Sunday, October 04, 2009
Unyil, Aku Kangen
Mungkin iya, apa hanya karena dalih aku kangen jalanan?! God, kenapa kau takdirkan aku untuk mencintai jalanan? Ternyata aku masih moody, sayang, kapan mau dewasa? “Yah kadang2 doang kaleee....” kilahku sedikit mencibir diriku sendiri.
Sekotak french fries dan segelas sundae strawberry bercampur debu pagi, membawaku terawang atas apa yang menyesak di dadaku kali ini serta tingkah konyolku tadi pagi. Lelah mencari seseorang yang telah lama tak kujumpai, sosok yang... sering ditepikan oleh mayoritas rakyat seperti kita, sok suci, sok kaya dan sok terhormat. Hanya karena sering melihatnya berteman dengan yang kumuh dan berumah 'kebebasan' seperti yang aku idamkan...
Unyil, aku mencarimu, aku kangen dihibur sama kamu, bulu matamu yang lentik, lincah gerakmu tanpa alas kaki, rambutmu yang keriting, kulit mu yang hitam karena terbakar daya paling bermankna, sang matahari dan satu lagi, kelihaianmu menghisap sepuntung racun yang dibalut rapi dengan kertas yang terasa manis katanya. Ya, semua yang ada dalam dirimu, seorang bocah berusia 7 tahun, ooops mungkin saat ini usiamu telah bertambah. Aku masih ingat, bercerita denganmu membuatku terasa menerima perihnya hidup.
Aku, memang tak lebih sengsara daripada kau, tapi kenapa kini aku harus sesenggukan di telinganya... (pasti dia geram...memalukan sekali ya...). aku tak pernah berpikir, jika aku yang memiliki takdir seolah lebih baik dari kau, dan tiba-tiba harus berjalan di atas roda kehidupan sepertimu, pasti aku tak akan setegar kamu, bocah. Aku hanya bisa bilang ini pedih, karena suatu kenyataan yang tidak, oops, maksudku kurang sempurna bagiku, aku, merasa diperlakukan bagai kacung oleh orangtuaku, mereka tak lagi pengertian, bahkan kejam pada batinku. Itu luka bagiku, Unyil.
Tapi kini aku tak dapat menemuimu, aku rindu saat kau membuka mataku kembali saat aku mulai roboh dan hampir terkalahkan oleh kekerasan hatiku. Di matamu ada kebebasan. Mungkin, orang lain tak melihatmu menggenggam masa depan dengan pasti, tapi aku tahu, kau mampu mengatasi semua masalah dengan kecerdikan dan ketangkasan jemari yang kau miliki. Bukannya malah sesenggukan sepertiku.
Kembali kulayangkan pandanganku pada pelataran pusat kota yang cukup luas itu. Masih pagi, tak cukup banyak orang bergerombol atau sedang temu kangen di trmpat itu. Ranting-ranting kecil beringin itu sedikit berayun saat angina pelan menghembusnya. Sejuk, tapi tak cukup lama, kalah oleh asap-asap tumpangan manusia-manusia pekarya itu. Setiap sudut bangku batu kuperhatikan, belum kutemukan sosokmu, Unyil. Sungguh, aku merindukanmu. Mungkin berjabat denganmu sudah cukup menguatkan aku.
Beberapa teman kecilmu mulai berlarian membawa kaleng bekas kosong yang siap menampung receh sumbangsih pejalan kaki. Berlari-lari kecil, hingga tak sadar kedua bocah itu menabrakku yang tengah memerhatikan sekawanan dara terbang kian-kemari. Seorang bocah gundul mendongakkan kepalanya, aku tersenyum, bukannya membalas senyumku, malah ia sodorkan kaleng dengan tangan kirinya. Aku diam sebentar, “Hei siapa namamu?” tanyaku. Dia hanya menggeleng. Aku ulang pertanyaan itu sambil sedikit mundur. “Iwan,” singkatnya. “Kau tahu dimana Unyil?” tanyaku lagi. Ia menggeleng. Aku ingin bertanya banyak, tapi aku sedang tak ingin bicara, aku masukkan satu koin 500 perak ke dalam kaleng milik Iwan, sebentar kemudian ia belari lagi mengikuti kawanan dara yang hendak pergi.
“Mbak, ini French fries dan sheaker kejunya,” sapaan waitrees berseragam kuning-merah itu membuyarkan lamunanku. “Terimakasih,” jawabku singkat sambil menarik sekotak kentang yang aku pesan untuk kedua kalinya pagi ini. Senyum waitrees itu seolah mengisyaratkanku untuk tenang saja.
Mungkin ini yang Tuhan maksudkan. Maunusia yang wajib belajar. Aku selalu bertanya, kenapa aku mencintai jalanan? Sedangkan Unyil pernah berkata padaku, kadang dia pun ingin menjadi anak rumahan, tidak pusing katanya. Tapi, dia selalu bisa menikmati setiap sisi hidupnya. “Ya nggak apa-apa,” itu jawaban pasrah yang selalu muncul dari bibir tipisnya yang kian menghitam akibat isapan ‘racun’ berbungkus itu. Matanya tidak pernah berkaca-kaca saat bercerita hal yang paling pedih sekalipun.
Ibu dan ayahnya saja sudah renta, kakak-kakak yang dia miliki saja tidak pernah menghiburnya. Justru ibunya memberikan seorang adik bayi, yang entah dia tak tahu kenapa bisa datang bayi itu. Kacau balau, rumah petak itu tak muat lagi. Ia hanya mampu berdalih senang bersama teman-temannya dan menyimpan harapan-harapannya dalam tiap kepulan asap rokok yang telah ia hisap. Unyil belum pernah berpikir untuk menjadi ranking satu di sekolahnya, belum sempat memikirkan cita-citanya di masa depan. Ia selalu menggeleng saat kutanya. “Yang penting bisa hidup,” mungkin itu yang ia pikirkan.
Pertahanan dirinya cukup hebat, untuk bocah sekecil itu. Sedangkan aku, hamper seperempat abad usiaku masih saja kacau saat menemui suatu ketidak sempurnaan. Tapi bagi Unyil, kesempurnaan itu tidak hadir dalam satu garis lurus dengan harapan. Kesempurnaan itu, ada di dalam hatinya, ia sendiri yang merangkai kesempurnaan itu. Ia bebas dengan hidupnya.
Aku pulang tanpa putus asa, ingin meraih besok pagi dengan senyumku, aku harap Unyil kini sudah bahagia.
Wednesday, July 11, 2007
life so beatifull
ketika roda kehidupan berputar, manusia tak pernah sanggup menghentikan...
jika benar hidup itu adalah takdir, maka setiap takdir adalah bagian dari kehidupan...
aku lebih merasa sedih jika harus meninggalkan, karena itu adalah buah dari pilihan...
tapi saat aku ditinggalkan, aku menerima dengan sedikit kesedihan, tapi inilah takdir..
ketika semua terjadi bertubi, manusia hanya akan bisa jadi perasa...
tapi jiwa telah diisi dengan segala karsa, aku pasti bisa menembus semuanya...
katakan itu setiap kau merasa sedikit kalah, atau hendak terkalahkan...
merangkai mimpi untuk mendapatkan senyum di esok hari sebagai kekuatan saat apapun terjadi di depan mata....
menutup diri, menutup mata dan menutup hati adalah sesuatu yang sama sekali nggak berharga. Itu hanya akan membuat kita semakin bosan dengan hidup, padahal masih banyak yang harus dicari dalam hidup untuk bekal ke alam yang lebih kekal kelak....
some people give me love....
some people give me light....
some people make me bright....
some people show me a wonderful thing....
some people show me many beautifull places....
some people hold me on the warm....
some people smile at me like a star....
some people let me look so sweet....
some people give their hands to reach me together....
some people stay here n not let me alone....
some people say "Go ahead 4 ur dream"....
some people want to live here with me for so long....
jika soulmate itu ada, hatimulah yang bisa merasakannya....
Wednesday, September 27, 2006
My Best Friend is My Best Rival
“Aku juga gak tau Ra, kok aku ilfil aja ya liat cewek-cewek di sini...” pasti itu jawaban yang keluar dari mulut Rian. Padahal, cewek yang naksir Rian tu banyak banget, cakep-cakep lagi. Abis Rian emang cakep, pinter, kaya lagi. Walopun kalo di depan aku, dia tu orang yang longor banget gitu… hehe…
Aku seneng juga sih kalo ada cewek yang lagi deketin Rian, coz aku juga kena imbasnya, mereka jadi perhatian juga sama aku. Jadi sering dapet lunch gratis cuma buat kasi informasi tentang Rian. Buat Rian, its ok aja kalo aku ngomong2 soal dia ke cewek-cewek itu, coz dia percaya, aku gak bakal bilang yang jelek-jelek tentang dia. Ini juga untuk aku, biar dia bisa lepas dan aku bebas… Bahkan ya, ada yang sampe kasi kado pas aku ultah cuma biar bisa ikut makan bareng aku sama Rian, dan tau nggak, kado yang dikasi ke aku tu lebih istimewa daripada yang dikasi Rian ke aku, dia kasi lukisan yang kereeeeen banget… aku jadi heran, dia salah ngasi kali, harusnya ini buat Rian kali, ato jangan-jangan dia lesbi, hahaha pikiranku mulai gak karuan. Tapi ya udah lah namanya juga rejeki buat aku.
Herannya, tiap kali cewek-cewek itu dah iya-iya, si Rian malah jadi ilfil, mulai ogah ngajakin kencan, ogah nganter jemput, dan payahnya lagi dia jadi ogah nembak…… o-m-g… Gila tu anak gak tau diri, cewek-cewek udah yang pada berkorban gitu dan dia cuma ngerelain aku yang yang dapet seneng, bego banget yak!!! Mulai dari Diva, Reni, Vika, Joy, Melinda, Gita, Zevina, Dewi, halah udah capek deh pokoknya…dan semuanya LEWAT sodara-sodara. Akirnya aku juga nyerah, udahlah biar aja ntar kalo ada yang nempel juga dia bakal nempel terus. Lagian aku juga gak tega ngebiarin dia sendirian tanpa temen. Abis dia orangnya emang diem banget sih, temennya selain aku pun cuma seorang Ali yang juga pendiem dan lebih study oriented gitu. Dasar emang Rian orang yang aneh…
“Yan, gue tadi baru diajakin kenalan ama cowok cakeeeep banget”, ceritaku pas lagi makan siang bareng Rian. “Kenal dimana? Anak mana?”, Rian menimpali sambil mulut masih penuh makanan. “Anak sini aja sih, anak Hukum, kayaknya dia baik deh Yan”, jawabku sambil senyum-senyum.
“Darimana kamu tau dia baik?” lanjutnya.
“Mungkin chemistry kali ya Yan”.
“Halah baru ketemu sekali doang lo dah kelepek-kelepek gini”, Rian nimpuk aku pake buku yang dari tadi ada di atas meja sambil cengengesan.
***
“Yan, kayaknya dia emang baik deh. Dia ngajakin keluar weekend ini”.
Rian diem aja, masih asik baca F1 Racing yang dari tadi dipelototinnya. Dia emang gitu sih, aku pasti kalah telak sama majalah favoritnya itu.
“Rian, aku ngomong pake mulut neh, mau aku ngomong pake nonjok?!”, belom sempat Rian komentar aku dah keburu melayangkan tinjuku ke lengannya.
“Aah, lo apaan si Ra? Sakit neh…”. Rian teriak kesakitan dan aku nyengir aja.
“Abis lo dari tadi gak dengerin gue cerita sih. Gue kan mau curhat ama elo!” aku mulai merajuk.
“Iya dari tadi gue dengar kok…”, Rian membela diri.
“Yan, gue
“Rara yang manis, baca tu pake mata, dengerin tu pake kuping, nah lo beda
“Ya deh, gue percaya ama lo, lo bisa denger gue. Walopun gue tau dua-duanya dilakukan oleh otak yang sama!”.
Rian diem, trus dia naruh majalahnya dan mulai dengerin aku.
“Lo suka ama Miko?”, Tanya Rian. Aku mengangguk.
“Dia juga gak masalah kalo gue temenan sama lo. Dia nggak kayak yang lain, yang tiba-tiba mundur setelah tau gue deket ama lo”, lanjutku.
“Baguslah kalo gitu, jadi gue gak matiin pasaran lo lagi
Aku tersenyum.
“Tapi ati-ati sebaik-baiknya cowok, juga bisa bejat, hehehe…”, kata Rian sambil mengusuk kepalaku.
Malem ini Miko datang ke rumah, katanya ada sesuatu yang penting yang pengen diomongin sama aku. Wah, dia mo nembak kali ya, pikirku gila.
Aduh, to the point aja deh Mik, ayo buruan gue udah gak sabar ni lo tembak, hatiku sudah berteriak-teriak ingin ditembak.
Aku cuma senyum-senyum simpul aja dengerin semua kata-kata Miko. Aku gak ngerti harus ngomong apa.
“Ra, lo sayang sama gue
Aku terbelalak, aku bingung mau jawab apa. Aku cuma bisa mengangguk pelan. Miko langsung melukiskan senyum senangnya. Semacam dia merasa lega gitu.
Siip dahhh, batinku.
“Rara, kalo lo sayang sama gue berarti lo mau dong bantuin gue?”.
Ooow aku ngerasa ada yang salah neh, bantuin apa? Kalo jadi pacarnya dia, berarti bantuin dia kali ya… hehehe…
“Emang bantuin apaan, Mik?”, tanyaku balik dengan nada agak terbata-bata.
“Aku bingung, harus mulai darimana ngomongnya. Tapi gue percaya ama lo Ra, gue harap lo bisa bantuin gue”.
“Iya, soal apa Mik??”, aku mengulang pertanyaanku.
“Emmm, bilang ke Rian, kalo gue suka sama dia, gue mau dia jadi pacar gue, please ya Ra…”, Miko bercerita dan mengucapkan kata-katanya dengan penuh kehati-hatian.
Aku rasanya mau pingsan, tenggorokanku tercekat. Aku melotot semelotot-melototnya. Speechless gitu deh pokoknya. Aku gak mengeluarkan satu kata pun, jangankan kata, decakan atau desahan pun enggak. GILA!!!!
“Dari dulu gue dah suka banget sama Rian, tapi gue bingung cara deketinnya gimana. Begitu ada kesempatan buat kenal lo dan gue tau kalo lo temen deketnya Rian aja bukan pacarnya, akhirnya gue yakin gue bisa jadian sama dia. Thanks banget Ra, selama ini lo udah bikin aku deket sama Rian. Dia pasangan ideal buat gue”, lanjut Miko dengan menggebu-gebu.
Gila, ideal. Gue harus bilang lo apa Mik? Lo gay? Gue gak sampe hati nyebut lo kayak gitu. Gue suka sama lo, gue sayang sama lo, terus gue harus gimana.
“Mau lo apa Mik?”, Aku baru bisa membuka mulutku setelah sekian menit.
“Temuin gue sama Rian, gue mau nyatain cinta gue sama dia”, pintanya.
Gila, emang Rian mau. Aduh, masa temen gue ditaksir gay juga sih. Oh My God, my best friend is my best rival neh kayaknya…
***
“Yan, gue gak tau deh harus gimana sama lo. Kayaknya emang takdir gue cuma jadi comblang lo aja!”
“Maksud lo…?”, Rian bengong.
“Miko gak suka sama gue, Miko gak bakalan nembak gue!! Tapi dia suka sama lo dan bakalan nembak lo. Ini serius Yan!!!!”, aku dah emosi banget, gak ngerti harus gimana lagi. Setelah ngomong semua ke Rian, aku langsung pergi ninggalin dia dan berharap dia gak gay juga karena selama ini dia selalu ilfil sama cewek-cewek yang ngedeketin dia. Sumpah, aku shock banget dengan kenyataan hidup yang harus aku hadapi. Menurut kalian aku harus gimana lagi… life must go on man!!!!
PS: Apa benar kita terlalu naïf dalam melihat dunia, seperti Rara??
Thursday, June 15, 2006
negeriku yang menangis
baru saja negeri ini bangkit dari derita tsunami....
baru saja bisa berjabat dari keruhnya perang saudara....
baru saja peringatan kerintihan rakyat tujuh tahun lalu itu selesai....
bersyukur masih diberi umur....
bersyukur masih ada rezeki...
tapi apa lupa juga dalam do'a....
tak kusebut semua saudara dan makhluk Tuhan di seluruh semesta....
hingga lagi bencana ada....
mohonkan lagi perlindungan....
hentikan hujat untuk saudara kita sendiri....
perih....pedih....sakit....dan...NELANGSA....!!!!
cuma ini kah yang bisa diberikan untuk hidup yang disini,saat ini dan esok....?????
Bali kita sudah sekian terenggut....
Aceh dan Toba tersambar....
kini pun Jogja porak poranda....
relakah apa yang indah kau lihat kian menyusut....hilang...dan LENYAP....
apa arti syukur...
apa yang bisa diperbuat dengan syukur...
Rob...lindungilah kamiyang tak ada daya ini....
tunjukkan arah di jalan-Mu....
hmmmm.... miris banget emang denger n ngeliatnya....
kita bisa apa saudara...
berikan hatimu untuk dia, aku, mereka dan kita semua....
berikan senyummu untuk dia, aku, mereka dan kita semua...
aku.....hhhhh...hhhhh
cuma tau, yang sudah, tak akan kembali....
tapi kita masih punya besok, lusa dan masa depan....
Saturday, June 03, 2006
hello....
it's my first join...
akhirnya, aku sempat juga membuatnya...
semoga lain hari bisa tetap ada dan memberi arti...
see ya... ;p