.

Begitupun dengan sebuah tape recorder. Oleh-oleh dari ayah ketika tahu Maya menyukai korespondensi. Betapa senang ketika Maya menerima hadiah-hadiah itu. Mungkin, tak penting bagi orang lain yang tak membutuhkannya. Tapi ayah tahu, Maya sangat membutuhkannya. Dan pastinya, Maya menyukainya.

Kini Maya duduk di hadapan meja, dimana dua buah buku dan sebuah majalah berjajar disana. Kembali dibukanya album foto kesayangan yang sengaja ia bawa untuk mengobati rindunya kepada ayah, mama, Kak Awan, dan Bayu. Maya tahu, betapa sayangnya ayah padanya. Kekhawatirannya bukan karena tak suka. Itu tanda ayah sayang pada Maya, selalu peduli dengan keadaan Maya.

Ah, aku terlalu sering mengesampingkan segala urusan tentang ayah. Tapi, aku bisa semakin semangat juga karena dukungan ayah. Ayahku adalah ayah hebat. Ayah pendengar yang baik. Ayah kemudian memahami semuanya. Dan....membuktikan dukungannya. 

Maya mengemas buku-buku dan majalah di atas mejanya. Dimasukkannya ke dalam ransel yang telah dipersiapkannya. Maya akan pulang besok pagi. Ke rumah ayah. Membawakan kejutan untuk ayah. Ayah tidak akan pernah sia-sia dengan dukungannya. Tuhan mengemasnya dengan indah. Menghadiahkan impian Maya yang sekarang menjadi nyata. Sederhana, tapi indah. Lewat dukungan dan do'a ayah.

Love you, Dad....

Saturday, August 11, 2012

I Remember :)




I remember.. The way you read your books, 
yes I remember
The way you tied your shoes, 
yes I remember
The cake you loved the most, 
yes I remember
The way you drank you coffee, 
I remember
(I Remember - Mocca)



Ada yang menari-nari di kepalaku
Ingatan yang berirama, tentang kamu
Meliuk-liuk mencumbui senyumku
Apa kabar, kamu?
Ingatkah juga pada tawaku?
Juga serangkum cerita yang bercelah desahku
Aku, kamu
Kala itu.....






And the way you smile at me, 
yes I remember


You Turn My Whole Life So Blue





You did it again
You did hurt my heart
I don't know how many times
(You - Ten 2 Five)

Yeaaahh... ini lagu yang sempat membuat saya melakukan pengereman mendadak, tadi pagi, sebalik siaran. Hahaha.. bagaimana tidak, bait pertamanya aja langsung... langsung nujeb...

Kemudian saya terseret pada sebuah ingatan tentang malam itu. Ketika menyanyikan lagu ini pun saya sudah tak sanggup. Maka, saya hanya mampu terdiam, dan mendengar dua sahabat saya yang bernyanyi... untuk saya.

Mungkin, kalau saya sendiri yang menyanyikannya, mungkin sofanya bisa langsung basah. Bahkan saya harus rela cardigan satu-satunya berubah fungsi jadi pengepel lantai. Hmmm akibat kelenjar air mata yang sudah tak sanggup menahan desakan psikis yang lumayan dahsyat. Maka akan tumpah layaknya air bah :D


You.. i don't know what to say
You've made me so desperately in love
And now you let me down


Nanti....
Biarkan saja sendiri...
Rasa itu pulang...
Pada hati yang ia cari...


You.. you turn my whole life so blue
Drowning me so deep.. i just can reach myself again


Silakan lanjutkan menyanyi.
Saya dengarkan... :)

Friday, August 10, 2012

Seharusnya, Aku Juga

"Halo," aku menjawab telepon darimu sore itu.
Kamu justru diam. Aku hanya bisa mendengar petikan gitar yang kamu mainkan. Hmm... aku tahu lagu apa yang sedang kamu mainkan... :D
Sudah selesai. Aku, masih terdiam.
"Halo, kok diam?" tanyamu kemudian.
Aku mengikik pelan. Mungkin, kalau aku ada di sebelah atau di depanmu, kamu sudah memberiku cubitan kecil di pipi. Ya.. beruntunglah, aku tak tampak di hadapanmu saat ini.
"Yaaahh.. udah dimainin penuh penghayatan juga... komentar kek..." tersulut juga protes dari mulutmu ya... :D
"Iya, bagus" jawabku enteng.
"Kamu lagi ngapain?" tanyamu lagi.
"Lah ini, lagi jawabin telepon kamu," jawabku.
Selanjutnya, aku bayangkan, kamu sudah melotot dan hendak menjewer telinga kecilku. Dalam hati aku terbahak. Oh, maaf.. :D

Romantis ya kamu. Tapi kadang aku sendiri mempertanyakan keberadaan perasaan dalam diriku sendiri. Hambar. Kenapa? Apakah ada yang salah? Atau, aku masih terlalu muda?

Ah, itu boyband kesukaan aku, lagunya juga. Kamu tahu itu. Lihat saja, pin up itu masih tertempel rapi di dinding kamarku. Darimu.  Tapi... tak serapi perasaanku, padamu....
Karena, tetap saja hambar.....

You treat me like a rose
You give me room to grow
You shone the light of love on me...
(Like A Rose - A1)

Mungkin, seharusnya, aku juga....
Sayangnya.....
Ah, yang penting aku mengingatnya...
Mungkin, sampai lupa... :)



Hanya Ingin Bertanya




"Pertanyaan..." yang entah kenapa terkadang menjadi lebih berat daripada berton-ton beras yang harus dipanggul. Sesulit soal ujian yang materinya sama sekali tak ada di kepala. Atau bahkan lebih mengerikan daripada sebuah film horor berbumbu thriller yang begitu dahsyat. Ah, apalagi jika tanya dengan bumbu "beda", mmm meski sejumput saja.

Lalu, seharam apakah kemudian tentang "tanya dan beda" itu?

Saya sedang bertanya-tanya, tentang... kenapa orang tak boleh bertanya tentang keyakinan orang lain? Hmmm... iya, bagi sebagian orang, ini adalah hal yang seharusnya tidak terjadi. Tapi kenapa? Bukankah dengan bertanya, kita akan lebih mengenal, kemudian.... memahami....?

Apakah tak layak jika orang lain mengetahui bahwa kita pemeluk Islam, atau Kristen, Katholik, Hindu, Budha, ataupun keyakinan yang lain? Apakah itu mengganggu? Apakah itu akan memberikan akibat-akibat yang buruk? Atau, membuat kebebasan tak ada lagi?

Saya rasa, setiap jiwa berhak memilih tentang apa yang menjadi keyakinannya. Dan, oke, keyakinan adalah urusan vertikal yang personal kepada Yang Maha Pencipta. Tapi mengetahui satu sama lain adalah sebuah bentuk untuk saling memahami. Mudahnya begini, ketika kita tahu bahwa teman kita pemeluk Kristen misalnya, seandainya akan membuat janji kita boleh kan menanyakan, "Kalau Hari Minggu siang gimana? Kamu pulang gereja jam berapa deh?" Ya, paling tidak, kita tidak semena-mena dalam membuat janji. Atau, ketika yang di depan kita adalah seorang pemeluk Islam, ketika mendengar adzan, boleh lah kita katakan, "Adzan nih, kamu gak sholat dulu?" Lalu apakah itu juga salah? Bukankah mengingatkan dalam kebaikan juga sebuah anjuran?

Jadi, apa masalahnya? Sulit memberikan jawaban? Ya mudahnya dijawab saja apa adanya. Jika memang iya katakan iya, jika memang tidak, maka katakan tidak. Tidak semua pertanyaan akan menjurus pada hal-hal yang detil. Kadang semuanya hanya membutuhkan jawaban yang sederhana, agar lebih paham.

Mungkin kita perlu belajar dari hal yang simpel ya, misalnya, menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti berikut dengan jujur... apa adanya...
1. Sudah sarapan belum?
2. Kamu, udah punya pacar?
3. Maaf, apakah anda sudah menikah?

Semua pertanyaan itu, boleh dijawab dengan "BELUM". Kadang kita cenderung merasa inferior ketika mendapati diri kita berbeda dengan yang lain. Hei, Yang Maha Esa itu cuma Tuhan. Sedangkan yang diciptakan beraneka ragam adanya. Jadi, tidak sama itu, tidak nista. Termasuk, tentang keyakinan. Saya rasa, tidak ada yang salah jika tetap peduli kepada yang berbeda.

Kemudian, apakah kekhawatiran menjadi berlebih jika ternyata kita berbeda? Jadi tidak bebas lagi? Hei, semua bebas tetap berbatas. Kebebasan yang tak berbatas, cuma dimiliki oleh Tuhan. Ya, semua yang diciptakan, tetap memiliki batas, keterbatasan. Apakah itu mengerikan? Saya rasa tidak. Semua yang diciptakan memiliki peran.

Apalagi, ini tentang keyakinan, yang tak bisa dipaksakan. Semua merangkum tentang "perjalanan" berdekatan dengan Tuhan. Saya sih berharap, dengan datangnya pertanyaan-pertanyaan kepada kita, justru akan membuat kita lebih banyak belajar. Membuat kita menjadi semakin dekat, semakin paham, semakin mencintai, tentang semua yang kita yakini. Bahwasanya tak ada pemahaman tanpa penambahan atas pelajaran.

Lalu apalagi yang ditakutkan?
Tak ada perjalanan tanpa hambatan. Hanya karena ketakutan tentang ketidaksempurnaan sebuah keyakinan, justru semakin banyak hal yang kita sembunyikan. Hmm... hendaknya kita tetap bisa mengatakan, menanyakan, bahkan saling berbagi pelajaran, yang mudah-mudahan mampu meneguhkan keyakinan.

Jadi, nomor telepon kamu berapa? *Duh *Salah fokus :)) :))





Saturday, August 04, 2012

A Little Thing I Care, About You

Hmmm...speechless aja kalau denger lagu dari Dewi Lestari yang duet sama Rizky Alexa. Iya, yang judulnya "Peluk" itu. Mulai dari musiknya, kata pertamanya... dan semuanya....

Layaknya serangkum kata yang.... harus kuucap, padamu mungkin...
Entah dengan apa dan bagaimana...
Jika memang begini saja... :)

Lepaskanku segenap jiwamu
Tanpa harus ku berdusta
Kar'na kaulah satu yang kusayang
Dan tak layak kau didera



Dan kini...
Inginnya ku dimengerti...
Walau sekali saja...
Pelukku...

Friday, August 03, 2012

Ingatlah Hari Ini

Momen bersama teman-teman, adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Apalagi kita bisa terbebas dari yang namanya pencitraan. Hag..hag..hag... Seperti yang dirasakan banyak orang, berada diantara teman-teman tercinta, saya bisa total maksimal dalam bersenang-senang.

Selain teman-teman yang lucu-lucu.. unyu-unyu... bagi saya, mereka adalah makhluk-makhluk ajaiiiiibbbb.... ciahahahaha..... ini berkah yang tak mungkin saya dustakan. Jujur saja, meski banyak saya lupa tentang pertemuan pertama, tapi saya selalu merasakan sensasinya... Gimana enggak, dalam keadaan susah senang, mereka itu nggak bisa di-skip ketawanya... hmmm terutama makannya... xiaxaxaxaxaa... *ditampol*

Bahkan, tanpa harus nonton stand up comedy... kita udah bisa bikin sit down comedy... Entah apa yang dibicarakan, yang jelas... selalu ada momen yang tak terlupakan...

Jadi, apakah saya mencintai teman-teman saya?
Saya jawab, IYA... dengan maksimal....
Insyaalloh... mudah-mudahan kita selalu berjodoh....

Jika tua nanti kita t'lah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini...
(Ingatlah Hari Ini - Project Pop)

Hmmm.... ini lagu kesayangan waktu karaokeehhhh.... dan saya selalu ingat ekspresi teman-teman waktu menyanyikan lagu ini.... unyuuuuuu......
Lebih unyu dari ini..... :))))))))))



Kamu sungguh berarti istimewa di hati...
S'lamanya rasa ini.....


Thursday, August 02, 2012

Siapa Gerangan Dirinya

Aku sayapnya, tambatan hatinya
Yang mengilhami tiap langkah hidupnya...
Begitu adanya dalam goresan pena..
Ia suratkan berkala untukku...
Tak sekalipun kujumpai dia...
(Siapa Gerangan Dirinya -Padi)


Setiap baitnya selalu bercerita, kepada saya, bersama sekian perjalanan.
Ini satu lagu dalam album ke-empat (kalau nggak salah :p) Padi. Entah kenapa, dari sekian lagu, judul ini yang begitu memikat. Bahkan mendengarnya diantara lelap, akan sanggup mencipta sesimpul senyum saya sendiri.
Ah, berlebihan ya?
Saya rasa tidak, nyatanya seperti ada yang menjerat saya melalui setiap nada dan liriknya. Lalu, saya pun selalu menikmatinya. Bahkan, sempat menjadi lagu kamar mandi yang wajib saya nyanyikan, hahahaha...

Kalau mendengar lagu ini, semacam ada yang bernyanyi untuk saya dengan sepenuh hatinya.. ;)
Saya jadi ingat, kalau lagi labil-labilnya, bisa mewek-mewek sendiri dengerin lagu ini. Duh, kebangetan yaa... :)

Mungkin, perlu bukti? kalau ingin mencobanya, dengarkan saja... :)


Hingga sampailah kau pada bait...

Aku nafasnya, mungkin pula nadinya...
Kan menjaga denyut jiwanya...
Berartinya aku di mata hatinya...
Tlah meniupkan cinta sejatinya...
Sungguh enggan dia merelakan aku...

Duuuhh.... meleleh bener pastinya.....
Hahaha... dan akan tetap saya nantikan, hingga suatu saat nanti ada kesempatan untuk saling menyanyikan lagu ini... Dengan pertemuan yang indah tentunya... :p

Mungkin..... denganmu... :)

Wednesday, July 18, 2012

Gak Cuma Satu

"Udah dari tadi?" tanyanya mengejutkanku.
Aku mendongak lalu nyengir. "Enggak kok, belum lama," jawabku sambil beranjak dari trotoar lahan parkir sebuah hypermart.
Sepertinya dia masih heran, dengan pilihanku menunggu di lahan parkir.
"Kenapa nggak masuk duluan?" tanyanya lagi.
"Aku nggak tahu tempatnya Mas, lagian kalau nungguin disini kan gampang nyarinya, hehe" jawabku.

Iya, hari itu, kami sama-sama memenuhi undangan untuk tes kerja di sebuah hypermart kenamaan di Surabaya. Tapi, kami berangkat sendiri-sendiri.

Jam 08.00 kami sudah siap di ruangan yang dijanjikan oleh pihak hypermart itu. Jujur, aku sedikit gugup, kondisiku sedang kurang baik saat itu.
"Itu bibir kamu kenapa?" ia kembali bertanya memecah hening.
"Oh, ini abis jatuh dari motor," jawabku sambil menunjuk luka di bibir dan sebaris gigi yang dipagar dengan kawat.
"Kapan?" lanjutnya.
"Kemarin Kamis. Jadi baru dua hari, makanya belum bisa keren kalau ngomong, hehe."
Dia tersenyum.
"Makanya Mas, aku deg-degan nih, nanti kalau jadinya aku nggak diterima atau nggak dibolehin ikut tes gimana?" keluhku.
Lagi-lagi dia tersenyum. "Udah, tenang aja, semuanya udah ada yang ngatur, dijalani aja," katanya teduh.

Lama, iya, kami menunggu cukup lama untuk masuk di ruang interview. Kadang kita saling diam. Kadang kita saling cakap. Ya, memang dia bukan orang yang banyak bicara. Dan, aku pun kurang pandai membuka pembicaraan.

Sebelum akhirnya namanya terlebih dahulu yang disebut, dia sempat bilang, "Ini kalau pertanyaannya teori semua, aku udah lupa," katanya sambil terkekeh.
"Sama Mas, apalagi kalau ada soal UUK atau psikodiagnostik yang aneh-aneh, lupa banget." Kami terkekeh, membuat beberapa kandidat lain menoleh ke arah kami.

Bayangkan, kami dua mantan mahasiswa, berijazah psikologi, yang justru males mikir psikodiagnostik. Hahaha... mahasiswa macam apa ini?!

Tak berapa lama, dia keluar, dan tibalah giliranku memasuki "ruang sidang". Jreeeengg... betapa tak dinyana, ini interview malah semacam ujian skripsi. Ada empat orang interviewer. Dengan suhu ruangan yang cukup disarankan untuk berselimut. Setelah melewati pertanyaan terprediksi, soal bibir, proses interview pun berjalan berakhir. Termasuk di dalamnya, penjelasan tentang UUK dan analisis tes gambar. Okesip. Jadi, ini sengaja diurutin sama sang kakak kelas, supaya tak ada kesempatan bertanya. -_-"

Aku keluar ruangan dengan langkah gontai. Ah, ternyata dia masih menunggu.
"Lama banget, kamu diapain aja di dalam?" tanyanya sambil senyum-senyum. "Kamu udah satu jam loh" lanjutnya.
"Nah iya kan Mas... berarti tadi aku nggak lancar tesnya, kelamaan. Ah, yaudah deh, palingan juga Mas yang diterima," cerocosku dengan mulut maju.
Dia malah cuma senyum.
Lalu kami berjalan, keluar dari gedung hypermart itu.
"Nggak usah sedih, kenapa harus menuntut sesuatu. Sudah ada yang mengatur," katanya lagi.
"Trus kalau nggak punya kerjaan gimana?"
Dia senyum.
"Tapi kita nggak boleh bergantung sama ijazah ya Mas," tiba-tiba aku mendadak agak pinteran.
Dia mengangguk.
"Tapi aku kan juga kepingin ngerasain kerja pakai ijazah Mas," kataku.
"Iya, tapi tes hari ini nggak boleh kita jadikan satu-satunya harapan."
Aku diam.
"Sebenernya passionku itu menggambar. Aku suka desain. Makanya aku di rumah coba merintis usaha konveksi, bareng temen-temen," lanjutnya.
"Trus kenapa Mas kuliah di Psikologi?" tanyaku.
"Ya waktu itu, rejekinya di situ. Psikologi juga menyenangkan kok.
"Trus kenapa Mas mau ikutan tes kerja ini?" tanyaku lagi.
"Aku kepingin menyenangkan hati orangtua. Siapa tahu, mendapat pekerjaan ini bisa bikin mereka senang," ucapnya sambil tersenyum.
"Iya ya Mas, kadang kesukaan kita belum tentu kesukaan orangtua."

Itu, terakhir kali aku bertemu dengannya. Bahkan setelah ternyata kami sama-sama tidak diterima, kami sudah jarang berkomunikasi, lewat telepon sekalipun. Ya, seperti katanya, kami sibuk berjuang dan membuka lembar-lembar harapan baru, yang tidak hanya satu.

Hingga tadi pagi, aku mendapat kabar, bahwa ia telah sampai pada akhir perjuangannya. Alloh menghendakinya untuk kembali pada-Nya. Menempatkan seorang yang baik hati dan rendah hati di sisi-Nya, di tempat terbaiknya.

Diantara teman-teman seangkatannya, dia lebih pendiam. Tapi baik hatinya, nggak pernah memihak kepada siapa-siapa. Tipikal orang yang ngemong dan nggak galak waktu ngospek... :)

Semoga segala kebaikan dan kerendahan hatinya bisa menjadi bekal untuk mendapatkan tempat terbaik.
Selamat Jalan... :)


Tuesday, July 17, 2012

Seorang Kamilun Muhtadin


Tadi pagi, sampai menjelang jam 7, saya masih asyik gegoleran di kasur sambil main twitter. Hingga saya terbangun, benar-benar terbangun tak hanya duduk. Rasa kantuk mendadak hilang setelah sekilas terbaca serentetan kalimat yang mengabarkan bahwa seorang Kamilun Muhtadin telah berpulang ke rahmatulloh, semalam.

Saya langsung menghubungi seorang teman untuk memastikan, apakah nama itu pemiliknya adalah seorang yang benar saya kenal. Dan, jawabannya adalah IYA. Saya hanya bisa mendo'akan agar segala amal dan perbuatan beliau diterima oleh Alloh SWT.

Saya mengenal sosok inspiratif ini ketika saya masih bergabung dengan Koran Pendidikan di Kota Malang. Beliau adalah seorang kepala sekolah yang kemudian menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan di Kabupaten Malang. Bukan karena jabatannya, namun pemikiran beliau tentang pendidikan sangat mengesankan. Di media tempat saya bekerja, pria yang akrab dengan sapaan Abah Kamilun ini rutin mengirimkan tulisan-tulisannya tentang pendidikan, dimana beliau membela hak-hak generasi muda untuk mendapatkan pendidikan yang layak tanpa harus terdistorsi dengan kepentingan-kepentingan para penguasa.

Jadi, setelah saya berpindah media pun, saya masih memilih beliau untuk menjadi narasumber tentang pendidikan. Waktu itu, beliau bercerita tentang kejujuran. Menekankan bahwa belajar adalah untuk kejujuran. Ya, memang percuma mematok nilai yang tinggi dalam pembelajaran, dan kemudian terabai cara-cara memperoleh nilai tersebut yang jauh dari kejujuran.

Pribadinya yang santun, low profile, realistis, dan tegas, adalah pemikat bagi saya. Saya masih ingat, saat saya datang ke rumah beliau, malam-malam, beliau sampaikan bahwa beliau sangat senang diajak berdiskusi, terutama tentang pendidikan. Abah Kamilun yang juga ketua ta'mir Masjid Jami' Kota Malang ini memesankan bahwa mengutamakan kebaikan akhlak adalah hal yang paling penting dalam pendidikan, dan setiap orang harus berani menegakkannya.

Setiap orang yang pernah menikmati pembicaraan panjang dengan beliau, insyaAlloh ingin lagi dan lagi. Beliau selalu mengatakan, "Datang saja untuk silaturahim, nanti kita bisa bercerita panjang lagi."

Meski sekarang tak selalu bisa menikmati wajah santunnya yang khas, saya berharap, segala yang pernah beliau sampaikan, dapat memberikan inspirasi bagi generasi-generasi penerusnya.

Oh iya, satu lagi yang mengesankan bagi saya, opini-opini yang dikirimkan ke redaksi, selalu berupa tulisan tangan. Khas, dan sangat lekat dalam ingat.

Selamat jalan Abah Kamilun.
Semoga para pewaris semangat Abah tak pernah lelah berjuang.

Sunday, June 17, 2012

Kejutan Impian


Hmmm.. kalau ditanya soal impian, saya suka senyum-senyum sendiri nih… soalnya langsung menjalar-jalar kemana-mana. Mungkin karena terlalu banyak, hehehe… tapi bukan masalah juga sih, dengan impian, rasa-rasanya justru menambah semangat yah… Paling tidak, kita masih sadar bahwa masih ada hal-hal yang perlu kita raih. Dan, bagaimanapun, meraih impian cukup besar sumbangsihnya kepada rasa bahagia… ya begitulah kira-kira…

Seperti anak-anak pada umumnya, saya memulai menyusun impian-impian saya di masa kecil. Kadang pertanyaan, “Kalau sudah besar kamu mau jadi apa?” lumayan memainkan imajinasi saya. Mulai dari jadi astronot, jadi menteri, penari sampai jadi penyanyi, pernah hinggap dalam imajinasi saya. 

Saya sering menceritakan semuanya kepada kakek saya, yang kebetulan, saat itu lebih punya banyak waktu untuk bersama saya. Beliau hanya pesankan, bahwa untuk menggapai impian, kita harus banyak belajar dan berani mencoba.

Sampai suatu saat saya punya impian menjadi jurnalis. Salah satu cita-cita yang sedikit dilarang oleh kakek saya. Sepertinya beliau khawatir, karena jurnalis sering menjadi korban teror. Kira-kira usia saya sepuluh tahun waktu itu. Saya kurang paham dengan maksud kakek saya. Justru saya semakin penasaran, kenapa kakek saya begitu khawatir. Padahal, menurut saya, pekerjaan itu cukup seru.

Walaupun saya punya cita-cita lain, tapi saya tetap penasaran dengan profesi jurnalis itu. Tadinya saya ingin menjadi jurnalis perang, seperti dalam film-film yang pernah saya tont. Tapi saya pikir-pikir, serem juga ya, mungkin itu salah satu hal yang dimaksud bahaya oleh kakek saya. Lama-kelamaan saya beralih ingin menjadi jurnalis olahraga. Ah, gantinya gak nyambung banget ya… wkwkwkwkwkwk….

Ya tapi bagaimanapun, saya tetap ingin menjadi seorang jurnalis. Titik. Dengan impian itu, saya semakin semangat belajar menulis dan banyak membaca tentang banyak hal. Waktu duduk di bangku SMA, saya mulai tertarik dengan hal-hal yang berbau budaya dan isu-isu sosial. Lagi-lagi saya menemukan teman diskusi yang sangat menyenangkan, iya, kakek saya. Alhamdulilaah. Saya bersyukur.

Hampir setiap hari saya dan kakek saya berbincang tentang budaya dan isu-isu sosial.  Saya menyebutnya sebagai ajang asah otak. Menyampaikan rasa penasaran dan pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala saya. Dari situ, saya merasa, saya masih harus banyak belajar dan banyak membaca tentunya.

 Kemudian, saya berpikir, kalau bertanya pada kakek saya tentu saja saya lebih berani, tapi bagaimana kalau saya harus bertanya kepada orang-orang yang baru saya kenal, atau bahkan belum saya kenal? Ah, jangan-jangan dia tidak peduli pada saya, atatu bahkan enggan menjawab pertanyaan saya. Wah ternyata harus latihan wawancara juga yaa…

Sempat beberapa kali, dalam ekstakurikuler yang saya ikuti di sekolah, saya mendapat tugas untuk mewawancara juga. Banyak hal baru yang dapat saya temukan dan saya punya kesempatan untuk lebih memahami orang lain serta kejadian-kejadian di sekitar saya. 

Oke, saya semakin menyukai dunia korespondensi dan kemudian menuliskan hasil korespondensi itu. Sepertinya pada saat itu, saya berteriak dalam hati… “Aku ingin jadi jurnalis…………!!!” xixixixixixi… berlebihan ya? Ya, tapi itulah yang saya rasakan. Jujur, tak banyak yang mendukung keinginan saya itu. Pastinya, kekhawatiran yang membuntutinya.

Tapi saya masih yakin, bahwa pekerjaan itu adalah pekerjaan yang cocok dengan jiwa saya. Saya pasti suka melakukannya, dengan senang hati. Begitu saja. 

Keyakinan itu bertambah ketika saya duduk di bangku kuliah dan bertemu dengan teman-teman yang memiliki faham yang sama, impian yang tak jauh beda. Saya banyak belajar dari mereka semua, dan mulai mencari karakter dalam diri saya sendiri.

Saya bergabung dengan komunitas penulis dan mulai belajar menjadi reporter untuk majalah kampus, serta sebuah bulletin untuk Jurusan tempat saya belajar. Sedikit demi sedikit saya memahami tentang teknis-teknis pembuatan sebuah berita. Mulai dari merencanakan pemberitaan, mencari narasumber, wawancara hingga menuliskan berita.

Sepertinya sederhana tapi dalam prosesnya cukup banyak pelajaran yang saya dapat. Harus tanggap, cepat, dan mental baja. Iya, pada awalnya saya cukup kaget dengan tanggapan-tanggapan dari narasumber, termasuk juga tanggapan pembaca berita setelah berita-berita tersebut dicetak dan disebarluaskan. Ya, semacam pro dan kontra tentang suatu hal yang kita angkat menjadi sebuah berita.

Selama kita mendapatkan narasumber yang tepat dan menuliskan berita sesuai dengan faktanya, kita tetap bisa mempertanggungjawabkannya. Kalau dalam pikiran saya, tulisan-tulisan yang saya buat adalah informasi yang saya harap dapat menjadi masukan bagi pembaca.

            Meski ternyata lebih dari sekadar itu, saya tetap menyukai dunia korespondensi. Dengan banyak resiko yang mungkin saya terima, saya rasa hal itu akan menjadi pelajaran berharga untuk saya, di masa depan.

            Rasa penasaran saya tentang dunia jurnalistik tak terbayar begitu saja. Mungkin karena saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan dunia tersebut, sampai-sampai dalam penulisan skripsi pun saya memilih tema untuk kaum jurnalis. Alasannya sederhana, saya ingin menulis yang saya suka dalam dunia yang membuat saya jatuh cinta.

            Saya juga bukan orang yang paling kuat untuk bisa meraih impian saya. Di lain sisi orang-orang yang kurang memberikan dukungan, ada juga yang dengan kukuhnya memberikan dorongan kepada saya untuk meraih impian saya. Saya tahu, bahwa setiap perjuangan yang diridhoi oleh Alloh akan bisa mendapatkan hasil yang baik, di saat yang tepat.

            Langkah-langkah itu pun mendaratkan saya pada sabuah tawaran menggiurkan. Dimana, seorang pemimpin redaksi sebuah tabloid pendidikan menawarkan pekerjaan yang saya idam-idamkan kepada saya. Ya, saya mendapat tawaran untuk menjadi jurnalis untuk sebuah tabloid pendidikan. Subhanalloh, betapa baik Alloh kepada umat-Nya. Memberikan ijin untuk mendekat pada hal yang dicintainya.

            Saat itu skripsi saya belum selesai. Saya harus mempercepat proses ujian agar saya bisa segera bekerja. Menjadi jurnalis, salah satu impian saya tengah mendekat, sangat dekat dengan saya. Ayah saya, agak keberatan saat itu. Tapi saya ingin mencoba profesi itu. Ayah saya khawatir tentang ragam “uang suap” dan pulang malam pada saat itu. Kemudian saya menjelaskan, bahwa sebisa mungkin saya menjauh dari hal-hal yang kurang baik, yang ada dalam pikiran beliau saat itu. “Do’akan baik-baik saja,” kata saya pada Ayah. Kemudian, ayah memberikan ijinnya juga kepada saya. Begitu juga dengan ujian skripsi saya. Alhamdulillah semua beres.

         Hingga pada hari yang ditentukan, saya resmi menjadi jurnalis sebuah tabloid pendidikan. Memang bukan sebuah media terkenal, tapi saya menyukai arah pemberitaannya. Pada saat itu saya dipercaya untuk menulis berita-berita pendidikan dan tentang remaja. Cukup menarik. 

            Ada banyak kejutan yang saya dapatkan, sejak hari pertama. Saat itu, saya harus bisa mendapatkan dua berita tentang pendidikan. Saya harus mencari sendirian, padahal saya pikir untuk anak baru masih bisa tandem. Ternyata tidak… hehehehehe… Alhamdulillah semuanya lancar dan dari hari ke hari saya menikmati pekerjaan saya, sebagai seorang jurnalis.

             Seseru-serunya pekerjaan, selalu ada kejutan yang menyenangkan dan kurang menyenangkan. Tapi sungguh, banyak pelajaran yang saya dapatkan dari sana. Bagaimana memahami orang lain, kehati-hatian, ketelitian, dan  siap menerima wacana baru. Intinya, bersahabatlah dengan diri sendiri untuk bisa menerima keadaan, yang belum pernah kita duga sebelumnya.

Monday, May 21, 2012

The Oracle

Oh iya... saya baru saja mencicipi sebuah tulisan... yang... mmmmm... misterius... xixixixixixi..... Bukan serem yah, misterius maksudnya, make me curious... :P Iya, tulisan-tulisan ini, menghampar bebas di sebuah buku dengan judul "The Oracle" yang ditulis oleh Teguh Puja *tsaahh* dia dia lagi? Eh.. tapi buku yang ini lain deh... beneran... dari temanya saya lebih suka yang ini.. :D

Judulnya, memang Oracle... tapi di dalamnya ada banyak sekali pelajaran tentang kehidupan. Kita semacam diajak jalan-jalan dari negeri satu ke negeri yang lain. Menjajaki kehidupan yang satu menuju kehiupan yang lain. Tentunya, dengan segala pergolakan batin yang membuat rasa kita melompat-lompat. Sampai saat ini, karena masih sebagian dari buku ini ya... rasa penasaran lah yang menjadi top rank saat membacanya.. :D

Ya... disini diceritakan seorang Pramoedya, ah namanya begitu bersahaja... *tsaaahh* Tokoh utama yang memiliki kemampuan memahami dunia yang tak kasat mata... :D Eh tapi jangan salah... di sini diceritainnya tentang intuisi dan feeling... *eeaaa jadi ngingetin pelajaran kuliah ini.... :D

Memang sih ceritanya si Pram ini menyukai ilmu tarot. Meski sebenernya saya tak paham betul dengan ilmu per-tarot-an, tapi menurut saya, si Pram ini meramal juga berdasarkan pemikiran dari simbol-simbol yang beberapanya diterapkan di ilmu Psikologi. Mulai dari air, angka dan beberapa hal lainnya. Agak berat sih memang pembahasannya. Tapi cerita-cerita di buku ini dikemas menarik.

Dari cerita-cerita itu, kita tak melulu disuguhi tentang hasil ramalan dan semacamnya. Justru kita bisa melihat sisi lain yang... mungkin juga memiliki andil dalam menentukan kehidupan kita. Misalnya, setiap orang memiliki intusi sendiri, dan berhak memilih apa yang ia lakukan. Dan, ketika Tuhan memberikan restunya, maka itulah yang akan terjadi. Bahkan, diantara kecemasan, ketakutan dan pendapat-pendapatnya, seseorang dapat memutuskan sesuatu dengan intuisi-intuisi yang dimilikinya.

Serunya... banyak pergolakan batin yang direkam. Kemudian dipaparkan dengan lebih filosofis. Ya, memang ada beberapa cerita yang sengaja berfilsafat lebih detil. Lalu, yang membuat saya selalu tersenyum-senyum kecil, tokoh utama ini cenderung mampu "membaca" orang lain di sekitarnya. Namun, ia sendiri tak mampu mengejawantahkan apa yang tengah ada dalam batin dan pikirannya dengan mudah. Saya rasa, Pram juga memiliki kecemasan sendiri tentang... dirinya sendiri.. mungkin... :P

Dari banyak cerita yang saya dapat, seseorang yang berintuisi kuat, tentang keadaan-keadaan di sekitarnya memang memiliki rasa yang berat untuk mengatakan apa yang sebenarnya ia tahu.. ah, pikirkan tepatnya. Apalagi, untuk sesuatu hal yang kurang menyenangkan. Akan ada "penolakan-penolakan" yang diciptakan sendiri dalam dirinya. Begitu pula dengan Pram. Dan kadang, sedikit sesal menyapa, ketika ia menyaksikan apa yang ia firasatkan adalah benar, dan ia belum mengatakannya. Lalu, apakah Pram sebenarnya juga ingin membantu seseorang itu mencegah kejadian-kejadian yang kurang menyenangkan yahh?? Pasti penasaran kaann... :D

Jadi, untuk apa Tuhan memberikan kemampuan-kemapuan itu? Semoga, buku ini bisa memberikan alasan-alasannya.

Oh iya, di satu bagian buku ini, menyebut bahwa cinta dan memiliki adalah berbeda. Ditulis dengan pengibaratan, bahwa ketika kita mencintai udara, kita bisa menghirupnya dengan bebas dan kita tetap tak bisa memilikinya. Hmmm... kemudian saya bertanya dalam hati, saya membutuhkan udara, apakah itu juga cinta? Lalu, jika memiliki, apakah tak pula berarti membutuhkan...? *eeeaaaa

Ya... begitulah buku ini akan bercerita.... membuat kita memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru... Tentang perjalanan kehidupan, dengan segala kemampuan, yang Tuhan berikan... :)

Dan, saya... penasaran... :)

Thursday, May 03, 2012

Namanya, Jingga


"Selamat datang jingga," gumamku pada suatu senja. Menyambut wajah langit yang hanya mampu kita lihat sekejap saja. Iya, senja... hanyalah kecupan yang mengantar terang pada gulita. Mungkin juga, tempat bercengkeramanya awan-awan sebelum mereka redup dan seakan lenyap ditelan gelap. Tapi, taukah kau, kecupan sesaat serupa pelukan hangat yang mampu meneduhkan setiap lusuh perasaanmu. Kau boleh buktikan.

Sesekali aku menatapnya dalam-dalam. Mencari dan menyusup ke dalam hangatnya jingga yang penuh rahasia. Selalu ada senyum semesta di sana. Mengabarkan bahwa semua akan baik-baik saja, sampai matahari kembali menyapa. Kau dengar? Di setiap pelukan jingga, ada do'a-do'a yang selalu dirapal. Entah dalam senyum, isakan, atau sejuta kelelahan. Iya, bait-bait cerita pada Penguasa Semesta yang menjadi ramuan harapan. Hingga esok, bibir mungilmu pun mampu melukis senyum kala pagi menyapa.

Senja... aku yakin kau pun pasti selalu menantinya. Mengendurkan saraf-saraf otak yang tegang seharian. Membuang penat-penat yang mencekat. Melenggang kembali pada memori yang menjanjikan pertemuan-pertemuan menyenangkan. Dari sekian banyak kemungkinan, senja disambut dengan senyuman. Lalu, makna apa yang kau semat dalam pertemuan singkat itu?

Hmm... entah kenapa, dalam pelukan jingga, selalu sayup-sayup terdengar sebuah sapa yang meneduhkan. Membuaiku dalam sederet ingatan tentang masa-masa kecil yang menyenangkan. Riuh-riuh tawa gembira memukau rasa, menghadiahkan sesimpul senyuman kepadanya. Seraut jingga dengan segala pesonanya. Serasa langist hanya berpihak padaku, memayungku dengan jingga.

Ah, alasan apa akan memalingkan aku darinya? Aku rasa tidak akan ada. Ia yang yang selalu mengajakku menari-nari menyusuri langit. Jingga, menyulut senyum-senyum kecil yang aku hadiahkan pada semesta. Atas segala cinta. Selamat senja.

Wednesday, April 25, 2012

Hepi Ngambek?

Bukan masalah sedekat apa kita padanya, ataupun, semampu apa ia memahami kita. Aku hanya tak bisa bayangkan, bahwa secarik kertas, sehelai kain, atau apalah, justru mampu mengikat kita dalam sebuah memori panjang, yang entah berapa lama bertahan menjadi ingatan yang jarang sekali terlupakan. Bukan, bukan karena mengesampingkan yang hidup dan bernyawa. Namun, kadang aku berpikir, bahwa ada kehidupan yang kemudian menjelma dari deretan makna yang tercipta.

Seolah tenang, dan tak merasa apa-apa. Mungkin seperti itulah yang mampu aku ingat tentang malam itu. Dengan balutan babydoll dan siap memeluk guling dengan sarung bergambar avatar, warna oranye, aku duduk di tepi tempat tidur yang telah rapi. Sengaja mencari sebuah benda, untuk memberikan kabar pada sahabat, bahwa aku telah sampai, dan siap melepas lelahku setelah seharian tamasya bersamanya. Ya, si Hepi yang aku cari. Sebuah telepon genggam yang bagiku sudah cukup canggih, tapi tidak bagi teman-temanku yang melihat tampilannya. Ah, kalian tak mengenalnya saja... :D

Tapi, coba tebak, apa yang aku dapat? Aku malah menemukan sekotak "tahu gehe"... :( dan.... Hepi tak berada di tempatnya. Aku mencoba mengeluarkan seluruh isi ransel. Ya, benar....! Hepi tak ada.... Pelan aku menjajak kotak-kotak memori perjalanan seharian ini... Yaaa.... kemungkinan besar, Hepi tertinggal di kolong meja saat aku membiarkannya berpelukan dengan chargernya. Aku berusaha menghubungi sahabatku untuk mengabarkan padanya. Siapa tahu, ada ide baru. Selanjutnya aku berusaha menghubungi tempat aku meninggalkan Hepi dengan bantuan teman kosku. Bisa... iya tersambung.... dan... benar... Hepi berada di sana. Saking senangnya, aku lalu begitu saja menyambar jaket tebal, slayer dan helm, bersiap menjemput Hepi. Tapi... kemudian aku urung pergi, melihat jam dinding yang sudah menunjuk jam setengah sebelas malam. Rasanya tak mungkin aku menjangkau tempat itu dalam waktu tiga puluh menit. Iya, jam sebelas malam, tempat itu sudah tutup dan dikunci.... *yaiyalah dikunci*

Aku mencoba menelepon sahabatku, menceritakan semuanya. Dan.. tau tidak? Dia menyanggupi untuk membawa pulang Hepi. Seperti dilamar pacar mungkin ya rasanya..... :)) :)) Iya, tempat tinggalnya lebih dekat, jadi, dia bisa lebih mudah mnjemput Hepi. Aku merasa lebih tenang, artinya Hepi berada di tangan orang yang tepat. Aku pun berjanji akan segera menjemputnya. Ah, tapi tak semudah itu.... Aku harus menahan karena hujan dan lain sebagainya. Pas lah... genap dua hari aku saling membisu dengan Hepi. Ah, itu hanya masalah telepon genggam, yang mungkin menjadi media berbagi dengan siapa saja di luar sana. Berpisah dengannya, artinya memenjarai diri dari kebiasaan... :D

Entahlah, keberpisahanku dengan Hepi melambungkan kembali ingatan tentang..... tentang sekian deret saran untuk mengganti Hepi dengan yang lain, dengan yang lebih layak mungkin.... Dan memang, akhir-akhir ini aku semacam memantapkan diri untuk menggantinya dengan yang lain. Tapi kejadian itu, seolah mengatakan padaku bahwa... Hepi juga bisa ngambek.... Ah... sebegitunya kah? :D

Baiklahh... aku harus minta maaf padanya ya... tak akan lagi teledor padanya. Tetap menjaganya meski keadaannya sudah tak sama dengan yang lain. Biar saja ada yang menggantikan tanpa harus membuatku sengaja melupakannya. Ah, bukannya aku tak berterima kasih padanya. Itu hanya khilaf semata. Tapi tetaplah berterima kasih atas apa saja, diantara makna-makna yang tercipta. Meski apapun... hanya akan menjadi milik sementara.... Mungkin.... begitu juga tentangnya....

Friday, April 13, 2012

Maaf, Aku Sibuk


Mungkin sudah sejuta kali aku berkedip, dan ingin memejam sebentar. Ah, meluruh lelah dan lusuhnya tenaga itu ternyata tak juga semudah mebalikkan telapak tangan. Ya, mungkin juga telapak tangan yang sedang terlindas lemari besi. Ouuucchhh.... sakit. Tapi apa boleh buat, katanya ikhtiar harus maksimal, maka bagaimana pun aku harus menyelesaikan semua tugas kantor, meski harus menjadi seorang single fighter.

Aku tahu, di luar sana bahkan ada yang lebih memeras keringat, hingga kepalanya pun menjadi sangat berat, bahkan ingin bertukar dengan siapa saja yang mau. Tapi, tak mungkin bisa kan? Aku hanya bisa tergelak dalam hati. Kenapa sebegitu berat merasai perjalanan setiap hari. Ah, bukankah senyum dan ramahnya sapa akan lebih menenangkan?

Seperti saat ini, lihat saja, dia terus menyapaku, mendekatiku. Isyarat sapanya, mengatakan aku wajib memberikan jamuan istimewa. Begitu lama aku membiarkannya tanpa balas sapa. Ah, sudah sekejam itukah aku padanya? Dia, tak pernah mengejar berlebihan, tak pernah mengintimidasiku dengan cara yang menyebalkan. Ya, tapi apa boleh buat, aku seakan masih terlilit lelah yang berlebih, yang membuatku enggan memberikan balas atas sapanya.

Padahal, ketika aku membutuhkan dia, aku selalu mencarinya kemana saja. Aku selalu berharap bahwa dia akan datang dan menjanjikan jamuan-jamuan istimewa untuknya. Menggelar imajiansi dan merangkainya tak peduli cuaca. Ah, lalu kenapa jadi seperti ini. Ia datang, menawarkan segala imajinasi istimewa yang seharusnya bisa aku rangkai bersama makna untuk bercerita.

***

Oke, hari ini aku berusaha menyambutnya, tapi tak mau memberi janji padanya, takut aku tak bisa menepatinya. Biarlah semua menjadi kejutan, yang mungkin ia pun tak pernah mengiranya. Tapi, aku harap, ia belum berlumur rasa enggan jika aku tiba-tiba memberikan balas atas sapanya.

Tetiba aku dengar dering handphone-ku yang sudah seharian membisu. Aku membaca nama adik sepupuku, Tasya di layar handphone
"Halo," jawabku. 
"Kak, muungkin dua jam lagi aku sampai di bandara, jadi jemput aku kan?" celotehnya. 
"Haa?? Mendadak amat katanya weekend?" aku terbelalak, karena ia datang lebih awal dari waktu yang kami sepakati. 
"Iya, aku sudah dapat libur, dan tiket hari ini murah banget," Tasya berteriak dengan ceria. 
Aku? Yah, mau tak mau aku harus menuruti semuanya. Tasya, adik sepupuku, yang masih duduk di bangku SMP, yang ingin berlibur ke ibukota. Mengobati rasa kecewanya, karena gagal menonton sebuah konser boyband Korea idolanya. Aku tak tega mendengar tangisnya yang meronta, saat ia tahu, semua tiket telah habis terjual. Jadi, Tasya putuskan, untuk berlibur saja.

***

"Kak, besok pagi, kita jadi main ke Dufan kan?" tanya Tasya menjelang tidur.
"Iya, besok main deh sepuas kamu, makanya sekarang buruan tidur, biar gak kesiangan," jawabku.
"Ya kakak malah sibuk di depan laptop, kapan tidurnya, hayo?" tanya Tasya lagi.
"Iya, nanti kakak tidur, sekarang masih ada yang harus kakak kerjakan, oke," aku berharap argumenku kali ini bisa diterima Tasya. Aku rapikan selimut yang membungkus tubuh mungil Tasya, dan aku kembali asik di depan laptop, mencoba membalas dia yang memberikan aku sapa.

Tapi, sepertinya gagal, Tasya justru curhat tentang sekolah dan teman-temannya. Tasya juga meminta pendapatku tentang cita-cita yang dia punya. Aku merasa sangat wajib memberikan perhatian pada Tasya. Maka aku mendengarkan semua cerita Tasya, menikmati tawa kami berdua, sampai malam menjelang pagi. Dan, kami harus istirahat, berusaha lelap dalam tidur. Aku harus menepati janji pada Tasya, dan Dufan siap menyambut kami berdua.

***

Ah, belum juga aku bisa membalas sapa. Lalu, siapa yang masih harus menunggu. Aku tetap harus berusaha, mencipta "pertemuan" dengannya. Aku tak ingin menyia-nyiakan kehadirannya. Aku tak menepikan sapanya. Aku sungguh ingin membalasnya. Nanti, aku akan menjamu dia, dengan istimewa, menerima tawarannya untuk bermain di belantara imajinasi. Kembali memakna aksara dan terus bercerita. Inspirasi, maaf, aku sibuk. Aku, tetap selalu membutuhkanmu.... :)

 

Thursday, April 05, 2012

Apa Dong?


Keningnya mengerut, berkali-kali. Bibirnya maju, tak hanya sekali. Gemeretak keyboard seirama dengan tarian jemari Natasha. Fiuhhh... Tarikan nafas panjang, seperti instrumen yang setia mengiringi harinya. Lelah. Lahir dan batin, katanya.

Natasha berusaha menguatkan dirinya sendiri. Membiarkan telinganya tetap peka. Seolah tak memberi kesempatan sedikitpun pada konsentrasinya, untuk buyar. Setumpuk dokumen di hadapannya, harus segera dibereskan. Kerinduan mama yang tak mampu dibendung, tersinyalir dari dering telepon setiap saat... setiap waktu. Hampir menangis ketika Natasha tak mampu menjawabnya. Serta, menjumpa pelataran memorinya, yang siap menangkap sepenggal masa lalu yang tetiba menyapanya.

Ahh, ini apa? Bahkan berdiri tegak dari kursinya pun, berapa detik yang ia mampu? Hampir sebulan ia sendirian mencoba berdamai dengan keadaan. Semenjak dimutasi ke divisi baru, Natasha memiliki tanggung jawab yang lebih besar, dan kadang harus menghadapi klien yang cukup menyebalkan.  

Ringtone Back To December-Taylor Swift dari handphone Natasha pun tak berhenti. Natasha yang mulai jengah dengan suara, menyambarnya, lalu menjawab telepon dari seberang, "Halo, Ta'.." jawabnya. Gita, di seberang masih geram karena Natasha begitu lama menjawab teleponnya. "Ah, kamu ngapain aja sih, angkatnya lama bener. Buruan deh kesini, udah pada ngumpul....." Gita terus meracau tanpa peduli keadaan Natasha. Uuuppss... Ya... hari ini, Natasha ada janji dengan teman-temannya. Mereka cukup lama tak bertemu. Tapi, Natasha lupa. Benar-benar lupa. "Ta', sorry, mungkin aku gak bisa dateng. Kerjaan aku banyak banget deh ini," keluh Natasha. Suasana mendadak hening. Natasha memainkan pulpen dia tas meja dengan jari-jarinya. Ia menunggu jawaban Gita. Tapi, tak ada. Gita mendadak membisu.

Gita menarik nafas panjang. "Kamu masih mau berdalih kerjaan? Yaudah, kalau kamu lebih memilih menjadi diri kamu yang lain. Bukan yang kami kenal dulu...." Kalimat terakhir Gita sekan menghujam jantung Natasha. Bukan. Bukan itu yang sebenarnya dia mau. Natasha ingat, jadwal hari ini pun, banyak mundur juga karena semua menyesuaikan waktu dengannya. Tapi, kenyataannya apa? Tetap, Natasha tak bisa memenuhi janjinya.

Natasha ingin marah pada dirinya sendiri, yang mengecewakan mereka, sahabat-sahabat yang sangat berarti baginya. Aahhh... itu cukup membuat Natasha kesal. Sayangnya, Natasha belum mampu menerjemahkan perasaannya saat ini. Natasha ingin sendiri. Tapi.. kenapa ia bahkan tak mampu jujur pada sahabat-sahabatnya. Mungkin, ia bisa menceritakan semua masalahnya, seperti sebelum-sebelumnya. Ihhh... kadang Natasha pun jengkel, pada dirinya.

Seperti malam sebelumnya, Natasha menelepon mama dan bercerita tentang banyak hal. Tapi, semua itu tak juga menjadikan perasaannya lebih baik, sepenuhnya. Natasha masih merasa ada senyum dan tawa yang kadang kurang jujur tercipta. Kenapa Natasha? Pertanyaan itu muncul lagi, dari Natasha, untuk dirinya sendiri.

Natasha mencoba menutup satu memori, satu perasaan, yang ia pun tak mampu memahaminya. Sepertinya, ini hanya cerita lalu, yang sebentar menghampiri dan menyapanya. Bukan untuk tinggal, seperti sebelumnya. Natasha seperti menyusp ke dalam rimbunan rindu yang sesungguhnya, ia tahu, ini tak akan ada ujungnya. Yaaahhh..... Ini sangat mengganggu. Gumamnya. 

Sekali lagi, ia membaca satu pesan di handphone miliknya,

"Natasha, itu bukan cinta."

Sekali lagi, Natasha meringis. Lalu, "Apa dong....?" racaunya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.

Thursday, March 29, 2012

Bon Anniversaire, Bintang :)



Dear Bintang...

Hai Bintang, aku rindu kamu...aku juga rindu menulis untukmu... Aaahhh.. kamu... :D
Bintang, hari ini, tanggal 29 Maret, jatuh pada Hari Kamis. Sama ketika pertama kalinya kita menyapa dunia, melewati lorong rahim ibu-ibu kita tercinta... :D Aku lebih dulu ya... dini hari... jam satu lewat tiga belas menit... Kamu, malamnya.... jam sepuluh malam ya?? :D Dan kita mengukir cerita sendiri-sendiri sampai kemudian, kita dipertemukan... di balutan dunia yang sangat menyenangkan... Aahh kitaa... :p

Terima kasih ya, sudah memelukku dengan tawa. Meski selanjutnya, aku harus menjalani aneka absurditas bersamamu... ahahahahaha... but it's memorable. Lalu, bagaimana? Masih kesal padaku, seperti saat pertama melihatku? Gak pengen berteman sama tampilan kutu buku sepertiku? Aaaahhh.. kamu... Lalu, bagaimana? Masih manja padaku, minta antar kemana-mana?? :)) *ge er banget saya*

Entah berapa kali kita bertukar coklat setiap Hari Valentine, meski cuma "beng-beng". Entah berapa langkah yang kita bagi untuk bisa mencapai rumah tercinta.. :P Entah berapa karung tawa dan tangis yang pernah menyekap kita dalam... setiap memori. Entah berapa cerita lagi yang akan sanggup kita kata. Entah berapa jauh kita tempuh untuk menyusup ke dalam ruang-ruang mimpi.. yang... kadang kita cipta sendiri... Iya... kita berbakat menjadi pemimpi... :P

Sekarang?? Kamu bahagia kan?? Aku bahagia... Kita bahagia... :)

Hun-hun... ini pertama kalinya... aku gak bisa sms kamuu... gak bisa telepon kamuu.... belom punya ucapan ulang tahun yang rahasia buat kamu... seperti biasa... :)) :)) Meski di kotak chat aja aku sulit bertemu kamu, tapi....... aku tak pernah membuangmu dari memoriku... Aaahh.. atau jangan-jangan kamu yang pura-pura lupa aku... muahahahahahaha... *siap-siap jitak*

Suatu kali nanti, aku masih ingin kita bercerita.. seperti biasa... tentang ayah kita... dan mungkin juga tentang ayah anak-anak kita... muahahahahaha... *uapa iniiihh* Yang jelas tentang kitaa..... kita udah lama ya tanpa me time berdua saja... ahahahaha.. Maaf, kadang... aku merindukannya... Tapi entah... bagaimana... :D

Haha... aku juga merindukan ngambek-ngambekan sama kamu... :p Ah, kamu kan yang suka ngambek... "Aku lagi bete.. lagi bete.." gitu katamu *eeaaakkk* Lah mbok pikir aku pacarmu??? :)) :)) :)) Tapi kamu lucu... absurd... :)) :)) :)) :)) :)) :)) 

Hun-hun... ini di radio lagi ada lagunya Simple Plan-Jet Lag... Aaaaahhhhh aku makin kangen kamuuuhhh.... :* Kamu gendut apa kurus?? Yang gendut aja yah... ahahahahah.... Mana foto kamu yang lagi maen sepeda.. dan... memasak... *eeaaaa* Percuma lahh bawa bumbu macem-macem tapi gak dipake masak.. aku bilangin tante niihh... :D

Aaahhh... telah banyak satuan waktu yang kita lewati. Kita nanti... dan... kita rindui. Hehe.. tiba-tiba aku merindui tragedi di toko sepatu itu... yang kita rahasiakan.. muahahahaha.. tapi-tapi-tapi sekarang aku udah bisa loh pake sepatu aneh-aneh... meskipun.... tetep cuintaa banget sama sepatu kets... as always.. :P

Hun, duabelas itu gak sebentar ya... Terima kasih ya... for being my best twin. Meskipun aku selalu menjadi recycle bin untukmu.. Aku relaaaaaaaaaaaaaa... *halah* :)) :)) :)) Maafkan aku yang terlalu galak padamu... tapi udah bawaan kayaknya.. ada stempelnya di jidat.. :)) :)) :))

Haha... karena sudah sangat dewasa... aku bingung memberimu kado istimewa apa... :p
Aku harap surat cinta abal-abal ini bisa membuatmu tertawa.... seperti biasanya...

Selamat Ulang Tahun ya Bintang....
Semoga kita bisa menjadi "saudara kembar" yang saling membahagiakan. 

Bonusnya, dengerin inihh lagu kesukaan kamuu.... kitaaa... semuanyaa.... :*









Wednesday, March 28, 2012

Batas


Eh iya, kemarin-kemarin saya abis baca buku cinta dong..... ciyeeee... jarang-jarang niihh... :p

Buku ini, buku baru, diterbitkan oleh Nulis Buku. Judulnya BATAS, ditulis oleh seorang penulis yang punya nama Teguh Puja. Buku ini kumpulan cerpen gitu sih. Tapi beberapa ceritanya nujeb-nujeb banget. Kadang kalo gemes, saya berhenti ngebacanya... hehehehe... Kebanyakan tentang cinta memang, cinta yang universal, kepada siapa saja, tentang apa saja.

Juga beberapa cerita tentang pergolakan batin seseorang dalam menghadapi sebuah pilihan hidup. Dimana cerita-cerita itu dikemas dengan kata-kata yang... ehem.. puitis... dan mampu mempermainkan perasaan pembacanya. Yaa... begitulah yang saya rasa ketika membacanya. Atau, kalau kadang ada yang cukup menyentil, saya bisa cengar-cengir sendiri.

Sebenarnya, temanya sederhana. Bahkan kadang-kadang saya merasa bahwa hal-hal dalam cerita itu juga pernah saya alami *tsaaahhh* Ya, beberapa aja sik... karena di situ kan ada 46 judul.... muahahahahaha... nikmatin deh itu cerpen-cerpen sampe mabok... :)) Pasti ada satu, dua, tiga, atau entah berapa yang kalian pernah juga mengalaminya.

Mulai dari cerita persahabatan, keluarga, cinta sama pacar, jatuh cinta, gak bisa move on, sampe acara selingkuhan. Semua ada... :D Tadinya, saya mikir-mikir, kenapa buku ini dikasi judul Batas. Saya sebenernya juga belum ngerti maksudnya sik. Tapi, pembaca boleh kan punya interpretasi sendiri.. :p Kalau menurut saya sik, buku ini memang cerita tentang batas-batas rasa. Bagaimana kita bisa merasa sedih, kecewa, marah, senang. Tapi, ada satu muaranya, tenang. Saya pikir, semua orang memilih untuk ketenangan. Dari setiap apa yang dicari, muaranya adalah tenang. Ya, itu sik menurut saya, dari apa yang saya baca.. heehehehehe...

Dari buku ini, saya paling suka sama cerita yang judulnya Hadir. Entah kenapa, saya selalu inget cerita ini... Bukan berarti yang lain gak bagus, ataupun ini adalah cerita paling bagus loh. Cuman, dalam cerita ini saya menemukan suatu kesederhanaan yang kemudian menjelma menjadi istmewa.. *tsaaahhh* Ya, maksudnya itu cerita temanya sederhana, alurnya juga. Tapi saya suka.. :)

Nah, ada juga satu cerita, yang menurut saya, nggak banget. Saya jadi bertanya-tanya aja, kenapa cerita itu bisa nyempil di dalam buku itu... mungkin sengaja kali yaa.. muahahahahaha.. Itu cerita yang judulnya Malam. Ya, gimana ya, saya ngerasa aneh aja sama ceritanya... :P

Tapi di dalam buku yang tebelnya kira-kira 149 halaman itu, kita bisa serasa didongengin deh. Dan bisa saja mengulang cerita mana yang kita suka membacanya, nikmatilah. Seperti cerita Nafas, Menua, Keputusan, Haven't Met You Yet, dan semuanya, bisa menarikan bibirmu untuk tersenyum, cemberut, atau bahkan membisu... :P

Friday, March 16, 2012

Bukan Dongeng (2)


Sebenernya postingan ini udah mau dipublish dari kemaren-kemaren, tapi belom sempet-sempet ajaah... :D Iya, saya mo ngelanjutin cerita tentang eyang kakung saya. Iya, karena kangennya gak buyar-buyar... :D Oiya, tolong diingetin, mulai saat ini saya akan pake kata "saya" bukan "saia". Jadi, kalau nanti ada salah ketik tolong diingetin ya.... sebelum ketahuan sama yang nyeramahin saya kemaren. Ceramahnya yang sebuku aja belom bisa saya cerna, apalagi kalau nanti ditambahin, bongkok saya.... Tapi bagus juga sik, gak papa, ntar biar dia jadi editor aja kalau saya mo bikin buku... huahahahahaha.... Sekalian kesempatan, katarsis buat dia kalau lagi pengen marah-marahin orang... :)) :)) :))

Oke, saya lagi semangat banget cerita tentang pengalaman saya sama eyang kakung saya ini emang. Soalnya.... ya itu... saya merasakan kangen yang tak berkesudahan. Gak tau deh, setiap saya mau melakukan sesuatu gitu, tetiba jadi inget sama beliau. Saat ini juga banyak hal yang sedang saya lakukan, yang dulu pernah saya bahas sama beliau. Saya itu dari kecil emang suka ngayal, suka banget. Dan saya bisa ngakak-ngakak bareng eyang kakung saya itu kalau pas lagi berkhayal. Dan saya selalu terharu, pas saya bisa mengalami sesuatu yang pernah ada dalam khayalan saya itu. Bihihiik... kalian pasti juga punya kaaann... Ada perasaan gimana gitu... :D

Saya pengen banget cerita sama beliau, terus minta tanggepannya beliau. Trus nanti nyusun mimpi-mimpi baru lagi. Trus nanti berjuang lagi. Trus nanti cerita-cerita lagi. Trus nanti dapet inspirasi baru lagi. Trus bisa tertawa-tawa lagi. Saya akui, saya suka dengan lingkaran ini. Saya suka sekali.

Saya merasa beruntung, menjadi satu dari sekian banyak sepupu saya, yang punya kesempatan lebih banyak bersama dan mendengar cerita dari eyang kakung saya. Iya, saya juga tau, sepupu-sepupu saya juga punya kesan-kesan tersendiri dengan beliau. Makanya saya berusaha menerapkan nasihat-nasihat baiknya. Iyalaaahh... sebaik-sebaik saya di mata beliau, saya itu masih kurang disiplin, suka gak pedean, dan agak-agak bandel.... :))

Dulu itu, beliau sering dongengin saya sebelum tidur. Sambil nasihat-nasihatin gitu sik. Dongeng yang paling sering, yaa biasa aja sik. Si Kancil. Iya Kancil yang suka mencuri ketimun. Tapi beliau ngedongenginnya pake bahasa jawa dong, trus ada aktingnya juga... :D Saya suka... trus satu lagi, cerita Uthak-Uthak Ugel. Mungkin kalau yang suka baca cerita rakyat pernah tahu cerita ini. Tapi emang gak begitu populer sik. Lagi-lagi cara mendongengnya lah, yang bikin saya terpesona. Ada adegan si Uthak yang lagi makan, dan beliau nyeritainnya gini, "klethuk... kremus... klethuk... kremus..." aahh... suara beliau itu khas banget. Perawakannya yang tinggi besar, dan dengan suara tawa yang menggelegar. Bisa bayangkan, seperti apa beliau ketika mendongeng? xixixixixi....

Meski begitu, bukan berarti saya gak pernah kena marah loh... wkwkwkwkwkwk.... Dulu tuh pernah, saya pengen maen ke rumah temen saya. Udah janjian juga sik, biasalah anak SD. Cuman maennya siang... sekitar jam 2-an gitu. Nah, eyang kakung saya bilang, "Ini jamnya tidur siang, nanti sore aja mainnya." Nah, kalau sore itu kan waktunya pendek. Trus belom lagi ada jadwal ngaji, ngerjain PR dan bla...bla...bla... begitulah pemikiran saya sama temen-temen waktu itu. Tapi sekali gak boleh ya saya tetep gak boleh maen.

Ceritanya, saya ngambek dong waktu itu. Saya ambil satu buku, trus pergi ke garasi. Dari situ, eyang kakung saya udah kembali dengan kegiatannya lagi, mungkin dikiranya saya ke kamar aja gitu, pokoknya gak jadi keluar rumah. Nah, di garasi itu ada sebuah meja bueeesaaaaarrr...... kolong meja itu tertutup hampir penuh... cukuplah buat ngumpet anak-anak sebesar saya waktu itu, masih bisa napas juga kok. Dan, gak terlalu gelap juga. Saya baca buku disitu, ngusir bete gitu deh bahasa kerennya.. :)) Lah, gak berapa lama, ada suara eyang kakung dan eyang putri saya. Naga-naganya sik nyariin saya, tapi saya diem aja. Saya sempet ngikik juga sik pas eyang kakung saya ngelewatin meja tempat saya ngumpet. Tapi gak nengok ke kolong mejanya. Jadi, berdasarkan yang saya denger, mereka mengira saya tidur di kamar, tapi gak ada, makanya dicari-cari kemana-mana. Bahkan udah mau dicari ke tempat temen yang tadinya saya mau maen kesana itu. Tapi gak tau deh jadi apa enggak. Dan.... saya tetep dong di kolong meja itu. Sampe akhirnya....... pas saya membuka mata saya..... saya udah ada di kamar eyang kakung saya ajaaa..... Lahhh??!!! Iya, saya sampe ketiduran di kolong meja. Jadi kayaknya saya akhirnya ditemukan... tapi dalam keadaan tertidur.... :)) :))

Pas saya bangun gak langsung dimarahin juga, malah disuruh mandi, makan, dan duduk manis di depan tivi. Inilah saat-saat yang saya takutkan. Wawancara. Iya... saya diwawancara tentang kejadian tadi siang. Yaudah, saya jawab aja semuanya, polos. Kata beliau saya mengkhawatirkan, laen kali gak bole gitu-gitu lagi. Gak bole ngambekan, apalagi berlebihan. Muahahahahha... MasyaAlloh ya saya... coba kalo itu saya yang ngadepin anak kayak gitu.... eerrrrrr.... kraaauuukkk..... :)) :)) :))

Saya biasanya takut ngedeketin lagi kalau abis dimarahin. Jadi saya dieeeeeeemmmm aja. "Kok hari ini kamu nggak nyanyi-nyanyi?" tanya eyang kakung saya pas pagi-pagi saya mau berangkat sekolah. Saya diem. "Kalau hatinya nggak enak, nggak nyanyi, gitu?" lanjut beliau. Dalem hati saya, aahhh kok tau sih kok tau sih..... :)) :)) :))

Gitu juga sorenya saya udah diajakin jalan-jalan lagi. Suka deh kalau mau pergi-pergi sama beliau. Bajunya rapihhh.. ah di rumah aja juga rapiiii :D Selain rapi, beliau selalu bilang, kalau pergi-pergi nggak usah bawa duit banyak-banyak. Bukannya takut ilang, tapi biar gak boros katanya... :D Iya sik, kita itu kalau jalan-jalan jarang banget belanja. Setelah jelajah kota, biasanya eyang kakung saya ngajakin saya ke sebuah minimarket langganannya. Disitu, beliau beli roti tawar dengan merk Amsterdam. Iya, kesukaannya yang itu, atau Kalimas, itu merk lokal sik. Trus, beliau juga beli susu.. itu susu Frisian Flag kemasan satu liter, rasa coklat. Sesekali, beliau juga belikan saya es krim, rasa coklat... :D Dulu sik saya gemar banget sama Paddle Pop... *halah* :)) Sesampainya di rumah, kami nikmatin deh itu jajanan yang udah dibeli. Rotinya diolesin mentega, diguyur meises coklat, dan..... kami membumbu rasa roti dengan cerita sepanjang perjalanan tadi. Ahhhhhhh.... kangeeeeeeeeennnnn...... T_T Oh iya, roti racikan semacam itu, jadi bekal wajib saya sampe saya kuliah lohhh... ehhh waktu udah kerja juga siik.. tapi sekarang enggak... udah rempong bikinnya.. :)) :))

Kalau udah selesai berkegiatan. Kakek saya selalu mengisi waktu luangnya dengan membaca. Iya membaca apa aja. Kalau pagi sampe sore gitu, biasanya beliau baca koran. Emang beliau sengaja langganan koran, waktu itu, Surya sama Oposisi. Itu koran pasti khatam deh ngebacanya. Saya juga pernah diajarin cara baca koran yang cepat... :)) Etapi yang saya salut, dulu itu eyang saya emang udah sepuh banget juga sik, tapi masih heboh semangat bacanya. Selain kacamata, beliau pake alat bantu kaca pembesar, he called "suryakanta", itu dalam bahasa jawa. Tapi kaca pembesarnya gak kayak lup yang bulet dan ada gagangnya gitu. Bentuknya kotak, sliding gitu deh, beliau beli di Gramedia waktu itu, sekarang masih ada... tersimpan rapi... T_T Nah, kalau malem beliau ganti bacaannya, beliau mengaji. Saya suka ada disebelahnya pas beliau mengaji, trus ngedengerin ceramah singkatnya. Beliau bukan ulama atau semacamnya, cuma yang beliau ceritakan, lebih banyak tentanng... cara kerja Tuhan. Kadang saya itu mikir, apa ya yang dulu ada dalam pikiran beliau kalau pas cerita sama saya itu? Abisan kalau saya pikir-pikir, pembahasannya kadang terlalu berat untuk anak SD selevel saya... gak tau lagi deh kalau anak-anak cerdas lainnya.. :D Tapi, saya tetep sukaaaa... buktinya sekarang saya masih diijinkan Alloh untuk inget-inget pelajaran dari eyang kakung saya... *hamdalah* :)

Beliau juga sempet bilang, bahwa kita harus punya kesukaan atau hobi yang diseriusin. Selain belajar di sekolah, kita harus punya keterampilan lain. Soalnya, kita hidup gak cuma dari sekolah, gitu katanya. Trus, harus juga berani kritis, percaya diri dan berani jadi diri sendiri. Dan, saya melihat, beliau punya semua itu. Dan sebenarnya, rasa kehilangan itu, gak saya rasain sendiri sih. Rumah itu menjadi sangat berbeda, setelah beliau gak ada. Saya suka lupa kalau semuanya udah berubah. Abisan dulu saya selalu mendapati koran di atas meja ruang tamu kalo saya pulang sekolah. Atau, mendengar senandung lagu keroncongan setiap jam tiga sore, seusai beliau mandi sore. Aaaahhh.... saya seperti punya puluhan video yang merekam semua kebiasaan beliau.

Dan, yang ingin saya pelajari lebih jauh dari beliau, adalah... caranya menjaga cinta. Iya... menjaga cinta. Mungkin setiap orang pernah juga melihat betapa dahsyatnya cinta. Dan, saya merasa, saya juga, di hadapan saya. Aaaaaaakkkkk... bagaimana beliau memperlakukan keluarganya dan orang-orang di sekitarnya. Iya, beliau juga sungguh romantis sama eyang putri saya. Dan, hingga saat ini, saya belum bosan mendengar cerita tentang mereka. Sebegitu lekatkah, hingga eyang putri saya, dalam usia sesenja ini, masih bisa mengingatnya. Eyang kakung saya, masih menebar bahagia dimana-mana kala beliau telah menjadi sejarah. Semoga beliau juga bahagia melihat saya, kami semua yang sekarang. Semoga. *big hug* *kiss*



Thursday, March 08, 2012

Bukan Dongeng

Sekarang, masih tanggal 8 Maret ya? :D Katanya, hari ini Hari Perempuan Sedunia loh.. Wawawa.. Selamat yaa.. Emang kok.. Bulan Maret itu istimewa, mulai tanggal satu sampe tigapuluh satu.. :D Terutama hari ini, 8 Maret..

Iya, pada tanggal ini, 98 tahun lalu, lahirlah seorang bayi yang kemudian tumbuh menjadi lelaki karismatik, dan memiliki generasi penerus yang unik-unik dan menarik. Uniknya, mereka berani tumbuh menjadi diri mereka sendiri, dan mampu memahami kelebihan apa yang ,mereka miliki. Tanpa melupakan sesuatu yang disebut bakti... kepada Tuhan, orangtua dan sesama. Aamiin. Betapa bergembiranya pula saia bisa menjadi salah satu yang diberi kesempatan untk bisa belajar diantara mereka. Yaappzz... menjadi bagian dari keluarga besar yang sungguh saia cintai. Semoga saia bisa menjadi yang unik dan menarik juga yahh... hahaha... *dikeplak*

Iya, ini hari ulang tahun eyang kakung saia. Seorang yang sungguh inspiratif buat saia. Sungguh beliau lah yang mengenalkan "MENULIS" pada saia. Sejak kecil kami satu rumah memang, dan kami sangat dekat.. :D *ngaku2* :P

Dulu itu, saia anak pingit, harus diem di rumah, dan gak bole keluyuran.. :P Makanya ibu saia kasi saia bacaan buanyak banget dan itu bukan komik loh.. Apa coba? It's folklore! Huahaha.. Keren kaaan.. Nah, dari situ, saia ditantang untuk menceritakan kembali. Biar ada kerjaan juga kali yaa.. :D Setelah mau dan terus bikin, meski cuma beberapa baris, eyang saia bilang, "Oke sekarang kamu juga harus punya diary, tulis sejarahmu." Woh..gak ngerti maksutnya, suer! Saia pas itu kelas 4 SD kayaknya deh. Trus saia dianterin dong beli diary.. Eciee.. Iya, warnanya biru.. Harganya 2.500 rupiah kayaknya.. :)) Trus saia kasi nama juga dong diary-nya.. Muahahaha.. *songong*

Sejak saat itu, beliau rutin nanyain, tiap hari saia harus nulis. Apa jugak yang ditulis? Jayus bangeet! Kalo baca lagi saia bisa ngakak guling-guling deh.. :D :D

Subhanallohu, beliau jg sering ngajak saia jalan-jalan sekaligus jadi tour leader. Iya, sampe pasar dan jalanan yang sering semrawut beliau ceritain. Termasuk teknik mengendarai motor yang baik. Keren ya, beliau adalah google saia pada masa itu. Nah, dr semua cerita itu deh jadi bahan tulisan saia.. :)) Oh iya, fyi aja, saia jalan-jalan itu biasanya dibonceng naek motor loh... Honda 70 warna ijo dengan spion lengkap, bulet, kanan dan kiri. Eciiyee... romantis abiisss.... :D

Dan serunya, beliau juga sering nemenin saia maen bongkar pasang.. Itu loh, yang orang-orangan dari kertas, yang bajunya bisa diganti-ganti. Maenan cewek sih.. iya sumpahhh maenan cewek ituuh.. jadi saia cewek... Okee... Lupakan.. :D He let me play my imagination. Kadang beliau juga tergelak dengan alur yg saia buat. Ah, saia suka! Kita jadi sering bertukar cerita dong. Teman curhat saia yg paling keren deh.. Mulai dari nyurhatin pelajaran, guru, sampe temen-temen saia...  *duh mbrebes mili*

Maaf, ijin nangis dulu, ntar lanjut ya.. :D E pinjem bahunya dong.. *eeaa :D

Oh iya, beliau itu sukanya nonton berita sama olahraga di tivi. Saia kenal sama Desi Anwar juga karena seneng nemenin beliau nonton Seputar Indonesia.. :D :D

Suatu malam, kita lagi nonton dialog politik di TVRI. Waktu itu tamunya perempuan dengan baju merah, iya, itu Megawati. Trus saia bilang dong, "Itu perempuannya pinter ya ngomongnya.." *blaaarr* Ah itu cuma komen anak SD era 90-an kok. "Besok kalo udah besar gak usah politik-politikan yaa.." jawab beliau sambil ngelus-ngelus kepala saia. Saia gak nanya balik sik, lagian juga gak ngerti.. :(

Tapi, saia nanya yang lain, "Kalo jadi wartawan?" saia polos banget nanyainnya. "Hahahaha.. Kalo bisa, jangan juga, banyak bahayanya juga," gitu katanya, sambil ngelus-ngelus kepala saia lagi. Ah, tapi yang ini saia langgar.. Saia suka soalnya.. :D walaupun cuma bentar, tapi begitu bermakna.

Ya tapi beliau tau sik, kalo saia pengen jadi jurnalis. Justru beliau secara tidak langsung, udah membagi ilmunya kaan.. :D

Beliau itu kompeten bgt bincang-bincang soal negara dan pemerintah. Udah gitu, jago bahasa enggres, belanda, jepang, jerman.. Duuh.. Gimana coba saia gak ngefans berat.. :D Saia juga sering diajak maen ke rumah temennya, yang mantan prajurit... duuhh ngobrolnya.. saia enggak ngerti banget deh... tapi kadang nama-nama yang mereka sebut, familiar di buku sejarah.. gak tau buku sejarahnya siapa itu ada di tumpukan... :)) :))

Trus, waktu itu, tahun berapa ya, saia lupa tepatnya tahun berapa. Pokoknya ada pembebasan dua orang narapidana mantan sebuah partai dengan lambang celurit dann... ahhh kalian tahu sendiri lah. Nah, pas ada berita itu, eyang kakung saia menyarankan buat nyatet nama kedua narapidana yang dibebasin itu. "Siapa tahu nanti keluar di ulangan," gitu katanya. Ya udah, saia catet aja.. saia inget-inget. Dan, subhanallohu... beneran dong... ada soal semacam itu... dan tentunya gak semuanya tau kaann... Ah, eyang saia itu ya, bener-bener dehh... :* Makaci eyang... :*

Nah, kalo olahraga, beliau suka banget tuh nonton tinju sama bulu tangkis, sepakbola juga sik. Pokoknya saia sering banget deh nonton berdua sama beliau. Dan baiknya, beliau mau denger komen dari saia. Bisa nanggepin anak SD coba... Padahal ya kalo dipikir-pikir komentar anak SD tuh kayak apa sik. Apalagi saia cewek... iya cewek.. sumpah cewek.. :)) Bisa komen apa coba soal olahraga... Apalagi tinju, sepakbola.. Ah, sekarang aja komen saia juga gak bakal digubris sama penggemar-penggemar lain.. :)) :)) Itu dulu jaman jaya-jayanya Mike Tyson sama Evander Holyfield. Dan saia ngikutin cerita gigit-gigitan kuping... Errr...... :( 

Tapi pas itu saia disuruh belajar maen bulu tangkis, saia gagal... saia merasa gagal banget... *halah* Ya soalnya saia nggak keliatan kalo nggak pake kacamata... malah ada temen saia yang bilang, "Kutu buku kok olahraga..." :((((((( Saia ngadu dong... *dasar anak SD* *dasar cemen* Tapi akhirnya saia pilih olahraga lain... dan itu juga atas dukungan eyang kakung saia ini... katanya biar saia jadi pemberani... *eeeaaa :*

Yang mesti saia inget, pesan beliau itu: Bagaimanapun bapak ibumu, merekalah orangtuamu, pasti sayang sama kamu #deg. Iya, soalnya saia dulu sering sedih kalo bapak sama ibu lembur... padahal saia juga pengen cerita-cerita... Eee yang ada malah saia takut jadinya.. :( Etapi emang bener kan, semua orangtua sayang banget sama anaknya... T_T Malah saia yang belom bisa berbakti... belom sukses kasih menantu.. apalagi cucu... *eeaaa* *malah curhat* Trus, beliau juga bilang, jadi orang jangan sombong, dan haus banyak-banyak bantu orang lain. So sweet laah pokoknya.. *sedih ingetnya*

Semua yang saia ceritain ini saia dapet pas saia masih SD loh. Lebih mengharukan lagi pas saia udah SMA, menjelang beliau gak ada.. T_T

Saia susah loh move-on nya, ini saia masi nangis lagi. Saia harap, Alloh menempatkan beliau di tempat yang terbaik. Lebih baik dari apa yang pernah beliau beri pada kami semua. Yang menurut saia, nyaris sempurna. WE LOVE YOU, GRANDPA.. :*



*tulisan ini saia buat karena saia lagi kangen banget