Wednesday, October 24, 2012
Dari Mas Piyu
Ku Tak Salah Melepasmu
Piyu feat Anji
Pelan-pelan ku benamkan pikiranku
Bahwa akupun tak salah melepasmu
Selamat tinggal kisah indah bersamamu
Selamat tinggal cinta yang sudah berlalu
Sempat kurasakan sepi
Tapi ternyata hanya pikiranku saja
Masih banyak pilihan ada di depan mata
Ku tak salah melepasmu
Oo ku tak salah melepasmu
Lambat-lambat waktu makin memacuku memacuku
Setidaknya aku masih mengingatmu
Selamat tinggal kisah indah bersamamu
Selamat tinggal cinta yang sudah berlalu
Sempat kurasakan sepi
Tapi ternyata hanya pikiranku saja
Masih banyak pilihan ada di depan mata
Ku tak salah melepasmu
Oo ku tak salah melepasmu
Lambat-lambat waktu makin memacuku memacuku
Setidaknya aku masih mengingatmu
Selamat tinggal kisah indah bersamamu
Selamat tinggal cinta yang sudah berlalu
dicopy dari sini
Ehem... akhirnya... saya bisa dengerin lagu ini sampe abissssss.... :D Dari awal aja saya udah sukaaaa bangeeetttt.... Tapi di soundcloud-nya Kak Anji cuman di-upload separuh lagu aja. Dan tadi saya iseng searching, bisa dengerin dari sini xixixixixi.....
Ini lagunya Mas Piyu berasa ada ceritanya banget deh dari yang pertama dulu, dan sekarang waktunya dia ngajakin move on... ehehehehe... ciaaaaapp... Mas Piyu ini memang baik banget yaahhh... :D
Cobain ya... kalian dengerin jugaa... dan mudah-mudahan sukaa... seperti saya... ;)
Saturday, October 06, 2012
Maaf Tuhan, Tentang Semalam
Malam diiring hujan tanpa perhentian. Aku merasa dingin, beku, kemudian membisu. Seakan tak mampu menahan sesak yang terus mendesak. Iya, seperti ada yang menghunus jantung. Aku tak lagi peka terhadap do'a ataupun kalimah sakti yang mestinya aku rapal. Aku seperti dibunuh pelan-pelan. Merasakan sakit yang tak lagi mampu aku tahan.
Malam diiring hujan tanpa perhentian. Aku merasa dingin, beku, kemudian membisu. Seakan langit begitu gelap, pekat. Gemuruh pun enggan peprgi. Menyaksikan aku yang terlunta dalam ketidakberdayaan. Aku berdiri. Namun kau tahu? Hatiku lumpuh. Beruntung tubuhku tak kemudian rubuh, terjatuh.
Malam diiring hujan tanpa perhentian. Aku merasa dingin, beku, kemudian membisu. Aku bersimpuh. Membiarkan air hujan jatuh memukuli tubuh. Tak lagi mampu aku menahan air mataku. aku ingin berteriak, memanggil nama-Mu. Mendekat pada-Mu, berlindung di peluk-Mu. Mungkin benar, aku melupa-Mu. Maafkan Aku.
Malam diiring hujan tanpa perhentian. Aku merasa dingin, beku, kemudian membisu. Aku beri ruang hatiku untuk bercerita pada-Mu. Tentang semuanya. Semua yang terlanjur aku anggap luka. Segala yang telah Engkau tentukan untuk menyempurnakan imanku. Maaf, aku baru bisa memahami itu. Tuhan, aku tahu Engkau tak pernah enggan menuntunku lagi. Aku, tak lagi ingin, salah memahami. Tentang Semalam.
Malam diiring deras hujan tanpa perhentian
Aku merasa dingin, beku, kemudian bisu
Antara perih, sesak, serta lelah yang mengerak
Fatwa luka macam apa?
Tuhan, terlambatkah aku menyapa?
Untuk bercerita panjang Pada-Mu
Hingga habis semua keluh yang aku punya
Aku tersesat dalam penat
Nafasku pun tersengal menahan sesak
Tuhan...
Entahlah, rupanya aku melupa-Mu
Namun, aku masih ingin di peluk-Mu
Tuhan...
Aku renta pada luka
Namun, tetaplah tak mampu mengakrabinya lama-lama
Gagalkah aku sebagai manusia-Mu?
Sungguh, aku tahu, bahkan meyakininya
Engkau tak pernah merenggangkan peluk sekalipun
Menyeka semua air mata luka yang tumpah bagai bah
Aku boleh memohon satu, Tuhan?
Lebih dekatkan aku pada-Mu
Agar aku tak sempat lagi melupa-Mu
Meski tengah melumpuh kuasaku
Sunday, September 30, 2012
Menghilanglah Lagi
Bahkan siluetnya pun masih aku kenali dengan baik. Apalagi punggung tegaknya, sepasang lengan kokoh yang... ah... sudahlah. Aku tak perlu memastikan wajah pemilik siluet itu. Aku sangat yakin. Bahwa itulah dirinya. Ia yang masih mengisi desakan-desakan rindu. Rindu yang bertuan namun tak mungkin aku kirimkan.
Kamala menghela nafas panjang. Jemarinya ia genggam sendiri. Menahan getar yang entah sudah ia tahan berapa ratus detik. Kali ini ia menyelesaikan tegukan terakhirnya, dari gelas ke dua air mineral yang sengaja ia ambil di meja prasmanan.
Anggita datang menghampiri. Kamala tampak kikuk, kemudian melukis senyum yang diusahakannya menjadi senyum terbaiknya malam itu.
"Kamu kenapa, Kamala? Ayolah bergabung dengan yang lain. Katamu kamu ingin bertemu dengan orang baru, yang mungkin saja berjodoh denganmu". Anggita menarik lengan Kamala. Kamala menyambutnya dengan malas dan sedikit menahan.
Ini reuni. Artinya kita bisa bertemu dengan masa lalu. Bukan jebakan, ini kenyataan. Mungkin, akan menguji kejujuran dan kekuatan hati mengahadapi apapun.
Kamala, berdiri diantara kerumunan teman-teman SMA-nya. Mereka tertawa, mengenang semua yang terjadi di masa lalu. Kamala, beradu dengan dirinya sendiri. Berbicara dengan hatinya. Menuruti perasaannya yang katanya sudah pekat, bahkan memandang pun menyesak. Kamala tampak begitu mengatur segala sikapnya. Hingga mengatur jarak pandang kepada tamu-tamu yang hadir.
Namun, mungkin Tuhan yang telah menggerakkannya. Pandangan Kamala menumbuk satu wajah yang sejak tadi ia hindari. Pemilik wajah itupun tersenyum. Kamala membalas dengan malas. Kamala tak menampik, sebuah lengan lain menggamit lengan sang pemilik wajah. Seorang teman di jaman sekolahnya, yang tidak begitu ia kenal. Dan kenyataannya, Kamala justru mengenal baik sang pemilik wajah. Pemuda dengan sepasang lengan kokoh yang menjerat Kamala dalam sebuah ingatan.
"Nanti ada acara nemenin temen reunian"
Itu kalimat yang kemudian terngiang di kepala Kamala. Satu kaliamat diantara panjangnya pembicaraan dengan Rama di kotak chatting.
Bahkan Kamala pun tak sempat menduga bahwa ia akan melihat dengan mata kepalanya sendiri, seorang Rama menjadi salah satu tamu dalam acara reuni sekolahnya.
Sungguh, tak ada yang tahu bahwa, Parama adalah teman dekat Kamala selama bertahun-tahun. Mereka jarang bertemu. Namun, dunia maya selalu menjadi ruang yang luas bagi pertemuan mereka.
"Sudahlah, kamu harus bisa mengurus dirimu sendiri, tanpa aku", kata Rama santai, menyudahi pembicaraannya dengan Kamala.
Kamala tetiba tersedak, nyaris makanan yang ada di dalam mulutnya bubar keluar, "Maksud kamu?"
"Kamu harus bisa mengurus impianmu sendiri", lanjut Parama.
Lihatlah Parama yang awalnya begitu sayang pada Kamala, kini memilih pergi darinya. Ia adalah penyokong semangat terbesar untuk Kamala selama ini. Teman brain storming yang sangat bijaksana dalam penyelesaian naskah novel-novelnya. Sekarang tak ada lagi. Ia pergi. Bukan sekadar menjauh, bahkan menghilang.
Dari semua akun sosial medianya pun, Rama tak bisa ditemui. Kamala menyerah. Percuma saja menantikan sesuatu yang sudah tak mungkin ia raih. Parama sudah bahagia dengan hiupnya. Mungkin. Begitupun Kamala, jalan hidupnya masih panjang.
Hingga malam itu, Kamala tak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan. Sebuah email dengan pengirim Parama ia terima. Rama menyapa, bercerita, seakan tak pernah ada luka diantara mereka. Entah bagaimana, Kamala larut dalam keterkejutannya dan terus menyelam dengan segala pertanyaan, kabar dan segala kisah Parama.
Seperti ingin membayar kesalahannya, Parama memperbaiki hubungannya dengan Kamala.
"Mungkin aku salah besar padamu. Semoga masih ada kesempatan untuk mengembalikan niat baikku", kata Rama malam itu.
Kamala, memang tak lagi berharap besar kepada pemuda yang sekarang ada di hadapannya. Ia masih takut sakit itu menyapa lagi. Kamala hanya tersenyum.
"Terserahlah dengan niat baikmu yang seperti apa. Aku tak lagi berani jatuh cinta kepada yang belum muhrimku". Seakan ada yang mendikte Kamala menimpali Parama.
Bukannya mudah Kamala berhadapan kembali dengan Parama. Ia berusaha kuat membatasi segala perasaannya kepada Parama. Ia tak mau jatuh di lubang yang sama, sekali lagi. Kamala mencoba berfikir lebih positif dan percaya kepada Parama meski tak sepenuhnya.
Sayangnya, acara reuni itu justru menghunus jantungnya sekali lagi. Dari sekian cerita Parama yang menyebut dirinya masih juga sendiri, Kamala justru menyaksikan kenyataan lain. Kamala tak marah kalaupun Parama pergi dengan siapa saja. Tapi, semua temannya pun tahu bahwa Parama adalah kekasih perempuan yang ia lihat menggamit lengan Parama.
Ada dendam apa kau padaku, Rama? Sampai di titik mana kau akan mengakhiri semua ini?
Aku tak pernah tak rela kamu bahagia. Dengan siapapun. Dengan cara apapun.
Tolong jangan sekat satu takdir terbaikku hanya dengan prasang-prasangka burukku padamu.
Jika luka yang pernah kusemat di jantungmu tak lagi bisa sembuh, kau boleh benci aku dengan caramu. Namun tidak dengan menyiksaku, membunuhku perlahan, tapi pasti.
Parama, Tuhan Maha Melindungi. Aku... dan juga kamu. Bertemanlah dengan-Nya. Agar ada cara yang lebih baik untuk menyelsaikan semuanya.
Kamala menekan tombol "send". Email untuk Parama telah terkirim. Namun entahlah, kapan terbaca oleh Parama. Atau bahkan justru Parama memilih untuk tak membacanya. Kamala membiarkan pikiran itu menghilang. Meski pelan tapi pasti. Kamala memilih lupa. Membiarkan gemuruh langit melumat segalanya. Membiarkan hujan mengguyur tubuhnya senja kali ini. Tanpa jingga.
Wednesday, September 19, 2012
Aku Titip Salam
Kepada malam,
aku titip salam..
Untuk yang selalu menanti hujan dan rindu pulang..
Kepada malam,
aku titip salam..
Untuk yang tak kasat mata, tak mau tunjuk hidungnya sendiri..
Kepada malam,
aku titip salam..
Untuk sepasang telinga yang terus merindu kabar dari seberang laut jawa..
Kepada malam,
aku titip salam..
Untuk sekarung tawa yang tersimpan menanti temu bahagia..
Kepada malam,
aku titip salam..
Untuk yang sedang merasa bukan siapa-siapa..
Hei..take my hands..
Mari, main layang-layang..
Kemudian, kita terbang dan tertawa-tawa..
Kepada malam,
aku titip salam..
Untuk semesta yang merekam semua cerita..
Aku..kamu..dia..mereka..
Semuanya..
Cinta..
aku titip salam..
Untuk yang selalu menanti hujan dan rindu pulang..
Kepada malam,
aku titip salam..
Untuk yang tak kasat mata, tak mau tunjuk hidungnya sendiri..
Kepada malam,
aku titip salam..
Untuk sepasang telinga yang terus merindu kabar dari seberang laut jawa..
Kepada malam,
aku titip salam..
Untuk sekarung tawa yang tersimpan menanti temu bahagia..
Kepada malam,
aku titip salam..
Untuk yang sedang merasa bukan siapa-siapa..
Hei..take my hands..
Mari, main layang-layang..
Kemudian, kita terbang dan tertawa-tawa..
Kepada malam,
aku titip salam..
Untuk semesta yang merekam semua cerita..
Aku..kamu..dia..mereka..
Semuanya..
Cinta..
Sepetak Ingat
Sepetak ingat yang
tersekat satu purnama
Tentang sepasang mata tajam yang sanggup membungkamku lebih dari 3600 detik
Sepetak ingat yang tersekat satu purnama
Tentang sepasang lengan yang masih tetap kokoh ketika merengkuhku meluruh pedih kala itu
Sepetak ingat yang tersekat satu purnama
Tentang senyum yang memendar suka menarikan kupu-kupu dalam perutku
Sepetak ingat yang tersekat satu purnama
Tentang pemilik sebuah nama.. Kamu..
Tentang sepasang mata tajam yang sanggup membungkamku lebih dari 3600 detik
Sepetak ingat yang tersekat satu purnama
Tentang sepasang lengan yang masih tetap kokoh ketika merengkuhku meluruh pedih kala itu
Sepetak ingat yang tersekat satu purnama
Tentang senyum yang memendar suka menarikan kupu-kupu dalam perutku
Sepetak ingat yang tersekat satu purnama
Tentang pemilik sebuah nama.. Kamu..
Ah, Kita
Aku biarkan gemintang
menari
Mengiring tawa kita
Menyeruak gulita
Ah, kita
Aku biarkan bibirmu menari
Melagu cerita
Aku tamatkan
Aku pahamkan
Ah, kamu..
Ini guratan rindu
Yang tak pernah semu
Hingga kau pun tak berhenti meramu
Setiap suka dalam tatap yang bertemu
Ah, aku...
Mengiring tawa kita
Menyeruak gulita
Ah, kita
Aku biarkan bibirmu menari
Melagu cerita
Aku tamatkan
Aku pahamkan
Ah, kamu..
Ini guratan rindu
Yang tak pernah semu
Hingga kau pun tak berhenti meramu
Setiap suka dalam tatap yang bertemu
Ah, aku...
Saturday, September 15, 2012
Sampai Jumpa, Bayu
"Kamu balik lagi ke Jakarta kapan?" tanyamu siang itu.
"Nanti sore", jawabku.
"Ya udah, nanti aku anterin ya.. Naik pesawat juga kan?" lanjutmu.
"Iya, eh tapi aku udah pesen travel kok. Daripada kamu repot-repot nganterin aku segala", tapi sepertinya kamu memilih tak mendengarkan alasanku.
"Batalin aja travelnya, aku mau nganterin kamu ke bandara".
Entah kenapa dengan mudahnya aku menuruti semua katamu. Mulai dari membatalkan travel, sampai mengijinkan kamu mengantarku sampai ke bandara.
Sepulang dari pesta pernikahan Ambar dan Dani, kamu memilih untuk terus melanjutkan perjalanan, bersenang-senang katamu. Kamu, aku, Arga, dan Enggar. Ya, kita mengunjungi tempat-tempat yang sering kita kunjungi di jaman kuliah dulu.
Aku tak ingin bertanya apa-apa, yang aku tahu, semburat tawalah yang aku lihat saat itu. Semoga benar, kita sungguh-sungguh berpeluk suka... :)
"Buruan pulang yuk... aku belum packing nih..." ajakku setelah menyelesaikan suapan terakhir semangkuk es campur di kedai favorit kita.
" Iya nih, kayaknya sebentar lagi juga hujan", gayung bersambut, Arga mengiyakan ajakanku.
Padahal, biasanya cuaca tak mendung seperti hari itu. Itu juga menurut ceritamu. Jadi, kenapa hari tiba-tiba mendung dan langit seakan tak mampu menahan tangisnya. Ah, mudah-mudahan karena ia bahagia, melihat kita bahagia. Ehmmm.. kamu... iya, melihat kamu bahagia.... bertemu kembali denganku. Aku mengikik dalam hati. Kamu lucu sekali, aku hanya bisa membatinnya.
Setelah mengantar Arga dan Enggar, kamu mengantarku pulang, menungguku packing, dan siap mengantarku ke bandara.
Perjalanan kali ini ditemani langit sore dengan gerimisnya. Kemudian menderas. Aku pun nyaris beku di dalam mobil yang kamu kendarai. Kamu menatap jalanan dengan begitu serius, sepertinya pandanganmu mulai terganggu gerimis yang kian deras itu. Aku, berada di sampingmu, diam. Mungkin, tanpa sadar aku telah membeku.
Sesekali kamu menatapku, aku cuma bisa tersenyum.
"Ini benar-benar tanpa logika" keluar juga suaramu setelah tarikan nafas panjang yang terdengar jelas di telingaku.
"Maksudnya?" tanyaku yang tak mengerti sekali.
"Iya, yang aku lakukan sekarang ini, nggak ada logikanya", lanjutmu.
"Mmmm... nganterin aku maksudnya?" tanyaku lagi.
Kamu mengangguk. Pasti.
Kemudian ingatanku berlari ke belakang, pada waktu-waktu yang panjang. Masa-masa yang mungkin sangat indah untuk dikenang.
"Kamu nggak nyanyi-nyanyi lagi?" tanyamu tiba-tiba.
"Haaa? Nyanyi apa?" aku malah balik bertanya.
"Yang dari tadi kamu nyanyiin laahh..." jawabmu santai.
Aku mengernyit, "Apaan sih?"
"Yaaahhh... malah lupa... itu yang tadi...." lanjutmu sambil cengar-cengir.
Aku pun terbahak ketika menangkap apa yang kamu maksud. Iya ya, kenapa juga harus lagu itu yang keluar. Ah....
Ijinkan aku.. untuk terakhir kalinya...
Semalam saja bersamamu...
Mengenang asmara kita....
(Berharap Tak Berpisah - Reza Artamevia)
"Kamu ingat, Bay?" tanyaku dalam hati. Aku tersenyum kecil. Dan kamu, justru terus memerhatikan aku. Ah, Bayu...
"Kenapa lagu itu, Luh?" tanyamu.
Aku tak bisa memberikan jawaban apa-apa. Aku menggeleng.
"Galuh, jadi jawaban apa yang akan kamu berikan pada lelaki yang melamar kamu itu?" tiba-tiba kamu menanyakan sesuatu yang aku tak pernah ingin bahas, ketika aku hanya ada denganmu.
Aku mengambil sebuah boneka lumba-lumba yang ada di dashboard mobilmu.
"Itu buat kamu Galuh, bawa aja. Kamu suka ikan, kan?"
"Enggak ah, ini pasti punya adik kamu.. hehehe.." aku menimpali, mencoba meruntuhkan kaku yang tetiba membelenggu.
"Sejak kapan aku lupa bahwa kamu suka semua hal tentang ikan".
Mobil yang kamu kendarai memelan, kemudian berhenti di belantara parkiran. Ya, kita sampai di bandara. Artinya, perjumpaan kita kali ini, sampai di sini saja.
Tetiba handphone kamu berbunyi. Kamu menatapku sebelum kemudian menjawab telepon itu.
"Halo..."
Entahlah pertanyaan apa dari si penelepon, aku hanya mendengar sederet kalimat jawabanmu.
"Lagi nganter ke bandara,"
"Eemm... nganterin... kekasihku yang dulu".
Deg.
Aku belum pernah mendengar kata-kata seperti itu sebelumnya, Bayu.
Maaf Bayu...
Katamu, kita harus saling merelakan. Harus kuat dengan segala ketetapan Tuhan. Bayu,waktu itu kita sedang diijinkan. Entah kapan lagi... sampai hati akan bertaut, entah diantara aku dan kamu, atau bukan.
Sampai jumpa, Bayu....
Labels:
#30HariLagukuBercerita,
melepaskan,
tentang kamu
Wednesday, August 29, 2012
Jangan Khawatir, Ayah
Mungkin ini malam kesekian Maya merindu. Entah kepada siapa. Mungkin saja... kepada apa. Sepertinya sih lebih tepat ia merindu pada sesuatu. Ia duduk di sudut ranjang, membolak-balik sebuah album foto. Sesekali Maya tersenyum. Kemudian, sesekali ia pun cepat-cepat membalik lembar-lembar foto.
Kemudian Maya kembali menatap meja, dimana dua buah buku dan sebuah majalah berjajar disana. Iya, buku yang diterbitkan dengan nama Maya sebagai penulisnya. Sebuah perjuangan panjang yang ia lalui untuk mewujudkan impiannya. Dan, di majalah itu pun, artikel yang ia tulis kini akan dibaca sekian pasang mata. Bukan decak kagum yang ia nantikan, tapi memanglah sebuah kepuasan baginya saat mampu bercerita dan menyampaikan banyak hal yang ada di kepalanya. Maya menyebutnya, berbagi.
Bukunya, satu judul tentang puisi-puisi yang sering ia tuliskan atas nama cerita tentang cinta, kebebasan, serta perjalanan. Satu lagi, tentang cita-cita, yang ia bagi untuk para remaja. Ah, sederhana bukan? Tapi tahu kah? Maya selalu bahagia dengan apa yang dimilikinya, saat ini dan seterusnya. Semoga.
Maya memeluk album foto yang sejak tadi masih ada di genggamannya. Maya memejam. Dan, senyum ikhlasnya mengembang saat itu juga.
"Yah, Maya cuma ingin belajar. Maya ingin belajar dengan menulis," rajuk Maya kepada Ayah malam itu. Ayah keberatan atas pilihan Maya untuk menjadi penulis dan meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang karyawati di sebuah perusahaan swasta.
"Kamu yakin dengan keputusan kamu? May, ayah sudah tidak bekerja lagi, mungkin ayah tak bisa membantumu sewaktu-waktu nanti," ayah mencoba menasihati Maya.
"Ayah, penulis itu juga pekerjaan kan? Tak ada yang perlu ayah khawatirkan. Mudah-mudahan Maya sanggup bertanggung jawab atas pilihan Maya," jawab Maya mantap.
"May, kehidupan ini mungkin permainan. Tapi bukan berarti kita bisa main-main dengan sebuah keputusan, Nak," ucap Ayah lebih serius. Menatap lekat-lekat putri perempuan satu-satunya itu.
"Maya tak pernah main-main, Yah. Maya serius, dan berjanji akan memperjuangkannya," Maya mendekat, duduk di sebelah ayah dan merangkul lengan ayahnya.
Ayah hanya terdiam, seraya membenamkan kepala Maya dalam pelukannya.
"Kalau nanti Maya sudah di Jogja, ada Kak Awan dan Bayu yang akan menjadi teman cerita ayah setiap sore. Kalau ayah kangen, ayah bisa kok telepon Maya kapan aja. Nanti Maya pesan juga sama Mama, kalau harus memasak menu istimewa buat ayah setiap akhir minggu, hehehehe...." celoteh Maya berusaha membuat ayahnya tenang dan tidak mengkhawatirkannya.
Ya, memang Maya memilih untuk magang di sebuah penerbitan kecil di Jogja, milik kakak kelasnya ketika kuliah. Maya yang mencintai menulis, bertekad mendalami ilmu kepenulisan di penerbitan itu. Menjadi asisten editor, dengan gaji yang tidak seberapa. Bahkan, untuk tempat kos saja, Maya harus rela berbagi dengan seorang temannya lagi.
***
Ini Hari Minggu. Jam sepuluh pagi. Telepon genggam Maya terus berdering tak berhenti. Sang empunya masih lelap dalam tidurnya dan justru menelungkupkan bantal di telinganya. Sebentar saja dering itu berhenti. Berganti dering pesan singkat berkumandang. Maya sekalipun tak memedulikan telepon genggamnya.
Seperti sudah menjadi kebiasaan, Maya hanya membalas cepat pesan singkat tentang pekerjaan. Pun begitu dengan telepon darurat, semuanya Maya utamakan untuk pekerjaan. Jangankan pacar, keluarga pun kerap ia nomor sekiankan.
***
"May, tuh ada paket dari Jakarta. Makanan lagi deh kayaknya," Gea, teman Maya mengabarkan berita yang menurutnya bagus. Dan, selalu sambil cengar-cengir.
"Ya udah, buka aja, pasti juga kamu yang kepengen ngabisin, hahaha..." Jawab Maya santai. Disambut kerlingan mata Gea yang kemudian membuka bungkusan. Bisa dipastikan isinya makanan, dari ayah Maya.
Karena Maya jarang pulang dan ayah juga tak sempat berkunjung ke Jogja, ayah selalu mengirimkan makanan-makanan kesukaan Maya. Katanya, biar Maya semakin semangat. Ah, tapi nyatanya, yang semangat menghabiskan makanan juga teman-teman kantornya.
Sekarang, sudah genap satu tahun Maya meninggalkan ayah yang begitu mengkhawatirkannya. Waktu yang singkat mungkin bagi Maya, karena ia lebih banyak disibukkan dengan segala urusan pekerjaannya. Tapi, bagaimana dengan ayah? Apakah ini juga waktu yang singkat?
Ternyata tidak. Dalam setiap pesan singkatnya, ayah selalu mengatakan sangat merindukan Maya, karena sudah begitu lama tak bertemu. Tak mendengar tawa Maya yang ceria. Tak ada lagi sore yang penuh cerita. "Nggak, ayah nggak pernah bosan dengar cerita Maya. Malah selalu seru," jawab ayah sambil terkekeh. Menjawab pertanyaan Maya yang khawatir ayahnya akan bosan mendengar semua ceritanya sepulang kerja. Namun, selama jauh dari ayah, Maya tak begitu banyak punya waktu untuk bercerita dengan ayah.
***
Maya mengambil sebuah buku besar dan tebal dari rak bukunya. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Iya, itu kado ulang tahun dari ayah. Ayah yang membeli khusus untuknya, karena Maya tak suka selalu diberi baju ataupun boneka-boneka yang sudah semakin membuat kamarnya sesak.
Begitupun dengan sebuah tape recorder. Oleh-oleh dari ayah ketika tahu Maya menyukai korespondensi. Betapa senang ketika Maya menerima hadiah-hadiah itu. Mungkin, tak penting bagi orang lain yang tak membutuhkannya. Tapi ayah tahu, Maya sangat membutuhkannya. Dan pastinya, Maya menyukainya.
Kini Maya duduk di hadapan meja, dimana dua buah buku dan sebuah majalah berjajar disana. Kembali dibukanya album foto kesayangan yang sengaja ia bawa untuk mengobati rindunya kepada ayah, mama, Kak Awan, dan Bayu. Maya tahu, betapa sayangnya ayah padanya. Kekhawatirannya bukan karena tak suka. Itu tanda ayah sayang pada Maya, selalu peduli dengan keadaan Maya.
Ah, aku terlalu sering mengesampingkan segala urusan tentang ayah. Tapi, aku bisa semakin semangat juga karena dukungan ayah. Ayahku adalah ayah hebat. Ayah pendengar yang baik. Ayah kemudian memahami semuanya. Dan....membuktikan dukungannya.
Maya mengemas buku-buku dan majalah di atas mejanya. Dimasukkannya ke dalam ransel yang telah dipersiapkannya. Maya akan pulang besok pagi. Ke rumah ayah. Membawakan kejutan untuk ayah. Ayah tidak akan pernah sia-sia dengan dukungannya. Tuhan mengemasnya dengan indah. Menghadiahkan impian Maya yang sekarang menjadi nyata. Sederhana, tapi indah. Lewat dukungan dan do'a ayah.
Love you, Dad....
Saturday, August 11, 2012
I Remember :)
I remember.. The way you read your books,
yes I remember
The way you tied your shoes,
yes I remember
The cake you loved the most,
yes I remember
The way you drank you coffee,
I remember
(I Remember - Mocca)
Ada yang menari-nari di kepalaku
Ingatan yang berirama, tentang kamu
Meliuk-liuk mencumbui senyumku
Apa kabar, kamu?
Ingatkah juga pada tawaku?
Juga serangkum cerita yang bercelah desahku
Aku, kamu
Kala itu.....
And the way you smile at me,
yes I remember
You Turn My Whole Life So Blue
You did it again
You did hurt my heart
I don't know how many times
(You - Ten 2 Five)
Yeaaahh... ini lagu yang sempat membuat saya melakukan pengereman mendadak, tadi pagi, sebalik siaran. Hahaha.. bagaimana tidak, bait pertamanya aja langsung... langsung nujeb...
Kemudian saya terseret pada sebuah ingatan tentang malam itu. Ketika menyanyikan lagu ini pun saya sudah tak sanggup. Maka, saya hanya mampu terdiam, dan mendengar dua sahabat saya yang bernyanyi... untuk saya.
Mungkin, kalau saya sendiri yang menyanyikannya, mungkin sofanya bisa langsung basah. Bahkan saya harus rela cardigan satu-satunya berubah fungsi jadi pengepel lantai. Hmmm akibat kelenjar air mata yang sudah tak sanggup menahan desakan psikis yang lumayan dahsyat. Maka akan tumpah layaknya air bah :D
You.. i don't know what to say
You've made me so desperately in love
And now you let me down
Nanti....
Biarkan saja sendiri...
Rasa itu pulang...
Pada hati yang ia cari...
You.. you turn my whole life so blue
Drowning me so deep.. i just can reach myself again
Silakan lanjutkan menyanyi.
Saya dengarkan... :)
Friday, August 10, 2012
Seharusnya, Aku Juga
"Halo," aku menjawab telepon darimu sore itu.
Kamu justru diam. Aku hanya bisa mendengar petikan gitar yang kamu mainkan. Hmm... aku tahu lagu apa yang sedang kamu mainkan... :D
Sudah selesai. Aku, masih terdiam.
"Halo, kok diam?" tanyamu kemudian.
Aku mengikik pelan. Mungkin, kalau aku ada di sebelah atau di depanmu, kamu sudah memberiku cubitan kecil di pipi. Ya.. beruntunglah, aku tak tampak di hadapanmu saat ini.
"Yaaahh.. udah dimainin penuh penghayatan juga... komentar kek..." tersulut juga protes dari mulutmu ya... :D
"Iya, bagus" jawabku enteng.
"Kamu lagi ngapain?" tanyamu lagi.
"Lah ini, lagi jawabin telepon kamu," jawabku.
Selanjutnya, aku bayangkan, kamu sudah melotot dan hendak menjewer telinga kecilku. Dalam hati aku terbahak. Oh, maaf.. :D
Romantis ya kamu. Tapi kadang aku sendiri mempertanyakan keberadaan perasaan dalam diriku sendiri. Hambar. Kenapa? Apakah ada yang salah? Atau, aku masih terlalu muda?
Ah, itu boyband kesukaan aku, lagunya juga. Kamu tahu itu. Lihat saja, pin up itu masih tertempel rapi di dinding kamarku. Darimu. Tapi... tak serapi perasaanku, padamu....
Karena, tetap saja hambar.....
You treat me like a rose
You give me room to grow
You shone the light of love on me...
(Like A Rose - A1)
Mungkin, seharusnya, aku juga....
Sayangnya.....
Ah, yang penting aku mengingatnya...
Mungkin, sampai lupa... :)
Kamu justru diam. Aku hanya bisa mendengar petikan gitar yang kamu mainkan. Hmm... aku tahu lagu apa yang sedang kamu mainkan... :D
Sudah selesai. Aku, masih terdiam.
"Halo, kok diam?" tanyamu kemudian.
Aku mengikik pelan. Mungkin, kalau aku ada di sebelah atau di depanmu, kamu sudah memberiku cubitan kecil di pipi. Ya.. beruntunglah, aku tak tampak di hadapanmu saat ini.
"Yaaahh.. udah dimainin penuh penghayatan juga... komentar kek..." tersulut juga protes dari mulutmu ya... :D
"Iya, bagus" jawabku enteng.
"Kamu lagi ngapain?" tanyamu lagi.
"Lah ini, lagi jawabin telepon kamu," jawabku.
Selanjutnya, aku bayangkan, kamu sudah melotot dan hendak menjewer telinga kecilku. Dalam hati aku terbahak. Oh, maaf.. :D
Romantis ya kamu. Tapi kadang aku sendiri mempertanyakan keberadaan perasaan dalam diriku sendiri. Hambar. Kenapa? Apakah ada yang salah? Atau, aku masih terlalu muda?
Ah, itu boyband kesukaan aku, lagunya juga. Kamu tahu itu. Lihat saja, pin up itu masih tertempel rapi di dinding kamarku. Darimu. Tapi... tak serapi perasaanku, padamu....
Karena, tetap saja hambar.....
You treat me like a rose
You give me room to grow
You shone the light of love on me...
(Like A Rose - A1)
Mungkin, seharusnya, aku juga....
Sayangnya.....
Ah, yang penting aku mengingatnya...
Mungkin, sampai lupa... :)
Hanya Ingin Bertanya
"Pertanyaan..." yang entah kenapa terkadang menjadi lebih berat daripada berton-ton beras yang harus dipanggul. Sesulit soal ujian yang materinya sama sekali tak ada di kepala. Atau bahkan lebih mengerikan daripada sebuah film horor berbumbu thriller yang begitu dahsyat. Ah, apalagi jika tanya dengan bumbu "beda", mmm meski sejumput saja.
Lalu, seharam apakah kemudian tentang "tanya dan beda" itu?
Saya sedang bertanya-tanya, tentang... kenapa orang tak boleh bertanya tentang keyakinan orang lain? Hmmm... iya, bagi sebagian orang, ini adalah hal yang seharusnya tidak terjadi. Tapi kenapa? Bukankah dengan bertanya, kita akan lebih mengenal, kemudian.... memahami....?
Apakah tak layak jika orang lain mengetahui bahwa kita pemeluk Islam, atau Kristen, Katholik, Hindu, Budha, ataupun keyakinan yang lain? Apakah itu mengganggu? Apakah itu akan memberikan akibat-akibat yang buruk? Atau, membuat kebebasan tak ada lagi?
Saya rasa, setiap jiwa berhak memilih tentang apa yang menjadi keyakinannya. Dan, oke, keyakinan adalah urusan vertikal yang personal kepada Yang Maha Pencipta. Tapi mengetahui satu sama lain adalah sebuah bentuk untuk saling memahami. Mudahnya begini, ketika kita tahu bahwa teman kita pemeluk Kristen misalnya, seandainya akan membuat janji kita boleh kan menanyakan, "Kalau Hari Minggu siang gimana? Kamu pulang gereja jam berapa deh?" Ya, paling tidak, kita tidak semena-mena dalam membuat janji. Atau, ketika yang di depan kita adalah seorang pemeluk Islam, ketika mendengar adzan, boleh lah kita katakan, "Adzan nih, kamu gak sholat dulu?" Lalu apakah itu juga salah? Bukankah mengingatkan dalam kebaikan juga sebuah anjuran?
Jadi, apa masalahnya? Sulit memberikan jawaban? Ya mudahnya dijawab saja apa adanya. Jika memang iya katakan iya, jika memang tidak, maka katakan tidak. Tidak semua pertanyaan akan menjurus pada hal-hal yang detil. Kadang semuanya hanya membutuhkan jawaban yang sederhana, agar lebih paham.
Mungkin kita perlu belajar dari hal yang simpel ya, misalnya, menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti berikut dengan jujur... apa adanya...
1. Sudah sarapan belum?
2. Kamu, udah punya pacar?
3. Maaf, apakah anda sudah menikah?
Semua pertanyaan itu, boleh dijawab dengan "BELUM". Kadang kita cenderung merasa inferior ketika mendapati diri kita berbeda dengan yang lain. Hei, Yang Maha Esa itu cuma Tuhan. Sedangkan yang diciptakan beraneka ragam adanya. Jadi, tidak sama itu, tidak nista. Termasuk, tentang keyakinan. Saya rasa, tidak ada yang salah jika tetap peduli kepada yang berbeda.
Kemudian, apakah kekhawatiran menjadi berlebih jika ternyata kita berbeda? Jadi tidak bebas lagi? Hei, semua bebas tetap berbatas. Kebebasan yang tak berbatas, cuma dimiliki oleh Tuhan. Ya, semua yang diciptakan, tetap memiliki batas, keterbatasan. Apakah itu mengerikan? Saya rasa tidak. Semua yang diciptakan memiliki peran.
Apalagi, ini tentang keyakinan, yang tak bisa dipaksakan. Semua merangkum tentang "perjalanan" berdekatan dengan Tuhan. Saya sih berharap, dengan datangnya pertanyaan-pertanyaan kepada kita, justru akan membuat kita lebih banyak belajar. Membuat kita menjadi semakin dekat, semakin paham, semakin mencintai, tentang semua yang kita yakini. Bahwasanya tak ada pemahaman tanpa penambahan atas pelajaran.
Lalu apalagi yang ditakutkan?
Tak ada perjalanan tanpa hambatan. Hanya karena ketakutan tentang ketidaksempurnaan sebuah keyakinan, justru semakin banyak hal yang kita sembunyikan. Hmm... hendaknya kita tetap bisa mengatakan, menanyakan, bahkan saling berbagi pelajaran, yang mudah-mudahan mampu meneguhkan keyakinan.
Jadi, nomor telepon kamu berapa? *Duh *Salah fokus :)) :))
Saturday, August 04, 2012
A Little Thing I Care, About You
Hmmm...speechless aja kalau denger lagu dari Dewi Lestari yang duet sama Rizky Alexa. Iya, yang judulnya "Peluk" itu. Mulai dari musiknya, kata pertamanya... dan semuanya....
Layaknya serangkum kata yang.... harus kuucap, padamu mungkin...
Entah dengan apa dan bagaimana...
Jika memang begini saja... :)
Lepaskanku segenap jiwamu
Tanpa harus ku berdusta
Kar'na kaulah satu yang kusayang
Dan tak layak kau didera
Dan kini...
Inginnya ku dimengerti...
Walau sekali saja...
Pelukku...
Layaknya serangkum kata yang.... harus kuucap, padamu mungkin...
Entah dengan apa dan bagaimana...
Jika memang begini saja... :)
Lepaskanku segenap jiwamu
Tanpa harus ku berdusta
Kar'na kaulah satu yang kusayang
Dan tak layak kau didera
Dan kini...
Inginnya ku dimengerti...
Walau sekali saja...
Pelukku...
Friday, August 03, 2012
Ingatlah Hari Ini
Momen bersama teman-teman, adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Apalagi kita bisa terbebas dari yang namanya pencitraan. Hag..hag..hag... Seperti yang dirasakan banyak orang, berada diantara teman-teman tercinta, saya bisa total maksimal dalam bersenang-senang.
Selain teman-teman yang lucu-lucu.. unyu-unyu... bagi saya, mereka adalah makhluk-makhluk ajaiiiiibbbb.... ciahahahaha..... ini berkah yang tak mungkin saya dustakan. Jujur saja, meski banyak saya lupa tentang pertemuan pertama, tapi saya selalu merasakan sensasinya... Gimana enggak, dalam keadaan susah senang, mereka itu nggak bisa di-skip ketawanya... hmmm terutama makannya... xiaxaxaxaxaa... *ditampol*
Bahkan, tanpa harus nonton stand up comedy... kita udah bisa bikin sit down comedy... Entah apa yang dibicarakan, yang jelas... selalu ada momen yang tak terlupakan...
Jadi, apakah saya mencintai teman-teman saya?
Saya jawab, IYA... dengan maksimal....
Insyaalloh... mudah-mudahan kita selalu berjodoh....
Jika tua nanti kita t'lah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini...
(Ingatlah Hari Ini - Project Pop)
Hmmm.... ini lagu kesayangan waktu karaokeehhhh.... dan saya selalu ingat ekspresi teman-teman waktu menyanyikan lagu ini.... unyuuuuuu......
Lebih unyu dari ini..... :))))))))))
Kamu sungguh berarti istimewa di hati...
S'lamanya rasa ini.....
Selain teman-teman yang lucu-lucu.. unyu-unyu... bagi saya, mereka adalah makhluk-makhluk ajaiiiiibbbb.... ciahahahaha..... ini berkah yang tak mungkin saya dustakan. Jujur saja, meski banyak saya lupa tentang pertemuan pertama, tapi saya selalu merasakan sensasinya... Gimana enggak, dalam keadaan susah senang, mereka itu nggak bisa di-skip ketawanya... hmmm terutama makannya... xiaxaxaxaxaa... *ditampol*
Bahkan, tanpa harus nonton stand up comedy... kita udah bisa bikin sit down comedy... Entah apa yang dibicarakan, yang jelas... selalu ada momen yang tak terlupakan...
Jadi, apakah saya mencintai teman-teman saya?
Saya jawab, IYA... dengan maksimal....
Insyaalloh... mudah-mudahan kita selalu berjodoh....
Jika tua nanti kita t'lah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini...
(Ingatlah Hari Ini - Project Pop)
Hmmm.... ini lagu kesayangan waktu karaokeehhhh.... dan saya selalu ingat ekspresi teman-teman waktu menyanyikan lagu ini.... unyuuuuuu......
Lebih unyu dari ini..... :))))))))))
Kamu sungguh berarti istimewa di hati...
S'lamanya rasa ini.....
Thursday, August 02, 2012
Siapa Gerangan Dirinya
Aku sayapnya, tambatan hatinya
Yang mengilhami tiap langkah hidupnya...
Begitu adanya dalam goresan pena..
Ia suratkan berkala untukku...
Tak sekalipun kujumpai dia...
(Siapa Gerangan Dirinya -Padi)
Setiap baitnya selalu bercerita, kepada saya, bersama sekian perjalanan.
Ini satu lagu dalam album ke-empat (kalau nggak salah :p) Padi. Entah kenapa, dari sekian lagu, judul ini yang begitu memikat. Bahkan mendengarnya diantara lelap, akan sanggup mencipta sesimpul senyum saya sendiri.
Ah, berlebihan ya?
Saya rasa tidak, nyatanya seperti ada yang menjerat saya melalui setiap nada dan liriknya. Lalu, saya pun selalu menikmatinya. Bahkan, sempat menjadi lagu kamar mandi yang wajib saya nyanyikan, hahahaha...
Kalau mendengar lagu ini, semacam ada yang bernyanyi untuk saya dengan sepenuh hatinya.. ;)
Saya jadi ingat, kalau lagi labil-labilnya, bisa mewek-mewek sendiri dengerin lagu ini. Duh, kebangetan yaa... :)
Mungkin, perlu bukti? kalau ingin mencobanya, dengarkan saja... :)
Hingga sampailah kau pada bait...
Aku nafasnya, mungkin pula nadinya...
Kan menjaga denyut jiwanya...
Berartinya aku di mata hatinya...
Tlah meniupkan cinta sejatinya...
Sungguh enggan dia merelakan aku...
Duuuhh.... meleleh bener pastinya.....
Hahaha... dan akan tetap saya nantikan, hingga suatu saat nanti ada kesempatan untuk saling menyanyikan lagu ini... Dengan pertemuan yang indah tentunya... :p
Mungkin..... denganmu... :)
Yang mengilhami tiap langkah hidupnya...
Begitu adanya dalam goresan pena..
Ia suratkan berkala untukku...
Tak sekalipun kujumpai dia...
(Siapa Gerangan Dirinya -Padi)
Setiap baitnya selalu bercerita, kepada saya, bersama sekian perjalanan.
Ini satu lagu dalam album ke-empat (kalau nggak salah :p) Padi. Entah kenapa, dari sekian lagu, judul ini yang begitu memikat. Bahkan mendengarnya diantara lelap, akan sanggup mencipta sesimpul senyum saya sendiri.
Ah, berlebihan ya?
Saya rasa tidak, nyatanya seperti ada yang menjerat saya melalui setiap nada dan liriknya. Lalu, saya pun selalu menikmatinya. Bahkan, sempat menjadi lagu kamar mandi yang wajib saya nyanyikan, hahahaha...
Kalau mendengar lagu ini, semacam ada yang bernyanyi untuk saya dengan sepenuh hatinya.. ;)
Saya jadi ingat, kalau lagi labil-labilnya, bisa mewek-mewek sendiri dengerin lagu ini. Duh, kebangetan yaa... :)
Mungkin, perlu bukti? kalau ingin mencobanya, dengarkan saja... :)
Hingga sampailah kau pada bait...
Aku nafasnya, mungkin pula nadinya...
Kan menjaga denyut jiwanya...
Berartinya aku di mata hatinya...
Tlah meniupkan cinta sejatinya...
Sungguh enggan dia merelakan aku...
Duuuhh.... meleleh bener pastinya.....
Hahaha... dan akan tetap saya nantikan, hingga suatu saat nanti ada kesempatan untuk saling menyanyikan lagu ini... Dengan pertemuan yang indah tentunya... :p
Mungkin..... denganmu... :)
Wednesday, July 18, 2012
Gak Cuma Satu
"Udah dari tadi?" tanyanya mengejutkanku.
Aku mendongak lalu nyengir. "Enggak kok, belum lama," jawabku sambil beranjak dari trotoar lahan parkir sebuah hypermart.
Sepertinya dia masih heran, dengan pilihanku menunggu di lahan parkir.
"Kenapa nggak masuk duluan?" tanyanya lagi.
"Aku nggak tahu tempatnya Mas, lagian kalau nungguin disini kan gampang nyarinya, hehe" jawabku.
Iya, hari itu, kami sama-sama memenuhi undangan untuk tes kerja di sebuah hypermart kenamaan di Surabaya. Tapi, kami berangkat sendiri-sendiri.
Jam 08.00 kami sudah siap di ruangan yang dijanjikan oleh pihak hypermart itu. Jujur, aku sedikit gugup, kondisiku sedang kurang baik saat itu.
"Itu bibir kamu kenapa?" ia kembali bertanya memecah hening.
"Oh, ini abis jatuh dari motor," jawabku sambil menunjuk luka di bibir dan sebaris gigi yang dipagar dengan kawat.
"Kapan?" lanjutnya.
"Kemarin Kamis. Jadi baru dua hari, makanya belum bisa keren kalau ngomong, hehe."
Dia tersenyum.
"Makanya Mas, aku deg-degan nih, nanti kalau jadinya aku nggak diterima atau nggak dibolehin ikut tes gimana?" keluhku.
Lagi-lagi dia tersenyum. "Udah, tenang aja, semuanya udah ada yang ngatur, dijalani aja," katanya teduh.
Lama, iya, kami menunggu cukup lama untuk masuk di ruang interview. Kadang kita saling diam. Kadang kita saling cakap. Ya, memang dia bukan orang yang banyak bicara. Dan, aku pun kurang pandai membuka pembicaraan.
Sebelum akhirnya namanya terlebih dahulu yang disebut, dia sempat bilang, "Ini kalau pertanyaannya teori semua, aku udah lupa," katanya sambil terkekeh.
"Sama Mas, apalagi kalau ada soal UUK atau psikodiagnostik yang aneh-aneh, lupa banget." Kami terkekeh, membuat beberapa kandidat lain menoleh ke arah kami.
Bayangkan, kami dua mantan mahasiswa, berijazah psikologi, yang justru males mikir psikodiagnostik. Hahaha... mahasiswa macam apa ini?!
Tak berapa lama, dia keluar, dan tibalah giliranku memasuki "ruang sidang". Jreeeengg... betapa tak dinyana, ini interview malah semacam ujian skripsi. Ada empat orang interviewer. Dengan suhu ruangan yang cukup disarankan untuk berselimut. Setelah melewati pertanyaan terprediksi, soal bibir, proses interview pun berjalan berakhir. Termasuk di dalamnya, penjelasan tentang UUK dan analisis tes gambar. Okesip. Jadi, ini sengaja diurutin sama sang kakak kelas, supaya tak ada kesempatan bertanya. -_-"
Aku keluar ruangan dengan langkah gontai. Ah, ternyata dia masih menunggu.
"Lama banget, kamu diapain aja di dalam?" tanyanya sambil senyum-senyum. "Kamu udah satu jam loh" lanjutnya.
"Nah iya kan Mas... berarti tadi aku nggak lancar tesnya, kelamaan. Ah, yaudah deh, palingan juga Mas yang diterima," cerocosku dengan mulut maju.
Dia malah cuma senyum.
Lalu kami berjalan, keluar dari gedung hypermart itu.
"Nggak usah sedih, kenapa harus menuntut sesuatu. Sudah ada yang mengatur," katanya lagi.
"Trus kalau nggak punya kerjaan gimana?"
Dia senyum.
"Tapi kita nggak boleh bergantung sama ijazah ya Mas," tiba-tiba aku mendadak agak pinteran.
Dia mengangguk.
"Tapi aku kan juga kepingin ngerasain kerja pakai ijazah Mas," kataku.
"Iya, tapi tes hari ini nggak boleh kita jadikan satu-satunya harapan."
Aku diam.
"Sebenernya passionku itu menggambar. Aku suka desain. Makanya aku di rumah coba merintis usaha konveksi, bareng temen-temen," lanjutnya.
"Trus kenapa Mas kuliah di Psikologi?" tanyaku.
"Ya waktu itu, rejekinya di situ. Psikologi juga menyenangkan kok.
"Trus kenapa Mas mau ikutan tes kerja ini?" tanyaku lagi.
"Aku kepingin menyenangkan hati orangtua. Siapa tahu, mendapat pekerjaan ini bisa bikin mereka senang," ucapnya sambil tersenyum.
"Iya ya Mas, kadang kesukaan kita belum tentu kesukaan orangtua."
Itu, terakhir kali aku bertemu dengannya. Bahkan setelah ternyata kami sama-sama tidak diterima, kami sudah jarang berkomunikasi, lewat telepon sekalipun. Ya, seperti katanya, kami sibuk berjuang dan membuka lembar-lembar harapan baru, yang tidak hanya satu.
Hingga tadi pagi, aku mendapat kabar, bahwa ia telah sampai pada akhir perjuangannya. Alloh menghendakinya untuk kembali pada-Nya. Menempatkan seorang yang baik hati dan rendah hati di sisi-Nya, di tempat terbaiknya.
Diantara teman-teman seangkatannya, dia lebih pendiam. Tapi baik hatinya, nggak pernah memihak kepada siapa-siapa. Tipikal orang yang ngemong dan nggak galak waktu ngospek... :)
Semoga segala kebaikan dan kerendahan hatinya bisa menjadi bekal untuk mendapatkan tempat terbaik.
Selamat Jalan... :)
Aku mendongak lalu nyengir. "Enggak kok, belum lama," jawabku sambil beranjak dari trotoar lahan parkir sebuah hypermart.
Sepertinya dia masih heran, dengan pilihanku menunggu di lahan parkir.
"Kenapa nggak masuk duluan?" tanyanya lagi.
"Aku nggak tahu tempatnya Mas, lagian kalau nungguin disini kan gampang nyarinya, hehe" jawabku.
Iya, hari itu, kami sama-sama memenuhi undangan untuk tes kerja di sebuah hypermart kenamaan di Surabaya. Tapi, kami berangkat sendiri-sendiri.
Jam 08.00 kami sudah siap di ruangan yang dijanjikan oleh pihak hypermart itu. Jujur, aku sedikit gugup, kondisiku sedang kurang baik saat itu.
"Itu bibir kamu kenapa?" ia kembali bertanya memecah hening.
"Oh, ini abis jatuh dari motor," jawabku sambil menunjuk luka di bibir dan sebaris gigi yang dipagar dengan kawat.
"Kapan?" lanjutnya.
"Kemarin Kamis. Jadi baru dua hari, makanya belum bisa keren kalau ngomong, hehe."
Dia tersenyum.
"Makanya Mas, aku deg-degan nih, nanti kalau jadinya aku nggak diterima atau nggak dibolehin ikut tes gimana?" keluhku.
Lagi-lagi dia tersenyum. "Udah, tenang aja, semuanya udah ada yang ngatur, dijalani aja," katanya teduh.
Lama, iya, kami menunggu cukup lama untuk masuk di ruang interview. Kadang kita saling diam. Kadang kita saling cakap. Ya, memang dia bukan orang yang banyak bicara. Dan, aku pun kurang pandai membuka pembicaraan.
Sebelum akhirnya namanya terlebih dahulu yang disebut, dia sempat bilang, "Ini kalau pertanyaannya teori semua, aku udah lupa," katanya sambil terkekeh.
"Sama Mas, apalagi kalau ada soal UUK atau psikodiagnostik yang aneh-aneh, lupa banget." Kami terkekeh, membuat beberapa kandidat lain menoleh ke arah kami.
Bayangkan, kami dua mantan mahasiswa, berijazah psikologi, yang justru males mikir psikodiagnostik. Hahaha... mahasiswa macam apa ini?!
Tak berapa lama, dia keluar, dan tibalah giliranku memasuki "ruang sidang". Jreeeengg... betapa tak dinyana, ini interview malah semacam ujian skripsi. Ada empat orang interviewer. Dengan suhu ruangan yang cukup disarankan untuk berselimut. Setelah melewati pertanyaan terprediksi, soal bibir, proses interview pun berjalan berakhir. Termasuk di dalamnya, penjelasan tentang UUK dan analisis tes gambar. Okesip. Jadi, ini sengaja diurutin sama sang kakak kelas, supaya tak ada kesempatan bertanya. -_-"
Aku keluar ruangan dengan langkah gontai. Ah, ternyata dia masih menunggu.
"Lama banget, kamu diapain aja di dalam?" tanyanya sambil senyum-senyum. "Kamu udah satu jam loh" lanjutnya.
"Nah iya kan Mas... berarti tadi aku nggak lancar tesnya, kelamaan. Ah, yaudah deh, palingan juga Mas yang diterima," cerocosku dengan mulut maju.
Dia malah cuma senyum.
Lalu kami berjalan, keluar dari gedung hypermart itu.
"Nggak usah sedih, kenapa harus menuntut sesuatu. Sudah ada yang mengatur," katanya lagi.
"Trus kalau nggak punya kerjaan gimana?"
Dia senyum.
"Tapi kita nggak boleh bergantung sama ijazah ya Mas," tiba-tiba aku mendadak agak pinteran.
Dia mengangguk.
"Tapi aku kan juga kepingin ngerasain kerja pakai ijazah Mas," kataku.
"Iya, tapi tes hari ini nggak boleh kita jadikan satu-satunya harapan."
Aku diam.
"Sebenernya passionku itu menggambar. Aku suka desain. Makanya aku di rumah coba merintis usaha konveksi, bareng temen-temen," lanjutnya.
"Trus kenapa Mas kuliah di Psikologi?" tanyaku.
"Ya waktu itu, rejekinya di situ. Psikologi juga menyenangkan kok.
"Trus kenapa Mas mau ikutan tes kerja ini?" tanyaku lagi.
"Aku kepingin menyenangkan hati orangtua. Siapa tahu, mendapat pekerjaan ini bisa bikin mereka senang," ucapnya sambil tersenyum.
"Iya ya Mas, kadang kesukaan kita belum tentu kesukaan orangtua."
Itu, terakhir kali aku bertemu dengannya. Bahkan setelah ternyata kami sama-sama tidak diterima, kami sudah jarang berkomunikasi, lewat telepon sekalipun. Ya, seperti katanya, kami sibuk berjuang dan membuka lembar-lembar harapan baru, yang tidak hanya satu.
Hingga tadi pagi, aku mendapat kabar, bahwa ia telah sampai pada akhir perjuangannya. Alloh menghendakinya untuk kembali pada-Nya. Menempatkan seorang yang baik hati dan rendah hati di sisi-Nya, di tempat terbaiknya.
Diantara teman-teman seangkatannya, dia lebih pendiam. Tapi baik hatinya, nggak pernah memihak kepada siapa-siapa. Tipikal orang yang ngemong dan nggak galak waktu ngospek... :)
Semoga segala kebaikan dan kerendahan hatinya bisa menjadi bekal untuk mendapatkan tempat terbaik.
Selamat Jalan... :)
Tuesday, July 17, 2012
Seorang Kamilun Muhtadin
Tadi pagi, sampai menjelang jam 7, saya masih asyik gegoleran di kasur sambil main twitter. Hingga saya terbangun, benar-benar terbangun tak hanya duduk. Rasa kantuk mendadak hilang setelah sekilas terbaca serentetan kalimat yang mengabarkan bahwa seorang Kamilun Muhtadin telah berpulang ke rahmatulloh, semalam.
Saya langsung menghubungi seorang teman untuk memastikan, apakah nama itu pemiliknya adalah seorang yang benar saya kenal. Dan, jawabannya adalah IYA. Saya hanya bisa mendo'akan agar segala amal dan perbuatan beliau diterima oleh Alloh SWT.
Saya mengenal sosok inspiratif ini ketika saya masih bergabung dengan Koran Pendidikan di Kota Malang. Beliau adalah seorang kepala sekolah yang kemudian menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan di Kabupaten Malang. Bukan karena jabatannya, namun pemikiran beliau tentang pendidikan sangat mengesankan. Di media tempat saya bekerja, pria yang akrab dengan sapaan Abah Kamilun ini rutin mengirimkan tulisan-tulisannya tentang pendidikan, dimana beliau membela hak-hak generasi muda untuk mendapatkan pendidikan yang layak tanpa harus terdistorsi dengan kepentingan-kepentingan para penguasa.
Jadi, setelah saya berpindah media pun, saya masih memilih beliau untuk menjadi narasumber tentang pendidikan. Waktu itu, beliau bercerita tentang kejujuran. Menekankan bahwa belajar adalah untuk kejujuran. Ya, memang percuma mematok nilai yang tinggi dalam pembelajaran, dan kemudian terabai cara-cara memperoleh nilai tersebut yang jauh dari kejujuran.
Pribadinya yang santun, low profile, realistis, dan tegas, adalah pemikat bagi saya. Saya masih ingat, saat saya datang ke rumah beliau, malam-malam, beliau sampaikan bahwa beliau sangat senang diajak berdiskusi, terutama tentang pendidikan. Abah Kamilun yang juga ketua ta'mir Masjid Jami' Kota Malang ini memesankan bahwa mengutamakan kebaikan akhlak adalah hal yang paling penting dalam pendidikan, dan setiap orang harus berani menegakkannya.
Setiap orang yang pernah menikmati pembicaraan panjang dengan beliau, insyaAlloh ingin lagi dan lagi. Beliau selalu mengatakan, "Datang saja untuk silaturahim, nanti kita bisa bercerita panjang lagi."
Meski sekarang tak selalu bisa menikmati wajah santunnya yang khas, saya berharap, segala yang pernah beliau sampaikan, dapat memberikan inspirasi bagi generasi-generasi penerusnya.
Oh iya, satu lagi yang mengesankan bagi saya, opini-opini yang dikirimkan ke redaksi, selalu berupa tulisan tangan. Khas, dan sangat lekat dalam ingat.
Selamat jalan Abah Kamilun.
Semoga para pewaris semangat Abah tak pernah lelah berjuang.
Sunday, June 17, 2012
Kejutan Impian
Hmmm..
kalau ditanya soal impian, saya suka senyum-senyum sendiri nih… soalnya langsung
menjalar-jalar kemana-mana. Mungkin karena terlalu banyak, hehehe… tapi bukan
masalah juga sih, dengan impian, rasa-rasanya justru menambah semangat yah…
Paling tidak, kita masih sadar bahwa masih ada hal-hal yang perlu kita raih. Dan,
bagaimanapun, meraih impian cukup besar sumbangsihnya kepada rasa bahagia… ya
begitulah kira-kira…
Seperti
anak-anak pada umumnya, saya memulai menyusun impian-impian saya di masa kecil.
Kadang pertanyaan, “Kalau sudah besar kamu mau jadi apa?” lumayan memainkan
imajinasi saya. Mulai dari jadi astronot, jadi menteri, penari sampai jadi
penyanyi, pernah hinggap dalam imajinasi saya.
Saya
sering menceritakan semuanya kepada kakek saya, yang kebetulan, saat itu lebih
punya banyak waktu untuk bersama saya. Beliau hanya pesankan, bahwa untuk
menggapai impian, kita harus banyak belajar dan berani mencoba.
Sampai
suatu saat saya punya impian menjadi jurnalis. Salah satu cita-cita yang
sedikit dilarang oleh kakek saya. Sepertinya beliau khawatir, karena jurnalis sering
menjadi korban teror. Kira-kira usia saya sepuluh tahun waktu itu. Saya kurang
paham dengan maksud kakek saya. Justru saya semakin penasaran, kenapa kakek
saya begitu khawatir. Padahal, menurut saya, pekerjaan itu cukup seru.
Walaupun
saya punya cita-cita lain, tapi saya tetap penasaran dengan profesi jurnalis itu. Tadinya saya ingin menjadi jurnalis perang, seperti dalam film-film yang
pernah saya tont. Tapi saya pikir-pikir, serem juga ya, mungkin itu salah satu
hal yang dimaksud bahaya oleh kakek saya. Lama-kelamaan saya beralih ingin
menjadi jurnalis olahraga. Ah, gantinya
gak nyambung banget ya… wkwkwkwkwkwk….
Ya
tapi bagaimanapun, saya tetap ingin menjadi seorang jurnalis. Titik. Dengan impian
itu, saya semakin semangat belajar menulis dan banyak membaca tentang banyak
hal. Waktu duduk di bangku SMA, saya mulai tertarik dengan hal-hal yang berbau
budaya dan isu-isu sosial. Lagi-lagi saya menemukan teman diskusi yang sangat
menyenangkan, iya, kakek saya. Alhamdulilaah. Saya bersyukur.
Hampir
setiap hari saya dan kakek saya berbincang tentang budaya dan isu-isu sosial. Saya menyebutnya sebagai ajang asah otak. Menyampaikan
rasa penasaran dan pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala saya. Dari situ,
saya merasa, saya masih harus banyak belajar dan banyak membaca tentunya.
Kemudian, saya berpikir, kalau bertanya pada
kakek saya tentu saja saya lebih berani, tapi bagaimana kalau saya harus
bertanya kepada orang-orang yang baru saya kenal, atau bahkan belum saya kenal?
Ah, jangan-jangan dia tidak peduli pada saya, atatu bahkan enggan menjawab
pertanyaan saya. Wah ternyata harus latihan wawancara juga yaa…
Sempat
beberapa kali, dalam ekstakurikuler yang saya ikuti di sekolah, saya mendapat tugas
untuk mewawancara juga. Banyak hal baru yang dapat saya temukan dan saya punya
kesempatan untuk lebih memahami orang lain serta kejadian-kejadian di sekitar
saya.
Oke,
saya semakin menyukai dunia korespondensi dan kemudian menuliskan hasil
korespondensi itu. Sepertinya pada saat itu, saya berteriak dalam hati… “Aku
ingin jadi jurnalis…………!!!” xixixixixixi… berlebihan ya? Ya, tapi itulah yang
saya rasakan. Jujur, tak banyak yang mendukung keinginan saya itu. Pastinya,
kekhawatiran yang membuntutinya.
Tapi
saya masih yakin, bahwa pekerjaan itu adalah pekerjaan yang cocok dengan jiwa
saya. Saya pasti suka melakukannya, dengan senang hati. Begitu saja.
Keyakinan
itu bertambah ketika saya duduk di bangku kuliah dan bertemu dengan teman-teman
yang memiliki faham yang sama, impian yang tak jauh beda. Saya banyak belajar
dari mereka semua, dan mulai mencari karakter dalam diri saya sendiri.
Saya
bergabung dengan komunitas penulis dan mulai belajar menjadi reporter untuk
majalah kampus, serta sebuah bulletin untuk Jurusan tempat saya belajar. Sedikit
demi sedikit saya memahami tentang teknis-teknis pembuatan sebuah berita. Mulai
dari merencanakan pemberitaan, mencari narasumber, wawancara hingga menuliskan
berita.
Sepertinya
sederhana tapi dalam prosesnya cukup banyak pelajaran yang saya dapat. Harus
tanggap, cepat, dan mental baja. Iya, pada awalnya saya cukup kaget dengan
tanggapan-tanggapan dari narasumber, termasuk juga tanggapan pembaca berita
setelah berita-berita tersebut dicetak dan disebarluaskan. Ya, semacam pro dan
kontra tentang suatu hal yang kita angkat menjadi sebuah berita.
Selama
kita mendapatkan narasumber yang tepat dan menuliskan berita sesuai dengan
faktanya, kita tetap bisa mempertanggungjawabkannya. Kalau dalam pikiran saya,
tulisan-tulisan yang saya buat adalah informasi yang saya harap dapat menjadi
masukan bagi pembaca.
Meski ternyata lebih dari sekadar
itu, saya tetap menyukai dunia korespondensi. Dengan banyak resiko yang mungkin
saya terima, saya rasa hal itu akan menjadi pelajaran berharga untuk saya, di
masa depan.
Rasa penasaran saya tentang dunia
jurnalistik tak terbayar begitu saja. Mungkin karena saya sudah terlanjur jatuh
cinta dengan dunia tersebut, sampai-sampai dalam penulisan skripsi pun saya
memilih tema untuk kaum jurnalis. Alasannya sederhana, saya ingin menulis yang
saya suka dalam dunia yang membuat saya jatuh cinta.
Saya juga bukan orang yang paling
kuat untuk bisa meraih impian saya. Di lain sisi orang-orang yang kurang
memberikan dukungan, ada juga yang dengan kukuhnya memberikan dorongan kepada
saya untuk meraih impian saya. Saya tahu, bahwa setiap perjuangan yang diridhoi
oleh Alloh akan bisa mendapatkan hasil yang baik, di saat yang tepat.
Langkah-langkah itu pun mendaratkan
saya pada sabuah tawaran menggiurkan. Dimana, seorang pemimpin redaksi sebuah
tabloid pendidikan menawarkan pekerjaan yang saya idam-idamkan kepada saya. Ya,
saya mendapat tawaran untuk menjadi jurnalis untuk sebuah tabloid pendidikan.
Subhanalloh, betapa baik Alloh kepada umat-Nya. Memberikan ijin untuk mendekat
pada hal yang dicintainya.
Saat itu skripsi saya belum selesai.
Saya harus mempercepat proses ujian agar saya bisa segera bekerja. Menjadi
jurnalis, salah satu impian saya tengah mendekat, sangat dekat dengan saya. Ayah
saya, agak keberatan saat itu. Tapi saya ingin mencoba profesi itu. Ayah saya
khawatir tentang ragam “uang suap” dan pulang malam pada saat itu. Kemudian saya
menjelaskan, bahwa sebisa mungkin saya menjauh dari hal-hal yang kurang baik,
yang ada dalam pikiran beliau saat itu. “Do’akan baik-baik saja,” kata saya
pada Ayah. Kemudian, ayah memberikan ijinnya juga kepada saya. Begitu juga
dengan ujian skripsi saya. Alhamdulillah semua beres.
Hingga pada hari yang ditentukan,
saya resmi menjadi jurnalis sebuah tabloid pendidikan. Memang bukan sebuah
media terkenal, tapi saya menyukai arah
pemberitaannya. Pada saat itu saya dipercaya untuk menulis berita-berita
pendidikan dan tentang remaja. Cukup menarik.
Ada banyak kejutan yang saya
dapatkan, sejak hari pertama. Saat itu, saya harus bisa mendapatkan dua berita
tentang pendidikan. Saya harus mencari sendirian, padahal saya pikir untuk anak
baru masih bisa tandem. Ternyata tidak… hehehehehe… Alhamdulillah semuanya lancar
dan dari hari ke hari saya menikmati pekerjaan saya, sebagai seorang jurnalis.
Seseru-serunya pekerjaan, selalu ada kejutan
yang menyenangkan dan kurang menyenangkan. Tapi sungguh, banyak pelajaran yang
saya dapatkan dari sana. Bagaimana memahami orang lain, kehati-hatian,
ketelitian, dan siap menerima wacana
baru. Intinya, bersahabatlah dengan diri sendiri untuk bisa menerima keadaan,
yang belum pernah kita duga sebelumnya.
Monday, May 21, 2012
The Oracle
Oh iya... saya baru saja mencicipi sebuah tulisan... yang... mmmmm... misterius... xixixixixixi..... Bukan serem yah, misterius maksudnya, make me curious... :P Iya, tulisan-tulisan ini, menghampar bebas di sebuah buku dengan judul "The Oracle" yang ditulis oleh Teguh Puja *tsaahh* dia dia lagi? Eh.. tapi buku yang ini lain deh... beneran... dari temanya saya lebih suka yang ini.. :D
Judulnya, memang Oracle... tapi di dalamnya ada banyak sekali pelajaran tentang kehidupan. Kita semacam diajak jalan-jalan dari negeri satu ke negeri yang lain. Menjajaki kehidupan yang satu menuju kehiupan yang lain. Tentunya, dengan segala pergolakan batin yang membuat rasa kita melompat-lompat. Sampai saat ini, karena masih sebagian dari buku ini ya... rasa penasaran lah yang menjadi top rank saat membacanya.. :D
Ya... disini diceritakan seorang Pramoedya, ah namanya begitu bersahaja... *tsaaahh* Tokoh utama yang memiliki kemampuan memahami dunia yang tak kasat mata... :D Eh tapi jangan salah... di sini diceritainnya tentang intuisi dan feeling... *eeaaa jadi ngingetin pelajaran kuliah ini.... :D
Memang sih ceritanya si Pram ini menyukai ilmu tarot. Meski sebenernya saya tak paham betul dengan ilmu per-tarot-an, tapi menurut saya, si Pram ini meramal juga berdasarkan pemikiran dari simbol-simbol yang beberapanya diterapkan di ilmu Psikologi. Mulai dari air, angka dan beberapa hal lainnya. Agak berat sih memang pembahasannya. Tapi cerita-cerita di buku ini dikemas menarik.
Dari cerita-cerita itu, kita tak melulu disuguhi tentang hasil ramalan dan semacamnya. Justru kita bisa melihat sisi lain yang... mungkin juga memiliki andil dalam menentukan kehidupan kita. Misalnya, setiap orang memiliki intusi sendiri, dan berhak memilih apa yang ia lakukan. Dan, ketika Tuhan memberikan restunya, maka itulah yang akan terjadi. Bahkan, diantara kecemasan, ketakutan dan pendapat-pendapatnya, seseorang dapat memutuskan sesuatu dengan intuisi-intuisi yang dimilikinya.
Serunya... banyak pergolakan batin yang direkam. Kemudian dipaparkan dengan lebih filosofis. Ya, memang ada beberapa cerita yang sengaja berfilsafat lebih detil. Lalu, yang membuat saya selalu tersenyum-senyum kecil, tokoh utama ini cenderung mampu "membaca" orang lain di sekitarnya. Namun, ia sendiri tak mampu mengejawantahkan apa yang tengah ada dalam batin dan pikirannya dengan mudah. Saya rasa, Pram juga memiliki kecemasan sendiri tentang... dirinya sendiri.. mungkin... :P
Dari banyak cerita yang saya dapat, seseorang yang berintuisi kuat, tentang keadaan-keadaan di sekitarnya memang memiliki rasa yang berat untuk mengatakan apa yang sebenarnya ia tahu.. ah, pikirkan tepatnya. Apalagi, untuk sesuatu hal yang kurang menyenangkan. Akan ada "penolakan-penolakan" yang diciptakan sendiri dalam dirinya. Begitu pula dengan Pram. Dan kadang, sedikit sesal menyapa, ketika ia menyaksikan apa yang ia firasatkan adalah benar, dan ia belum mengatakannya. Lalu, apakah Pram sebenarnya juga ingin membantu seseorang itu mencegah kejadian-kejadian yang kurang menyenangkan yahh?? Pasti penasaran kaann... :D
Jadi, untuk apa Tuhan memberikan kemampuan-kemapuan itu? Semoga, buku ini bisa memberikan alasan-alasannya.
Oh iya, di satu bagian buku ini, menyebut bahwa cinta dan memiliki adalah berbeda. Ditulis dengan pengibaratan, bahwa ketika kita mencintai udara, kita bisa menghirupnya dengan bebas dan kita tetap tak bisa memilikinya. Hmmm... kemudian saya bertanya dalam hati, saya membutuhkan udara, apakah itu juga cinta? Lalu, jika memiliki, apakah tak pula berarti membutuhkan...? *eeeaaaa
Ya... begitulah buku ini akan bercerita.... membuat kita memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru... Tentang perjalanan kehidupan, dengan segala kemampuan, yang Tuhan berikan... :)
Dan, saya... penasaran... :)
Judulnya, memang Oracle... tapi di dalamnya ada banyak sekali pelajaran tentang kehidupan. Kita semacam diajak jalan-jalan dari negeri satu ke negeri yang lain. Menjajaki kehidupan yang satu menuju kehiupan yang lain. Tentunya, dengan segala pergolakan batin yang membuat rasa kita melompat-lompat. Sampai saat ini, karena masih sebagian dari buku ini ya... rasa penasaran lah yang menjadi top rank saat membacanya.. :D
Ya... disini diceritakan seorang Pramoedya, ah namanya begitu bersahaja... *tsaaahh* Tokoh utama yang memiliki kemampuan memahami dunia yang tak kasat mata... :D Eh tapi jangan salah... di sini diceritainnya tentang intuisi dan feeling... *eeaaa jadi ngingetin pelajaran kuliah ini.... :D
Memang sih ceritanya si Pram ini menyukai ilmu tarot. Meski sebenernya saya tak paham betul dengan ilmu per-tarot-an, tapi menurut saya, si Pram ini meramal juga berdasarkan pemikiran dari simbol-simbol yang beberapanya diterapkan di ilmu Psikologi. Mulai dari air, angka dan beberapa hal lainnya. Agak berat sih memang pembahasannya. Tapi cerita-cerita di buku ini dikemas menarik.
Dari cerita-cerita itu, kita tak melulu disuguhi tentang hasil ramalan dan semacamnya. Justru kita bisa melihat sisi lain yang... mungkin juga memiliki andil dalam menentukan kehidupan kita. Misalnya, setiap orang memiliki intusi sendiri, dan berhak memilih apa yang ia lakukan. Dan, ketika Tuhan memberikan restunya, maka itulah yang akan terjadi. Bahkan, diantara kecemasan, ketakutan dan pendapat-pendapatnya, seseorang dapat memutuskan sesuatu dengan intuisi-intuisi yang dimilikinya.
Serunya... banyak pergolakan batin yang direkam. Kemudian dipaparkan dengan lebih filosofis. Ya, memang ada beberapa cerita yang sengaja berfilsafat lebih detil. Lalu, yang membuat saya selalu tersenyum-senyum kecil, tokoh utama ini cenderung mampu "membaca" orang lain di sekitarnya. Namun, ia sendiri tak mampu mengejawantahkan apa yang tengah ada dalam batin dan pikirannya dengan mudah. Saya rasa, Pram juga memiliki kecemasan sendiri tentang... dirinya sendiri.. mungkin... :P
Dari banyak cerita yang saya dapat, seseorang yang berintuisi kuat, tentang keadaan-keadaan di sekitarnya memang memiliki rasa yang berat untuk mengatakan apa yang sebenarnya ia tahu.. ah, pikirkan tepatnya. Apalagi, untuk sesuatu hal yang kurang menyenangkan. Akan ada "penolakan-penolakan" yang diciptakan sendiri dalam dirinya. Begitu pula dengan Pram. Dan kadang, sedikit sesal menyapa, ketika ia menyaksikan apa yang ia firasatkan adalah benar, dan ia belum mengatakannya. Lalu, apakah Pram sebenarnya juga ingin membantu seseorang itu mencegah kejadian-kejadian yang kurang menyenangkan yahh?? Pasti penasaran kaann... :D
Jadi, untuk apa Tuhan memberikan kemampuan-kemapuan itu? Semoga, buku ini bisa memberikan alasan-alasannya.
Oh iya, di satu bagian buku ini, menyebut bahwa cinta dan memiliki adalah berbeda. Ditulis dengan pengibaratan, bahwa ketika kita mencintai udara, kita bisa menghirupnya dengan bebas dan kita tetap tak bisa memilikinya. Hmmm... kemudian saya bertanya dalam hati, saya membutuhkan udara, apakah itu juga cinta? Lalu, jika memiliki, apakah tak pula berarti membutuhkan...? *eeeaaaa
Ya... begitulah buku ini akan bercerita.... membuat kita memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru... Tentang perjalanan kehidupan, dengan segala kemampuan, yang Tuhan berikan... :)
Dan, saya... penasaran... :)
Thursday, May 03, 2012
Namanya, Jingga
"Selamat datang jingga," gumamku pada suatu senja. Menyambut wajah langit yang hanya mampu kita lihat sekejap saja. Iya, senja... hanyalah kecupan yang mengantar terang pada gulita. Mungkin juga, tempat bercengkeramanya awan-awan sebelum mereka redup dan seakan lenyap ditelan gelap. Tapi, taukah kau, kecupan sesaat serupa pelukan hangat yang mampu meneduhkan setiap lusuh perasaanmu. Kau boleh buktikan.
Sesekali aku menatapnya dalam-dalam. Mencari dan menyusup ke dalam hangatnya jingga yang penuh rahasia. Selalu ada senyum semesta di sana. Mengabarkan bahwa semua akan baik-baik saja, sampai matahari kembali menyapa. Kau dengar? Di setiap pelukan jingga, ada do'a-do'a yang selalu dirapal. Entah dalam senyum, isakan, atau sejuta kelelahan. Iya, bait-bait cerita pada Penguasa Semesta yang menjadi ramuan harapan. Hingga esok, bibir mungilmu pun mampu melukis senyum kala pagi menyapa.
Senja... aku yakin kau pun pasti selalu menantinya. Mengendurkan saraf-saraf otak yang tegang seharian. Membuang penat-penat yang mencekat. Melenggang kembali pada memori yang menjanjikan pertemuan-pertemuan menyenangkan. Dari sekian banyak kemungkinan, senja disambut dengan senyuman. Lalu, makna apa yang kau semat dalam pertemuan singkat itu?
Hmm... entah kenapa, dalam pelukan jingga, selalu sayup-sayup terdengar sebuah sapa yang meneduhkan. Membuaiku dalam sederet ingatan tentang masa-masa kecil yang menyenangkan. Riuh-riuh tawa gembira memukau rasa, menghadiahkan sesimpul senyuman kepadanya. Seraut jingga dengan segala pesonanya. Serasa langist hanya berpihak padaku, memayungku dengan jingga.
Ah, alasan apa akan memalingkan aku darinya? Aku rasa tidak akan ada. Ia yang yang selalu mengajakku menari-nari menyusuri langit. Jingga, menyulut senyum-senyum kecil yang aku hadiahkan pada semesta. Atas segala cinta. Selamat senja.
Subscribe to:
Posts (Atom)














