Monday, April 04, 2011

Idealisme Itu Benar-Benar Sahabatku


Ceritanya, lagi kangen berat sama ‘dunia’ku yang sesungguhnya. Lalu selama ini apa dong ?? hehe..maksudnya, ini masalah passion. Udah lebih dari enam bulan ini aku merasa terbalut dalam pelukan impian tapi dibumbu alur yang mungkin tidak sejalan dengan maksud hati.

Yang aku tau, aku telah mendapatkan impian yang selama ini aku kejar. Alhamdulillah… dan aku menikmatinya dalam setiap detak ceritanya. Menulis dan menghayal apa saja yang bisa meghibur dan menyenangkan hati orang lain.

Tapi, ternyata aku juga merindukan sebuah kebebasan, dimana aku bisa membuat sebuah karya tanpa aturan apa-apa tapi tetap memiliki makna. Tapi, tiba-tiba aku lupa, dimana tempatnya. Ah, memang jadi terasa hampa.

Begitu tulis Amey pada sebuah note di salah satu akun jejaring sosialnya. Mungkin itu hanya salah satu contoh yang mungkin juga pernah kita alami suatu kali.

Tapi, manusia memang tak akan hidup tanpa masalah. Mungkin juga itu atas lumatan diri sendiri yang mengarahkannya pada sebuah bentuk masalah ataupun tidak. Maksudnya, diri sendiri lah yang menentukan bahwa sesuatu itu akan menjadi sebuah masalah untuk diri kita atau tidak. Hmm setidaknya begitulah pesan seorang penyejuk jiwa, kepada pendengar setianya, termasuk saia.

Oke, kita kembali pada topik awal. Dunia yang sesungguhnya. Apa sih maksudnya?

Seseorang tentunya memiliki idealisme sendiri dalam kehidupannya. Mungkin itu adalah sesuatu yang manusiawi dan dianggap sebagai suatu pedoman dalam kehidupannya. Hhmm terlalu berat ya ?! Mudahnya begini, seseorang akan memiliki pilihan sendiri dalam kehiduapannya untuk dijalani. Entah itu soal cita-cita, cinta, agama, dan bahkan dalam sebuah pilihan sederhana saja, seperti menu makanan.

Tapi, yang ingin dibahas kali ini memang tentang sebuah perjalanan cita-cita. Tentang sebuah masa depan yang mungkin saja dirangkai sejak seseorang itu belum merasakan akil balligh. Iya, sebuah impian yang mungkin saja mulai muncul ketika kita masih dibilang kanak-kanak. Bahkan, terkadang impian itu terlihat sangat konyol dan tidak masuk akal.

Hingga akhirnya, impian itu telah masuk ke dalam alam bawah sadar dan otomatis mengendalikan langkah-langkah perjalanan kehidupan. Dan, siapa sangka, impian yang tadinya konyol itu, ternyata sanggup menjadi kenyataan, meskipun agak sedikit meleset. Misalnya, ketika ingin menjadi seorang pengusaha mobil, ternyata sekarang menjadi seorang pemilik bengkel. Yaahh semoga, selanjutnya bisa punya dealer atau showroom mobil sendiri yah….hehehehehe….

Tapi bagaimana dengan sebuah kehidupan pribadi yang ternyata juga butuh ruang sendiri untuk dinikmati ? meski kita telah menelusur dalam sebuah rutinitas yang memang sudah menjadi kewajiban dan kebutuhan. Nyatanya, memang nggak gampang kan untuk bisa membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan pertemanan. Baik seseorang masih dalam status single ataupun sudah berkeluarga. Sesuatu yang privasi itu tetap dibutuhkan.

Kadang memang sesuatu yang privasi itu dekat dengan hobi atau kesenangan yang bisa membuat seseorang bisa menjadi dirinya sendiri. Misalnnya, untuk yang suka melukis, bermain bola atau hobi lainnya, akan merasa sangat merindukan kegiatan-kegiatan itu selagi sibuk dengan rutinitas pekerjaan. Bahkan, dengan menempatkan hobi sebagai pekerjaan pun tetap akan merindukan masa-masa untuk menjadi diri sendiri.

Karena, dalam pekerjaan, seseorang tak bisa mengedepankan idelaisme terus-terusan. Tetap saja juga harus mempertimbangkan kebutuhan pasar dan hal lain terkait dengan aturan-aturan yang ada. Padahal, sebuah idealisme lah yang membantu kita untuk menjadi diri sendiri.

Kekhawatiran merindukan ‘dunianya’ sendiri seakan menjadi sebuah awal dari ketidak beresan mental. Ah masa ? mungkin saja, karena dengan sebuah peran yang dimainkan, seseorang bisa saja merasa jenuh, dan ketika sampai pada titik klimaks, seseorang akan mencari ‘obat’ untuk memperbaiki semangatnya. Seperti baterei yang juga berlu di-charge. Kira-kira begitulah.

Jadi, akan lebih baik, meski dalam sebuah rutinitas yang ketat dan ‘pengekangan’ idealisme, kita tetap meluangkan waktu untuk ‘memanjakan’ diri. Ini baik untuk menambah semangat dan menemukan inspirasi baru. Kalau sudah begitu, kreativitas tidak akan mati. Rasa jenuh bukanlah suatu titik mati yang harus disesali apalagi diratapi. Itu justru menjadi alarm untuk kita, yang mengingatkan kita agar tetap memperhatikan kesehatan mental dalam menjalani rutinitas.

Alasan seseorang untuk tetap memperjuangkan hidupnya, adalah dengan bersyukur untuk sebuah alasan tentang karunia Tuhan.




thanks buat yang udah minjemin gambarnya:

http://rttmc-hubdat.web.id/rttmcnew/berita-3881.html?module=detail_berita&id=3881

http://www.livingelectro.com/search/traffic+dutch+mix/1

Saturday, February 05, 2011

Tentang Cita-Cita


“Nanti kalau aku sudah punya uang banyak, aku bakal beli itu mobil keren,” janji Rama di depan sahabatnya, Agni.
“Aku juga akan mencari peluang agar aku bisa home stay gratis di Aussie,” imbuh Agni sambil nyengir.
Sebenarnya, apa sih cita-cita itu? Bedanya sama khayalan atau impian, apa yah?
Kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online sih, begini:
cita-cita
ci.ta-ci.ta
[n] (1) keinginan (kehendak) yg selalu ada di dl pikiran: ia berusaha mencapai ~ nya untuk menjadi petani yg baik; (2) tujuan yg sempurna (yg akan dicapai atau dilaksanakan): untuk mewujudkan ~ nasional kita, kepentingan pribadi harus dikesampingkan
impian
im.pi.an
[n] (barang) yg diimpikan
; barang yg sangat di-inginkan: ~ Anda sekarang telah menjadi kenyataan
khayalan
kha.yal.an
[n] (1) yg
dikhayalkan; hasil angan-angan; fantasi; rekaan; (2) angan-angan: ia hidup dl dunia ~
Nah, udah pada baca kan. Menurut yang saya pahami.. *ngemutpulpen* dari ketiga definisi itu, bisa kita buat tangga. Tangga yang paling bawah ditempati oleh kata KHAYALAN, satu tangga di atasnya ditempati oleh kata IMPIAN, dan tangga paling atas menurut episode ini, ditempati oleh kata CITA-CITA. Truss, maksudnya apa sih?
Sekadar sharing, berarti cita-cita itu tingkatannya udah lebih tinggi daripada impian dan khayalan. Sudah lebih banyak kata kerja dalam definisinya. Mungkin itu yah sebabnya, kenapa orang-orang selalu kesulitan menjawab waktu ditanya cita-citanya. Ada yang menganggapnya sebuah rahasia, ada juga yang menganggap pertanyaan itu main-main atau sebaliknya, terlalu serius. Dan bahkan ada yang enggan menjawab karena ia benar-benar tidak tahu jawabannya. Nah lo!!
C.I.T.A C.I.T.A
Sesuatu yang terasa elegan, istimewa dan juga misterius *emangnyavampirgitu*. Tapi aku yakin, semua orang pasti memilikinya. Cita-cita itu merupakan proses setelah seseorang memiliki khayalan dan menjadikannya sebuah impian. Impian itu pun berkembang sebagai sebuah cita-cita, yaitu keinginan yang selalu ada di pikiran dan berusaha dicapai, sebuah tujuan yang sempurna.
Yapz…kadang, tiba-tiba melintas dalam pikiran kita tentang suatu keinginan yang awalnya kita anggap sebagai sesuatu yang konyol. Tak jarang juga, setelah pikiran itu melintas, kita justru bergumam, “ah tidak mungkin,” disusul dengan tawa kecil seolah menertawakan diri sendiri. Yah..biar lebih keren, sambil ngaca dehh… :D
Seiring berjalannya waktu, khayalan itu masuk ke dalam pikiran kita dan menjadi angan-anagn. Wah, bikin kita sering ngelamun deh kayaknya. Seperti orang yang tergila-gila pada jejaring sosial…mo ngapain aja pasti menyempatkan diri buat update status…haha….
Semakin serius, dan semakin memikirkan impian itu, kita mulai menyesuaikan dengan properti yang kita punya. Maksudnya, kita mulai menyesuaikan diri, antara cita-cita dengan kemampuan dan upaya kita punya. Bukannya menurunkan atau menaikkan standar sih… tapi justru menyesuaikan diri dengan peluang-peluang yang ada. Bisa dengan membuka peluang, mendekati peluang dan bahkan menciptakan peluang.
Ketika kita memiliki cita-cita sebagai seorang pengusaha misalnya, kita bakal melewati tangga-tangga untuk bisa mencapai cita-cita itu. Mungkin awalnya dengan mempelajari teori pemasaran, kuliah di jurusan tertentu, belajar berbisnis lewat sesuatu yang disukai, atau juga dengan mulai menjadi asisten pengusaha. Banyak jalan menuju cita-cita yang memang kita ingin raih.
Dan pastinya, semua itu tidak semudah membalikkan telapak tangan *pepatahklasik*. Semua harus dijalani dengan semangat dan keyakinan bahwa sesuatu yang kita inginkan adalah sesuatu yang baik. Maka itu, bercita-citalah untuk mendekati kebaikan. Berilah alasan yang baik-baik di setiap impian yang kita punya.
Oh, iya, kadang orang juga bilang, cita-cita mereka suka berubah-ubah… hmmm oya??? Coba diingat-ingat.. yang berubah-ubah itu, sesuatu yang sekadar keinginan karena lingkungan atau…. Memang khayalan yang selama ini hanya di awang-awang….dan suatu waktu bisa berubah menjadi impian dan berkembang menjadi cita-cita?
Kalau hanya keinginan yang dipengaruhi oleh kanan dan kiri, pasti kita nggak sepenuh hati meraihnya. Kita pun harus jujur dengan sesuatu yang menjadi impian kita, biar itu semua bisa menjadi cita-cita yang memang layak untuk diwujudkan….
Cita-cita akan menjadi sebuah alasan untuk tetap menjalani kehidupan dengan segala ceritanya, dan menjadi alasan untuk cinta….
Menitip syukur kepada-Nya pula….

Tuesday, January 11, 2011

Kejutan Jingga


Senja itu, ia datang padaku, berbisik, “Aku dikhitbah..”, matanya berbinar-binar. Aku memeluknya mendekap dengan senyum bahagia.

Aku masih ingat… K.H.I.T.B.A.H adalah mantra yang paling kami tunggu sejak tahun lalu.

Aku turut bahagia, kini ia bisa merengkuhnya. Yang aku tahu, aku banyak belajar darinya tentang banyak hal. Mungkin juga karena ada satu sejarah kami yang punya nada yang sama.

Iya, kami sama-sama pernah terlena. Terlena oelh cinta yang melebihi rasa kepada Yang Maha Sempurna. Hingga saat sesuatu itu tak lagi sempurna, kami merasa menjadi makhluk yang paling menderita.

Syukurlah, malaikat penolong masih mau menegur dan mengajak melewati lajur-lajur tak berlumpur.

Sekarang, ia telah membuktikan perjuangan itu, keyakinan bahwa Alloh memiliki cinta yang lebih, dan nikmat itu bisa terjadi kapan saja. Iya, kapan saja, tak perlu lama-lama.

Dia telah menemukan labuhan hatinya. Ia akan mengawali segalanya, dengan tahta “menerima” segalanya.

Aku masih merasakan dekapannya. Ia bahagia. Ia katakan, aku juga akan bisa. Aku mengangguk, percaya.

Aku membalas bisikannya, “Semoga, kita lebih sabar menerima karunia-Nya, dengan segala lebih dan kurangnya.” Iya, karena kita hanya makhluk yang tak sempurna, yang akan lebih dewasa, dengan memahami apa saja melalui cinta Yang Maha Sempurna.

Monday, November 01, 2010

Naira yang Menuliskannya

Terima kasih atas semua tulisan itu. Apa kau ingin mengatakan tentang memori itu? Ah, aku tidak tahu dan tidak yakin. Kalau saja benar kau masih mengingat semua itu, aku juga merasa senang. Aku bahagia untuk itu.


Ternyata, kau masih sama, seperti dulu. Aku mengulum senyumku sendiri. Kau memintaku untuk melakukan sesuatu, tanpa menggebu-gebu dan tak mau mengatakan bahwa itu sangat penting. Padahal, kau sangat ingin aku melakukannya. Haha..kadang aku berpikir, aku terlalu percaya diri. Tapi kau selalu bilang, aku harus bisa memahami sesuatu dengan hati. Sekarang pun aku mengerti.....


Aku juga masih ingat, saat kau bilang dan memintaku untuk berpikir positif tentang segala sesuatu. Terutama tentang dirimu. Dan sekarang, aku pun mengerti.....kau meninggalkan aku bukan karena rasa sayang itu telah meluruh...bukan juga karena kebencian telah menyatu dalam hatimu.... aku tahu, kau punya alasan untuk itu!

Aku harap, saat ini kau bisa bangun pagi sendiri....
Aku harap, kau tak pernah kehilangan kunci atau terkunci di dalam ruangan itu lagi....
Aku harap, sebuah sakit yang membuat kita merasa seperti hampir mati tak akan mampir lagi.... Jangan telat makan, sayangi tubuhmu, seperti kau juga menyayangi memori itu....
Tenanglah, aku sudah tak menangis lagi...
Nanti, jangan takut untuk menyakiti, karena hal itu akan membuatku lebih sakit...
Maaf, ternyata aku tak bisa menjadi seperti yang pernah ada dalam setiap khayalanmu...
Aku hanya bisa menemanimu hingga saat itu, di batas waktu...
Meski itu keputusanmu...

Oh iya, kau tak perlu khawatir....
Kau telah membuat semuanya tak pernah berakhir. Dengan semua yang pernah kau lakukan, lewat senyum, marah dan semua cerita lucumu. Aku suka itu. Terima kasih ya, karena kau sudah membuatku menjadi lebih baik, dalam tiga ribu hari itu. Wah...lama juga yah....


Satu lagi yang mungkin bisa aku harapkan tentang kamu. Semoga suamiku kelak, juga akan berterimakasih padamu, karena telah membantunya membuatku jadi lebih baik, sebelum menjadi miliknya. Semoga kelak, ia bisa menjadikan aku semakin baik. Dan...boleh tidak aku juga menitip salam untuk istrimu kelak. Maaf mungkin lancang, tapi aku hanya ingin bilang terima kasih padanya, karena telah membolehkan aku “meminjam“ kamu sebelum ia menjadi milikmu. Tentu saja, semua ini anugerah Yang Maha Pemberi Cinta.

Ah, rasanya surat ini sudah terlalu panjang….atau justru kurang panjang. Aku tidak tahu.
Lalu, aku harus mengirimkannya kemana?
Aku akan membungkusnya dengan amplop berwarna biru, tak lagi merah jambu.
Tapi aku masih terlalu lugu..untuk menyebutmu sebagai kekasihku yang dulu.

Naira melipat kembali kertas warna putih yang penuh tulisan terakhirnya untuk lelaki itu. Dan ia, tetap tidak tahu, harus mengirimkan surat itu ke mana. Rumput hijau yang terhampar di hadapnya hanya mampu mengangguk-angguk. Entah apa yang mereka katakan. Ia berharap hujan akan turun sore itu. Ia ingin menyambut senja dalam pelukan rinai hujan yang mungkin, akan menyapu semua lelah yang ia rasakan. Naira, hanya ingin berjalan dan menemui hari barunya.


Matanya kembali terang, melihat lelaki yang memilihnya menjadi istri bergulat di hijaunya rumput bersama putra semata wayang mereka. Naira bahagia. Itu saja.

Wednesday, October 27, 2010

Melelehkan Hati dan Rasa

Temen-temen bilang, foto yang aku pamerin di fesbuk, sangat monoton....makaaaaannn melulu... atau foto-foto aneh yang nggak penting. Wah padahal itu foto-foto selalu diambil di tempat-tempat unik yang pernah aku kunjungi loh. Maklumlah...kecintaan terhadap dunia jalan-jalan dan kuliner ala kantong kempes.. :P Maksudnya, yah gimana caranya kita tetep bisa makan dan jalan-jalan meski kantong kita lagi nggak tebel... *soalnya enggak bawa gembolan* *apa deh*

Aku sih, suka makanan yang unik-unik. Dan selalu pengen nyobain makanan yang belum pernah aku makan. Asalkan tidak mengandung DUREN!!!!! That’s my ENEMY!!!!!

Kali ini aku pengen berbagi sama kalian tentang satu menu, yang cukup unik, terutama menurut aku...hehehe.... namanya... Fruit Melted Sauce.... keren kan namanya. Sebenernya itu nama, aku karang sendiri, karena sang chef pun bingung untuk memberikan nama. Kenapa aku pilih nama itu? Yah sesuailah dengan bahan-bahan yang terdapat di dalamnya...

Okay... check it out...

Berbagai macam buah seperti melon, semangka, anggur, nanas, sampai stroberi ada dalam makanan yang punya nama Fruit Melted Sauce ini... ini bukan makanan pembuka atau penutup. Justru dimakan bersama nasi, hmm lebih cocok untuk menu makan malam deh. Buah-buahan dengan rasa manis dan asam itu lebih terasa lezatnya saat saus merah melumurinya. Sausnya sih, dibikin mirip sama kayak saus yang melumuri koloke gitu. Cuman, ini bawang-bawangannya kerasa banget, ada tomat buahnya juga. Ada rasa-rasa pedas sedikit menambah keserasian lidah yang bergoyang mengiringi lumatan-demi lumatan. Sluurrrpp ajib dah pokoknya.

Supaya lebih sedap, sang chef menambah lauk telur dadar. Jadi komplit deh rasanya, ada manis, asam, asin, pedes, nyampur jadi satu. Dan sausnya yang melted-melted itu loh bikin nggak mau berhenti ngunyah buah-buahan istimewa itu.

Hmmm cocok juga nih, buat ibu-ibu yang punya anak enggak suka buah. Tuh, ternyata buah-buah juga enak dimakan dengan nasi. Cobalah meramunya, tapi maaf, resep detilnya, nggak bisa dibagi sini..hehehehe....

Kalian bisa ketemu menu ini kalau kalian berkunjung ke sebuah kantor yang terletak di salah satu ujung Jakarta Selatan. Itu hanya menjadi salah satu menu spesial ala chef di kantor itu kayaknya.

Olreit, semoga bakal ada menu-menu unik lain yang bisa dibagi disini. *menunggu diri sendiri ngeces-ngeces lagi*








thanks to:
Mba Ana yang bikin chef ngijinin masakannya dipoto...mwihihihi...
Mas Aie yang rela jadi potograper alay...mwihihihihi....


Jadi, dalam tulisan ini, aku cuma modal lidah.. :P
ngetiknya??? *dikeplakkeyboardkarenabo'ong*

Tuesday, October 19, 2010

Tentang Temen Curhat


Tiba-tiba teringat masa SMA yang penuh cinta, canda dan tawa. Ketika memiliki teman dengan segala keunikan dan cara mengungkapkan rasa persahabatan yang banyak macamnya. Inget nggak sih, gimana cara yang kita pilih untuk menghindari guru nyebelin, ikut ekskul paling keren di sekolah, ngedeketin gebetan, sampe dapet bonus jajanan di kantin.

Dan yang juga pasti pernah dirasain, adalah meluapkan emosi yang kadang terlihat sangat labil. Belom lagi kalo peristiwa yang menyebalkan itu terjadi berulang-ulang. Ujung-ujungnya, adalah curhat ke temen dengan emosi yang meledak-ledak atau bahkan ngedatengin “musuh“ yang bersangkutan dan nantangin terang-terangan. Labil banget deh. *kebanyakan nonton sinetron*

Seperti yang pernah dirasakan penulis, di masa-masa SMA-nya, kira-kira tahun 2000-an (udah satu dekade bo‘!), juga pernah merasakan pahit getirnya menjadi remaja yang kadang terlalu labil, hehe..tapi nggak pernah ngegaplok anak orang kok....

Setiap kali lagi bosen, gemes, kesel dan pengen marah, aku sering banget mencorat-coret apappun yang ada di dekatku. Boleh kertas, meja, baju atau tangan aku sendiri. *ketauan deh sapa yang suka bikin meja-meja di sekolah kotor*



Misalnya nih, lagi sebel ato bosen sama guru yang ngajar, aku bakal nulis:
DENGARLAH SUARA HATIKU, AKU LELAH...
TAUKAH KAMU, AKU TAK SANGGUP LAGI BERSAMAMU

Nah, kalo lagi kesel ama temen:
I WILL NEVER TOUCH U AGAIN!!!
GO AWAY FROM ME

Ehem, trus kalo lagi jatuh cinta:
Aku bakal nulis puisi sehalaman penuh, dengan bahasa semiotika ala anak SMA. Trus, kalo buku itu abis dipinjem temen, bakal ada coretan-coretan laen yang mengikutinya. Seperti:
AKU SEDANG MERINDUI BINTANG MEMANG (ada tuh di kelasnya), emang bintang anak emak lo! --yang gak pake CAPSLOCK itu yang nambahin adalah temen-temen yang lain.
BILA SAJA WAKTU BISA MENGANTARKU MENEMUINYA (bisa2, tapi bayar yah), matre banget seh! --yang gak pake CAPSLOCK itu yang nambahin adalah temen-temen yang lain.
MUNGKIN HANYA LANGIT YANG MENGERTI....n bla bla bla..... berlanjutlah semua itu dari tangan yang satu ke tangan yang lainnya. --yang gak pake CAPSLOCK itu yang nambahin adalah yemen-temen yang lain.

Najis ya??? Haha... Terlalu.... *backsound lagu bang haji *halah

Gitu tuh, kelakuan yang terus berkembang dari jaman ke jaman. Dari mencorat-coret kertas bekas atau media apapun seadanya, sesuai perkembangan jaman kebiasaan itu pun mulai mengenal media-media yang lain seperti organizer atau binder. Di dalam buku kecil, imut itu, tiap hari adaaaa aja tulisan yang dipajang dan suka banget mejeng-mejeng dan dikomen sana sini... *bakat narcis* cuman, komennya secara lisan... jadi tuh, antar sesama teman, jadi tau sama tau gitu deh tentang apa yang dirasa atau dikerjain *ini mah curcol*

Beranjak ke binder, sampe masuk jaman mahasiswa, kegemaran itu juga mengalami perubahan yang cukup signifikan. Lama-kelamaan, tulisan yang mejeng di lembar-lembar loose leaf binder itu pun menjadi FORUM DISKUSI UNTUK KALANGAN SENDIRI. Mungkin, kalo dulu curhat lewat chatting pake kertas-kertas kecil, nah di jaman mahasiswa curhat ditulis dengan gaya cerpen. Trus, dituker sama temen, dan temen itu ngasih jawaban dengan tulisan berbentuk cerpen juga, atau essay, bahkan puisi. Kebiasaan itu pun berkembang dari waktu ke waktu, sampai-sampai halaman curhat lebih tebal daripada penjelasan dosen....hehehe.... *kuliah sambilan*

Dari media tulisan tangan, lama-kelamaan berkembang ke arah digital. Dimulai dari email, group, blog lalu munculnya jejaring sosial, semacam Friendster, Facebook, Twitter, Hi5, Koprol dan masih banyak lagi yang lain.

Gimana?? Kalian juga pernah mengalami hal itu kan? Yah, walaupun nggak freak, tetep pernah nyoba kan meski sedikit. Hehe..maksa banget seh... *siram air*

Nah, kalau sudah begini, artinya mengungkapkan semua yang ada dalam hati dan otak tetap menjadi suatu kebutuhan. Kalau bahasa psikologi-nya: KATARSIS. Dimana seseorang butuh untuk melampiaskan apa yang sedang dirasakan dan dipikirkan. Entah itu sesuatu yang menyenangkan, menyedihkan, ataupun menyebalkan. Semuanya, ingin tetap diungkapkan.

Kita juga sering denger, bahwa kita dikaruniai dua telinga dan satu mulut, adalah agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Ketika orang lain sedang membutuhkan waktu untuk katarsis, kita bakal lebih bijaksana kalau kita mau mendengarnya sampai dia selesai mengungkapkan semuanya. Kadang mereka tidak butuh banyak komentar, dan bahkan mereka tak butuh solusi penuh dari kita. Bisa jadi, mereka hanya ingin didengar, dimengerti, dipahami, atau juga butuh penguatan atas keputusan yang akan diambilnya.

Baiklah, mari kita coba untuk jadi temen curhat yang baik. Seperti kertas-kertas bekas, organizer, binder, blog, dan jejaring sosial lain yang menyediakan tempat katarsis. Masa iya, kita bakal mengijinkan teman-teman, sahabat dan saudara kita untuk lebih percaya kepada banyak media daripada sama kita. Hehe... media adalah tempat untuk memublikasikan sesuatu, jangan sampai sesuatu yang nggak layak kita publikasi, justru terpublikasi tanpa sengaja dan bakal merugikan.

Olreit, let’s keep our friendship with this heart…
Hanya ingin memahamimu, hingga detik tak berteman dengan waktu... *kedip-kedip*

Thursday, October 07, 2010

Terapi Jiwa yang Labil: Dari Musik Hingga Pidgin


Then, beberapa minggu kemudian, setelah menjalani terapi buku, Luna udah agak sembuh… Ia pun melanjutkannya dengan terapi music, cukup panjang juga sih perjalanannya. Hingga akhirnya dia klik banget sama lagu Tanpa Rasa punya Cokelat dan nancep banget sama referensi dari seorang teman, lagunya Dashboard Confessional yang judulnya Belle of the Boulevard itu. Yippie…. Ajib dah.

Mengubah mind set dan lebih memilih konsentrasi sama kerjaan, bikin Luna lebih baik. Meski kadang kelabilan itu suka muncul tiba-tiba. Seperti sore itu….

Gagal nonton Wall Street karena masih harus melanjutkan trip anjangsana bersama ayah dan bunda, ternyata bikin Luna kejer juga. Sampai-sampai, keesokan petangnya, dia nekat ngelayap nggak jelas ke sebuah mall pinggiran Jakarta *sejak kapan sih dia doyan nge-mall*. Setelah gempor dan kelaperan, Luna pun bingung mo makan apaan. Dia baru inget kalau dia punya gratisan french fries dari fast food yang bangunannya didominasi sama warna kuning itu :D

Antara iya dan tidak, Luna memasuki fast food idola anak-anak itu. Sapaan waitress udah nggak bisa Luna perhatiin. Dia justru bingung mo pilih menu apa, ayam?? Hmmm kan udah lama musuhan sama ayam.. :( burger?? Tapi pengen nasi. Hadeehhhh…. Dengan segala keterpaksaan Luna pilih menu nasi ayam… :(. Mbak yang dikasir pun menyebut jumlah nominal yang harus Luna bayar. Luna keluarin duit dari dompet lah…sambil nunjukin sebuah kupon gratis French fries yang dia dapet dari toko buku tempo hari. “Sama nukerin kupon ini ya, mbak” kata Luna. Lalu, mbak kasir itu memanggil seorang rekannya, “Kak, ini masih bisa gak?” Luna ngerasa aneh aja, kok nggak langsung dilayanin aja. Justru nanya ke temennya, kan itu masa berlaku masih seminggu ke depan.

Nggak berapa lama, si mbak bilang, “Maaf, Kak, ini bisa ditukarkan untuk kunjungan berikutnya aja ya. Karena harus satu stroke pemesanan sama yang tadi,”. Luna manyun dan sedikit-sedikit ngerayu. Hmmm haduh, tau nggak sih mbak, kalo nggak ada kupon gratis ini saya juga males makan disini.. :(. Dengan berat hati Luna menerima kenyataan itu. Sepintas dia kepikiran, apa mesen satu kentang lagi yah…kan bisa dapet dua jadinya. Tapi dia mengurungkan niatnya itu, dia inget kalo tadi siang, menu lunch di kantor adalah nasi+bihun+sambel goreng kentang. Masa mo makan French fries juga..bisa-bisa mukanya mirip kentang. Hmm kentang??? *jadi inget Kakak Bukhin si Kentang, hahahaha*

Luna pengen protes sama mbak kasir toko buku yang harusnya ngasi tau: MBAK INI KUPON NGELUARINNYA PAS MO MESEN YAHHHHHH. Mungkin mbaknya nggak tahu kalo manusia yang dikasi kupon itu kondisi jiwanya sedang gundah gulana dan tidak memiliki pikiran sehat yang memadai. Mwahahahaha…

Baiklahhhh…kenyang, Luna pulang ditemani rintik hujan yang kian menderas, tapi tak lagi membuatnya meringis. It’s just romantic night with the loneliness. Love it!, batin Luna.

Nyampe di kosan, Luna berniat merajut kata dengan tinta. Ia hanya ingin bercerita tentang langit yang menemaninya meski hanya gulita yang dirasa. Ia pun mulai meraba kisah yang harus mengalir dengan tinta di lembar lain untuk tetap merangkai cerita. *horeee semiotika itu kembali *Luna beranjak sembuh*

Tiba-tiba, “Luna, here we come, with something special”. Temen kos yang juga sekantor sama Luna baru datang, dan bawa oleh-oleh katanya. Hmmm kabarnya mereka bawa ayam bakar…sisa dinner yang kelebihan…bwahahahaha…ayam?? *jantung Luna berdegup tak menentu* Karena Luna lagi sibuk curhat di telepon, dia lama banget keluar kamar buat ngambil itu yang namanya ayam bakar. Arrrgghhh Luna merepotkan salah satu teman kosnya yang kemudian rela mengantarkan sepotong ayam bakar di atas piring.. *lemparin aja mbak *anak kurang ajar, dikasih, minta dianter pula *Luna nyengir.

O-ow…ini ukuran ayam bakar untuk porsi sapa yah, batin Luna. Buat Luna sih, itu ayam gede bangettttt!!!! Sumpah dah, mungkin ayam yang dimakan upin ipin juga segede ini yah…. Luna masih nggak percaya dengan ayam bakar yang dilihatnya itu. Apa?? Makan malam ayam, besok sarapan juga ayam?? Segede ini pula?? *Menatap ayam dengan pandangan nanar*

Luna berdoa, semoga keesokan harinya, mukanya nggak kayak Pidgin…. :P

Terapi Jiwa yang Labil : Buku Lucu



Semua berawal dari kelabilan jiwa beberapa waktu lalu. Dimana diri merasa gundah gulana dan pikiran melanglang buana entah kemana. Membelah bumi, menyeberang lautan dan terdampar di sebuah pinggiran hutan. *apa deh*

Sudah menjadi kebiasaan, di saat jiwa sedang dalam kondisi yang tidak menentu. Luna membabi buta untuk sembuh dari penderitaan itu. Pengen rasanya nyari pohon mawar yang tumbuh dengan rindang, dan segera melaksanakan pembunuhan terhadap diri sendiri di pohon mawar itu. Jempol doang tapinya dicocrokin ke durinya…. *apa deh*

Beruntung kedua orangtua Luna punya anak yang tahu diri. Dalam pengembaraan jiwa yang gundah gulana, ia tak berpikir pendek untuk mengakhiri kisah hidupnya. Karena yakin nggak ada yang bakal nyentuh dan menghargai setiap karyanya kalo dia melakukan perbuatan nista itu. Luna justru terjebak dalam hiruk pikuk dan kebingungannya memilih bacaan dan lagu-lagu yang dia harap mampu melenyapkan semua nestapa di hatinya. *obbie mesakh banget seh*

Ke kanan dan ke kiri, cari referensi. “Aku pengen bacaan-bacaan lucu!“ teriak pake toak. Mulai dari komik Hagemaru, Married With Brondong, My Stupid Boss sampe Cat in My My Eyes direkom oleh beberapa kawan. Malam itu juga Luna mengobrak-abrik sebuah toko buku ternama di negeri ini. Kali ini, cabang di pinggiran Jakarta lah menjadi target operasinya, ehh Depok! Tapi gak nemu semua buku yang telah direferensi. Blasss!!!

Ada aja kali dua jam, mondar mandir…sampe Luna mo nyerah aja dengan membeli buku : Padang Bulan punya Andrea Hirata. *waduh emang bisa mikir ngebaca dalam keadaan begitu*. Hingga akhirnya Luna menemukan sebuah novel komik berjudul Married with Brondong.. yihaaaah..ini buku markocol yang direferensi seorang teman yang lagi mabok Ridho Rhoma juga..huaahahaha. Tanpa basa-basi Luna menyambar buku yang tergolong aneh itu. Selanjutnya, ia berjuang mencari satu buku Fahd Djibran yang direkom juga via sms: cat eyes fadh djibran. Otomatis, computer pencari menyebut: JUDUL YANG DICARI TIDAK DITEMUKAN. Padahal harusnya yang ditulis: Cat in My My Eyes, Fahd Djibran. Belakangan Luna tahu, itu bukan buku gokil, tapi filosofis banget *nelen ludah* untung nggak jadi… *bawa sapu mo mentung yang ngerekom *ehh. Akhirnya, Luna menyambar satu buku lagi, My Stupid Boss yang menurut si Bintang itu buku gokil banget. Yahh boleh deh, sekalian reuni ke masa-masa yang kemaren dimana Luna memiliki….ahhh ga jadi curhat deh, ntar ditangkep polisi.. :D yang jelas..bos Luna yang sekarang nggak buku itu banget dah!!!

Setelah dapet buku lucu, luna pergi ke kasir untuk menuntaskan kewajibannya a.k.a MBAYAR!! ehhh mbak-mbak kasirnya membagi satu kupon gratis French fries sebuah fast food tenar yang sempat menjadi tempat makan favorit Luna just because of sundae strawberry.. :D. lumayan sih….

Baru nyampe di kamar kos, Luna udah langsung membongkar belanjaannya, halah..nggak sabar mo ngakak sampe nungging-nungging sambil pasang headset yang membagi suara JB, Tompi, sampe Lenka yang cukup menenangkan *versi Luna loh*
bersambung

Wednesday, September 29, 2010

Ngeles ke THOLE

“Hoaaammmm…”

Luna nguap dengan lebar dan sesadar-sadarnya. Dan Luna juga tahu, ini masih jam kerja, jam empat sore lewat 12 menit. Dan lagi, mungkin bukan kesempatan yang bagus untuk nyantai dan cengok sok ngelamunin sesuatu yang berat. Tapi.... entahlah ada suatu kekuatan yang mendorongnya untuk melakukan halitu, dan Luna harap bukan kelakuan tuyul di kolong meja kerjanya, yang suka banget bikin kompinya bilang UNPLUGGED serta menuntutnya nungging-nungging untuk ngecek kabel LAN! “Hei tuyul, tau nggak sih, Luna ini bego, gak usah deh kamu kerjain gituhh“ *tapi ini cuma umpatan dalam hati loh ya*

Baiklah, sadarilah bahwa Luna is not in a good condition...dan she doesn’t know what the reason. Bahkan tiga hari kemaren Luna merasakan shaking inside yang berlebihan. Dan udah berhari-hari juga, temen-temennya bilang, Luna mendadak aneh. Selaen mengurung diri dalam kamar (hmm bukannya ini hal yang wajar yah) Luna juga karaoke abal-abal sekenceng-kencengnya di dalam kamar (ini juga bawaan orok). Seeettt...pasti mbak-mbak cantik-cantik yang berada satu atap kosan sama Luna bingung nyari spesialis THT buat mencegah jebolnya gendang telinga mereka.

Mulai dari Trouble is Friend-nya Lenka sampe Never Say Never nya Dek Justin Bieber, bikin gempa lokal di kawasan pinggiran Jakarta itu. “Tobat nduk..tobat...“

Lagak-lagaknya, Luna sedang dalam masalah besar. Ia tak sadar, waktu lagi khusyu-khusyunya berdoa, tiba-tiba sekelebat terlintas sosok THOLE. Luna jadi berpikir, apakah yang selama ini menjadi sumber ketidak harmonisan jiwanya adalah kerinduannya pada THOLE. Gak bisa dipungkiri, selama ini THOLE setia banget sama Luna. Kemanapun Luna pergi, THOLE pasti amu menemaninya. Mau panas, mo ujan, mo becek mo enggak, mo deket, mo jauh. Semua dilakukan THOLE untuk Luna. Nah kali ini….Luna benar-benar terpisah dengan THOLE. Melihat saja tak bisa, apalagi untuk menyentuhnya.

Biasanya, beberapa hari sekali, mereka kencan di SPBU, dua bulan sekali, mereka kencan di bengkel. Dan dua minggu sekai deng sepenuh hati, Luna melembutkan tubuh THOLE dan mengisi air accu untuk THOLE… *lah, THOLE itu motor to* Sedangkan kini, Luna pun tak mampu mengecup THOLE tiap malamnya.

Tau nggak sih, THOLE emang nggak bisa ngomong, tapi THOLE selalu tahu apa yang sedang dipikirkan Luna. Siapa yang nonton live Luna nyanyi-nyanyi di jalan, ngumpat-ngumpat, sampe nangis-nangis di jalanan, ya THOLE. Sekarang Luna kepengen THOLE bisa menemani Luna ke suatu tempat yang bisa bikin dia klik F5 kondisi psikisnya.

Memangnya Luna kenapa sih?

Urat sarafnya putus satu kali yah….

Baiklah..dry your eyes…dry your eyes… Don't be afraid…But keep it all inside, all inside…When you fall apart… huhuhuhuuuhu… *loh kok tambah nangis* Masih ada Dek Justin yang bakal ngajak joget-joget. Cup yah.. cup...cup...




*tidak pernah menyesal memosting tulisan kurang penting ini