Wednesday, April 25, 2012

Hepi Ngambek?

Bukan masalah sedekat apa kita padanya, ataupun, semampu apa ia memahami kita. Aku hanya tak bisa bayangkan, bahwa secarik kertas, sehelai kain, atau apalah, justru mampu mengikat kita dalam sebuah memori panjang, yang entah berapa lama bertahan menjadi ingatan yang jarang sekali terlupakan. Bukan, bukan karena mengesampingkan yang hidup dan bernyawa. Namun, kadang aku berpikir, bahwa ada kehidupan yang kemudian menjelma dari deretan makna yang tercipta.

Seolah tenang, dan tak merasa apa-apa. Mungkin seperti itulah yang mampu aku ingat tentang malam itu. Dengan balutan babydoll dan siap memeluk guling dengan sarung bergambar avatar, warna oranye, aku duduk di tepi tempat tidur yang telah rapi. Sengaja mencari sebuah benda, untuk memberikan kabar pada sahabat, bahwa aku telah sampai, dan siap melepas lelahku setelah seharian tamasya bersamanya. Ya, si Hepi yang aku cari. Sebuah telepon genggam yang bagiku sudah cukup canggih, tapi tidak bagi teman-temanku yang melihat tampilannya. Ah, kalian tak mengenalnya saja... :D

Tapi, coba tebak, apa yang aku dapat? Aku malah menemukan sekotak "tahu gehe"... :( dan.... Hepi tak berada di tempatnya. Aku mencoba mengeluarkan seluruh isi ransel. Ya, benar....! Hepi tak ada.... Pelan aku menjajak kotak-kotak memori perjalanan seharian ini... Yaaa.... kemungkinan besar, Hepi tertinggal di kolong meja saat aku membiarkannya berpelukan dengan chargernya. Aku berusaha menghubungi sahabatku untuk mengabarkan padanya. Siapa tahu, ada ide baru. Selanjutnya aku berusaha menghubungi tempat aku meninggalkan Hepi dengan bantuan teman kosku. Bisa... iya tersambung.... dan... benar... Hepi berada di sana. Saking senangnya, aku lalu begitu saja menyambar jaket tebal, slayer dan helm, bersiap menjemput Hepi. Tapi... kemudian aku urung pergi, melihat jam dinding yang sudah menunjuk jam setengah sebelas malam. Rasanya tak mungkin aku menjangkau tempat itu dalam waktu tiga puluh menit. Iya, jam sebelas malam, tempat itu sudah tutup dan dikunci.... *yaiyalah dikunci*

Aku mencoba menelepon sahabatku, menceritakan semuanya. Dan.. tau tidak? Dia menyanggupi untuk membawa pulang Hepi. Seperti dilamar pacar mungkin ya rasanya..... :)) :)) Iya, tempat tinggalnya lebih dekat, jadi, dia bisa lebih mudah mnjemput Hepi. Aku merasa lebih tenang, artinya Hepi berada di tangan orang yang tepat. Aku pun berjanji akan segera menjemputnya. Ah, tapi tak semudah itu.... Aku harus menahan karena hujan dan lain sebagainya. Pas lah... genap dua hari aku saling membisu dengan Hepi. Ah, itu hanya masalah telepon genggam, yang mungkin menjadi media berbagi dengan siapa saja di luar sana. Berpisah dengannya, artinya memenjarai diri dari kebiasaan... :D

Entahlah, keberpisahanku dengan Hepi melambungkan kembali ingatan tentang..... tentang sekian deret saran untuk mengganti Hepi dengan yang lain, dengan yang lebih layak mungkin.... Dan memang, akhir-akhir ini aku semacam memantapkan diri untuk menggantinya dengan yang lain. Tapi kejadian itu, seolah mengatakan padaku bahwa... Hepi juga bisa ngambek.... Ah... sebegitunya kah? :D

Baiklahh... aku harus minta maaf padanya ya... tak akan lagi teledor padanya. Tetap menjaganya meski keadaannya sudah tak sama dengan yang lain. Biar saja ada yang menggantikan tanpa harus membuatku sengaja melupakannya. Ah, bukannya aku tak berterima kasih padanya. Itu hanya khilaf semata. Tapi tetaplah berterima kasih atas apa saja, diantara makna-makna yang tercipta. Meski apapun... hanya akan menjadi milik sementara.... Mungkin.... begitu juga tentangnya....

Friday, April 13, 2012

Maaf, Aku Sibuk


Mungkin sudah sejuta kali aku berkedip, dan ingin memejam sebentar. Ah, meluruh lelah dan lusuhnya tenaga itu ternyata tak juga semudah mebalikkan telapak tangan. Ya, mungkin juga telapak tangan yang sedang terlindas lemari besi. Ouuucchhh.... sakit. Tapi apa boleh buat, katanya ikhtiar harus maksimal, maka bagaimana pun aku harus menyelesaikan semua tugas kantor, meski harus menjadi seorang single fighter.

Aku tahu, di luar sana bahkan ada yang lebih memeras keringat, hingga kepalanya pun menjadi sangat berat, bahkan ingin bertukar dengan siapa saja yang mau. Tapi, tak mungkin bisa kan? Aku hanya bisa tergelak dalam hati. Kenapa sebegitu berat merasai perjalanan setiap hari. Ah, bukankah senyum dan ramahnya sapa akan lebih menenangkan?

Seperti saat ini, lihat saja, dia terus menyapaku, mendekatiku. Isyarat sapanya, mengatakan aku wajib memberikan jamuan istimewa. Begitu lama aku membiarkannya tanpa balas sapa. Ah, sudah sekejam itukah aku padanya? Dia, tak pernah mengejar berlebihan, tak pernah mengintimidasiku dengan cara yang menyebalkan. Ya, tapi apa boleh buat, aku seakan masih terlilit lelah yang berlebih, yang membuatku enggan memberikan balas atas sapanya.

Padahal, ketika aku membutuhkan dia, aku selalu mencarinya kemana saja. Aku selalu berharap bahwa dia akan datang dan menjanjikan jamuan-jamuan istimewa untuknya. Menggelar imajiansi dan merangkainya tak peduli cuaca. Ah, lalu kenapa jadi seperti ini. Ia datang, menawarkan segala imajinasi istimewa yang seharusnya bisa aku rangkai bersama makna untuk bercerita.

***

Oke, hari ini aku berusaha menyambutnya, tapi tak mau memberi janji padanya, takut aku tak bisa menepatinya. Biarlah semua menjadi kejutan, yang mungkin ia pun tak pernah mengiranya. Tapi, aku harap, ia belum berlumur rasa enggan jika aku tiba-tiba memberikan balas atas sapanya.

Tetiba aku dengar dering handphone-ku yang sudah seharian membisu. Aku membaca nama adik sepupuku, Tasya di layar handphone
"Halo," jawabku. 
"Kak, muungkin dua jam lagi aku sampai di bandara, jadi jemput aku kan?" celotehnya. 
"Haa?? Mendadak amat katanya weekend?" aku terbelalak, karena ia datang lebih awal dari waktu yang kami sepakati. 
"Iya, aku sudah dapat libur, dan tiket hari ini murah banget," Tasya berteriak dengan ceria. 
Aku? Yah, mau tak mau aku harus menuruti semuanya. Tasya, adik sepupuku, yang masih duduk di bangku SMP, yang ingin berlibur ke ibukota. Mengobati rasa kecewanya, karena gagal menonton sebuah konser boyband Korea idolanya. Aku tak tega mendengar tangisnya yang meronta, saat ia tahu, semua tiket telah habis terjual. Jadi, Tasya putuskan, untuk berlibur saja.

***

"Kak, besok pagi, kita jadi main ke Dufan kan?" tanya Tasya menjelang tidur.
"Iya, besok main deh sepuas kamu, makanya sekarang buruan tidur, biar gak kesiangan," jawabku.
"Ya kakak malah sibuk di depan laptop, kapan tidurnya, hayo?" tanya Tasya lagi.
"Iya, nanti kakak tidur, sekarang masih ada yang harus kakak kerjakan, oke," aku berharap argumenku kali ini bisa diterima Tasya. Aku rapikan selimut yang membungkus tubuh mungil Tasya, dan aku kembali asik di depan laptop, mencoba membalas dia yang memberikan aku sapa.

Tapi, sepertinya gagal, Tasya justru curhat tentang sekolah dan teman-temannya. Tasya juga meminta pendapatku tentang cita-cita yang dia punya. Aku merasa sangat wajib memberikan perhatian pada Tasya. Maka aku mendengarkan semua cerita Tasya, menikmati tawa kami berdua, sampai malam menjelang pagi. Dan, kami harus istirahat, berusaha lelap dalam tidur. Aku harus menepati janji pada Tasya, dan Dufan siap menyambut kami berdua.

***

Ah, belum juga aku bisa membalas sapa. Lalu, siapa yang masih harus menunggu. Aku tetap harus berusaha, mencipta "pertemuan" dengannya. Aku tak ingin menyia-nyiakan kehadirannya. Aku tak menepikan sapanya. Aku sungguh ingin membalasnya. Nanti, aku akan menjamu dia, dengan istimewa, menerima tawarannya untuk bermain di belantara imajinasi. Kembali memakna aksara dan terus bercerita. Inspirasi, maaf, aku sibuk. Aku, tetap selalu membutuhkanmu.... :)

 

Thursday, April 05, 2012

Apa Dong?


Keningnya mengerut, berkali-kali. Bibirnya maju, tak hanya sekali. Gemeretak keyboard seirama dengan tarian jemari Natasha. Fiuhhh... Tarikan nafas panjang, seperti instrumen yang setia mengiringi harinya. Lelah. Lahir dan batin, katanya.

Natasha berusaha menguatkan dirinya sendiri. Membiarkan telinganya tetap peka. Seolah tak memberi kesempatan sedikitpun pada konsentrasinya, untuk buyar. Setumpuk dokumen di hadapannya, harus segera dibereskan. Kerinduan mama yang tak mampu dibendung, tersinyalir dari dering telepon setiap saat... setiap waktu. Hampir menangis ketika Natasha tak mampu menjawabnya. Serta, menjumpa pelataran memorinya, yang siap menangkap sepenggal masa lalu yang tetiba menyapanya.

Ahh, ini apa? Bahkan berdiri tegak dari kursinya pun, berapa detik yang ia mampu? Hampir sebulan ia sendirian mencoba berdamai dengan keadaan. Semenjak dimutasi ke divisi baru, Natasha memiliki tanggung jawab yang lebih besar, dan kadang harus menghadapi klien yang cukup menyebalkan.  

Ringtone Back To December-Taylor Swift dari handphone Natasha pun tak berhenti. Natasha yang mulai jengah dengan suara, menyambarnya, lalu menjawab telepon dari seberang, "Halo, Ta'.." jawabnya. Gita, di seberang masih geram karena Natasha begitu lama menjawab teleponnya. "Ah, kamu ngapain aja sih, angkatnya lama bener. Buruan deh kesini, udah pada ngumpul....." Gita terus meracau tanpa peduli keadaan Natasha. Uuuppss... Ya... hari ini, Natasha ada janji dengan teman-temannya. Mereka cukup lama tak bertemu. Tapi, Natasha lupa. Benar-benar lupa. "Ta', sorry, mungkin aku gak bisa dateng. Kerjaan aku banyak banget deh ini," keluh Natasha. Suasana mendadak hening. Natasha memainkan pulpen dia tas meja dengan jari-jarinya. Ia menunggu jawaban Gita. Tapi, tak ada. Gita mendadak membisu.

Gita menarik nafas panjang. "Kamu masih mau berdalih kerjaan? Yaudah, kalau kamu lebih memilih menjadi diri kamu yang lain. Bukan yang kami kenal dulu...." Kalimat terakhir Gita sekan menghujam jantung Natasha. Bukan. Bukan itu yang sebenarnya dia mau. Natasha ingat, jadwal hari ini pun, banyak mundur juga karena semua menyesuaikan waktu dengannya. Tapi, kenyataannya apa? Tetap, Natasha tak bisa memenuhi janjinya.

Natasha ingin marah pada dirinya sendiri, yang mengecewakan mereka, sahabat-sahabat yang sangat berarti baginya. Aahhh... itu cukup membuat Natasha kesal. Sayangnya, Natasha belum mampu menerjemahkan perasaannya saat ini. Natasha ingin sendiri. Tapi.. kenapa ia bahkan tak mampu jujur pada sahabat-sahabatnya. Mungkin, ia bisa menceritakan semua masalahnya, seperti sebelum-sebelumnya. Ihhh... kadang Natasha pun jengkel, pada dirinya.

Seperti malam sebelumnya, Natasha menelepon mama dan bercerita tentang banyak hal. Tapi, semua itu tak juga menjadikan perasaannya lebih baik, sepenuhnya. Natasha masih merasa ada senyum dan tawa yang kadang kurang jujur tercipta. Kenapa Natasha? Pertanyaan itu muncul lagi, dari Natasha, untuk dirinya sendiri.

Natasha mencoba menutup satu memori, satu perasaan, yang ia pun tak mampu memahaminya. Sepertinya, ini hanya cerita lalu, yang sebentar menghampiri dan menyapanya. Bukan untuk tinggal, seperti sebelumnya. Natasha seperti menyusp ke dalam rimbunan rindu yang sesungguhnya, ia tahu, ini tak akan ada ujungnya. Yaaahhh..... Ini sangat mengganggu. Gumamnya. 

Sekali lagi, ia membaca satu pesan di handphone miliknya,

"Natasha, itu bukan cinta."

Sekali lagi, Natasha meringis. Lalu, "Apa dong....?" racaunya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.

Thursday, March 29, 2012

Bon Anniversaire, Bintang :)



Dear Bintang...

Hai Bintang, aku rindu kamu...aku juga rindu menulis untukmu... Aaahhh.. kamu... :D
Bintang, hari ini, tanggal 29 Maret, jatuh pada Hari Kamis. Sama ketika pertama kalinya kita menyapa dunia, melewati lorong rahim ibu-ibu kita tercinta... :D Aku lebih dulu ya... dini hari... jam satu lewat tiga belas menit... Kamu, malamnya.... jam sepuluh malam ya?? :D Dan kita mengukir cerita sendiri-sendiri sampai kemudian, kita dipertemukan... di balutan dunia yang sangat menyenangkan... Aahh kitaa... :p

Terima kasih ya, sudah memelukku dengan tawa. Meski selanjutnya, aku harus menjalani aneka absurditas bersamamu... ahahahahaha... but it's memorable. Lalu, bagaimana? Masih kesal padaku, seperti saat pertama melihatku? Gak pengen berteman sama tampilan kutu buku sepertiku? Aaaahhh.. kamu... Lalu, bagaimana? Masih manja padaku, minta antar kemana-mana?? :)) *ge er banget saya*

Entah berapa kali kita bertukar coklat setiap Hari Valentine, meski cuma "beng-beng". Entah berapa langkah yang kita bagi untuk bisa mencapai rumah tercinta.. :P Entah berapa karung tawa dan tangis yang pernah menyekap kita dalam... setiap memori. Entah berapa cerita lagi yang akan sanggup kita kata. Entah berapa jauh kita tempuh untuk menyusup ke dalam ruang-ruang mimpi.. yang... kadang kita cipta sendiri... Iya... kita berbakat menjadi pemimpi... :P

Sekarang?? Kamu bahagia kan?? Aku bahagia... Kita bahagia... :)

Hun-hun... ini pertama kalinya... aku gak bisa sms kamuu... gak bisa telepon kamuu.... belom punya ucapan ulang tahun yang rahasia buat kamu... seperti biasa... :)) :)) Meski di kotak chat aja aku sulit bertemu kamu, tapi....... aku tak pernah membuangmu dari memoriku... Aaahh.. atau jangan-jangan kamu yang pura-pura lupa aku... muahahahahahaha... *siap-siap jitak*

Suatu kali nanti, aku masih ingin kita bercerita.. seperti biasa... tentang ayah kita... dan mungkin juga tentang ayah anak-anak kita... muahahahahaha... *uapa iniiihh* Yang jelas tentang kitaa..... kita udah lama ya tanpa me time berdua saja... ahahahaha.. Maaf, kadang... aku merindukannya... Tapi entah... bagaimana... :D

Haha... aku juga merindukan ngambek-ngambekan sama kamu... :p Ah, kamu kan yang suka ngambek... "Aku lagi bete.. lagi bete.." gitu katamu *eeaaakkk* Lah mbok pikir aku pacarmu??? :)) :)) :)) Tapi kamu lucu... absurd... :)) :)) :)) :)) :)) :)) 

Hun-hun... ini di radio lagi ada lagunya Simple Plan-Jet Lag... Aaaaahhhhh aku makin kangen kamuuuhhh.... :* Kamu gendut apa kurus?? Yang gendut aja yah... ahahahahah.... Mana foto kamu yang lagi maen sepeda.. dan... memasak... *eeaaaa* Percuma lahh bawa bumbu macem-macem tapi gak dipake masak.. aku bilangin tante niihh... :D

Aaahhh... telah banyak satuan waktu yang kita lewati. Kita nanti... dan... kita rindui. Hehe.. tiba-tiba aku merindui tragedi di toko sepatu itu... yang kita rahasiakan.. muahahahaha.. tapi-tapi-tapi sekarang aku udah bisa loh pake sepatu aneh-aneh... meskipun.... tetep cuintaa banget sama sepatu kets... as always.. :P

Hun, duabelas itu gak sebentar ya... Terima kasih ya... for being my best twin. Meskipun aku selalu menjadi recycle bin untukmu.. Aku relaaaaaaaaaaaaaa... *halah* :)) :)) :)) Maafkan aku yang terlalu galak padamu... tapi udah bawaan kayaknya.. ada stempelnya di jidat.. :)) :)) :))

Haha... karena sudah sangat dewasa... aku bingung memberimu kado istimewa apa... :p
Aku harap surat cinta abal-abal ini bisa membuatmu tertawa.... seperti biasanya...

Selamat Ulang Tahun ya Bintang....
Semoga kita bisa menjadi "saudara kembar" yang saling membahagiakan. 

Bonusnya, dengerin inihh lagu kesukaan kamuu.... kitaaa... semuanyaa.... :*









Wednesday, March 28, 2012

Batas


Eh iya, kemarin-kemarin saya abis baca buku cinta dong..... ciyeeee... jarang-jarang niihh... :p

Buku ini, buku baru, diterbitkan oleh Nulis Buku. Judulnya BATAS, ditulis oleh seorang penulis yang punya nama Teguh Puja. Buku ini kumpulan cerpen gitu sih. Tapi beberapa ceritanya nujeb-nujeb banget. Kadang kalo gemes, saya berhenti ngebacanya... hehehehe... Kebanyakan tentang cinta memang, cinta yang universal, kepada siapa saja, tentang apa saja.

Juga beberapa cerita tentang pergolakan batin seseorang dalam menghadapi sebuah pilihan hidup. Dimana cerita-cerita itu dikemas dengan kata-kata yang... ehem.. puitis... dan mampu mempermainkan perasaan pembacanya. Yaa... begitulah yang saya rasa ketika membacanya. Atau, kalau kadang ada yang cukup menyentil, saya bisa cengar-cengir sendiri.

Sebenarnya, temanya sederhana. Bahkan kadang-kadang saya merasa bahwa hal-hal dalam cerita itu juga pernah saya alami *tsaaahhh* Ya, beberapa aja sik... karena di situ kan ada 46 judul.... muahahahahaha... nikmatin deh itu cerpen-cerpen sampe mabok... :)) Pasti ada satu, dua, tiga, atau entah berapa yang kalian pernah juga mengalaminya.

Mulai dari cerita persahabatan, keluarga, cinta sama pacar, jatuh cinta, gak bisa move on, sampe acara selingkuhan. Semua ada... :D Tadinya, saya mikir-mikir, kenapa buku ini dikasi judul Batas. Saya sebenernya juga belum ngerti maksudnya sik. Tapi, pembaca boleh kan punya interpretasi sendiri.. :p Kalau menurut saya sik, buku ini memang cerita tentang batas-batas rasa. Bagaimana kita bisa merasa sedih, kecewa, marah, senang. Tapi, ada satu muaranya, tenang. Saya pikir, semua orang memilih untuk ketenangan. Dari setiap apa yang dicari, muaranya adalah tenang. Ya, itu sik menurut saya, dari apa yang saya baca.. heehehehehe...

Dari buku ini, saya paling suka sama cerita yang judulnya Hadir. Entah kenapa, saya selalu inget cerita ini... Bukan berarti yang lain gak bagus, ataupun ini adalah cerita paling bagus loh. Cuman, dalam cerita ini saya menemukan suatu kesederhanaan yang kemudian menjelma menjadi istmewa.. *tsaaahhh* Ya, maksudnya itu cerita temanya sederhana, alurnya juga. Tapi saya suka.. :)

Nah, ada juga satu cerita, yang menurut saya, nggak banget. Saya jadi bertanya-tanya aja, kenapa cerita itu bisa nyempil di dalam buku itu... mungkin sengaja kali yaa.. muahahahahaha.. Itu cerita yang judulnya Malam. Ya, gimana ya, saya ngerasa aneh aja sama ceritanya... :P

Tapi di dalam buku yang tebelnya kira-kira 149 halaman itu, kita bisa serasa didongengin deh. Dan bisa saja mengulang cerita mana yang kita suka membacanya, nikmatilah. Seperti cerita Nafas, Menua, Keputusan, Haven't Met You Yet, dan semuanya, bisa menarikan bibirmu untuk tersenyum, cemberut, atau bahkan membisu... :P

Friday, March 16, 2012

Bukan Dongeng (2)


Sebenernya postingan ini udah mau dipublish dari kemaren-kemaren, tapi belom sempet-sempet ajaah... :D Iya, saya mo ngelanjutin cerita tentang eyang kakung saya. Iya, karena kangennya gak buyar-buyar... :D Oiya, tolong diingetin, mulai saat ini saya akan pake kata "saya" bukan "saia". Jadi, kalau nanti ada salah ketik tolong diingetin ya.... sebelum ketahuan sama yang nyeramahin saya kemaren. Ceramahnya yang sebuku aja belom bisa saya cerna, apalagi kalau nanti ditambahin, bongkok saya.... Tapi bagus juga sik, gak papa, ntar biar dia jadi editor aja kalau saya mo bikin buku... huahahahahaha.... Sekalian kesempatan, katarsis buat dia kalau lagi pengen marah-marahin orang... :)) :)) :))

Oke, saya lagi semangat banget cerita tentang pengalaman saya sama eyang kakung saya ini emang. Soalnya.... ya itu... saya merasakan kangen yang tak berkesudahan. Gak tau deh, setiap saya mau melakukan sesuatu gitu, tetiba jadi inget sama beliau. Saat ini juga banyak hal yang sedang saya lakukan, yang dulu pernah saya bahas sama beliau. Saya itu dari kecil emang suka ngayal, suka banget. Dan saya bisa ngakak-ngakak bareng eyang kakung saya itu kalau pas lagi berkhayal. Dan saya selalu terharu, pas saya bisa mengalami sesuatu yang pernah ada dalam khayalan saya itu. Bihihiik... kalian pasti juga punya kaaann... Ada perasaan gimana gitu... :D

Saya pengen banget cerita sama beliau, terus minta tanggepannya beliau. Trus nanti nyusun mimpi-mimpi baru lagi. Trus nanti berjuang lagi. Trus nanti cerita-cerita lagi. Trus nanti dapet inspirasi baru lagi. Trus bisa tertawa-tawa lagi. Saya akui, saya suka dengan lingkaran ini. Saya suka sekali.

Saya merasa beruntung, menjadi satu dari sekian banyak sepupu saya, yang punya kesempatan lebih banyak bersama dan mendengar cerita dari eyang kakung saya. Iya, saya juga tau, sepupu-sepupu saya juga punya kesan-kesan tersendiri dengan beliau. Makanya saya berusaha menerapkan nasihat-nasihat baiknya. Iyalaaahh... sebaik-sebaik saya di mata beliau, saya itu masih kurang disiplin, suka gak pedean, dan agak-agak bandel.... :))

Dulu itu, beliau sering dongengin saya sebelum tidur. Sambil nasihat-nasihatin gitu sik. Dongeng yang paling sering, yaa biasa aja sik. Si Kancil. Iya Kancil yang suka mencuri ketimun. Tapi beliau ngedongenginnya pake bahasa jawa dong, trus ada aktingnya juga... :D Saya suka... trus satu lagi, cerita Uthak-Uthak Ugel. Mungkin kalau yang suka baca cerita rakyat pernah tahu cerita ini. Tapi emang gak begitu populer sik. Lagi-lagi cara mendongengnya lah, yang bikin saya terpesona. Ada adegan si Uthak yang lagi makan, dan beliau nyeritainnya gini, "klethuk... kremus... klethuk... kremus..." aahh... suara beliau itu khas banget. Perawakannya yang tinggi besar, dan dengan suara tawa yang menggelegar. Bisa bayangkan, seperti apa beliau ketika mendongeng? xixixixixi....

Meski begitu, bukan berarti saya gak pernah kena marah loh... wkwkwkwkwkwk.... Dulu tuh pernah, saya pengen maen ke rumah temen saya. Udah janjian juga sik, biasalah anak SD. Cuman maennya siang... sekitar jam 2-an gitu. Nah, eyang kakung saya bilang, "Ini jamnya tidur siang, nanti sore aja mainnya." Nah, kalau sore itu kan waktunya pendek. Trus belom lagi ada jadwal ngaji, ngerjain PR dan bla...bla...bla... begitulah pemikiran saya sama temen-temen waktu itu. Tapi sekali gak boleh ya saya tetep gak boleh maen.

Ceritanya, saya ngambek dong waktu itu. Saya ambil satu buku, trus pergi ke garasi. Dari situ, eyang kakung saya udah kembali dengan kegiatannya lagi, mungkin dikiranya saya ke kamar aja gitu, pokoknya gak jadi keluar rumah. Nah, di garasi itu ada sebuah meja bueeesaaaaarrr...... kolong meja itu tertutup hampir penuh... cukuplah buat ngumpet anak-anak sebesar saya waktu itu, masih bisa napas juga kok. Dan, gak terlalu gelap juga. Saya baca buku disitu, ngusir bete gitu deh bahasa kerennya.. :)) Lah, gak berapa lama, ada suara eyang kakung dan eyang putri saya. Naga-naganya sik nyariin saya, tapi saya diem aja. Saya sempet ngikik juga sik pas eyang kakung saya ngelewatin meja tempat saya ngumpet. Tapi gak nengok ke kolong mejanya. Jadi, berdasarkan yang saya denger, mereka mengira saya tidur di kamar, tapi gak ada, makanya dicari-cari kemana-mana. Bahkan udah mau dicari ke tempat temen yang tadinya saya mau maen kesana itu. Tapi gak tau deh jadi apa enggak. Dan.... saya tetep dong di kolong meja itu. Sampe akhirnya....... pas saya membuka mata saya..... saya udah ada di kamar eyang kakung saya ajaaa..... Lahhh??!!! Iya, saya sampe ketiduran di kolong meja. Jadi kayaknya saya akhirnya ditemukan... tapi dalam keadaan tertidur.... :)) :))

Pas saya bangun gak langsung dimarahin juga, malah disuruh mandi, makan, dan duduk manis di depan tivi. Inilah saat-saat yang saya takutkan. Wawancara. Iya... saya diwawancara tentang kejadian tadi siang. Yaudah, saya jawab aja semuanya, polos. Kata beliau saya mengkhawatirkan, laen kali gak bole gitu-gitu lagi. Gak bole ngambekan, apalagi berlebihan. Muahahahahha... MasyaAlloh ya saya... coba kalo itu saya yang ngadepin anak kayak gitu.... eerrrrrr.... kraaauuukkk..... :)) :)) :))

Saya biasanya takut ngedeketin lagi kalau abis dimarahin. Jadi saya dieeeeeeemmmm aja. "Kok hari ini kamu nggak nyanyi-nyanyi?" tanya eyang kakung saya pas pagi-pagi saya mau berangkat sekolah. Saya diem. "Kalau hatinya nggak enak, nggak nyanyi, gitu?" lanjut beliau. Dalem hati saya, aahhh kok tau sih kok tau sih..... :)) :)) :))

Gitu juga sorenya saya udah diajakin jalan-jalan lagi. Suka deh kalau mau pergi-pergi sama beliau. Bajunya rapihhh.. ah di rumah aja juga rapiiii :D Selain rapi, beliau selalu bilang, kalau pergi-pergi nggak usah bawa duit banyak-banyak. Bukannya takut ilang, tapi biar gak boros katanya... :D Iya sik, kita itu kalau jalan-jalan jarang banget belanja. Setelah jelajah kota, biasanya eyang kakung saya ngajakin saya ke sebuah minimarket langganannya. Disitu, beliau beli roti tawar dengan merk Amsterdam. Iya, kesukaannya yang itu, atau Kalimas, itu merk lokal sik. Trus, beliau juga beli susu.. itu susu Frisian Flag kemasan satu liter, rasa coklat. Sesekali, beliau juga belikan saya es krim, rasa coklat... :D Dulu sik saya gemar banget sama Paddle Pop... *halah* :)) Sesampainya di rumah, kami nikmatin deh itu jajanan yang udah dibeli. Rotinya diolesin mentega, diguyur meises coklat, dan..... kami membumbu rasa roti dengan cerita sepanjang perjalanan tadi. Ahhhhhhh.... kangeeeeeeeeennnnn...... T_T Oh iya, roti racikan semacam itu, jadi bekal wajib saya sampe saya kuliah lohhh... ehhh waktu udah kerja juga siik.. tapi sekarang enggak... udah rempong bikinnya.. :)) :))

Kalau udah selesai berkegiatan. Kakek saya selalu mengisi waktu luangnya dengan membaca. Iya membaca apa aja. Kalau pagi sampe sore gitu, biasanya beliau baca koran. Emang beliau sengaja langganan koran, waktu itu, Surya sama Oposisi. Itu koran pasti khatam deh ngebacanya. Saya juga pernah diajarin cara baca koran yang cepat... :)) Etapi yang saya salut, dulu itu eyang saya emang udah sepuh banget juga sik, tapi masih heboh semangat bacanya. Selain kacamata, beliau pake alat bantu kaca pembesar, he called "suryakanta", itu dalam bahasa jawa. Tapi kaca pembesarnya gak kayak lup yang bulet dan ada gagangnya gitu. Bentuknya kotak, sliding gitu deh, beliau beli di Gramedia waktu itu, sekarang masih ada... tersimpan rapi... T_T Nah, kalau malem beliau ganti bacaannya, beliau mengaji. Saya suka ada disebelahnya pas beliau mengaji, trus ngedengerin ceramah singkatnya. Beliau bukan ulama atau semacamnya, cuma yang beliau ceritakan, lebih banyak tentanng... cara kerja Tuhan. Kadang saya itu mikir, apa ya yang dulu ada dalam pikiran beliau kalau pas cerita sama saya itu? Abisan kalau saya pikir-pikir, pembahasannya kadang terlalu berat untuk anak SD selevel saya... gak tau lagi deh kalau anak-anak cerdas lainnya.. :D Tapi, saya tetep sukaaaa... buktinya sekarang saya masih diijinkan Alloh untuk inget-inget pelajaran dari eyang kakung saya... *hamdalah* :)

Beliau juga sempet bilang, bahwa kita harus punya kesukaan atau hobi yang diseriusin. Selain belajar di sekolah, kita harus punya keterampilan lain. Soalnya, kita hidup gak cuma dari sekolah, gitu katanya. Trus, harus juga berani kritis, percaya diri dan berani jadi diri sendiri. Dan, saya melihat, beliau punya semua itu. Dan sebenarnya, rasa kehilangan itu, gak saya rasain sendiri sih. Rumah itu menjadi sangat berbeda, setelah beliau gak ada. Saya suka lupa kalau semuanya udah berubah. Abisan dulu saya selalu mendapati koran di atas meja ruang tamu kalo saya pulang sekolah. Atau, mendengar senandung lagu keroncongan setiap jam tiga sore, seusai beliau mandi sore. Aaaahhh.... saya seperti punya puluhan video yang merekam semua kebiasaan beliau.

Dan, yang ingin saya pelajari lebih jauh dari beliau, adalah... caranya menjaga cinta. Iya... menjaga cinta. Mungkin setiap orang pernah juga melihat betapa dahsyatnya cinta. Dan, saya merasa, saya juga, di hadapan saya. Aaaaaaakkkkk... bagaimana beliau memperlakukan keluarganya dan orang-orang di sekitarnya. Iya, beliau juga sungguh romantis sama eyang putri saya. Dan, hingga saat ini, saya belum bosan mendengar cerita tentang mereka. Sebegitu lekatkah, hingga eyang putri saya, dalam usia sesenja ini, masih bisa mengingatnya. Eyang kakung saya, masih menebar bahagia dimana-mana kala beliau telah menjadi sejarah. Semoga beliau juga bahagia melihat saya, kami semua yang sekarang. Semoga. *big hug* *kiss*



Thursday, March 08, 2012

Bukan Dongeng

Sekarang, masih tanggal 8 Maret ya? :D Katanya, hari ini Hari Perempuan Sedunia loh.. Wawawa.. Selamat yaa.. Emang kok.. Bulan Maret itu istimewa, mulai tanggal satu sampe tigapuluh satu.. :D Terutama hari ini, 8 Maret..

Iya, pada tanggal ini, 98 tahun lalu, lahirlah seorang bayi yang kemudian tumbuh menjadi lelaki karismatik, dan memiliki generasi penerus yang unik-unik dan menarik. Uniknya, mereka berani tumbuh menjadi diri mereka sendiri, dan mampu memahami kelebihan apa yang ,mereka miliki. Tanpa melupakan sesuatu yang disebut bakti... kepada Tuhan, orangtua dan sesama. Aamiin. Betapa bergembiranya pula saia bisa menjadi salah satu yang diberi kesempatan untk bisa belajar diantara mereka. Yaappzz... menjadi bagian dari keluarga besar yang sungguh saia cintai. Semoga saia bisa menjadi yang unik dan menarik juga yahh... hahaha... *dikeplak*

Iya, ini hari ulang tahun eyang kakung saia. Seorang yang sungguh inspiratif buat saia. Sungguh beliau lah yang mengenalkan "MENULIS" pada saia. Sejak kecil kami satu rumah memang, dan kami sangat dekat.. :D *ngaku2* :P

Dulu itu, saia anak pingit, harus diem di rumah, dan gak bole keluyuran.. :P Makanya ibu saia kasi saia bacaan buanyak banget dan itu bukan komik loh.. Apa coba? It's folklore! Huahaha.. Keren kaaan.. Nah, dari situ, saia ditantang untuk menceritakan kembali. Biar ada kerjaan juga kali yaa.. :D Setelah mau dan terus bikin, meski cuma beberapa baris, eyang saia bilang, "Oke sekarang kamu juga harus punya diary, tulis sejarahmu." Woh..gak ngerti maksutnya, suer! Saia pas itu kelas 4 SD kayaknya deh. Trus saia dianterin dong beli diary.. Eciee.. Iya, warnanya biru.. Harganya 2.500 rupiah kayaknya.. :)) Trus saia kasi nama juga dong diary-nya.. Muahahaha.. *songong*

Sejak saat itu, beliau rutin nanyain, tiap hari saia harus nulis. Apa jugak yang ditulis? Jayus bangeet! Kalo baca lagi saia bisa ngakak guling-guling deh.. :D :D

Subhanallohu, beliau jg sering ngajak saia jalan-jalan sekaligus jadi tour leader. Iya, sampe pasar dan jalanan yang sering semrawut beliau ceritain. Termasuk teknik mengendarai motor yang baik. Keren ya, beliau adalah google saia pada masa itu. Nah, dr semua cerita itu deh jadi bahan tulisan saia.. :)) Oh iya, fyi aja, saia jalan-jalan itu biasanya dibonceng naek motor loh... Honda 70 warna ijo dengan spion lengkap, bulet, kanan dan kiri. Eciiyee... romantis abiisss.... :D

Dan serunya, beliau juga sering nemenin saia maen bongkar pasang.. Itu loh, yang orang-orangan dari kertas, yang bajunya bisa diganti-ganti. Maenan cewek sih.. iya sumpahhh maenan cewek ituuh.. jadi saia cewek... Okee... Lupakan.. :D He let me play my imagination. Kadang beliau juga tergelak dengan alur yg saia buat. Ah, saia suka! Kita jadi sering bertukar cerita dong. Teman curhat saia yg paling keren deh.. Mulai dari nyurhatin pelajaran, guru, sampe temen-temen saia...  *duh mbrebes mili*

Maaf, ijin nangis dulu, ntar lanjut ya.. :D E pinjem bahunya dong.. *eeaa :D

Oh iya, beliau itu sukanya nonton berita sama olahraga di tivi. Saia kenal sama Desi Anwar juga karena seneng nemenin beliau nonton Seputar Indonesia.. :D :D

Suatu malam, kita lagi nonton dialog politik di TVRI. Waktu itu tamunya perempuan dengan baju merah, iya, itu Megawati. Trus saia bilang dong, "Itu perempuannya pinter ya ngomongnya.." *blaaarr* Ah itu cuma komen anak SD era 90-an kok. "Besok kalo udah besar gak usah politik-politikan yaa.." jawab beliau sambil ngelus-ngelus kepala saia. Saia gak nanya balik sik, lagian juga gak ngerti.. :(

Tapi, saia nanya yang lain, "Kalo jadi wartawan?" saia polos banget nanyainnya. "Hahahaha.. Kalo bisa, jangan juga, banyak bahayanya juga," gitu katanya, sambil ngelus-ngelus kepala saia lagi. Ah, tapi yang ini saia langgar.. Saia suka soalnya.. :D walaupun cuma bentar, tapi begitu bermakna.

Ya tapi beliau tau sik, kalo saia pengen jadi jurnalis. Justru beliau secara tidak langsung, udah membagi ilmunya kaan.. :D

Beliau itu kompeten bgt bincang-bincang soal negara dan pemerintah. Udah gitu, jago bahasa enggres, belanda, jepang, jerman.. Duuh.. Gimana coba saia gak ngefans berat.. :D Saia juga sering diajak maen ke rumah temennya, yang mantan prajurit... duuhh ngobrolnya.. saia enggak ngerti banget deh... tapi kadang nama-nama yang mereka sebut, familiar di buku sejarah.. gak tau buku sejarahnya siapa itu ada di tumpukan... :)) :))

Trus, waktu itu, tahun berapa ya, saia lupa tepatnya tahun berapa. Pokoknya ada pembebasan dua orang narapidana mantan sebuah partai dengan lambang celurit dann... ahhh kalian tahu sendiri lah. Nah, pas ada berita itu, eyang kakung saia menyarankan buat nyatet nama kedua narapidana yang dibebasin itu. "Siapa tahu nanti keluar di ulangan," gitu katanya. Ya udah, saia catet aja.. saia inget-inget. Dan, subhanallohu... beneran dong... ada soal semacam itu... dan tentunya gak semuanya tau kaann... Ah, eyang saia itu ya, bener-bener dehh... :* Makaci eyang... :*

Nah, kalo olahraga, beliau suka banget tuh nonton tinju sama bulu tangkis, sepakbola juga sik. Pokoknya saia sering banget deh nonton berdua sama beliau. Dan baiknya, beliau mau denger komen dari saia. Bisa nanggepin anak SD coba... Padahal ya kalo dipikir-pikir komentar anak SD tuh kayak apa sik. Apalagi saia cewek... iya cewek.. sumpah cewek.. :)) Bisa komen apa coba soal olahraga... Apalagi tinju, sepakbola.. Ah, sekarang aja komen saia juga gak bakal digubris sama penggemar-penggemar lain.. :)) :)) Itu dulu jaman jaya-jayanya Mike Tyson sama Evander Holyfield. Dan saia ngikutin cerita gigit-gigitan kuping... Errr...... :( 

Tapi pas itu saia disuruh belajar maen bulu tangkis, saia gagal... saia merasa gagal banget... *halah* Ya soalnya saia nggak keliatan kalo nggak pake kacamata... malah ada temen saia yang bilang, "Kutu buku kok olahraga..." :((((((( Saia ngadu dong... *dasar anak SD* *dasar cemen* Tapi akhirnya saia pilih olahraga lain... dan itu juga atas dukungan eyang kakung saia ini... katanya biar saia jadi pemberani... *eeeaaa :*

Yang mesti saia inget, pesan beliau itu: Bagaimanapun bapak ibumu, merekalah orangtuamu, pasti sayang sama kamu #deg. Iya, soalnya saia dulu sering sedih kalo bapak sama ibu lembur... padahal saia juga pengen cerita-cerita... Eee yang ada malah saia takut jadinya.. :( Etapi emang bener kan, semua orangtua sayang banget sama anaknya... T_T Malah saia yang belom bisa berbakti... belom sukses kasih menantu.. apalagi cucu... *eeaaa* *malah curhat* Trus, beliau juga bilang, jadi orang jangan sombong, dan haus banyak-banyak bantu orang lain. So sweet laah pokoknya.. *sedih ingetnya*

Semua yang saia ceritain ini saia dapet pas saia masih SD loh. Lebih mengharukan lagi pas saia udah SMA, menjelang beliau gak ada.. T_T

Saia susah loh move-on nya, ini saia masi nangis lagi. Saia harap, Alloh menempatkan beliau di tempat yang terbaik. Lebih baik dari apa yang pernah beliau beri pada kami semua. Yang menurut saia, nyaris sempurna. WE LOVE YOU, GRANDPA.. :*



*tulisan ini saia buat karena saia lagi kangen banget 

Wednesday, March 07, 2012

Kangen Nulis Duet

Aaaaaakkk... udah lama saia gak posting di rumah saia yang satu ini... :P Ketauan banget kalo males banget nulisnya. Etapi saia gak males nulis loh, buktinya saia masi ngetwit, masi nge-note, masi nge-email, masi nge-chat, dan sebangsanya... :p Tapi emang sik, gak seseru pas lagi ada #20HariNulisDuet :)) Iya, salah satu proyek menulis yang waktu itu saia dapet dari akun @dbrahmantyo yang kemudian menggiring saia untuk "bertemu" dengan admin @teguhpuja dan @violetkecil.

Pendeknya, saia langsung ngajakin temen-temen yang suka nulis juga... geret teman sekampung ini ceritanya, mulei dari @rintadita @diahrizka @cute_codew @dephiedepp sama @aLinachubbyy ya berdasarkan pengamatan saia sik, mereka bakalan minat sama event ini... :D sampe kemudian, saia juga menggeret @aku_aie @anan1n0 @FOENGAD dan @beeNFI :)) :)) *berasa mo ngajak maen bola*

Dalam proyek itu, kita ditugasin buat nulis cerita yang dibikin berdua, iya, namanya juga duet ya berdua lah... Untuk bisa dapet temen duet, selain dengan adanya teman-teman yang udah kita punya, kita bisa ketemu teman-teman baru, yang juga peserta dari event ini... Keder juga sik, soalnya, sepertinya mereka udah pada expert dengan keterampilan menulis. Mereka tersebar di seluruh Indonesia lohh... mulai dari Jawa, Kalimantan, Sumatera, Ambon, bahkan sampai ke Yunani. kereeenn kaann.. Woohh gimana gak keren, kita bisa bikin cerita duet LDR-an, kalah deh yang pacaran... :)) Setiap hari kita menulis dengan teman duet yang berbeda. Jadi dari awal kita udah bikin jadwal buat duet sama sapa aja. Gitu aja juga masih kelimpungan gak punya temen duet lohh... :)) yahh.. maklum lah dalam event ini kita harus menyusup dalam kesibukan masing-masing.. *halah*

Nah, untuk bisa bikin ceritanya, kita dikasi tema setiap harinya. Temanya dikasi per hari. Jadi kita dapet kejutan tema setiap hari... *eeeaaaa. Setelah dapet tema dan temen duet, siap lah kita bikin cerita. Cerita bisa dibikin lewat YM atau email. Iya, sambil chat gitu, kita udah bisa bikin cerita lohh... asik kaan.. :D Trus, nentuin alurnya gimana? Nah ini serunya.... kadang ada temen duet yang ngajak diskusi dulu mo bikin cerita apa, alurnya gimana, atau... bakal ngalir aja. Saia sik suka yang ngalir aja, soalnya bisa jadi tantangan buat nemuin alur dengan cepat... :)) *sotoy banget*

Saia sendiri juga bingung, tiap ada tema, mo bikin cerita apa yaaahh... Lumrahnya... cerita cinta deh... Tapi kadang bosen juga, apalagi, saia bukan jagonya nulis cerpen, dan bukan pecandu cerita roman, ataopun tinlit ciklit, maklum laahh.. bukan anak gahoooll.. :)) :)) *gak ada hubungannya* Tapi saia mau untuk nulis apa aja, karena saia pengen bisa. Iya, saia suka.. :D Alhasil, sila baca sendiri deh, hasil tulisan saia berduet dengan teman-teman.. Itu bener-bener hasil nulis berdua... menyatukan ide-ide dari dua kepala yang kadang arahnya kemana-mana... :D Jadinya, ada cerita yang bahagia, sedih, mengharukan, manis, dan lucuk juga... etapi itu jadinya lucu apa jayus yak... :)) :)) Ya semoga pada suka yaaaa.... Aamiin... :)

Oh iya, sebenernya saia enggak tau sik, proses kelanjutan dari proyek ini kayak apa. Cuman karena saia suka, ya maka saia ikut. Saia bukan penulis komersil juga kok. Ah, belom aja kali... *songong* :)) Enggak ah, saia enggak mau jadi yang sok komersil. Menulis kan seni... gak bisa dinilai dengan materi. Kalaupun ada, itu sebagian penghargaan dan rezeki... :) Pokoknya, dimana ada kesempatan buat nulis, ya... okeeehh... ayoookk... :D

Dan, asal tau aja ya, nulis duet ini nagihin, saia juga iseng bikin lagi bareng beberapa temen nulis duet saia yang kemarin. Tapi ada yang belum selesei... Enggak ada deadline itu gak seru kali yakk... :)) *alesan* Tapi, saia harap, tulisan-tulisan itu nggak akan menunggu disentuh samapi lusuh. Do'akan kami ya teman-teman... *pasang iket kepala* *jangan turun ke leher* :)) :))

Mungkin, kalau lain kali ada event semacam ini lagi, saia juga mau ikutan. Biasa lah, kayak orang yang hobi maen bola, mau maen dimana aja, kapan aja juga bakal iya aja. Begitulah saia dengan menulis... :D Karena di dalam setiap huruf yang tercetak, ada do'a saia untuk bisa nerbitin buku.. *eeeaaaa *malah curhat

Baeklaahhh...
Saia sedang berusaha untuk lebih rajin menulis. Siapa tahu saia bisa ngumpulin serpihan-serpihan cerita yang bisa dijadiin buku. *eeeaaa *curhat lagi

Oke, mari kita menulis teman-teman, biarkan aksara bercerita.... ^^v



Wednesday, February 29, 2012

Au Revoir



Hari ini tepat delapan bulan sepuluh hari sejak aku membeli telepon pintar, Blackberry merah yang modelnya selalu aku suka. Namun tepat hari ini pula aku harus berpisah dengannya. Berpisah dengan semua kesibukan yang terikat dengan komunitas yang terbentuk darinya. 

Ah, satu nama yang terlintas. Yap, hanya melintas. Banyak teman yang menganjurkan untuk membeli saja yang baru, toh banyak yang harganya murah. Namun entah kenapa, meskipun ada bayangan seseorang itu melintas, aku tetap kukuh tak akan berganti tipe. Aku merasa itu pertanda dari Sang Pemilik Semesta untuk berhenti menyia-nyiakan waktu. Menyiakan waktu berkirim pesan, menyiakan waktu berusaha mendekat, menyiakan waktu untuk berharap. Kini aku siap, dan sangat bersemangat untuk melangkah, membeli handphone baru. Handphone yang mungkin akan menjauhkan aku darinya. Menjauhkan aku dari segala kenangan yang seharusnya sudah bisa aku jauhkan. Bisa saja orang bilang, aku terlalu berlebihan dengan segala yang aku rasakan. Ah, kalian tidak tahu saja.

Sekarang, aku akan melangkah pada sebuah dunia yang baru, yang akan memberikan aku kejutan-kejutan yang lebih menyenangkan. Semoga. 

"Nas, besok jadi gak beli handphone-nya?" Kirana mengagetkan aku. 
Benar-benar membuyarkan lamunanku. "Ah, iya, jadi deh jadi..." jawabku cepat. 
Kiranan mengernyitkan dahinya. "Hah? Kenapa pake 'deh'? Niat nggak sih kamu?". Pantaslah kalau Kirana kesal. Ini sudah kelima kalinya aku maju mundur untuk beli handphone baru.

Bukannya apa-apa sih, kadang mereka jadi kesulitan mencariku. Aku, yang baisa sewaktu-waktu menghilang. Hanya untuk menenangkan pikiran yang kadang berujung pada perasaan tak enak. Bismillaah, aku bulatkan tekadku, "Iya, jadi ga pake deh", ujarku yang kemudian membentuk seulas senyum di bibir Kirana. Sebenarnya aku sudah memutuskan handphone yang akan aku beli. Namun hanya alasan 'belum menemukan tipe hp yang akan ku beli'-lah yang paling tepat. Ku yakinkan diriku sekali lagi. Aku tidak melakukan hal ini untuk menghindarinya. Aku hanya ingin merengkuh kembali dunia nyataku. Kembali menikmati hangatnya berjabat. Kembali menikmati indahnya bercakap. Ngalor ngidul tanpa arah. Dari satu topik ke topik yang tak bersinggungan sama sekali.

Dan ternyata aku memang merindukan untaian kata yang terucap. Aku sudah muak membaca kata, menafsirkan icon yang terpajang sebagai ganti raut wajah. Raut wajah yang bahkan aku sudah lupa. Aku lupa bagaimana lawan bicaraku tertawa, menangis dan cemberut ketika aku menggodanya. Aku adalah orang yang suka sekali membaca gerak wajah. Menikmat setiap senyum dingin, pandangan sinis, dan tawa terbahak yang tak perlu ku kira-kira.

Aku siap. "Besok kita berangkat jam berapa?" tanyaku tegas. Kirana tersenyum. Indah.
"Oke deh Inas cantik, besok kita berangkat jam sembilan pagi ya... biar kamu puasss muter-muternya. Dan dapet handphone yang kamu mau," lanjut Kirana seraya mengerlingkan matanya.

***

Oke, hari ini, aku akan menemukan sesuatu yang baru, yang membawaku pada kenikmatan selanjutnya.
Aku berputar-putar dari satu toko ke toko yang lain. Ternyata tak semua toko menjual tipe handphone yang aku maksud. Mungkin karena bukan tipe terbaru, dan bukan  handphone gaul yah. Ah, tapi aku tak akan menyerah. Ini sudah menjadi keputusanku.

"Nas, kamu gak salah dengan tipe  handphone yang kamu cari?" tanya Kirana kemudian. Aku menggeleng. "Kita sudah menghampiri belasan toko, euy, dan tak satupun menyediakan tipe yang kamu mau," sambung Kirana yang mulai tampak lelah. 
"Ah, Ki, tolonglah, ini mumpung aku mau loh buru-buru ganti  handphone," rajukku. Kirana hanya mampu mengangguk lemah. Kita, lanjut berburu.

Lelah tak hanya mendera Kirana. Kakiku pun sudah mulai melemah. Kami pun duduk di salah satu kursi panjang yang tersedia di pinggir koridor pertokoan. Kirana tampak lelah dan menyeka keringat. Sedangkan aku, mataku tetap saja jelalatan untuk mencari tipe handphone yang kuinginkan. Hingga empat kali jelalatan, akhirnya mataku tertarik pada satu toko. Bukan karena telah kutemukan handphone yang ku cari, tetapi kulihat seorang lelaki, berumur 25 tahunan tampak melamun, bersedih. Entah kenapa kakiku tiba-tiba bergerak ke arahnya. Tiba-tiba aku telah duduk di depannya, dan terukir senyum manisnya. "Mau beli hp mbak? cari yang tipe apa?" ujarnya ramah.

Aku lalu menyebutkan tipe yang ku mau, tanpa berharap banyak sebenarnya. Namun mengejutkan, lelaki itu berdiri, mengambil kotak di balik etalase tak mencolok. Masih bersegel. "Ini ada mbak, sebenarnya dibeli sama orang siy." Lalu ia terdiam, lelaki itu membiarkan kalimatnya menggantung di udara.

"Wah kalau sudah di tag sama orang, saya gak berani ambil dong mas," kataku memutus kehengingan.
"Oh bukan, kisahnya panjang mbak." katanya sendu.
"Jadi boleh  handphone  ini saya beli? berapa harganya?"
Setelah kami saling bernegoisasi harga. Tak lama, karena aku juga sangat mengingingkannya, tercapailah kesepakatan harga untuk  handphone itu.
 
Kirana menepuk punggungku. "Kukira kamu kemana, sudah ketemu?"
Kirana pun duduk disebelahku. "Wah mas, hebat euy, masih ada  handphone-nya? Saya kira sudah gak ada lho. Saya sudah putus asa mengantarkan teman saya ini berkeliling cari handphone ini. Alhamdulillaah sih ketemu, tapi kok bisa masih ada Mas, udah gitu masih rapi kardusnya? Bukan second ya?"
"Ya, udah jodohnya kali Mbak. Ini saya jual juga belom lama sih, takutnya gak ada yang beli. Kemarin ada yang nanyain sih, tapi udah lewat batas waktu. Dia gak sreg. Jadi ya ini udah takdirnya kali ya Mbak, hehehehe..." eeh, mas-mas yang jualan malah becandaan.
"Iya nih Mas, mana lagi temen saya ini susahnya minta ampun mau ganti  handphone aja. Mikirnya berbulan-bulan. Kalah orang milih jodoh mah... Eee sekalinya milih... susah aja... untung-untungan bisa dapet yang dia mau," timpal Kirana, dan semena-mena membuatku melongo.
"Ih...kamu apa sih Ki...." protesku sambil mencubit lengan Kirana. Aku cuma bisa cengar-cengir. Sekarang, yang aku rasakan adalah senang, puas, dan mantap. Yaiyalah,  handphone baru sudah di tangan, dan... sesuai keinginan.
Tak berapa lama setelah kupasang sim card nomor handphone ku. Akupun berpamitan. 
"Ehmm  Handphone-nya mau langsung dipake mbak?" tanya si mas penjual sebelum aku pergi.
"Iya mas, begini saja, terimakasih," jawabku seraya tersenyu. Aku dan Kirana, melangkah, berjalan untuk pulang.

***

Sesampainya di rumah, ternyata banyak pesan yang masuk. Tak tertera nama pengirimnya, karena banyak nomor yang tersimpan di memori  handphone lama. Dan terdapat satu nomor tak dikenal di daftar panggilan tak terjawab.

Terlintas kembali dirinya. Tapi hanya melintas saja. Tak terkenangkan obrolan yang dulu hingga pagi kami ketikkan. 

Aku tersenyum, mungkin aku sudah tak terikat lagi dengannya. Juga dengan Si Merah, begitu aku biasa menyebut handphone  lamaku, yang sekarang tergeletak di pojok meja riasku. Kuusap untuk terakhir kalinya. Aku berpamitan. Teringat kata Kirana, "Kita tak pernah memiliki apapun, tak selayaknya sedih karena kehilangan" Ungkapan olehnya dan untuknya sendiri ketika kekasihnya meninggalkan dunia ini. Iya inilah perpisahanku. Akhirnya akulah yang mengakhirinya. Bukan, memang bukan mauku. Tapi aku butuh perpisahan ini. Aku harus berpisah sekarang. Berpisah tanpa rasa kehilangan. Kuucapkan selamat berpisah padanya, dalam hati. Dan aku masukkan Si Merah ke dalam laci riasku. Pada saat ini kuputuskan, aku akan kembali merengkuh nyataku. Dan tak lagi bersandar pada harap.

Semuanya aku terima, dengan ikhlas. Terima kasih masa lalu. Selamat datang, masa depanku. Tuhan yang akan memelukku dengan segala kejutan untukku.




Tulisan kolaborasi @wulanparker dan @dephiedepp

Tuesday, February 28, 2012

Miss You In The Rain



Aku memandang gerimis dari balik jendela. Gerimis yang semakin rekat. Begitu ingin aku keluar, tersentuh air hujan yang menderas, agar mampu merasakan rindumu yang menderu. Rindumu yang tak terungkap dengan kata, yang mampu aku rasa dari desah nafasmu, ketika hening menyapa, mengijinkan kita mendengar bait-bait rindu, lewat sambungan telepon. 

Ya, meskipun hanya sebatas suara, itupun sudah cukup untuk mengisi rongga dadaku dengan jutaan kehangatan. Dan kini hujan menyapaku kembali. membawa sebuah ingatan tentangmu, tentang kita... ah dan semakin ingin aku memelukmu.

Handphone ku berdering, ringtone khusus yang kuberi untuk pemanggil dari nomormu. Aku buru-buru menjawabnya, "Halo, sayang." "Beb, kamu kapan balik kesininya? Aku bulan depan ujian, ajarin bikin papernya. Aku udah stuck nih," ceritamu memburu. 

Aku tersenyum mendengarnya. "Iya, sayang minggu depan aku usahakan pulang. Jangan manyun gitu dong," rayuku, membayangkan sepasang matamu yang selalu binar, serta senyummu yang membuatku gemas. Merasa ingin selalu memanjakanmu.

***

Mengingat dirimu membuatku merasa memiliki sepasang sayap yang akan membawaku terbang bebas menjelajahi setiap tempat. Terkadang aku tersenyum ketika mengingat betapa jauh jurang perbedaan antara kita berdua, kau yang begitu perfeksionis mampu membuatku tetap menginjak bumi diantara semua relita mimpi semu dalam dunia semuku. "Adin, kamu itu memang aku banget."

Aku tersenyum menatap paper yg beberapa bulan lalu masih membuatku malas menginjakkan kakiku di tempat yang bernama kampus.

***

Ah itu dulu, sebelum aku memutuskan untuk meninggalkanmu. Kamu, yang sungguh aku cintai. Bukan aku bosan padamu, bukan aku tak mau lagi bersamamu. Aku hanya merasa tak mampu membahagiakanmu. Mendengar tangismu, aku kerap salah tingkah. Bingung. Aku ingin memelukmu, mendekapmu. Dan meminjamkan bahuku untukmu.

Maaf Aira, aku tahu kamu kecewa, sakit hati, atau bahkan benci. Tapi sungguh, jika memang ada yang sanggup membahagiakan kamu lebih daripada yang bisa aku lakukan, aku rela. Aku hanya ingin membuatmu tersenyum, tegak kembali dari rapuhmu. Seorang yang mungkin, bisa berbahagia juga dengan senyum manjamu. Ah, Aira.

Getar gemuruh mengagetkan aku, membuyarkan lamunanku. Aku tergerak membuka sebuah album foto yang pernah kau hadiahkan padaku. Ketika aku, harus memilih pekerjaanku, dan menunggumu, hingga ternyata, aku, tak mampu, Aira. Album foto itu, menyimpan penuh semua cerita kita. Iya, aku, dan kamu, dulu.

Mungkin waktu itu jiwa kita masih hijau, kita masih senang bermain dengan semua impian di warung kopi tiap malam, hal-hal gila yang pernah kita lakukan, dan terkadang membuat orang berkata "Ni orang gila kali ya..."

Dan kini semua kenangan membuat rongga dadaku penuh sesak, menggembungkan rongga kelopak mataku yg tanpa sadar ingin menumpahkan sesuatu yg lama terpendam dan sebuah belum sempat terucap untukmu hingga detik ini.

Entah bagaimana semua berawal.

Aku masih ingat ketika malam itu, dalam hujan aku melihat resahmu yang takut kemarahan mama kamu karena pulang terlambat. Kamu terbalut dingin dan bersembunyi di balik punggungku. "Kapan sih hujannya reda, kalau mama marah gimana," gumammu di balik punggungku. Aku merengkuhmu dalam pelukanku. Aku buat kamu merasa lebih tenang. Sampai hujan reda.

Kini, apa kabarmu Aira? Sipakah yang mengurai cerita di setiap malammu? Siapakah yang kini terpikat dengan semua pesonamu? Kamu, gadis manis yang sederhana. Kamu, yang selalu ingin semua orang ceria. Kamu yang selalu memihak kasih sayang atas semua di setiap sapa dan tingkah lakumu. Kamu yang selalu rela mendengar ceritaku di balik hujan, menemui rinduku di tetes air langit. Kamu, yang tak pernah berhenti menghujani aku dengan rindu. Aira, maaf, kini aku merindumu. Sangat. 

Seperti tiap tetes hujan yang turun malam ini, seperti itulah rinduku padamu, kutitipkan smua kata yang belum sempat terucap. Hujan membawa kita pada sebuah pertemuan dan hujanlah membawa kita pada suatu titik dimana kita hanya bisa terdiam dengan segala perasaan yang berkecamuk di dada kita masing-masing. Ketika takdir mengungkap bahwa segala perbedaan itu tak lagi ada artinya untuk membuat kita bersatu dalam sebuah cerita.

Entahlah, masihkah ada guna sebuah sesal yang tumpah semena-mena. Seperti mendorongku ke dalam jurang kebencian, pada diriku sendiri. Aira, kali ini mungkin aku hanya mampu berserah. Jika memang Tuhan memberikan kesempatan padaku sekali lagi, aku tak akan melepaskanmu. Aku masih merapal doa dan kalimat-kalimat pinta kepada Sang Maha Cinta, untuk bisa kembali menemuimu, memilikimu.


Aku hanya punya rasa sayang yang berlebihan untukmu, Aira sayang. Aku tahu, saat inipun, aku merasa bahagia. Sekalipun terlilit dingin di balik derasnya hujan dan gelapnya malam. Aku bahagia dengan semua yang aku punya sekarang, tapi, tak bolehkah aku membaginya denganmu? Seperti dulu.


Kulangkahkan kakiku ke halaman membiarkan tiap tetes itu membasahi tubuhku,meluruhkan tiap kenangan, rasa sayang, keangkuhan hatiku, keegoisanku. Malam ini, dalam hujan kali ini, dan diantara semua kenangan akhirnya aku bisa berkata "Aku mencintaimu...."

Aku rasakan tiap tetesan yang menyentuh tubuhku. Dingin. Semakin aku rasakan, semakin rekat air mengucur sekujur tubuhku. Aku memejam, mengingat semuanya, tentang aku dan kamu, tentang kita, Aira. Hujan yang memelukku. Aira, bolehkah aku bertanya, masihkah ada cinta untukku? Aku, ingin pulang ke hatimu. Sungguh.



Tulisan kolaborasi @wulanparker dan @FOENGAD



Monday, February 27, 2012

Surprise!


"Halo Gun, kau dimana? Cepatlah kau datang. Sudah kumpul semua ini kita," teriak Tigor dari seberang. "Oh, iya ya, ada futsal hari ini," jawab Gugun malas. Yaiyalah, Gugun baru samapi di rumah pukul dua dini hari, dan ada janji main futsal jam enam pagi. Tigor melanjutkan ocehannya, tapi Gugun tak menggubrisnya sama sekali, samapai akhirnya... "Tuuuuuuuuuut..." telepon terputus. Gugun masih meringkuk di balik selimut, dan bernyanyi dengan dengkurannya.

Itu pun Gugun masih tidur dengan pakaiannya yang semalem iya kenakan. Lengkap dengan sepatu. Tubuhnya yang tinggi semakin menjulang karena ia mengenakan sepatu yang cukup membuatnya semakin terlihat tinggi saja. Tentu saja beberapa aksesoris pun masih melekat di tubuhnya yangg lunglai dan terbaring ditempat tidur itu. 

Namun, tiba-tiba handphone bermerk 'buah-buahan' itu pun kembali berbunyi. Dengan mata masih terpejam Gugun berjuang meraih telepon pintarnya itu. 
"Bebeb, kamu gimana sik? Katanya mo nganterin aku ke salon?", rajuk Annisa, pacar Gugun dari seberang. Sontak Gugun beranjak dari tempat tidurnya. "Oh iya, nanti aku jemput kamu ya, sekarang aku mau olahraga... futsal...futsal..." rayu Gugun cengar-cengir sambil memainkan alisnya. 

Haha, Gugun tak mau ketauan masih molor, bisa-bisa perang dunia ke-tiga, ke-empat dan ke-lima terjadi dalam satu waktu. Gugun mengganti pakaiannya, ia berusaha datang ke tempat futsal. Masih ada waktu satu jam, dan masih sempat buat lanjut mengantar Annisa ke salon. 

***

"Ah, kau ini, lama benar... kita harus serius latihan sebelum pertandingan minggu depan. Tim kita ini kan belum ada tandingan..." Gugun diambut ceramah Tigor sesampainya di tempat futsal. 
Pemuda jangkung itu cuma cengar-cengir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang memang tak gatal.
"Sory..sory...gue semalem nonton bola jadi kesiangan bangunnya...yang lain mana lagi nih??" Gugun coba berikan alasan. 
"Yaudah, gue ganti baju dulu yeee.." Gugun seraya meninggalkan temannya itu. 

Tapi...betapa kagetnya ia ketika membuka tas dan tenyata isi tasnya itu ada celana leging, handuk, baju senam cewe. Ya, ternyata Gugun salah bawa tas.

"Yasalam, demi apa gue ngebawa-bawa tas adik gue," batin Gugun sambil menepok jidatnya sendiri. Masa iya dia harus mengenakan celana leging sepanjang latihan futsal? Ah, mau dipindah kemana tampang yang udah untung-untungan itu. Gugun melangkah dengan gontai, kembali pada teman-temannya.

Rico yang pertama menoleh pada keberadaan Gugun pun beranjak dari duduknya. "Nah katanya lu mau ganti baju, ah mana baju lu?" pertanyaan Rico memburu. 
Gugun menunjukkan tas yang salah ia bawa kepada teman-temannya. Mereka pun tergelak bersama. Tapi... tidak dengan Tigor. Wajahnya memerah, tangannya mengepal. Ia beranjak dari duduknya, mendekat ke arah Gugun. Dan....

Tigor menghampiri Gugun, lalu bilang "Kau ini banyak alasan, udah telat pake alesan salah bawa tas pula. Kalau emang ga mau latian yaudah ga usah gini." Wajar kalau Tigor agak keras, karena secara dia adalah kapten tim dan ia dibuat pusing dengan tingkah Gugun yang belakangan ini memang semangatnya patut dipertanyakan sedangkan turnamen sudah diambang pintu.

Gugun cuma bisa diam ditegor oleh sang kapten. Dalam hati dan dalam pikirannya sedang berputar-putar hendak memberikan jawaban apa.
"Maap deh, Bang..." cuma itu yang bisa Gugun ucapkan. 
Resikonya, Gugun harus tetap latihan meski tanpa alat tempur yang lengkap. Haha.. ya sudahlah, palingan juga keinjek. Tapi jangan sampe keinjek sama si Rico yang badannya dua kali lipat lebih lebar daripada Gugun.

Latihan pun dimulai. Tubuh Gugun yang kurus dan jangkung membuatnya mudah menggiring bola kesana kemari. ya, itulah yang membuat teman-temannya selalu memasang dia sebagai pemain utama di setiap pertandingan. Tapi sayangnya, dia parah banget, suka ngaret, dan teledor... ya seperti hari itu.

"Ric, itu Bang Tigor beneran marah ke gue kagak sih?" tanya Gugun pada Rico seusai latihan. 
Rico menyambutnya dengan gelak. "Ah, kayak lu baru kenal doi aja. Lu masih ngantuk kali..." seloroh Rico. Iya sih, Bang Tigor, memang orangnya lebih emosional daripada yang lain. Entah karena dia orang Batak, atau memang sifatnya demikian. Tapi, tanpa Bang Tigor, tim mereka juga nggak bakalan solid seperti sekarang.

Tigor memang sukses menerapkan kedisiplinan dan kerja keras ke teman-temannya. Dan jelas saja, hari ini yg kena 'pelajaran' itu adalah Gugun. Yap, Gugun terkena hukuman sepanjang latihan futsal tadi. Itulah yang membuat Gugun benar-benar mempertanyakan sikap Tigor. Sepanjang latihan futsal, Gugun dihukum untuk tetap mengenakan leging yg ia bawa. Untuk sepatu ia memang dapat pinjaman dari Tigor yg kebetulan membawa dua sepatu, tapi karna Tigor ingin memberikan efek jera kepada Gugun yang dianggapnya sudah keterlaluan maka ia memberikan hukuman.

Tubuhnya yang tinggi kurus semakin terlihat kurus saja lantaran Gugun mengenakan leging warna abu-abu yg super 'pas' dengan kakinya yg panjang itu.

"Ahhh...andai aja gue ga salah bawa tas, kaga kena malu gini gue di lapangan," batin Gugun.
"Malahan banyak cewe yang nonton," batinnya lagi.

Dan tiba-tiba saja ia teringat bahwa Annisa, pacarnya, pun akan datang menyusul nanti ke lapangan futsal dan setelah itu mereka akan pergi ke salon.

"Mau jadi apa nih gue diliat Nisa main futsal pake leging ngetat gini," pikirnya lagi-lagi.

Apa mau dikata, Gugun harus konsekuen dengan aturan. Apapun akan Gugun tanggung demi mempertahankan kekompakan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun. Mereka adalah sesama perantau yang kemudian merasa satu jiwa, lewat sepak bola. Susah dan senang selalu mereka bagi bersama.

Semua anggota tim sudah bersiap untuk pulang. Dari kejauhan tampak seorang cewe sedang berjalan ke arah lapangan. Gugun sontak kaget, ketika menyadari bahwa yang sedang berjalan adalah Annisa, pacarnya. Aaaaaakkk.... ketika Gugun hendak berlari ke tempat ganti, Rico menahannya. Spontan saja mereka semua tergelak. Annisa cuma melongo melihat sang pacar tampil beda dengan leging yang begitu seksi. 

"Bebeb... kamu?" komentar Annisa pelan disusul gelak lepasnya.
"Aaaaaa...mmmm....iniihh......mmmmm....anuuuuu..." jawab Gugun terbata-bata. Lirih suaranya hampir tak terdengar karena benaman suara tawa Nisa dan teman-teman Gugun. Mukanya merah, salah tingkah, diam, itulah yang tampak dari seorang Gugun saat itu. Orang yg selama ini dikenal cerewet, usil, dan suka menertawakan orang. 'apa ini karma buat gue? Sekarang gue diketawain banyak orang' kembali pikir positif menghujani otaknya. 

Tiba-tiba Nisa berkata..."Beb,,sebenernya tas itu tuh aku yang tukar tadi malem, sebelum aku pulang, aku pindahin isi tas Risa, adik kamu, dan Risa udah aku kasih tau. Ini tuh emang sengaja buat ngerjain kamu Beb. Ini kan hari ulang tahun kamu, kamu lupa yaa??? Selamat ulang tahun yaa sayang.. aku sengaja kerja sama dengan Bang Tigor dan teman-teman kamu yang lain juga biar nyuruh kamu pake leging itu.." Jelas Nisa sambil terus tertawa.

Gugun menatap semua temannya satu per satu secara bergantian. "Ini mimpi atau bukan?" batinnya. Gugun menampar pipinya sendiri. "Plaaak!!" "Aduuh, ternyata sakit. Berarti ini nyata. How come?" Gugun lupa dengan hari ulang tahunnya sendiri. Gugun tak sadar kalau ternyata yang terjadi padanya adalah sandiwara. Ouuuccchhh… Gugun cuma menggeleng-gelengkan kepala. Merangkul kawan-kawannya. Ah, tak ada yang lebih menyenangkan dari kebersamaan ini. Ini yang selalu ia rindukan ketika ia sebentar pulang kampung. Ini juga yang membuatnya bertahan berjuang di panasnya Batavia. 

“Kita beda Gun, tapi kita selalu jadi satu, apalagi untuk tawa, hahahahaha,” celetuk Bang Tigor dengan logat Batakya yang khas. Dan, yang lain pun, menyambut dengan tawa yang lepas dan bebas.



Tulisan kolaborasi @wulanparker dan @aku_aie