Wednesday, July 18, 2012

Gak Cuma Satu

"Udah dari tadi?" tanyanya mengejutkanku.
Aku mendongak lalu nyengir. "Enggak kok, belum lama," jawabku sambil beranjak dari trotoar lahan parkir sebuah hypermart.
Sepertinya dia masih heran, dengan pilihanku menunggu di lahan parkir.
"Kenapa nggak masuk duluan?" tanyanya lagi.
"Aku nggak tahu tempatnya Mas, lagian kalau nungguin disini kan gampang nyarinya, hehe" jawabku.

Iya, hari itu, kami sama-sama memenuhi undangan untuk tes kerja di sebuah hypermart kenamaan di Surabaya. Tapi, kami berangkat sendiri-sendiri.

Jam 08.00 kami sudah siap di ruangan yang dijanjikan oleh pihak hypermart itu. Jujur, aku sedikit gugup, kondisiku sedang kurang baik saat itu.
"Itu bibir kamu kenapa?" ia kembali bertanya memecah hening.
"Oh, ini abis jatuh dari motor," jawabku sambil menunjuk luka di bibir dan sebaris gigi yang dipagar dengan kawat.
"Kapan?" lanjutnya.
"Kemarin Kamis. Jadi baru dua hari, makanya belum bisa keren kalau ngomong, hehe."
Dia tersenyum.
"Makanya Mas, aku deg-degan nih, nanti kalau jadinya aku nggak diterima atau nggak dibolehin ikut tes gimana?" keluhku.
Lagi-lagi dia tersenyum. "Udah, tenang aja, semuanya udah ada yang ngatur, dijalani aja," katanya teduh.

Lama, iya, kami menunggu cukup lama untuk masuk di ruang interview. Kadang kita saling diam. Kadang kita saling cakap. Ya, memang dia bukan orang yang banyak bicara. Dan, aku pun kurang pandai membuka pembicaraan.

Sebelum akhirnya namanya terlebih dahulu yang disebut, dia sempat bilang, "Ini kalau pertanyaannya teori semua, aku udah lupa," katanya sambil terkekeh.
"Sama Mas, apalagi kalau ada soal UUK atau psikodiagnostik yang aneh-aneh, lupa banget." Kami terkekeh, membuat beberapa kandidat lain menoleh ke arah kami.

Bayangkan, kami dua mantan mahasiswa, berijazah psikologi, yang justru males mikir psikodiagnostik. Hahaha... mahasiswa macam apa ini?!

Tak berapa lama, dia keluar, dan tibalah giliranku memasuki "ruang sidang". Jreeeengg... betapa tak dinyana, ini interview malah semacam ujian skripsi. Ada empat orang interviewer. Dengan suhu ruangan yang cukup disarankan untuk berselimut. Setelah melewati pertanyaan terprediksi, soal bibir, proses interview pun berjalan berakhir. Termasuk di dalamnya, penjelasan tentang UUK dan analisis tes gambar. Okesip. Jadi, ini sengaja diurutin sama sang kakak kelas, supaya tak ada kesempatan bertanya. -_-"

Aku keluar ruangan dengan langkah gontai. Ah, ternyata dia masih menunggu.
"Lama banget, kamu diapain aja di dalam?" tanyanya sambil senyum-senyum. "Kamu udah satu jam loh" lanjutnya.
"Nah iya kan Mas... berarti tadi aku nggak lancar tesnya, kelamaan. Ah, yaudah deh, palingan juga Mas yang diterima," cerocosku dengan mulut maju.
Dia malah cuma senyum.
Lalu kami berjalan, keluar dari gedung hypermart itu.
"Nggak usah sedih, kenapa harus menuntut sesuatu. Sudah ada yang mengatur," katanya lagi.
"Trus kalau nggak punya kerjaan gimana?"
Dia senyum.
"Tapi kita nggak boleh bergantung sama ijazah ya Mas," tiba-tiba aku mendadak agak pinteran.
Dia mengangguk.
"Tapi aku kan juga kepingin ngerasain kerja pakai ijazah Mas," kataku.
"Iya, tapi tes hari ini nggak boleh kita jadikan satu-satunya harapan."
Aku diam.
"Sebenernya passionku itu menggambar. Aku suka desain. Makanya aku di rumah coba merintis usaha konveksi, bareng temen-temen," lanjutnya.
"Trus kenapa Mas kuliah di Psikologi?" tanyaku.
"Ya waktu itu, rejekinya di situ. Psikologi juga menyenangkan kok.
"Trus kenapa Mas mau ikutan tes kerja ini?" tanyaku lagi.
"Aku kepingin menyenangkan hati orangtua. Siapa tahu, mendapat pekerjaan ini bisa bikin mereka senang," ucapnya sambil tersenyum.
"Iya ya Mas, kadang kesukaan kita belum tentu kesukaan orangtua."

Itu, terakhir kali aku bertemu dengannya. Bahkan setelah ternyata kami sama-sama tidak diterima, kami sudah jarang berkomunikasi, lewat telepon sekalipun. Ya, seperti katanya, kami sibuk berjuang dan membuka lembar-lembar harapan baru, yang tidak hanya satu.

Hingga tadi pagi, aku mendapat kabar, bahwa ia telah sampai pada akhir perjuangannya. Alloh menghendakinya untuk kembali pada-Nya. Menempatkan seorang yang baik hati dan rendah hati di sisi-Nya, di tempat terbaiknya.

Diantara teman-teman seangkatannya, dia lebih pendiam. Tapi baik hatinya, nggak pernah memihak kepada siapa-siapa. Tipikal orang yang ngemong dan nggak galak waktu ngospek... :)

Semoga segala kebaikan dan kerendahan hatinya bisa menjadi bekal untuk mendapatkan tempat terbaik.
Selamat Jalan... :)


Tuesday, July 17, 2012

Seorang Kamilun Muhtadin


Tadi pagi, sampai menjelang jam 7, saya masih asyik gegoleran di kasur sambil main twitter. Hingga saya terbangun, benar-benar terbangun tak hanya duduk. Rasa kantuk mendadak hilang setelah sekilas terbaca serentetan kalimat yang mengabarkan bahwa seorang Kamilun Muhtadin telah berpulang ke rahmatulloh, semalam.

Saya langsung menghubungi seorang teman untuk memastikan, apakah nama itu pemiliknya adalah seorang yang benar saya kenal. Dan, jawabannya adalah IYA. Saya hanya bisa mendo'akan agar segala amal dan perbuatan beliau diterima oleh Alloh SWT.

Saya mengenal sosok inspiratif ini ketika saya masih bergabung dengan Koran Pendidikan di Kota Malang. Beliau adalah seorang kepala sekolah yang kemudian menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan di Kabupaten Malang. Bukan karena jabatannya, namun pemikiran beliau tentang pendidikan sangat mengesankan. Di media tempat saya bekerja, pria yang akrab dengan sapaan Abah Kamilun ini rutin mengirimkan tulisan-tulisannya tentang pendidikan, dimana beliau membela hak-hak generasi muda untuk mendapatkan pendidikan yang layak tanpa harus terdistorsi dengan kepentingan-kepentingan para penguasa.

Jadi, setelah saya berpindah media pun, saya masih memilih beliau untuk menjadi narasumber tentang pendidikan. Waktu itu, beliau bercerita tentang kejujuran. Menekankan bahwa belajar adalah untuk kejujuran. Ya, memang percuma mematok nilai yang tinggi dalam pembelajaran, dan kemudian terabai cara-cara memperoleh nilai tersebut yang jauh dari kejujuran.

Pribadinya yang santun, low profile, realistis, dan tegas, adalah pemikat bagi saya. Saya masih ingat, saat saya datang ke rumah beliau, malam-malam, beliau sampaikan bahwa beliau sangat senang diajak berdiskusi, terutama tentang pendidikan. Abah Kamilun yang juga ketua ta'mir Masjid Jami' Kota Malang ini memesankan bahwa mengutamakan kebaikan akhlak adalah hal yang paling penting dalam pendidikan, dan setiap orang harus berani menegakkannya.

Setiap orang yang pernah menikmati pembicaraan panjang dengan beliau, insyaAlloh ingin lagi dan lagi. Beliau selalu mengatakan, "Datang saja untuk silaturahim, nanti kita bisa bercerita panjang lagi."

Meski sekarang tak selalu bisa menikmati wajah santunnya yang khas, saya berharap, segala yang pernah beliau sampaikan, dapat memberikan inspirasi bagi generasi-generasi penerusnya.

Oh iya, satu lagi yang mengesankan bagi saya, opini-opini yang dikirimkan ke redaksi, selalu berupa tulisan tangan. Khas, dan sangat lekat dalam ingat.

Selamat jalan Abah Kamilun.
Semoga para pewaris semangat Abah tak pernah lelah berjuang.

Sunday, June 17, 2012

Kejutan Impian


Hmmm.. kalau ditanya soal impian, saya suka senyum-senyum sendiri nih… soalnya langsung menjalar-jalar kemana-mana. Mungkin karena terlalu banyak, hehehe… tapi bukan masalah juga sih, dengan impian, rasa-rasanya justru menambah semangat yah… Paling tidak, kita masih sadar bahwa masih ada hal-hal yang perlu kita raih. Dan, bagaimanapun, meraih impian cukup besar sumbangsihnya kepada rasa bahagia… ya begitulah kira-kira…

Seperti anak-anak pada umumnya, saya memulai menyusun impian-impian saya di masa kecil. Kadang pertanyaan, “Kalau sudah besar kamu mau jadi apa?” lumayan memainkan imajinasi saya. Mulai dari jadi astronot, jadi menteri, penari sampai jadi penyanyi, pernah hinggap dalam imajinasi saya. 

Saya sering menceritakan semuanya kepada kakek saya, yang kebetulan, saat itu lebih punya banyak waktu untuk bersama saya. Beliau hanya pesankan, bahwa untuk menggapai impian, kita harus banyak belajar dan berani mencoba.

Sampai suatu saat saya punya impian menjadi jurnalis. Salah satu cita-cita yang sedikit dilarang oleh kakek saya. Sepertinya beliau khawatir, karena jurnalis sering menjadi korban teror. Kira-kira usia saya sepuluh tahun waktu itu. Saya kurang paham dengan maksud kakek saya. Justru saya semakin penasaran, kenapa kakek saya begitu khawatir. Padahal, menurut saya, pekerjaan itu cukup seru.

Walaupun saya punya cita-cita lain, tapi saya tetap penasaran dengan profesi jurnalis itu. Tadinya saya ingin menjadi jurnalis perang, seperti dalam film-film yang pernah saya tont. Tapi saya pikir-pikir, serem juga ya, mungkin itu salah satu hal yang dimaksud bahaya oleh kakek saya. Lama-kelamaan saya beralih ingin menjadi jurnalis olahraga. Ah, gantinya gak nyambung banget ya… wkwkwkwkwkwk….

Ya tapi bagaimanapun, saya tetap ingin menjadi seorang jurnalis. Titik. Dengan impian itu, saya semakin semangat belajar menulis dan banyak membaca tentang banyak hal. Waktu duduk di bangku SMA, saya mulai tertarik dengan hal-hal yang berbau budaya dan isu-isu sosial. Lagi-lagi saya menemukan teman diskusi yang sangat menyenangkan, iya, kakek saya. Alhamdulilaah. Saya bersyukur.

Hampir setiap hari saya dan kakek saya berbincang tentang budaya dan isu-isu sosial.  Saya menyebutnya sebagai ajang asah otak. Menyampaikan rasa penasaran dan pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala saya. Dari situ, saya merasa, saya masih harus banyak belajar dan banyak membaca tentunya.

 Kemudian, saya berpikir, kalau bertanya pada kakek saya tentu saja saya lebih berani, tapi bagaimana kalau saya harus bertanya kepada orang-orang yang baru saya kenal, atau bahkan belum saya kenal? Ah, jangan-jangan dia tidak peduli pada saya, atatu bahkan enggan menjawab pertanyaan saya. Wah ternyata harus latihan wawancara juga yaa…

Sempat beberapa kali, dalam ekstakurikuler yang saya ikuti di sekolah, saya mendapat tugas untuk mewawancara juga. Banyak hal baru yang dapat saya temukan dan saya punya kesempatan untuk lebih memahami orang lain serta kejadian-kejadian di sekitar saya. 

Oke, saya semakin menyukai dunia korespondensi dan kemudian menuliskan hasil korespondensi itu. Sepertinya pada saat itu, saya berteriak dalam hati… “Aku ingin jadi jurnalis…………!!!” xixixixixixi… berlebihan ya? Ya, tapi itulah yang saya rasakan. Jujur, tak banyak yang mendukung keinginan saya itu. Pastinya, kekhawatiran yang membuntutinya.

Tapi saya masih yakin, bahwa pekerjaan itu adalah pekerjaan yang cocok dengan jiwa saya. Saya pasti suka melakukannya, dengan senang hati. Begitu saja. 

Keyakinan itu bertambah ketika saya duduk di bangku kuliah dan bertemu dengan teman-teman yang memiliki faham yang sama, impian yang tak jauh beda. Saya banyak belajar dari mereka semua, dan mulai mencari karakter dalam diri saya sendiri.

Saya bergabung dengan komunitas penulis dan mulai belajar menjadi reporter untuk majalah kampus, serta sebuah bulletin untuk Jurusan tempat saya belajar. Sedikit demi sedikit saya memahami tentang teknis-teknis pembuatan sebuah berita. Mulai dari merencanakan pemberitaan, mencari narasumber, wawancara hingga menuliskan berita.

Sepertinya sederhana tapi dalam prosesnya cukup banyak pelajaran yang saya dapat. Harus tanggap, cepat, dan mental baja. Iya, pada awalnya saya cukup kaget dengan tanggapan-tanggapan dari narasumber, termasuk juga tanggapan pembaca berita setelah berita-berita tersebut dicetak dan disebarluaskan. Ya, semacam pro dan kontra tentang suatu hal yang kita angkat menjadi sebuah berita.

Selama kita mendapatkan narasumber yang tepat dan menuliskan berita sesuai dengan faktanya, kita tetap bisa mempertanggungjawabkannya. Kalau dalam pikiran saya, tulisan-tulisan yang saya buat adalah informasi yang saya harap dapat menjadi masukan bagi pembaca.

            Meski ternyata lebih dari sekadar itu, saya tetap menyukai dunia korespondensi. Dengan banyak resiko yang mungkin saya terima, saya rasa hal itu akan menjadi pelajaran berharga untuk saya, di masa depan.

            Rasa penasaran saya tentang dunia jurnalistik tak terbayar begitu saja. Mungkin karena saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan dunia tersebut, sampai-sampai dalam penulisan skripsi pun saya memilih tema untuk kaum jurnalis. Alasannya sederhana, saya ingin menulis yang saya suka dalam dunia yang membuat saya jatuh cinta.

            Saya juga bukan orang yang paling kuat untuk bisa meraih impian saya. Di lain sisi orang-orang yang kurang memberikan dukungan, ada juga yang dengan kukuhnya memberikan dorongan kepada saya untuk meraih impian saya. Saya tahu, bahwa setiap perjuangan yang diridhoi oleh Alloh akan bisa mendapatkan hasil yang baik, di saat yang tepat.

            Langkah-langkah itu pun mendaratkan saya pada sabuah tawaran menggiurkan. Dimana, seorang pemimpin redaksi sebuah tabloid pendidikan menawarkan pekerjaan yang saya idam-idamkan kepada saya. Ya, saya mendapat tawaran untuk menjadi jurnalis untuk sebuah tabloid pendidikan. Subhanalloh, betapa baik Alloh kepada umat-Nya. Memberikan ijin untuk mendekat pada hal yang dicintainya.

            Saat itu skripsi saya belum selesai. Saya harus mempercepat proses ujian agar saya bisa segera bekerja. Menjadi jurnalis, salah satu impian saya tengah mendekat, sangat dekat dengan saya. Ayah saya, agak keberatan saat itu. Tapi saya ingin mencoba profesi itu. Ayah saya khawatir tentang ragam “uang suap” dan pulang malam pada saat itu. Kemudian saya menjelaskan, bahwa sebisa mungkin saya menjauh dari hal-hal yang kurang baik, yang ada dalam pikiran beliau saat itu. “Do’akan baik-baik saja,” kata saya pada Ayah. Kemudian, ayah memberikan ijinnya juga kepada saya. Begitu juga dengan ujian skripsi saya. Alhamdulillah semua beres.

         Hingga pada hari yang ditentukan, saya resmi menjadi jurnalis sebuah tabloid pendidikan. Memang bukan sebuah media terkenal, tapi saya menyukai arah pemberitaannya. Pada saat itu saya dipercaya untuk menulis berita-berita pendidikan dan tentang remaja. Cukup menarik. 

            Ada banyak kejutan yang saya dapatkan, sejak hari pertama. Saat itu, saya harus bisa mendapatkan dua berita tentang pendidikan. Saya harus mencari sendirian, padahal saya pikir untuk anak baru masih bisa tandem. Ternyata tidak… hehehehehe… Alhamdulillah semuanya lancar dan dari hari ke hari saya menikmati pekerjaan saya, sebagai seorang jurnalis.

             Seseru-serunya pekerjaan, selalu ada kejutan yang menyenangkan dan kurang menyenangkan. Tapi sungguh, banyak pelajaran yang saya dapatkan dari sana. Bagaimana memahami orang lain, kehati-hatian, ketelitian, dan  siap menerima wacana baru. Intinya, bersahabatlah dengan diri sendiri untuk bisa menerima keadaan, yang belum pernah kita duga sebelumnya.

Monday, May 21, 2012

The Oracle

Oh iya... saya baru saja mencicipi sebuah tulisan... yang... mmmmm... misterius... xixixixixixi..... Bukan serem yah, misterius maksudnya, make me curious... :P Iya, tulisan-tulisan ini, menghampar bebas di sebuah buku dengan judul "The Oracle" yang ditulis oleh Teguh Puja *tsaahh* dia dia lagi? Eh.. tapi buku yang ini lain deh... beneran... dari temanya saya lebih suka yang ini.. :D

Judulnya, memang Oracle... tapi di dalamnya ada banyak sekali pelajaran tentang kehidupan. Kita semacam diajak jalan-jalan dari negeri satu ke negeri yang lain. Menjajaki kehidupan yang satu menuju kehiupan yang lain. Tentunya, dengan segala pergolakan batin yang membuat rasa kita melompat-lompat. Sampai saat ini, karena masih sebagian dari buku ini ya... rasa penasaran lah yang menjadi top rank saat membacanya.. :D

Ya... disini diceritakan seorang Pramoedya, ah namanya begitu bersahaja... *tsaaahh* Tokoh utama yang memiliki kemampuan memahami dunia yang tak kasat mata... :D Eh tapi jangan salah... di sini diceritainnya tentang intuisi dan feeling... *eeaaa jadi ngingetin pelajaran kuliah ini.... :D

Memang sih ceritanya si Pram ini menyukai ilmu tarot. Meski sebenernya saya tak paham betul dengan ilmu per-tarot-an, tapi menurut saya, si Pram ini meramal juga berdasarkan pemikiran dari simbol-simbol yang beberapanya diterapkan di ilmu Psikologi. Mulai dari air, angka dan beberapa hal lainnya. Agak berat sih memang pembahasannya. Tapi cerita-cerita di buku ini dikemas menarik.

Dari cerita-cerita itu, kita tak melulu disuguhi tentang hasil ramalan dan semacamnya. Justru kita bisa melihat sisi lain yang... mungkin juga memiliki andil dalam menentukan kehidupan kita. Misalnya, setiap orang memiliki intusi sendiri, dan berhak memilih apa yang ia lakukan. Dan, ketika Tuhan memberikan restunya, maka itulah yang akan terjadi. Bahkan, diantara kecemasan, ketakutan dan pendapat-pendapatnya, seseorang dapat memutuskan sesuatu dengan intuisi-intuisi yang dimilikinya.

Serunya... banyak pergolakan batin yang direkam. Kemudian dipaparkan dengan lebih filosofis. Ya, memang ada beberapa cerita yang sengaja berfilsafat lebih detil. Lalu, yang membuat saya selalu tersenyum-senyum kecil, tokoh utama ini cenderung mampu "membaca" orang lain di sekitarnya. Namun, ia sendiri tak mampu mengejawantahkan apa yang tengah ada dalam batin dan pikirannya dengan mudah. Saya rasa, Pram juga memiliki kecemasan sendiri tentang... dirinya sendiri.. mungkin... :P

Dari banyak cerita yang saya dapat, seseorang yang berintuisi kuat, tentang keadaan-keadaan di sekitarnya memang memiliki rasa yang berat untuk mengatakan apa yang sebenarnya ia tahu.. ah, pikirkan tepatnya. Apalagi, untuk sesuatu hal yang kurang menyenangkan. Akan ada "penolakan-penolakan" yang diciptakan sendiri dalam dirinya. Begitu pula dengan Pram. Dan kadang, sedikit sesal menyapa, ketika ia menyaksikan apa yang ia firasatkan adalah benar, dan ia belum mengatakannya. Lalu, apakah Pram sebenarnya juga ingin membantu seseorang itu mencegah kejadian-kejadian yang kurang menyenangkan yahh?? Pasti penasaran kaann... :D

Jadi, untuk apa Tuhan memberikan kemampuan-kemapuan itu? Semoga, buku ini bisa memberikan alasan-alasannya.

Oh iya, di satu bagian buku ini, menyebut bahwa cinta dan memiliki adalah berbeda. Ditulis dengan pengibaratan, bahwa ketika kita mencintai udara, kita bisa menghirupnya dengan bebas dan kita tetap tak bisa memilikinya. Hmmm... kemudian saya bertanya dalam hati, saya membutuhkan udara, apakah itu juga cinta? Lalu, jika memiliki, apakah tak pula berarti membutuhkan...? *eeeaaaa

Ya... begitulah buku ini akan bercerita.... membuat kita memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru... Tentang perjalanan kehidupan, dengan segala kemampuan, yang Tuhan berikan... :)

Dan, saya... penasaran... :)

Thursday, May 03, 2012

Namanya, Jingga


"Selamat datang jingga," gumamku pada suatu senja. Menyambut wajah langit yang hanya mampu kita lihat sekejap saja. Iya, senja... hanyalah kecupan yang mengantar terang pada gulita. Mungkin juga, tempat bercengkeramanya awan-awan sebelum mereka redup dan seakan lenyap ditelan gelap. Tapi, taukah kau, kecupan sesaat serupa pelukan hangat yang mampu meneduhkan setiap lusuh perasaanmu. Kau boleh buktikan.

Sesekali aku menatapnya dalam-dalam. Mencari dan menyusup ke dalam hangatnya jingga yang penuh rahasia. Selalu ada senyum semesta di sana. Mengabarkan bahwa semua akan baik-baik saja, sampai matahari kembali menyapa. Kau dengar? Di setiap pelukan jingga, ada do'a-do'a yang selalu dirapal. Entah dalam senyum, isakan, atau sejuta kelelahan. Iya, bait-bait cerita pada Penguasa Semesta yang menjadi ramuan harapan. Hingga esok, bibir mungilmu pun mampu melukis senyum kala pagi menyapa.

Senja... aku yakin kau pun pasti selalu menantinya. Mengendurkan saraf-saraf otak yang tegang seharian. Membuang penat-penat yang mencekat. Melenggang kembali pada memori yang menjanjikan pertemuan-pertemuan menyenangkan. Dari sekian banyak kemungkinan, senja disambut dengan senyuman. Lalu, makna apa yang kau semat dalam pertemuan singkat itu?

Hmm... entah kenapa, dalam pelukan jingga, selalu sayup-sayup terdengar sebuah sapa yang meneduhkan. Membuaiku dalam sederet ingatan tentang masa-masa kecil yang menyenangkan. Riuh-riuh tawa gembira memukau rasa, menghadiahkan sesimpul senyuman kepadanya. Seraut jingga dengan segala pesonanya. Serasa langist hanya berpihak padaku, memayungku dengan jingga.

Ah, alasan apa akan memalingkan aku darinya? Aku rasa tidak akan ada. Ia yang yang selalu mengajakku menari-nari menyusuri langit. Jingga, menyulut senyum-senyum kecil yang aku hadiahkan pada semesta. Atas segala cinta. Selamat senja.

Wednesday, April 25, 2012

Hepi Ngambek?

Bukan masalah sedekat apa kita padanya, ataupun, semampu apa ia memahami kita. Aku hanya tak bisa bayangkan, bahwa secarik kertas, sehelai kain, atau apalah, justru mampu mengikat kita dalam sebuah memori panjang, yang entah berapa lama bertahan menjadi ingatan yang jarang sekali terlupakan. Bukan, bukan karena mengesampingkan yang hidup dan bernyawa. Namun, kadang aku berpikir, bahwa ada kehidupan yang kemudian menjelma dari deretan makna yang tercipta.

Seolah tenang, dan tak merasa apa-apa. Mungkin seperti itulah yang mampu aku ingat tentang malam itu. Dengan balutan babydoll dan siap memeluk guling dengan sarung bergambar avatar, warna oranye, aku duduk di tepi tempat tidur yang telah rapi. Sengaja mencari sebuah benda, untuk memberikan kabar pada sahabat, bahwa aku telah sampai, dan siap melepas lelahku setelah seharian tamasya bersamanya. Ya, si Hepi yang aku cari. Sebuah telepon genggam yang bagiku sudah cukup canggih, tapi tidak bagi teman-temanku yang melihat tampilannya. Ah, kalian tak mengenalnya saja... :D

Tapi, coba tebak, apa yang aku dapat? Aku malah menemukan sekotak "tahu gehe"... :( dan.... Hepi tak berada di tempatnya. Aku mencoba mengeluarkan seluruh isi ransel. Ya, benar....! Hepi tak ada.... Pelan aku menjajak kotak-kotak memori perjalanan seharian ini... Yaaa.... kemungkinan besar, Hepi tertinggal di kolong meja saat aku membiarkannya berpelukan dengan chargernya. Aku berusaha menghubungi sahabatku untuk mengabarkan padanya. Siapa tahu, ada ide baru. Selanjutnya aku berusaha menghubungi tempat aku meninggalkan Hepi dengan bantuan teman kosku. Bisa... iya tersambung.... dan... benar... Hepi berada di sana. Saking senangnya, aku lalu begitu saja menyambar jaket tebal, slayer dan helm, bersiap menjemput Hepi. Tapi... kemudian aku urung pergi, melihat jam dinding yang sudah menunjuk jam setengah sebelas malam. Rasanya tak mungkin aku menjangkau tempat itu dalam waktu tiga puluh menit. Iya, jam sebelas malam, tempat itu sudah tutup dan dikunci.... *yaiyalah dikunci*

Aku mencoba menelepon sahabatku, menceritakan semuanya. Dan.. tau tidak? Dia menyanggupi untuk membawa pulang Hepi. Seperti dilamar pacar mungkin ya rasanya..... :)) :)) Iya, tempat tinggalnya lebih dekat, jadi, dia bisa lebih mudah mnjemput Hepi. Aku merasa lebih tenang, artinya Hepi berada di tangan orang yang tepat. Aku pun berjanji akan segera menjemputnya. Ah, tapi tak semudah itu.... Aku harus menahan karena hujan dan lain sebagainya. Pas lah... genap dua hari aku saling membisu dengan Hepi. Ah, itu hanya masalah telepon genggam, yang mungkin menjadi media berbagi dengan siapa saja di luar sana. Berpisah dengannya, artinya memenjarai diri dari kebiasaan... :D

Entahlah, keberpisahanku dengan Hepi melambungkan kembali ingatan tentang..... tentang sekian deret saran untuk mengganti Hepi dengan yang lain, dengan yang lebih layak mungkin.... Dan memang, akhir-akhir ini aku semacam memantapkan diri untuk menggantinya dengan yang lain. Tapi kejadian itu, seolah mengatakan padaku bahwa... Hepi juga bisa ngambek.... Ah... sebegitunya kah? :D

Baiklahh... aku harus minta maaf padanya ya... tak akan lagi teledor padanya. Tetap menjaganya meski keadaannya sudah tak sama dengan yang lain. Biar saja ada yang menggantikan tanpa harus membuatku sengaja melupakannya. Ah, bukannya aku tak berterima kasih padanya. Itu hanya khilaf semata. Tapi tetaplah berterima kasih atas apa saja, diantara makna-makna yang tercipta. Meski apapun... hanya akan menjadi milik sementara.... Mungkin.... begitu juga tentangnya....

Friday, April 13, 2012

Maaf, Aku Sibuk


Mungkin sudah sejuta kali aku berkedip, dan ingin memejam sebentar. Ah, meluruh lelah dan lusuhnya tenaga itu ternyata tak juga semudah mebalikkan telapak tangan. Ya, mungkin juga telapak tangan yang sedang terlindas lemari besi. Ouuucchhh.... sakit. Tapi apa boleh buat, katanya ikhtiar harus maksimal, maka bagaimana pun aku harus menyelesaikan semua tugas kantor, meski harus menjadi seorang single fighter.

Aku tahu, di luar sana bahkan ada yang lebih memeras keringat, hingga kepalanya pun menjadi sangat berat, bahkan ingin bertukar dengan siapa saja yang mau. Tapi, tak mungkin bisa kan? Aku hanya bisa tergelak dalam hati. Kenapa sebegitu berat merasai perjalanan setiap hari. Ah, bukankah senyum dan ramahnya sapa akan lebih menenangkan?

Seperti saat ini, lihat saja, dia terus menyapaku, mendekatiku. Isyarat sapanya, mengatakan aku wajib memberikan jamuan istimewa. Begitu lama aku membiarkannya tanpa balas sapa. Ah, sudah sekejam itukah aku padanya? Dia, tak pernah mengejar berlebihan, tak pernah mengintimidasiku dengan cara yang menyebalkan. Ya, tapi apa boleh buat, aku seakan masih terlilit lelah yang berlebih, yang membuatku enggan memberikan balas atas sapanya.

Padahal, ketika aku membutuhkan dia, aku selalu mencarinya kemana saja. Aku selalu berharap bahwa dia akan datang dan menjanjikan jamuan-jamuan istimewa untuknya. Menggelar imajiansi dan merangkainya tak peduli cuaca. Ah, lalu kenapa jadi seperti ini. Ia datang, menawarkan segala imajinasi istimewa yang seharusnya bisa aku rangkai bersama makna untuk bercerita.

***

Oke, hari ini aku berusaha menyambutnya, tapi tak mau memberi janji padanya, takut aku tak bisa menepatinya. Biarlah semua menjadi kejutan, yang mungkin ia pun tak pernah mengiranya. Tapi, aku harap, ia belum berlumur rasa enggan jika aku tiba-tiba memberikan balas atas sapanya.

Tetiba aku dengar dering handphone-ku yang sudah seharian membisu. Aku membaca nama adik sepupuku, Tasya di layar handphone
"Halo," jawabku. 
"Kak, muungkin dua jam lagi aku sampai di bandara, jadi jemput aku kan?" celotehnya. 
"Haa?? Mendadak amat katanya weekend?" aku terbelalak, karena ia datang lebih awal dari waktu yang kami sepakati. 
"Iya, aku sudah dapat libur, dan tiket hari ini murah banget," Tasya berteriak dengan ceria. 
Aku? Yah, mau tak mau aku harus menuruti semuanya. Tasya, adik sepupuku, yang masih duduk di bangku SMP, yang ingin berlibur ke ibukota. Mengobati rasa kecewanya, karena gagal menonton sebuah konser boyband Korea idolanya. Aku tak tega mendengar tangisnya yang meronta, saat ia tahu, semua tiket telah habis terjual. Jadi, Tasya putuskan, untuk berlibur saja.

***

"Kak, besok pagi, kita jadi main ke Dufan kan?" tanya Tasya menjelang tidur.
"Iya, besok main deh sepuas kamu, makanya sekarang buruan tidur, biar gak kesiangan," jawabku.
"Ya kakak malah sibuk di depan laptop, kapan tidurnya, hayo?" tanya Tasya lagi.
"Iya, nanti kakak tidur, sekarang masih ada yang harus kakak kerjakan, oke," aku berharap argumenku kali ini bisa diterima Tasya. Aku rapikan selimut yang membungkus tubuh mungil Tasya, dan aku kembali asik di depan laptop, mencoba membalas dia yang memberikan aku sapa.

Tapi, sepertinya gagal, Tasya justru curhat tentang sekolah dan teman-temannya. Tasya juga meminta pendapatku tentang cita-cita yang dia punya. Aku merasa sangat wajib memberikan perhatian pada Tasya. Maka aku mendengarkan semua cerita Tasya, menikmati tawa kami berdua, sampai malam menjelang pagi. Dan, kami harus istirahat, berusaha lelap dalam tidur. Aku harus menepati janji pada Tasya, dan Dufan siap menyambut kami berdua.

***

Ah, belum juga aku bisa membalas sapa. Lalu, siapa yang masih harus menunggu. Aku tetap harus berusaha, mencipta "pertemuan" dengannya. Aku tak ingin menyia-nyiakan kehadirannya. Aku tak menepikan sapanya. Aku sungguh ingin membalasnya. Nanti, aku akan menjamu dia, dengan istimewa, menerima tawarannya untuk bermain di belantara imajinasi. Kembali memakna aksara dan terus bercerita. Inspirasi, maaf, aku sibuk. Aku, tetap selalu membutuhkanmu.... :)

 

Thursday, April 05, 2012

Apa Dong?


Keningnya mengerut, berkali-kali. Bibirnya maju, tak hanya sekali. Gemeretak keyboard seirama dengan tarian jemari Natasha. Fiuhhh... Tarikan nafas panjang, seperti instrumen yang setia mengiringi harinya. Lelah. Lahir dan batin, katanya.

Natasha berusaha menguatkan dirinya sendiri. Membiarkan telinganya tetap peka. Seolah tak memberi kesempatan sedikitpun pada konsentrasinya, untuk buyar. Setumpuk dokumen di hadapannya, harus segera dibereskan. Kerinduan mama yang tak mampu dibendung, tersinyalir dari dering telepon setiap saat... setiap waktu. Hampir menangis ketika Natasha tak mampu menjawabnya. Serta, menjumpa pelataran memorinya, yang siap menangkap sepenggal masa lalu yang tetiba menyapanya.

Ahh, ini apa? Bahkan berdiri tegak dari kursinya pun, berapa detik yang ia mampu? Hampir sebulan ia sendirian mencoba berdamai dengan keadaan. Semenjak dimutasi ke divisi baru, Natasha memiliki tanggung jawab yang lebih besar, dan kadang harus menghadapi klien yang cukup menyebalkan.  

Ringtone Back To December-Taylor Swift dari handphone Natasha pun tak berhenti. Natasha yang mulai jengah dengan suara, menyambarnya, lalu menjawab telepon dari seberang, "Halo, Ta'.." jawabnya. Gita, di seberang masih geram karena Natasha begitu lama menjawab teleponnya. "Ah, kamu ngapain aja sih, angkatnya lama bener. Buruan deh kesini, udah pada ngumpul....." Gita terus meracau tanpa peduli keadaan Natasha. Uuuppss... Ya... hari ini, Natasha ada janji dengan teman-temannya. Mereka cukup lama tak bertemu. Tapi, Natasha lupa. Benar-benar lupa. "Ta', sorry, mungkin aku gak bisa dateng. Kerjaan aku banyak banget deh ini," keluh Natasha. Suasana mendadak hening. Natasha memainkan pulpen dia tas meja dengan jari-jarinya. Ia menunggu jawaban Gita. Tapi, tak ada. Gita mendadak membisu.

Gita menarik nafas panjang. "Kamu masih mau berdalih kerjaan? Yaudah, kalau kamu lebih memilih menjadi diri kamu yang lain. Bukan yang kami kenal dulu...." Kalimat terakhir Gita sekan menghujam jantung Natasha. Bukan. Bukan itu yang sebenarnya dia mau. Natasha ingat, jadwal hari ini pun, banyak mundur juga karena semua menyesuaikan waktu dengannya. Tapi, kenyataannya apa? Tetap, Natasha tak bisa memenuhi janjinya.

Natasha ingin marah pada dirinya sendiri, yang mengecewakan mereka, sahabat-sahabat yang sangat berarti baginya. Aahhh... itu cukup membuat Natasha kesal. Sayangnya, Natasha belum mampu menerjemahkan perasaannya saat ini. Natasha ingin sendiri. Tapi.. kenapa ia bahkan tak mampu jujur pada sahabat-sahabatnya. Mungkin, ia bisa menceritakan semua masalahnya, seperti sebelum-sebelumnya. Ihhh... kadang Natasha pun jengkel, pada dirinya.

Seperti malam sebelumnya, Natasha menelepon mama dan bercerita tentang banyak hal. Tapi, semua itu tak juga menjadikan perasaannya lebih baik, sepenuhnya. Natasha masih merasa ada senyum dan tawa yang kadang kurang jujur tercipta. Kenapa Natasha? Pertanyaan itu muncul lagi, dari Natasha, untuk dirinya sendiri.

Natasha mencoba menutup satu memori, satu perasaan, yang ia pun tak mampu memahaminya. Sepertinya, ini hanya cerita lalu, yang sebentar menghampiri dan menyapanya. Bukan untuk tinggal, seperti sebelumnya. Natasha seperti menyusp ke dalam rimbunan rindu yang sesungguhnya, ia tahu, ini tak akan ada ujungnya. Yaaahhh..... Ini sangat mengganggu. Gumamnya. 

Sekali lagi, ia membaca satu pesan di handphone miliknya,

"Natasha, itu bukan cinta."

Sekali lagi, Natasha meringis. Lalu, "Apa dong....?" racaunya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.

Thursday, March 29, 2012

Bon Anniversaire, Bintang :)



Dear Bintang...

Hai Bintang, aku rindu kamu...aku juga rindu menulis untukmu... Aaahhh.. kamu... :D
Bintang, hari ini, tanggal 29 Maret, jatuh pada Hari Kamis. Sama ketika pertama kalinya kita menyapa dunia, melewati lorong rahim ibu-ibu kita tercinta... :D Aku lebih dulu ya... dini hari... jam satu lewat tiga belas menit... Kamu, malamnya.... jam sepuluh malam ya?? :D Dan kita mengukir cerita sendiri-sendiri sampai kemudian, kita dipertemukan... di balutan dunia yang sangat menyenangkan... Aahh kitaa... :p

Terima kasih ya, sudah memelukku dengan tawa. Meski selanjutnya, aku harus menjalani aneka absurditas bersamamu... ahahahahaha... but it's memorable. Lalu, bagaimana? Masih kesal padaku, seperti saat pertama melihatku? Gak pengen berteman sama tampilan kutu buku sepertiku? Aaaahhh.. kamu... Lalu, bagaimana? Masih manja padaku, minta antar kemana-mana?? :)) *ge er banget saya*

Entah berapa kali kita bertukar coklat setiap Hari Valentine, meski cuma "beng-beng". Entah berapa langkah yang kita bagi untuk bisa mencapai rumah tercinta.. :P Entah berapa karung tawa dan tangis yang pernah menyekap kita dalam... setiap memori. Entah berapa cerita lagi yang akan sanggup kita kata. Entah berapa jauh kita tempuh untuk menyusup ke dalam ruang-ruang mimpi.. yang... kadang kita cipta sendiri... Iya... kita berbakat menjadi pemimpi... :P

Sekarang?? Kamu bahagia kan?? Aku bahagia... Kita bahagia... :)

Hun-hun... ini pertama kalinya... aku gak bisa sms kamuu... gak bisa telepon kamuu.... belom punya ucapan ulang tahun yang rahasia buat kamu... seperti biasa... :)) :)) Meski di kotak chat aja aku sulit bertemu kamu, tapi....... aku tak pernah membuangmu dari memoriku... Aaahh.. atau jangan-jangan kamu yang pura-pura lupa aku... muahahahahahaha... *siap-siap jitak*

Suatu kali nanti, aku masih ingin kita bercerita.. seperti biasa... tentang ayah kita... dan mungkin juga tentang ayah anak-anak kita... muahahahahaha... *uapa iniiihh* Yang jelas tentang kitaa..... kita udah lama ya tanpa me time berdua saja... ahahahaha.. Maaf, kadang... aku merindukannya... Tapi entah... bagaimana... :D

Haha... aku juga merindukan ngambek-ngambekan sama kamu... :p Ah, kamu kan yang suka ngambek... "Aku lagi bete.. lagi bete.." gitu katamu *eeaaakkk* Lah mbok pikir aku pacarmu??? :)) :)) :)) Tapi kamu lucu... absurd... :)) :)) :)) :)) :)) :)) 

Hun-hun... ini di radio lagi ada lagunya Simple Plan-Jet Lag... Aaaaahhhhh aku makin kangen kamuuuhhh.... :* Kamu gendut apa kurus?? Yang gendut aja yah... ahahahahah.... Mana foto kamu yang lagi maen sepeda.. dan... memasak... *eeaaaa* Percuma lahh bawa bumbu macem-macem tapi gak dipake masak.. aku bilangin tante niihh... :D

Aaahhh... telah banyak satuan waktu yang kita lewati. Kita nanti... dan... kita rindui. Hehe.. tiba-tiba aku merindui tragedi di toko sepatu itu... yang kita rahasiakan.. muahahahaha.. tapi-tapi-tapi sekarang aku udah bisa loh pake sepatu aneh-aneh... meskipun.... tetep cuintaa banget sama sepatu kets... as always.. :P

Hun, duabelas itu gak sebentar ya... Terima kasih ya... for being my best twin. Meskipun aku selalu menjadi recycle bin untukmu.. Aku relaaaaaaaaaaaaaa... *halah* :)) :)) :)) Maafkan aku yang terlalu galak padamu... tapi udah bawaan kayaknya.. ada stempelnya di jidat.. :)) :)) :))

Haha... karena sudah sangat dewasa... aku bingung memberimu kado istimewa apa... :p
Aku harap surat cinta abal-abal ini bisa membuatmu tertawa.... seperti biasanya...

Selamat Ulang Tahun ya Bintang....
Semoga kita bisa menjadi "saudara kembar" yang saling membahagiakan. 

Bonusnya, dengerin inihh lagu kesukaan kamuu.... kitaaa... semuanyaa.... :*









Wednesday, March 28, 2012

Batas


Eh iya, kemarin-kemarin saya abis baca buku cinta dong..... ciyeeee... jarang-jarang niihh... :p

Buku ini, buku baru, diterbitkan oleh Nulis Buku. Judulnya BATAS, ditulis oleh seorang penulis yang punya nama Teguh Puja. Buku ini kumpulan cerpen gitu sih. Tapi beberapa ceritanya nujeb-nujeb banget. Kadang kalo gemes, saya berhenti ngebacanya... hehehehe... Kebanyakan tentang cinta memang, cinta yang universal, kepada siapa saja, tentang apa saja.

Juga beberapa cerita tentang pergolakan batin seseorang dalam menghadapi sebuah pilihan hidup. Dimana cerita-cerita itu dikemas dengan kata-kata yang... ehem.. puitis... dan mampu mempermainkan perasaan pembacanya. Yaa... begitulah yang saya rasa ketika membacanya. Atau, kalau kadang ada yang cukup menyentil, saya bisa cengar-cengir sendiri.

Sebenarnya, temanya sederhana. Bahkan kadang-kadang saya merasa bahwa hal-hal dalam cerita itu juga pernah saya alami *tsaaahhh* Ya, beberapa aja sik... karena di situ kan ada 46 judul.... muahahahahaha... nikmatin deh itu cerpen-cerpen sampe mabok... :)) Pasti ada satu, dua, tiga, atau entah berapa yang kalian pernah juga mengalaminya.

Mulai dari cerita persahabatan, keluarga, cinta sama pacar, jatuh cinta, gak bisa move on, sampe acara selingkuhan. Semua ada... :D Tadinya, saya mikir-mikir, kenapa buku ini dikasi judul Batas. Saya sebenernya juga belum ngerti maksudnya sik. Tapi, pembaca boleh kan punya interpretasi sendiri.. :p Kalau menurut saya sik, buku ini memang cerita tentang batas-batas rasa. Bagaimana kita bisa merasa sedih, kecewa, marah, senang. Tapi, ada satu muaranya, tenang. Saya pikir, semua orang memilih untuk ketenangan. Dari setiap apa yang dicari, muaranya adalah tenang. Ya, itu sik menurut saya, dari apa yang saya baca.. heehehehehe...

Dari buku ini, saya paling suka sama cerita yang judulnya Hadir. Entah kenapa, saya selalu inget cerita ini... Bukan berarti yang lain gak bagus, ataupun ini adalah cerita paling bagus loh. Cuman, dalam cerita ini saya menemukan suatu kesederhanaan yang kemudian menjelma menjadi istmewa.. *tsaaahhh* Ya, maksudnya itu cerita temanya sederhana, alurnya juga. Tapi saya suka.. :)

Nah, ada juga satu cerita, yang menurut saya, nggak banget. Saya jadi bertanya-tanya aja, kenapa cerita itu bisa nyempil di dalam buku itu... mungkin sengaja kali yaa.. muahahahahaha.. Itu cerita yang judulnya Malam. Ya, gimana ya, saya ngerasa aneh aja sama ceritanya... :P

Tapi di dalam buku yang tebelnya kira-kira 149 halaman itu, kita bisa serasa didongengin deh. Dan bisa saja mengulang cerita mana yang kita suka membacanya, nikmatilah. Seperti cerita Nafas, Menua, Keputusan, Haven't Met You Yet, dan semuanya, bisa menarikan bibirmu untuk tersenyum, cemberut, atau bahkan membisu... :P

Friday, March 16, 2012

Bukan Dongeng (2)


Sebenernya postingan ini udah mau dipublish dari kemaren-kemaren, tapi belom sempet-sempet ajaah... :D Iya, saya mo ngelanjutin cerita tentang eyang kakung saya. Iya, karena kangennya gak buyar-buyar... :D Oiya, tolong diingetin, mulai saat ini saya akan pake kata "saya" bukan "saia". Jadi, kalau nanti ada salah ketik tolong diingetin ya.... sebelum ketahuan sama yang nyeramahin saya kemaren. Ceramahnya yang sebuku aja belom bisa saya cerna, apalagi kalau nanti ditambahin, bongkok saya.... Tapi bagus juga sik, gak papa, ntar biar dia jadi editor aja kalau saya mo bikin buku... huahahahahaha.... Sekalian kesempatan, katarsis buat dia kalau lagi pengen marah-marahin orang... :)) :)) :))

Oke, saya lagi semangat banget cerita tentang pengalaman saya sama eyang kakung saya ini emang. Soalnya.... ya itu... saya merasakan kangen yang tak berkesudahan. Gak tau deh, setiap saya mau melakukan sesuatu gitu, tetiba jadi inget sama beliau. Saat ini juga banyak hal yang sedang saya lakukan, yang dulu pernah saya bahas sama beliau. Saya itu dari kecil emang suka ngayal, suka banget. Dan saya bisa ngakak-ngakak bareng eyang kakung saya itu kalau pas lagi berkhayal. Dan saya selalu terharu, pas saya bisa mengalami sesuatu yang pernah ada dalam khayalan saya itu. Bihihiik... kalian pasti juga punya kaaann... Ada perasaan gimana gitu... :D

Saya pengen banget cerita sama beliau, terus minta tanggepannya beliau. Trus nanti nyusun mimpi-mimpi baru lagi. Trus nanti berjuang lagi. Trus nanti cerita-cerita lagi. Trus nanti dapet inspirasi baru lagi. Trus bisa tertawa-tawa lagi. Saya akui, saya suka dengan lingkaran ini. Saya suka sekali.

Saya merasa beruntung, menjadi satu dari sekian banyak sepupu saya, yang punya kesempatan lebih banyak bersama dan mendengar cerita dari eyang kakung saya. Iya, saya juga tau, sepupu-sepupu saya juga punya kesan-kesan tersendiri dengan beliau. Makanya saya berusaha menerapkan nasihat-nasihat baiknya. Iyalaaahh... sebaik-sebaik saya di mata beliau, saya itu masih kurang disiplin, suka gak pedean, dan agak-agak bandel.... :))

Dulu itu, beliau sering dongengin saya sebelum tidur. Sambil nasihat-nasihatin gitu sik. Dongeng yang paling sering, yaa biasa aja sik. Si Kancil. Iya Kancil yang suka mencuri ketimun. Tapi beliau ngedongenginnya pake bahasa jawa dong, trus ada aktingnya juga... :D Saya suka... trus satu lagi, cerita Uthak-Uthak Ugel. Mungkin kalau yang suka baca cerita rakyat pernah tahu cerita ini. Tapi emang gak begitu populer sik. Lagi-lagi cara mendongengnya lah, yang bikin saya terpesona. Ada adegan si Uthak yang lagi makan, dan beliau nyeritainnya gini, "klethuk... kremus... klethuk... kremus..." aahh... suara beliau itu khas banget. Perawakannya yang tinggi besar, dan dengan suara tawa yang menggelegar. Bisa bayangkan, seperti apa beliau ketika mendongeng? xixixixixi....

Meski begitu, bukan berarti saya gak pernah kena marah loh... wkwkwkwkwkwk.... Dulu tuh pernah, saya pengen maen ke rumah temen saya. Udah janjian juga sik, biasalah anak SD. Cuman maennya siang... sekitar jam 2-an gitu. Nah, eyang kakung saya bilang, "Ini jamnya tidur siang, nanti sore aja mainnya." Nah, kalau sore itu kan waktunya pendek. Trus belom lagi ada jadwal ngaji, ngerjain PR dan bla...bla...bla... begitulah pemikiran saya sama temen-temen waktu itu. Tapi sekali gak boleh ya saya tetep gak boleh maen.

Ceritanya, saya ngambek dong waktu itu. Saya ambil satu buku, trus pergi ke garasi. Dari situ, eyang kakung saya udah kembali dengan kegiatannya lagi, mungkin dikiranya saya ke kamar aja gitu, pokoknya gak jadi keluar rumah. Nah, di garasi itu ada sebuah meja bueeesaaaaarrr...... kolong meja itu tertutup hampir penuh... cukuplah buat ngumpet anak-anak sebesar saya waktu itu, masih bisa napas juga kok. Dan, gak terlalu gelap juga. Saya baca buku disitu, ngusir bete gitu deh bahasa kerennya.. :)) Lah, gak berapa lama, ada suara eyang kakung dan eyang putri saya. Naga-naganya sik nyariin saya, tapi saya diem aja. Saya sempet ngikik juga sik pas eyang kakung saya ngelewatin meja tempat saya ngumpet. Tapi gak nengok ke kolong mejanya. Jadi, berdasarkan yang saya denger, mereka mengira saya tidur di kamar, tapi gak ada, makanya dicari-cari kemana-mana. Bahkan udah mau dicari ke tempat temen yang tadinya saya mau maen kesana itu. Tapi gak tau deh jadi apa enggak. Dan.... saya tetep dong di kolong meja itu. Sampe akhirnya....... pas saya membuka mata saya..... saya udah ada di kamar eyang kakung saya ajaaa..... Lahhh??!!! Iya, saya sampe ketiduran di kolong meja. Jadi kayaknya saya akhirnya ditemukan... tapi dalam keadaan tertidur.... :)) :))

Pas saya bangun gak langsung dimarahin juga, malah disuruh mandi, makan, dan duduk manis di depan tivi. Inilah saat-saat yang saya takutkan. Wawancara. Iya... saya diwawancara tentang kejadian tadi siang. Yaudah, saya jawab aja semuanya, polos. Kata beliau saya mengkhawatirkan, laen kali gak bole gitu-gitu lagi. Gak bole ngambekan, apalagi berlebihan. Muahahahahha... MasyaAlloh ya saya... coba kalo itu saya yang ngadepin anak kayak gitu.... eerrrrrr.... kraaauuukkk..... :)) :)) :))

Saya biasanya takut ngedeketin lagi kalau abis dimarahin. Jadi saya dieeeeeeemmmm aja. "Kok hari ini kamu nggak nyanyi-nyanyi?" tanya eyang kakung saya pas pagi-pagi saya mau berangkat sekolah. Saya diem. "Kalau hatinya nggak enak, nggak nyanyi, gitu?" lanjut beliau. Dalem hati saya, aahhh kok tau sih kok tau sih..... :)) :)) :))

Gitu juga sorenya saya udah diajakin jalan-jalan lagi. Suka deh kalau mau pergi-pergi sama beliau. Bajunya rapihhh.. ah di rumah aja juga rapiiii :D Selain rapi, beliau selalu bilang, kalau pergi-pergi nggak usah bawa duit banyak-banyak. Bukannya takut ilang, tapi biar gak boros katanya... :D Iya sik, kita itu kalau jalan-jalan jarang banget belanja. Setelah jelajah kota, biasanya eyang kakung saya ngajakin saya ke sebuah minimarket langganannya. Disitu, beliau beli roti tawar dengan merk Amsterdam. Iya, kesukaannya yang itu, atau Kalimas, itu merk lokal sik. Trus, beliau juga beli susu.. itu susu Frisian Flag kemasan satu liter, rasa coklat. Sesekali, beliau juga belikan saya es krim, rasa coklat... :D Dulu sik saya gemar banget sama Paddle Pop... *halah* :)) Sesampainya di rumah, kami nikmatin deh itu jajanan yang udah dibeli. Rotinya diolesin mentega, diguyur meises coklat, dan..... kami membumbu rasa roti dengan cerita sepanjang perjalanan tadi. Ahhhhhhh.... kangeeeeeeeeennnnn...... T_T Oh iya, roti racikan semacam itu, jadi bekal wajib saya sampe saya kuliah lohhh... ehhh waktu udah kerja juga siik.. tapi sekarang enggak... udah rempong bikinnya.. :)) :))

Kalau udah selesai berkegiatan. Kakek saya selalu mengisi waktu luangnya dengan membaca. Iya membaca apa aja. Kalau pagi sampe sore gitu, biasanya beliau baca koran. Emang beliau sengaja langganan koran, waktu itu, Surya sama Oposisi. Itu koran pasti khatam deh ngebacanya. Saya juga pernah diajarin cara baca koran yang cepat... :)) Etapi yang saya salut, dulu itu eyang saya emang udah sepuh banget juga sik, tapi masih heboh semangat bacanya. Selain kacamata, beliau pake alat bantu kaca pembesar, he called "suryakanta", itu dalam bahasa jawa. Tapi kaca pembesarnya gak kayak lup yang bulet dan ada gagangnya gitu. Bentuknya kotak, sliding gitu deh, beliau beli di Gramedia waktu itu, sekarang masih ada... tersimpan rapi... T_T Nah, kalau malem beliau ganti bacaannya, beliau mengaji. Saya suka ada disebelahnya pas beliau mengaji, trus ngedengerin ceramah singkatnya. Beliau bukan ulama atau semacamnya, cuma yang beliau ceritakan, lebih banyak tentanng... cara kerja Tuhan. Kadang saya itu mikir, apa ya yang dulu ada dalam pikiran beliau kalau pas cerita sama saya itu? Abisan kalau saya pikir-pikir, pembahasannya kadang terlalu berat untuk anak SD selevel saya... gak tau lagi deh kalau anak-anak cerdas lainnya.. :D Tapi, saya tetep sukaaaa... buktinya sekarang saya masih diijinkan Alloh untuk inget-inget pelajaran dari eyang kakung saya... *hamdalah* :)

Beliau juga sempet bilang, bahwa kita harus punya kesukaan atau hobi yang diseriusin. Selain belajar di sekolah, kita harus punya keterampilan lain. Soalnya, kita hidup gak cuma dari sekolah, gitu katanya. Trus, harus juga berani kritis, percaya diri dan berani jadi diri sendiri. Dan, saya melihat, beliau punya semua itu. Dan sebenarnya, rasa kehilangan itu, gak saya rasain sendiri sih. Rumah itu menjadi sangat berbeda, setelah beliau gak ada. Saya suka lupa kalau semuanya udah berubah. Abisan dulu saya selalu mendapati koran di atas meja ruang tamu kalo saya pulang sekolah. Atau, mendengar senandung lagu keroncongan setiap jam tiga sore, seusai beliau mandi sore. Aaaahhh.... saya seperti punya puluhan video yang merekam semua kebiasaan beliau.

Dan, yang ingin saya pelajari lebih jauh dari beliau, adalah... caranya menjaga cinta. Iya... menjaga cinta. Mungkin setiap orang pernah juga melihat betapa dahsyatnya cinta. Dan, saya merasa, saya juga, di hadapan saya. Aaaaaaakkkkk... bagaimana beliau memperlakukan keluarganya dan orang-orang di sekitarnya. Iya, beliau juga sungguh romantis sama eyang putri saya. Dan, hingga saat ini, saya belum bosan mendengar cerita tentang mereka. Sebegitu lekatkah, hingga eyang putri saya, dalam usia sesenja ini, masih bisa mengingatnya. Eyang kakung saya, masih menebar bahagia dimana-mana kala beliau telah menjadi sejarah. Semoga beliau juga bahagia melihat saya, kami semua yang sekarang. Semoga. *big hug* *kiss*



Thursday, March 08, 2012

Bukan Dongeng

Sekarang, masih tanggal 8 Maret ya? :D Katanya, hari ini Hari Perempuan Sedunia loh.. Wawawa.. Selamat yaa.. Emang kok.. Bulan Maret itu istimewa, mulai tanggal satu sampe tigapuluh satu.. :D Terutama hari ini, 8 Maret..

Iya, pada tanggal ini, 98 tahun lalu, lahirlah seorang bayi yang kemudian tumbuh menjadi lelaki karismatik, dan memiliki generasi penerus yang unik-unik dan menarik. Uniknya, mereka berani tumbuh menjadi diri mereka sendiri, dan mampu memahami kelebihan apa yang ,mereka miliki. Tanpa melupakan sesuatu yang disebut bakti... kepada Tuhan, orangtua dan sesama. Aamiin. Betapa bergembiranya pula saia bisa menjadi salah satu yang diberi kesempatan untk bisa belajar diantara mereka. Yaappzz... menjadi bagian dari keluarga besar yang sungguh saia cintai. Semoga saia bisa menjadi yang unik dan menarik juga yahh... hahaha... *dikeplak*

Iya, ini hari ulang tahun eyang kakung saia. Seorang yang sungguh inspiratif buat saia. Sungguh beliau lah yang mengenalkan "MENULIS" pada saia. Sejak kecil kami satu rumah memang, dan kami sangat dekat.. :D *ngaku2* :P

Dulu itu, saia anak pingit, harus diem di rumah, dan gak bole keluyuran.. :P Makanya ibu saia kasi saia bacaan buanyak banget dan itu bukan komik loh.. Apa coba? It's folklore! Huahaha.. Keren kaaan.. Nah, dari situ, saia ditantang untuk menceritakan kembali. Biar ada kerjaan juga kali yaa.. :D Setelah mau dan terus bikin, meski cuma beberapa baris, eyang saia bilang, "Oke sekarang kamu juga harus punya diary, tulis sejarahmu." Woh..gak ngerti maksutnya, suer! Saia pas itu kelas 4 SD kayaknya deh. Trus saia dianterin dong beli diary.. Eciee.. Iya, warnanya biru.. Harganya 2.500 rupiah kayaknya.. :)) Trus saia kasi nama juga dong diary-nya.. Muahahaha.. *songong*

Sejak saat itu, beliau rutin nanyain, tiap hari saia harus nulis. Apa jugak yang ditulis? Jayus bangeet! Kalo baca lagi saia bisa ngakak guling-guling deh.. :D :D

Subhanallohu, beliau jg sering ngajak saia jalan-jalan sekaligus jadi tour leader. Iya, sampe pasar dan jalanan yang sering semrawut beliau ceritain. Termasuk teknik mengendarai motor yang baik. Keren ya, beliau adalah google saia pada masa itu. Nah, dr semua cerita itu deh jadi bahan tulisan saia.. :)) Oh iya, fyi aja, saia jalan-jalan itu biasanya dibonceng naek motor loh... Honda 70 warna ijo dengan spion lengkap, bulet, kanan dan kiri. Eciiyee... romantis abiisss.... :D

Dan serunya, beliau juga sering nemenin saia maen bongkar pasang.. Itu loh, yang orang-orangan dari kertas, yang bajunya bisa diganti-ganti. Maenan cewek sih.. iya sumpahhh maenan cewek ituuh.. jadi saia cewek... Okee... Lupakan.. :D He let me play my imagination. Kadang beliau juga tergelak dengan alur yg saia buat. Ah, saia suka! Kita jadi sering bertukar cerita dong. Teman curhat saia yg paling keren deh.. Mulai dari nyurhatin pelajaran, guru, sampe temen-temen saia...  *duh mbrebes mili*

Maaf, ijin nangis dulu, ntar lanjut ya.. :D E pinjem bahunya dong.. *eeaa :D

Oh iya, beliau itu sukanya nonton berita sama olahraga di tivi. Saia kenal sama Desi Anwar juga karena seneng nemenin beliau nonton Seputar Indonesia.. :D :D

Suatu malam, kita lagi nonton dialog politik di TVRI. Waktu itu tamunya perempuan dengan baju merah, iya, itu Megawati. Trus saia bilang dong, "Itu perempuannya pinter ya ngomongnya.." *blaaarr* Ah itu cuma komen anak SD era 90-an kok. "Besok kalo udah besar gak usah politik-politikan yaa.." jawab beliau sambil ngelus-ngelus kepala saia. Saia gak nanya balik sik, lagian juga gak ngerti.. :(

Tapi, saia nanya yang lain, "Kalo jadi wartawan?" saia polos banget nanyainnya. "Hahahaha.. Kalo bisa, jangan juga, banyak bahayanya juga," gitu katanya, sambil ngelus-ngelus kepala saia lagi. Ah, tapi yang ini saia langgar.. Saia suka soalnya.. :D walaupun cuma bentar, tapi begitu bermakna.

Ya tapi beliau tau sik, kalo saia pengen jadi jurnalis. Justru beliau secara tidak langsung, udah membagi ilmunya kaan.. :D

Beliau itu kompeten bgt bincang-bincang soal negara dan pemerintah. Udah gitu, jago bahasa enggres, belanda, jepang, jerman.. Duuh.. Gimana coba saia gak ngefans berat.. :D Saia juga sering diajak maen ke rumah temennya, yang mantan prajurit... duuhh ngobrolnya.. saia enggak ngerti banget deh... tapi kadang nama-nama yang mereka sebut, familiar di buku sejarah.. gak tau buku sejarahnya siapa itu ada di tumpukan... :)) :))

Trus, waktu itu, tahun berapa ya, saia lupa tepatnya tahun berapa. Pokoknya ada pembebasan dua orang narapidana mantan sebuah partai dengan lambang celurit dann... ahhh kalian tahu sendiri lah. Nah, pas ada berita itu, eyang kakung saia menyarankan buat nyatet nama kedua narapidana yang dibebasin itu. "Siapa tahu nanti keluar di ulangan," gitu katanya. Ya udah, saia catet aja.. saia inget-inget. Dan, subhanallohu... beneran dong... ada soal semacam itu... dan tentunya gak semuanya tau kaann... Ah, eyang saia itu ya, bener-bener dehh... :* Makaci eyang... :*

Nah, kalo olahraga, beliau suka banget tuh nonton tinju sama bulu tangkis, sepakbola juga sik. Pokoknya saia sering banget deh nonton berdua sama beliau. Dan baiknya, beliau mau denger komen dari saia. Bisa nanggepin anak SD coba... Padahal ya kalo dipikir-pikir komentar anak SD tuh kayak apa sik. Apalagi saia cewek... iya cewek.. sumpah cewek.. :)) Bisa komen apa coba soal olahraga... Apalagi tinju, sepakbola.. Ah, sekarang aja komen saia juga gak bakal digubris sama penggemar-penggemar lain.. :)) :)) Itu dulu jaman jaya-jayanya Mike Tyson sama Evander Holyfield. Dan saia ngikutin cerita gigit-gigitan kuping... Errr...... :( 

Tapi pas itu saia disuruh belajar maen bulu tangkis, saia gagal... saia merasa gagal banget... *halah* Ya soalnya saia nggak keliatan kalo nggak pake kacamata... malah ada temen saia yang bilang, "Kutu buku kok olahraga..." :((((((( Saia ngadu dong... *dasar anak SD* *dasar cemen* Tapi akhirnya saia pilih olahraga lain... dan itu juga atas dukungan eyang kakung saia ini... katanya biar saia jadi pemberani... *eeeaaa :*

Yang mesti saia inget, pesan beliau itu: Bagaimanapun bapak ibumu, merekalah orangtuamu, pasti sayang sama kamu #deg. Iya, soalnya saia dulu sering sedih kalo bapak sama ibu lembur... padahal saia juga pengen cerita-cerita... Eee yang ada malah saia takut jadinya.. :( Etapi emang bener kan, semua orangtua sayang banget sama anaknya... T_T Malah saia yang belom bisa berbakti... belom sukses kasih menantu.. apalagi cucu... *eeaaa* *malah curhat* Trus, beliau juga bilang, jadi orang jangan sombong, dan haus banyak-banyak bantu orang lain. So sweet laah pokoknya.. *sedih ingetnya*

Semua yang saia ceritain ini saia dapet pas saia masih SD loh. Lebih mengharukan lagi pas saia udah SMA, menjelang beliau gak ada.. T_T

Saia susah loh move-on nya, ini saia masi nangis lagi. Saia harap, Alloh menempatkan beliau di tempat yang terbaik. Lebih baik dari apa yang pernah beliau beri pada kami semua. Yang menurut saia, nyaris sempurna. WE LOVE YOU, GRANDPA.. :*



*tulisan ini saia buat karena saia lagi kangen banget 

Wednesday, March 07, 2012

Kangen Nulis Duet

Aaaaaakkk... udah lama saia gak posting di rumah saia yang satu ini... :P Ketauan banget kalo males banget nulisnya. Etapi saia gak males nulis loh, buktinya saia masi ngetwit, masi nge-note, masi nge-email, masi nge-chat, dan sebangsanya... :p Tapi emang sik, gak seseru pas lagi ada #20HariNulisDuet :)) Iya, salah satu proyek menulis yang waktu itu saia dapet dari akun @dbrahmantyo yang kemudian menggiring saia untuk "bertemu" dengan admin @teguhpuja dan @violetkecil.

Pendeknya, saia langsung ngajakin temen-temen yang suka nulis juga... geret teman sekampung ini ceritanya, mulei dari @rintadita @diahrizka @cute_codew @dephiedepp sama @aLinachubbyy ya berdasarkan pengamatan saia sik, mereka bakalan minat sama event ini... :D sampe kemudian, saia juga menggeret @aku_aie @anan1n0 @FOENGAD dan @beeNFI :)) :)) *berasa mo ngajak maen bola*

Dalam proyek itu, kita ditugasin buat nulis cerita yang dibikin berdua, iya, namanya juga duet ya berdua lah... Untuk bisa dapet temen duet, selain dengan adanya teman-teman yang udah kita punya, kita bisa ketemu teman-teman baru, yang juga peserta dari event ini... Keder juga sik, soalnya, sepertinya mereka udah pada expert dengan keterampilan menulis. Mereka tersebar di seluruh Indonesia lohh... mulai dari Jawa, Kalimantan, Sumatera, Ambon, bahkan sampai ke Yunani. kereeenn kaann.. Woohh gimana gak keren, kita bisa bikin cerita duet LDR-an, kalah deh yang pacaran... :)) Setiap hari kita menulis dengan teman duet yang berbeda. Jadi dari awal kita udah bikin jadwal buat duet sama sapa aja. Gitu aja juga masih kelimpungan gak punya temen duet lohh... :)) yahh.. maklum lah dalam event ini kita harus menyusup dalam kesibukan masing-masing.. *halah*

Nah, untuk bisa bikin ceritanya, kita dikasi tema setiap harinya. Temanya dikasi per hari. Jadi kita dapet kejutan tema setiap hari... *eeeaaaa. Setelah dapet tema dan temen duet, siap lah kita bikin cerita. Cerita bisa dibikin lewat YM atau email. Iya, sambil chat gitu, kita udah bisa bikin cerita lohh... asik kaan.. :D Trus, nentuin alurnya gimana? Nah ini serunya.... kadang ada temen duet yang ngajak diskusi dulu mo bikin cerita apa, alurnya gimana, atau... bakal ngalir aja. Saia sik suka yang ngalir aja, soalnya bisa jadi tantangan buat nemuin alur dengan cepat... :)) *sotoy banget*

Saia sendiri juga bingung, tiap ada tema, mo bikin cerita apa yaaahh... Lumrahnya... cerita cinta deh... Tapi kadang bosen juga, apalagi, saia bukan jagonya nulis cerpen, dan bukan pecandu cerita roman, ataopun tinlit ciklit, maklum laahh.. bukan anak gahoooll.. :)) :)) *gak ada hubungannya* Tapi saia mau untuk nulis apa aja, karena saia pengen bisa. Iya, saia suka.. :D Alhasil, sila baca sendiri deh, hasil tulisan saia berduet dengan teman-teman.. Itu bener-bener hasil nulis berdua... menyatukan ide-ide dari dua kepala yang kadang arahnya kemana-mana... :D Jadinya, ada cerita yang bahagia, sedih, mengharukan, manis, dan lucuk juga... etapi itu jadinya lucu apa jayus yak... :)) :)) Ya semoga pada suka yaaaa.... Aamiin... :)

Oh iya, sebenernya saia enggak tau sik, proses kelanjutan dari proyek ini kayak apa. Cuman karena saia suka, ya maka saia ikut. Saia bukan penulis komersil juga kok. Ah, belom aja kali... *songong* :)) Enggak ah, saia enggak mau jadi yang sok komersil. Menulis kan seni... gak bisa dinilai dengan materi. Kalaupun ada, itu sebagian penghargaan dan rezeki... :) Pokoknya, dimana ada kesempatan buat nulis, ya... okeeehh... ayoookk... :D

Dan, asal tau aja ya, nulis duet ini nagihin, saia juga iseng bikin lagi bareng beberapa temen nulis duet saia yang kemarin. Tapi ada yang belum selesei... Enggak ada deadline itu gak seru kali yakk... :)) *alesan* Tapi, saia harap, tulisan-tulisan itu nggak akan menunggu disentuh samapi lusuh. Do'akan kami ya teman-teman... *pasang iket kepala* *jangan turun ke leher* :)) :))

Mungkin, kalau lain kali ada event semacam ini lagi, saia juga mau ikutan. Biasa lah, kayak orang yang hobi maen bola, mau maen dimana aja, kapan aja juga bakal iya aja. Begitulah saia dengan menulis... :D Karena di dalam setiap huruf yang tercetak, ada do'a saia untuk bisa nerbitin buku.. *eeeaaaa *malah curhat

Baeklaahhh...
Saia sedang berusaha untuk lebih rajin menulis. Siapa tahu saia bisa ngumpulin serpihan-serpihan cerita yang bisa dijadiin buku. *eeeaaa *curhat lagi

Oke, mari kita menulis teman-teman, biarkan aksara bercerita.... ^^v



Wednesday, February 29, 2012

Au Revoir



Hari ini tepat delapan bulan sepuluh hari sejak aku membeli telepon pintar, Blackberry merah yang modelnya selalu aku suka. Namun tepat hari ini pula aku harus berpisah dengannya. Berpisah dengan semua kesibukan yang terikat dengan komunitas yang terbentuk darinya. 

Ah, satu nama yang terlintas. Yap, hanya melintas. Banyak teman yang menganjurkan untuk membeli saja yang baru, toh banyak yang harganya murah. Namun entah kenapa, meskipun ada bayangan seseorang itu melintas, aku tetap kukuh tak akan berganti tipe. Aku merasa itu pertanda dari Sang Pemilik Semesta untuk berhenti menyia-nyiakan waktu. Menyiakan waktu berkirim pesan, menyiakan waktu berusaha mendekat, menyiakan waktu untuk berharap. Kini aku siap, dan sangat bersemangat untuk melangkah, membeli handphone baru. Handphone yang mungkin akan menjauhkan aku darinya. Menjauhkan aku dari segala kenangan yang seharusnya sudah bisa aku jauhkan. Bisa saja orang bilang, aku terlalu berlebihan dengan segala yang aku rasakan. Ah, kalian tidak tahu saja.

Sekarang, aku akan melangkah pada sebuah dunia yang baru, yang akan memberikan aku kejutan-kejutan yang lebih menyenangkan. Semoga. 

"Nas, besok jadi gak beli handphone-nya?" Kirana mengagetkan aku. 
Benar-benar membuyarkan lamunanku. "Ah, iya, jadi deh jadi..." jawabku cepat. 
Kiranan mengernyitkan dahinya. "Hah? Kenapa pake 'deh'? Niat nggak sih kamu?". Pantaslah kalau Kirana kesal. Ini sudah kelima kalinya aku maju mundur untuk beli handphone baru.

Bukannya apa-apa sih, kadang mereka jadi kesulitan mencariku. Aku, yang baisa sewaktu-waktu menghilang. Hanya untuk menenangkan pikiran yang kadang berujung pada perasaan tak enak. Bismillaah, aku bulatkan tekadku, "Iya, jadi ga pake deh", ujarku yang kemudian membentuk seulas senyum di bibir Kirana. Sebenarnya aku sudah memutuskan handphone yang akan aku beli. Namun hanya alasan 'belum menemukan tipe hp yang akan ku beli'-lah yang paling tepat. Ku yakinkan diriku sekali lagi. Aku tidak melakukan hal ini untuk menghindarinya. Aku hanya ingin merengkuh kembali dunia nyataku. Kembali menikmati hangatnya berjabat. Kembali menikmati indahnya bercakap. Ngalor ngidul tanpa arah. Dari satu topik ke topik yang tak bersinggungan sama sekali.

Dan ternyata aku memang merindukan untaian kata yang terucap. Aku sudah muak membaca kata, menafsirkan icon yang terpajang sebagai ganti raut wajah. Raut wajah yang bahkan aku sudah lupa. Aku lupa bagaimana lawan bicaraku tertawa, menangis dan cemberut ketika aku menggodanya. Aku adalah orang yang suka sekali membaca gerak wajah. Menikmat setiap senyum dingin, pandangan sinis, dan tawa terbahak yang tak perlu ku kira-kira.

Aku siap. "Besok kita berangkat jam berapa?" tanyaku tegas. Kirana tersenyum. Indah.
"Oke deh Inas cantik, besok kita berangkat jam sembilan pagi ya... biar kamu puasss muter-muternya. Dan dapet handphone yang kamu mau," lanjut Kirana seraya mengerlingkan matanya.

***

Oke, hari ini, aku akan menemukan sesuatu yang baru, yang membawaku pada kenikmatan selanjutnya.
Aku berputar-putar dari satu toko ke toko yang lain. Ternyata tak semua toko menjual tipe handphone yang aku maksud. Mungkin karena bukan tipe terbaru, dan bukan  handphone gaul yah. Ah, tapi aku tak akan menyerah. Ini sudah menjadi keputusanku.

"Nas, kamu gak salah dengan tipe  handphone yang kamu cari?" tanya Kirana kemudian. Aku menggeleng. "Kita sudah menghampiri belasan toko, euy, dan tak satupun menyediakan tipe yang kamu mau," sambung Kirana yang mulai tampak lelah. 
"Ah, Ki, tolonglah, ini mumpung aku mau loh buru-buru ganti  handphone," rajukku. Kirana hanya mampu mengangguk lemah. Kita, lanjut berburu.

Lelah tak hanya mendera Kirana. Kakiku pun sudah mulai melemah. Kami pun duduk di salah satu kursi panjang yang tersedia di pinggir koridor pertokoan. Kirana tampak lelah dan menyeka keringat. Sedangkan aku, mataku tetap saja jelalatan untuk mencari tipe handphone yang kuinginkan. Hingga empat kali jelalatan, akhirnya mataku tertarik pada satu toko. Bukan karena telah kutemukan handphone yang ku cari, tetapi kulihat seorang lelaki, berumur 25 tahunan tampak melamun, bersedih. Entah kenapa kakiku tiba-tiba bergerak ke arahnya. Tiba-tiba aku telah duduk di depannya, dan terukir senyum manisnya. "Mau beli hp mbak? cari yang tipe apa?" ujarnya ramah.

Aku lalu menyebutkan tipe yang ku mau, tanpa berharap banyak sebenarnya. Namun mengejutkan, lelaki itu berdiri, mengambil kotak di balik etalase tak mencolok. Masih bersegel. "Ini ada mbak, sebenarnya dibeli sama orang siy." Lalu ia terdiam, lelaki itu membiarkan kalimatnya menggantung di udara.

"Wah kalau sudah di tag sama orang, saya gak berani ambil dong mas," kataku memutus kehengingan.
"Oh bukan, kisahnya panjang mbak." katanya sendu.
"Jadi boleh  handphone  ini saya beli? berapa harganya?"
Setelah kami saling bernegoisasi harga. Tak lama, karena aku juga sangat mengingingkannya, tercapailah kesepakatan harga untuk  handphone itu.
 
Kirana menepuk punggungku. "Kukira kamu kemana, sudah ketemu?"
Kirana pun duduk disebelahku. "Wah mas, hebat euy, masih ada  handphone-nya? Saya kira sudah gak ada lho. Saya sudah putus asa mengantarkan teman saya ini berkeliling cari handphone ini. Alhamdulillaah sih ketemu, tapi kok bisa masih ada Mas, udah gitu masih rapi kardusnya? Bukan second ya?"
"Ya, udah jodohnya kali Mbak. Ini saya jual juga belom lama sih, takutnya gak ada yang beli. Kemarin ada yang nanyain sih, tapi udah lewat batas waktu. Dia gak sreg. Jadi ya ini udah takdirnya kali ya Mbak, hehehehe..." eeh, mas-mas yang jualan malah becandaan.
"Iya nih Mas, mana lagi temen saya ini susahnya minta ampun mau ganti  handphone aja. Mikirnya berbulan-bulan. Kalah orang milih jodoh mah... Eee sekalinya milih... susah aja... untung-untungan bisa dapet yang dia mau," timpal Kirana, dan semena-mena membuatku melongo.
"Ih...kamu apa sih Ki...." protesku sambil mencubit lengan Kirana. Aku cuma bisa cengar-cengir. Sekarang, yang aku rasakan adalah senang, puas, dan mantap. Yaiyalah,  handphone baru sudah di tangan, dan... sesuai keinginan.
Tak berapa lama setelah kupasang sim card nomor handphone ku. Akupun berpamitan. 
"Ehmm  Handphone-nya mau langsung dipake mbak?" tanya si mas penjual sebelum aku pergi.
"Iya mas, begini saja, terimakasih," jawabku seraya tersenyu. Aku dan Kirana, melangkah, berjalan untuk pulang.

***

Sesampainya di rumah, ternyata banyak pesan yang masuk. Tak tertera nama pengirimnya, karena banyak nomor yang tersimpan di memori  handphone lama. Dan terdapat satu nomor tak dikenal di daftar panggilan tak terjawab.

Terlintas kembali dirinya. Tapi hanya melintas saja. Tak terkenangkan obrolan yang dulu hingga pagi kami ketikkan. 

Aku tersenyum, mungkin aku sudah tak terikat lagi dengannya. Juga dengan Si Merah, begitu aku biasa menyebut handphone  lamaku, yang sekarang tergeletak di pojok meja riasku. Kuusap untuk terakhir kalinya. Aku berpamitan. Teringat kata Kirana, "Kita tak pernah memiliki apapun, tak selayaknya sedih karena kehilangan" Ungkapan olehnya dan untuknya sendiri ketika kekasihnya meninggalkan dunia ini. Iya inilah perpisahanku. Akhirnya akulah yang mengakhirinya. Bukan, memang bukan mauku. Tapi aku butuh perpisahan ini. Aku harus berpisah sekarang. Berpisah tanpa rasa kehilangan. Kuucapkan selamat berpisah padanya, dalam hati. Dan aku masukkan Si Merah ke dalam laci riasku. Pada saat ini kuputuskan, aku akan kembali merengkuh nyataku. Dan tak lagi bersandar pada harap.

Semuanya aku terima, dengan ikhlas. Terima kasih masa lalu. Selamat datang, masa depanku. Tuhan yang akan memelukku dengan segala kejutan untukku.




Tulisan kolaborasi @wulanparker dan @dephiedepp