Wednesday, February 29, 2012

Au Revoir



Hari ini tepat delapan bulan sepuluh hari sejak aku membeli telepon pintar, Blackberry merah yang modelnya selalu aku suka. Namun tepat hari ini pula aku harus berpisah dengannya. Berpisah dengan semua kesibukan yang terikat dengan komunitas yang terbentuk darinya. 

Ah, satu nama yang terlintas. Yap, hanya melintas. Banyak teman yang menganjurkan untuk membeli saja yang baru, toh banyak yang harganya murah. Namun entah kenapa, meskipun ada bayangan seseorang itu melintas, aku tetap kukuh tak akan berganti tipe. Aku merasa itu pertanda dari Sang Pemilik Semesta untuk berhenti menyia-nyiakan waktu. Menyiakan waktu berkirim pesan, menyiakan waktu berusaha mendekat, menyiakan waktu untuk berharap. Kini aku siap, dan sangat bersemangat untuk melangkah, membeli handphone baru. Handphone yang mungkin akan menjauhkan aku darinya. Menjauhkan aku dari segala kenangan yang seharusnya sudah bisa aku jauhkan. Bisa saja orang bilang, aku terlalu berlebihan dengan segala yang aku rasakan. Ah, kalian tidak tahu saja.

Sekarang, aku akan melangkah pada sebuah dunia yang baru, yang akan memberikan aku kejutan-kejutan yang lebih menyenangkan. Semoga. 

"Nas, besok jadi gak beli handphone-nya?" Kirana mengagetkan aku. 
Benar-benar membuyarkan lamunanku. "Ah, iya, jadi deh jadi..." jawabku cepat. 
Kiranan mengernyitkan dahinya. "Hah? Kenapa pake 'deh'? Niat nggak sih kamu?". Pantaslah kalau Kirana kesal. Ini sudah kelima kalinya aku maju mundur untuk beli handphone baru.

Bukannya apa-apa sih, kadang mereka jadi kesulitan mencariku. Aku, yang baisa sewaktu-waktu menghilang. Hanya untuk menenangkan pikiran yang kadang berujung pada perasaan tak enak. Bismillaah, aku bulatkan tekadku, "Iya, jadi ga pake deh", ujarku yang kemudian membentuk seulas senyum di bibir Kirana. Sebenarnya aku sudah memutuskan handphone yang akan aku beli. Namun hanya alasan 'belum menemukan tipe hp yang akan ku beli'-lah yang paling tepat. Ku yakinkan diriku sekali lagi. Aku tidak melakukan hal ini untuk menghindarinya. Aku hanya ingin merengkuh kembali dunia nyataku. Kembali menikmati hangatnya berjabat. Kembali menikmati indahnya bercakap. Ngalor ngidul tanpa arah. Dari satu topik ke topik yang tak bersinggungan sama sekali.

Dan ternyata aku memang merindukan untaian kata yang terucap. Aku sudah muak membaca kata, menafsirkan icon yang terpajang sebagai ganti raut wajah. Raut wajah yang bahkan aku sudah lupa. Aku lupa bagaimana lawan bicaraku tertawa, menangis dan cemberut ketika aku menggodanya. Aku adalah orang yang suka sekali membaca gerak wajah. Menikmat setiap senyum dingin, pandangan sinis, dan tawa terbahak yang tak perlu ku kira-kira.

Aku siap. "Besok kita berangkat jam berapa?" tanyaku tegas. Kirana tersenyum. Indah.
"Oke deh Inas cantik, besok kita berangkat jam sembilan pagi ya... biar kamu puasss muter-muternya. Dan dapet handphone yang kamu mau," lanjut Kirana seraya mengerlingkan matanya.

***

Oke, hari ini, aku akan menemukan sesuatu yang baru, yang membawaku pada kenikmatan selanjutnya.
Aku berputar-putar dari satu toko ke toko yang lain. Ternyata tak semua toko menjual tipe handphone yang aku maksud. Mungkin karena bukan tipe terbaru, dan bukan  handphone gaul yah. Ah, tapi aku tak akan menyerah. Ini sudah menjadi keputusanku.

"Nas, kamu gak salah dengan tipe  handphone yang kamu cari?" tanya Kirana kemudian. Aku menggeleng. "Kita sudah menghampiri belasan toko, euy, dan tak satupun menyediakan tipe yang kamu mau," sambung Kirana yang mulai tampak lelah. 
"Ah, Ki, tolonglah, ini mumpung aku mau loh buru-buru ganti  handphone," rajukku. Kirana hanya mampu mengangguk lemah. Kita, lanjut berburu.

Lelah tak hanya mendera Kirana. Kakiku pun sudah mulai melemah. Kami pun duduk di salah satu kursi panjang yang tersedia di pinggir koridor pertokoan. Kirana tampak lelah dan menyeka keringat. Sedangkan aku, mataku tetap saja jelalatan untuk mencari tipe handphone yang kuinginkan. Hingga empat kali jelalatan, akhirnya mataku tertarik pada satu toko. Bukan karena telah kutemukan handphone yang ku cari, tetapi kulihat seorang lelaki, berumur 25 tahunan tampak melamun, bersedih. Entah kenapa kakiku tiba-tiba bergerak ke arahnya. Tiba-tiba aku telah duduk di depannya, dan terukir senyum manisnya. "Mau beli hp mbak? cari yang tipe apa?" ujarnya ramah.

Aku lalu menyebutkan tipe yang ku mau, tanpa berharap banyak sebenarnya. Namun mengejutkan, lelaki itu berdiri, mengambil kotak di balik etalase tak mencolok. Masih bersegel. "Ini ada mbak, sebenarnya dibeli sama orang siy." Lalu ia terdiam, lelaki itu membiarkan kalimatnya menggantung di udara.

"Wah kalau sudah di tag sama orang, saya gak berani ambil dong mas," kataku memutus kehengingan.
"Oh bukan, kisahnya panjang mbak." katanya sendu.
"Jadi boleh  handphone  ini saya beli? berapa harganya?"
Setelah kami saling bernegoisasi harga. Tak lama, karena aku juga sangat mengingingkannya, tercapailah kesepakatan harga untuk  handphone itu.
 
Kirana menepuk punggungku. "Kukira kamu kemana, sudah ketemu?"
Kirana pun duduk disebelahku. "Wah mas, hebat euy, masih ada  handphone-nya? Saya kira sudah gak ada lho. Saya sudah putus asa mengantarkan teman saya ini berkeliling cari handphone ini. Alhamdulillaah sih ketemu, tapi kok bisa masih ada Mas, udah gitu masih rapi kardusnya? Bukan second ya?"
"Ya, udah jodohnya kali Mbak. Ini saya jual juga belom lama sih, takutnya gak ada yang beli. Kemarin ada yang nanyain sih, tapi udah lewat batas waktu. Dia gak sreg. Jadi ya ini udah takdirnya kali ya Mbak, hehehehe..." eeh, mas-mas yang jualan malah becandaan.
"Iya nih Mas, mana lagi temen saya ini susahnya minta ampun mau ganti  handphone aja. Mikirnya berbulan-bulan. Kalah orang milih jodoh mah... Eee sekalinya milih... susah aja... untung-untungan bisa dapet yang dia mau," timpal Kirana, dan semena-mena membuatku melongo.
"Ih...kamu apa sih Ki...." protesku sambil mencubit lengan Kirana. Aku cuma bisa cengar-cengir. Sekarang, yang aku rasakan adalah senang, puas, dan mantap. Yaiyalah,  handphone baru sudah di tangan, dan... sesuai keinginan.
Tak berapa lama setelah kupasang sim card nomor handphone ku. Akupun berpamitan. 
"Ehmm  Handphone-nya mau langsung dipake mbak?" tanya si mas penjual sebelum aku pergi.
"Iya mas, begini saja, terimakasih," jawabku seraya tersenyu. Aku dan Kirana, melangkah, berjalan untuk pulang.

***

Sesampainya di rumah, ternyata banyak pesan yang masuk. Tak tertera nama pengirimnya, karena banyak nomor yang tersimpan di memori  handphone lama. Dan terdapat satu nomor tak dikenal di daftar panggilan tak terjawab.

Terlintas kembali dirinya. Tapi hanya melintas saja. Tak terkenangkan obrolan yang dulu hingga pagi kami ketikkan. 

Aku tersenyum, mungkin aku sudah tak terikat lagi dengannya. Juga dengan Si Merah, begitu aku biasa menyebut handphone  lamaku, yang sekarang tergeletak di pojok meja riasku. Kuusap untuk terakhir kalinya. Aku berpamitan. Teringat kata Kirana, "Kita tak pernah memiliki apapun, tak selayaknya sedih karena kehilangan" Ungkapan olehnya dan untuknya sendiri ketika kekasihnya meninggalkan dunia ini. Iya inilah perpisahanku. Akhirnya akulah yang mengakhirinya. Bukan, memang bukan mauku. Tapi aku butuh perpisahan ini. Aku harus berpisah sekarang. Berpisah tanpa rasa kehilangan. Kuucapkan selamat berpisah padanya, dalam hati. Dan aku masukkan Si Merah ke dalam laci riasku. Pada saat ini kuputuskan, aku akan kembali merengkuh nyataku. Dan tak lagi bersandar pada harap.

Semuanya aku terima, dengan ikhlas. Terima kasih masa lalu. Selamat datang, masa depanku. Tuhan yang akan memelukku dengan segala kejutan untukku.




Tulisan kolaborasi @wulanparker dan @dephiedepp

Tuesday, February 28, 2012

Miss You In The Rain



Aku memandang gerimis dari balik jendela. Gerimis yang semakin rekat. Begitu ingin aku keluar, tersentuh air hujan yang menderas, agar mampu merasakan rindumu yang menderu. Rindumu yang tak terungkap dengan kata, yang mampu aku rasa dari desah nafasmu, ketika hening menyapa, mengijinkan kita mendengar bait-bait rindu, lewat sambungan telepon. 

Ya, meskipun hanya sebatas suara, itupun sudah cukup untuk mengisi rongga dadaku dengan jutaan kehangatan. Dan kini hujan menyapaku kembali. membawa sebuah ingatan tentangmu, tentang kita... ah dan semakin ingin aku memelukmu.

Handphone ku berdering, ringtone khusus yang kuberi untuk pemanggil dari nomormu. Aku buru-buru menjawabnya, "Halo, sayang." "Beb, kamu kapan balik kesininya? Aku bulan depan ujian, ajarin bikin papernya. Aku udah stuck nih," ceritamu memburu. 

Aku tersenyum mendengarnya. "Iya, sayang minggu depan aku usahakan pulang. Jangan manyun gitu dong," rayuku, membayangkan sepasang matamu yang selalu binar, serta senyummu yang membuatku gemas. Merasa ingin selalu memanjakanmu.

***

Mengingat dirimu membuatku merasa memiliki sepasang sayap yang akan membawaku terbang bebas menjelajahi setiap tempat. Terkadang aku tersenyum ketika mengingat betapa jauh jurang perbedaan antara kita berdua, kau yang begitu perfeksionis mampu membuatku tetap menginjak bumi diantara semua relita mimpi semu dalam dunia semuku. "Adin, kamu itu memang aku banget."

Aku tersenyum menatap paper yg beberapa bulan lalu masih membuatku malas menginjakkan kakiku di tempat yang bernama kampus.

***

Ah itu dulu, sebelum aku memutuskan untuk meninggalkanmu. Kamu, yang sungguh aku cintai. Bukan aku bosan padamu, bukan aku tak mau lagi bersamamu. Aku hanya merasa tak mampu membahagiakanmu. Mendengar tangismu, aku kerap salah tingkah. Bingung. Aku ingin memelukmu, mendekapmu. Dan meminjamkan bahuku untukmu.

Maaf Aira, aku tahu kamu kecewa, sakit hati, atau bahkan benci. Tapi sungguh, jika memang ada yang sanggup membahagiakan kamu lebih daripada yang bisa aku lakukan, aku rela. Aku hanya ingin membuatmu tersenyum, tegak kembali dari rapuhmu. Seorang yang mungkin, bisa berbahagia juga dengan senyum manjamu. Ah, Aira.

Getar gemuruh mengagetkan aku, membuyarkan lamunanku. Aku tergerak membuka sebuah album foto yang pernah kau hadiahkan padaku. Ketika aku, harus memilih pekerjaanku, dan menunggumu, hingga ternyata, aku, tak mampu, Aira. Album foto itu, menyimpan penuh semua cerita kita. Iya, aku, dan kamu, dulu.

Mungkin waktu itu jiwa kita masih hijau, kita masih senang bermain dengan semua impian di warung kopi tiap malam, hal-hal gila yang pernah kita lakukan, dan terkadang membuat orang berkata "Ni orang gila kali ya..."

Dan kini semua kenangan membuat rongga dadaku penuh sesak, menggembungkan rongga kelopak mataku yg tanpa sadar ingin menumpahkan sesuatu yg lama terpendam dan sebuah belum sempat terucap untukmu hingga detik ini.

Entah bagaimana semua berawal.

Aku masih ingat ketika malam itu, dalam hujan aku melihat resahmu yang takut kemarahan mama kamu karena pulang terlambat. Kamu terbalut dingin dan bersembunyi di balik punggungku. "Kapan sih hujannya reda, kalau mama marah gimana," gumammu di balik punggungku. Aku merengkuhmu dalam pelukanku. Aku buat kamu merasa lebih tenang. Sampai hujan reda.

Kini, apa kabarmu Aira? Sipakah yang mengurai cerita di setiap malammu? Siapakah yang kini terpikat dengan semua pesonamu? Kamu, gadis manis yang sederhana. Kamu, yang selalu ingin semua orang ceria. Kamu yang selalu memihak kasih sayang atas semua di setiap sapa dan tingkah lakumu. Kamu yang selalu rela mendengar ceritaku di balik hujan, menemui rinduku di tetes air langit. Kamu, yang tak pernah berhenti menghujani aku dengan rindu. Aira, maaf, kini aku merindumu. Sangat. 

Seperti tiap tetes hujan yang turun malam ini, seperti itulah rinduku padamu, kutitipkan smua kata yang belum sempat terucap. Hujan membawa kita pada sebuah pertemuan dan hujanlah membawa kita pada suatu titik dimana kita hanya bisa terdiam dengan segala perasaan yang berkecamuk di dada kita masing-masing. Ketika takdir mengungkap bahwa segala perbedaan itu tak lagi ada artinya untuk membuat kita bersatu dalam sebuah cerita.

Entahlah, masihkah ada guna sebuah sesal yang tumpah semena-mena. Seperti mendorongku ke dalam jurang kebencian, pada diriku sendiri. Aira, kali ini mungkin aku hanya mampu berserah. Jika memang Tuhan memberikan kesempatan padaku sekali lagi, aku tak akan melepaskanmu. Aku masih merapal doa dan kalimat-kalimat pinta kepada Sang Maha Cinta, untuk bisa kembali menemuimu, memilikimu.


Aku hanya punya rasa sayang yang berlebihan untukmu, Aira sayang. Aku tahu, saat inipun, aku merasa bahagia. Sekalipun terlilit dingin di balik derasnya hujan dan gelapnya malam. Aku bahagia dengan semua yang aku punya sekarang, tapi, tak bolehkah aku membaginya denganmu? Seperti dulu.


Kulangkahkan kakiku ke halaman membiarkan tiap tetes itu membasahi tubuhku,meluruhkan tiap kenangan, rasa sayang, keangkuhan hatiku, keegoisanku. Malam ini, dalam hujan kali ini, dan diantara semua kenangan akhirnya aku bisa berkata "Aku mencintaimu...."

Aku rasakan tiap tetesan yang menyentuh tubuhku. Dingin. Semakin aku rasakan, semakin rekat air mengucur sekujur tubuhku. Aku memejam, mengingat semuanya, tentang aku dan kamu, tentang kita, Aira. Hujan yang memelukku. Aira, bolehkah aku bertanya, masihkah ada cinta untukku? Aku, ingin pulang ke hatimu. Sungguh.



Tulisan kolaborasi @wulanparker dan @FOENGAD



Monday, February 27, 2012

Surprise!


"Halo Gun, kau dimana? Cepatlah kau datang. Sudah kumpul semua ini kita," teriak Tigor dari seberang. "Oh, iya ya, ada futsal hari ini," jawab Gugun malas. Yaiyalah, Gugun baru samapi di rumah pukul dua dini hari, dan ada janji main futsal jam enam pagi. Tigor melanjutkan ocehannya, tapi Gugun tak menggubrisnya sama sekali, samapai akhirnya... "Tuuuuuuuuuut..." telepon terputus. Gugun masih meringkuk di balik selimut, dan bernyanyi dengan dengkurannya.

Itu pun Gugun masih tidur dengan pakaiannya yang semalem iya kenakan. Lengkap dengan sepatu. Tubuhnya yang tinggi semakin menjulang karena ia mengenakan sepatu yang cukup membuatnya semakin terlihat tinggi saja. Tentu saja beberapa aksesoris pun masih melekat di tubuhnya yangg lunglai dan terbaring ditempat tidur itu. 

Namun, tiba-tiba handphone bermerk 'buah-buahan' itu pun kembali berbunyi. Dengan mata masih terpejam Gugun berjuang meraih telepon pintarnya itu. 
"Bebeb, kamu gimana sik? Katanya mo nganterin aku ke salon?", rajuk Annisa, pacar Gugun dari seberang. Sontak Gugun beranjak dari tempat tidurnya. "Oh iya, nanti aku jemput kamu ya, sekarang aku mau olahraga... futsal...futsal..." rayu Gugun cengar-cengir sambil memainkan alisnya. 

Haha, Gugun tak mau ketauan masih molor, bisa-bisa perang dunia ke-tiga, ke-empat dan ke-lima terjadi dalam satu waktu. Gugun mengganti pakaiannya, ia berusaha datang ke tempat futsal. Masih ada waktu satu jam, dan masih sempat buat lanjut mengantar Annisa ke salon. 

***

"Ah, kau ini, lama benar... kita harus serius latihan sebelum pertandingan minggu depan. Tim kita ini kan belum ada tandingan..." Gugun diambut ceramah Tigor sesampainya di tempat futsal. 
Pemuda jangkung itu cuma cengar-cengir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang memang tak gatal.
"Sory..sory...gue semalem nonton bola jadi kesiangan bangunnya...yang lain mana lagi nih??" Gugun coba berikan alasan. 
"Yaudah, gue ganti baju dulu yeee.." Gugun seraya meninggalkan temannya itu. 

Tapi...betapa kagetnya ia ketika membuka tas dan tenyata isi tasnya itu ada celana leging, handuk, baju senam cewe. Ya, ternyata Gugun salah bawa tas.

"Yasalam, demi apa gue ngebawa-bawa tas adik gue," batin Gugun sambil menepok jidatnya sendiri. Masa iya dia harus mengenakan celana leging sepanjang latihan futsal? Ah, mau dipindah kemana tampang yang udah untung-untungan itu. Gugun melangkah dengan gontai, kembali pada teman-temannya.

Rico yang pertama menoleh pada keberadaan Gugun pun beranjak dari duduknya. "Nah katanya lu mau ganti baju, ah mana baju lu?" pertanyaan Rico memburu. 
Gugun menunjukkan tas yang salah ia bawa kepada teman-temannya. Mereka pun tergelak bersama. Tapi... tidak dengan Tigor. Wajahnya memerah, tangannya mengepal. Ia beranjak dari duduknya, mendekat ke arah Gugun. Dan....

Tigor menghampiri Gugun, lalu bilang "Kau ini banyak alasan, udah telat pake alesan salah bawa tas pula. Kalau emang ga mau latian yaudah ga usah gini." Wajar kalau Tigor agak keras, karena secara dia adalah kapten tim dan ia dibuat pusing dengan tingkah Gugun yang belakangan ini memang semangatnya patut dipertanyakan sedangkan turnamen sudah diambang pintu.

Gugun cuma bisa diam ditegor oleh sang kapten. Dalam hati dan dalam pikirannya sedang berputar-putar hendak memberikan jawaban apa.
"Maap deh, Bang..." cuma itu yang bisa Gugun ucapkan. 
Resikonya, Gugun harus tetap latihan meski tanpa alat tempur yang lengkap. Haha.. ya sudahlah, palingan juga keinjek. Tapi jangan sampe keinjek sama si Rico yang badannya dua kali lipat lebih lebar daripada Gugun.

Latihan pun dimulai. Tubuh Gugun yang kurus dan jangkung membuatnya mudah menggiring bola kesana kemari. ya, itulah yang membuat teman-temannya selalu memasang dia sebagai pemain utama di setiap pertandingan. Tapi sayangnya, dia parah banget, suka ngaret, dan teledor... ya seperti hari itu.

"Ric, itu Bang Tigor beneran marah ke gue kagak sih?" tanya Gugun pada Rico seusai latihan. 
Rico menyambutnya dengan gelak. "Ah, kayak lu baru kenal doi aja. Lu masih ngantuk kali..." seloroh Rico. Iya sih, Bang Tigor, memang orangnya lebih emosional daripada yang lain. Entah karena dia orang Batak, atau memang sifatnya demikian. Tapi, tanpa Bang Tigor, tim mereka juga nggak bakalan solid seperti sekarang.

Tigor memang sukses menerapkan kedisiplinan dan kerja keras ke teman-temannya. Dan jelas saja, hari ini yg kena 'pelajaran' itu adalah Gugun. Yap, Gugun terkena hukuman sepanjang latihan futsal tadi. Itulah yang membuat Gugun benar-benar mempertanyakan sikap Tigor. Sepanjang latihan futsal, Gugun dihukum untuk tetap mengenakan leging yg ia bawa. Untuk sepatu ia memang dapat pinjaman dari Tigor yg kebetulan membawa dua sepatu, tapi karna Tigor ingin memberikan efek jera kepada Gugun yang dianggapnya sudah keterlaluan maka ia memberikan hukuman.

Tubuhnya yang tinggi kurus semakin terlihat kurus saja lantaran Gugun mengenakan leging warna abu-abu yg super 'pas' dengan kakinya yg panjang itu.

"Ahhh...andai aja gue ga salah bawa tas, kaga kena malu gini gue di lapangan," batin Gugun.
"Malahan banyak cewe yang nonton," batinnya lagi.

Dan tiba-tiba saja ia teringat bahwa Annisa, pacarnya, pun akan datang menyusul nanti ke lapangan futsal dan setelah itu mereka akan pergi ke salon.

"Mau jadi apa nih gue diliat Nisa main futsal pake leging ngetat gini," pikirnya lagi-lagi.

Apa mau dikata, Gugun harus konsekuen dengan aturan. Apapun akan Gugun tanggung demi mempertahankan kekompakan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun. Mereka adalah sesama perantau yang kemudian merasa satu jiwa, lewat sepak bola. Susah dan senang selalu mereka bagi bersama.

Semua anggota tim sudah bersiap untuk pulang. Dari kejauhan tampak seorang cewe sedang berjalan ke arah lapangan. Gugun sontak kaget, ketika menyadari bahwa yang sedang berjalan adalah Annisa, pacarnya. Aaaaaakkk.... ketika Gugun hendak berlari ke tempat ganti, Rico menahannya. Spontan saja mereka semua tergelak. Annisa cuma melongo melihat sang pacar tampil beda dengan leging yang begitu seksi. 

"Bebeb... kamu?" komentar Annisa pelan disusul gelak lepasnya.
"Aaaaaa...mmmm....iniihh......mmmmm....anuuuuu..." jawab Gugun terbata-bata. Lirih suaranya hampir tak terdengar karena benaman suara tawa Nisa dan teman-teman Gugun. Mukanya merah, salah tingkah, diam, itulah yang tampak dari seorang Gugun saat itu. Orang yg selama ini dikenal cerewet, usil, dan suka menertawakan orang. 'apa ini karma buat gue? Sekarang gue diketawain banyak orang' kembali pikir positif menghujani otaknya. 

Tiba-tiba Nisa berkata..."Beb,,sebenernya tas itu tuh aku yang tukar tadi malem, sebelum aku pulang, aku pindahin isi tas Risa, adik kamu, dan Risa udah aku kasih tau. Ini tuh emang sengaja buat ngerjain kamu Beb. Ini kan hari ulang tahun kamu, kamu lupa yaa??? Selamat ulang tahun yaa sayang.. aku sengaja kerja sama dengan Bang Tigor dan teman-teman kamu yang lain juga biar nyuruh kamu pake leging itu.." Jelas Nisa sambil terus tertawa.

Gugun menatap semua temannya satu per satu secara bergantian. "Ini mimpi atau bukan?" batinnya. Gugun menampar pipinya sendiri. "Plaaak!!" "Aduuh, ternyata sakit. Berarti ini nyata. How come?" Gugun lupa dengan hari ulang tahunnya sendiri. Gugun tak sadar kalau ternyata yang terjadi padanya adalah sandiwara. Ouuuccchhh… Gugun cuma menggeleng-gelengkan kepala. Merangkul kawan-kawannya. Ah, tak ada yang lebih menyenangkan dari kebersamaan ini. Ini yang selalu ia rindukan ketika ia sebentar pulang kampung. Ini juga yang membuatnya bertahan berjuang di panasnya Batavia. 

“Kita beda Gun, tapi kita selalu jadi satu, apalagi untuk tawa, hahahahaha,” celetuk Bang Tigor dengan logat Batakya yang khas. Dan, yang lain pun, menyambut dengan tawa yang lepas dan bebas.



Tulisan kolaborasi @wulanparker dan @aku_aie

Buat Hasya


Hari ini ulang tahun anakku, Hasya. Ia genap berusia tiga tahun. Ah, memiliki Hasya adalah kebahagiaan yang tak mampu aku ganti dengan apapun. Aku mencium keningnya pagi ini. Ia masih tertidur pulas. Aku membiarkan Hasya menikmati-mimpi-mimpinya.

Sudah aku rencanakan, aku sengaja memasak sedikit berbeda dari biasanya. Aku buatkan puding buah kesukaan Hasya. Sudah lama aku tidak membuatkan untuknya. Bahan-bahan sudah aku siapkan sejak kemarin. Jadi aku tinggal mengolahnya, dan siap membuat kejutan untuk Hasya.

Aku juga sengaja memberinya hadiah spesial. Aku mengambil cuti kerja selama sehari untuk menemaninya di rumah. Aku tersenyum sendiri membayangkan bermain bersama Hasya. Kalau tidak begini, kapan lagi aku bisa membuat Hasya yakin bahwa dia juga istimewa untukku.

Ya, setiap harinya Hasya di rumah bersama Bi Surti. Aku hampir setiap hari pulang malam. Kerjaan dikantor seperti tidak ada habis-habisnya. Aku berangkat, dia belum bangun. Aku sampai di rumah, kadang Hasya sudah tertidur pulas. Tak mungkin aku membangunkannya lagi. Aku bisa mendengar tawa atau tangisnya, hanya di akhir minggu. Waktu yang sangat pendek, untukku dan Hasya bisa bertemu.

Ah, pudingnya sudah jadi, aku tak lupa memberikan stroberi, kesukaan Hasya. Iya, dia suka sekali buah stroberi. Setiap pergi ke supermarket, dia selalu minta dibelikan stroberi. Padahal, kalau sedang dapat yang asam, Hasya menggigitnya samabil meringis, dan bilang, "Asam nih Bu, stroberinya," kata Hasya, tapi ia melarangku untuk ganti memakannya. Ah, Hasya.

Aku berjalan menuju ruang makan, membawa puding, untuk aku masukkan ke dalam lemari es. Tetiba, pandangku tertumbuk pada sosok gadis mungil, yang masih mengusap-usap matanya. Aku tersenyum, dan buru-buru menyapanya, "Assalamu'alaikum Hasya, sudah bangun Nak?". Hasya sedikit terkejut, ia tersenyum, lalu menghambur ke pelukanku, "Wa'alaikumsalam Ibu.....," jawabnya manja.

Aku mengecup keningnya, lalu membisikkan ucapan di telinganya, "Selamat ulangtahun ya Hasya sayang. Semoga selalu sehat ya, Nak, dan bisa menjadi pengingat ibu untuk selalu bersyukur. Ibu sayang sama Hasya," aku eratkan dekapanku pada Hasya.

“Terima kasih ibu…” Hasya pun membalas mendekapku. 
“Uummm… Hari ini ibu nggak pergi kerja?” tanya Hasya polos. 
Aku pun menyentuh wajah polosnya sambil berbisik, “Hari ini ibu sengaja nggak kerja untuk Hasya, ibu akan mengabulkan apapun keinginan Hasya”. 
“Sungguh, ibu?” tanyanya dengan wajah berseri. 
“Iya Hasya sayang…”, jawabku sambil mencolek hidung mungilnya.

Melihat wajah sumringah Hasya membuatku semakin semangat untuk membahagiakannya hari ini. Ah, bukan hanya hari ini. Aku ingin selalu membahagiakan malaikat kecilku, tekadku dalam hati.

Aku memandikan Hasya. Setelah itu, Hasya memilih mengenakan rok merah oleh-oleh ayahnya dari Bandung minggu lalu. Ah, Hasya sudah mengerti mode, aku rasa ia pun sudah mengerti hari ini adalah hari spesial baginya. "Ibu, Hasya mau pakai bandonya juga," rajuknya sambil meringis.
Aku mengangguk, lalu melekatkan bando berwarna putih di kepalanya.

Setelah sarapan, Hasya menikmati puding buah sambil menerima telepon dari ayahnya. Ya, suamiku sedang dinas ke Surabaya. Aku bersyukur dengan segala nikmat yang Tuhan berikan kepada aku, dan keluaga kecilku. Kami, masih bisa memperhatikan Hasya di tengah kesibukan kami.

Kembali aku rengkuh Hasya dalam pelukanku. Sembari merunut tentang langkah-langkahku. Aku yang setiap hari penat dengan pekerjaan kantorku. Suamiku, yang bagus saja berada di rumah selama seminggu. Hasya lah yang membuat kami bertahan, untuk berjuang. Hasya, yang masih memerlukan masa depan. Tak sengaja, air mataku menetes. Membasah pula di kening Hasya yang masih dalam pelukku. Ia mendongak, 
"Ibu menangis," tanya Hasya dengan lugu. Aku tersenyum, menyeka air mataku, dan mengelus keningnya. "Ibu menangis karena bahagia, Nak, karena kamu," jawabku sambil memberi cubitan kecil di pipi gembilnya. 

Hasya beranjak, mengambil sepotong puding. Ia kembali ke arahku. Berhenti tepat di hadapanku. Ah, Hasya suapkan puding itu padaku. Dengan senyum cerianya, aku tahu, Hasya juga bahagia. Seperti aku.



Tulisan kolaborasi @wulanparker dan @anan1n0 

Kamu


Kamu itu candu.
Harusnya aku menyadari hal itu sejak lama.

Sehingga aku tak perlu bersusah payah merapal doa hanya untuk bisa berada di dekatmu. Lihat saja sekarang, tak bertemu beberapa jam saja rindu ini sudah membuncah, berkonspirasi meluluhlantakkan sekat penahan bernama kesabaran. Aku tahu mungkin ini terlihat berlebihan. Tapi terkadang cinta memang memiliki kelebihan untuk membuat manusia berjalan di luar emosi, diluar akal.

Hari ini tepat dua hari sejak kamu memilihku. Dua hari pula aku merasa hidup di dalam mimpi. Ini terlalu indah. Bahkan membayangkan saja aku tak pernah. Kamu, seorang tampan yang banyak dipuja-puji, memilihku menjadi kekasihmu tanpa banyak kata. Hanya dengan secarik puisi diakhiri kata ‘I Love You’ dan setangkai bunga mawar. Lalu akupun mengangguk tanpa banyak spekulasi tentang sebab-akibat.

Mungkin kau tak tahu, senyummu yang begitu tulus, mampu membuat aku merasa sempurna. Tanpa beban aku melewati semua hari yang semesta tawarkan. Seakan aku memiliki peraduan yang menenangkan setelah semua peluh mengguyur tubuh seharian penuh.

"Makanlah dulu, biar kamu selalu sehat," isi pesan singkatmu siang itu.

Ah, sederhana memang. Tapi, jantungku berderap lebih kencang. Aku tersenyum, dan sangat senang. Aku ingin membalas pesan darimu dengan menelepon. Aku ingin mendengar suara baritonmu yang begitu menggoda. Tapi aku tahu kamu tak akan mengangkatnya. Aku tahu kamu sekarang sedang bersama dia, orang yang lebih dulu kamu pilih. Orang yang telah mengikat hatimu lebih dulu sebelum berhasil menjeratku. 

Malam ini, kau meneleponku lagi. Seperti biasa, tepat di jam sepuluh malam. Aku sengaja menunggu. Membagi ceritaku denganmu. Saling membagi tawa. Hingga aku pun berani menabur harap diantara mimpi-mimpi semu itu.

Kau tau, setiap desah nafasmu mampu menyesap resah yang kadang semena-mena tumpah. Aku tak mampu mengelak, kamu yang membuatku kembali melangkah dengan tegak. Merapikan kembali hati yang pernah retak.

Ah, sepasang lengan gagahmu yang sesekali merengkuhku saat ku rapuh. Aku selalu rindu itu.

* * *

Jam menunjukkan pukul delapan pagi ketika aku duduk di taman kampus sambil membaca catatan untuk bahan UAS siang nanti. Seperti yang kamu katakana semalam, kamu ingin bertemu denganku di tempat biasa. Maka dengan sejuta gelora yang tak kenal lelah, aku memilih datang satu jam lebih awal. Untuk memastikan bahwa aku adalah orang yang menghargai waktu. Untuk memastikan bahwa aku tak akan pernah berniat mengecewakanmu.


Satu jam menanti cinta berhasil aku lewati. Satu jam yang membuatku terus-terusan memikirkanmu. Satu jam yang membuatku tak memikirkan nilai ujianku. Satu jam yang membuatku melagu kata-kata puitis.

“Hai..” sapamu sambil lalu duduk disampingku.
Aku tersenyum melihat wajah yang terukir indah disana. Wajah yang membuat gadis manapun akan bertekuk lutut bahkan pada lirikan pertama.
"Hai Arga," aku membalas sapamu dengan senyum yang telah merangkum semua rindu, yang hanya buatmu. Aku merasa aku sudah tak mampu melogika apa-apa. Apalagi ketika tatapku bertumbuk dengan teduhnya matamu. Ah, Arga, kau terlalu berharga untuk aku lupa. Jangan...jangan berkata untuk meninggalkan aku, apalagi untuk dia. Aku cemburu.

“Lagi sibuk ya?” tanyamu sambil merebut diktat yang ada di tanganku. Kau membuka-buka buku itu, hanya random membaca-baca tulisan disana. Aku mengikuti manik mata berwarna coklat muda yang mampu menghipnotis aku.

“Nggak, baca-baca aja. Kebetulan nanti ada ujian mata kuliah terakhir. Oh iya, ada apa?”

"Hmmm aku pingin ketemu kamu aja... aku kangen..." rayumu.
Aku balas dengan senyum. Mungkin kamu bisa melihat semburat rona merah di pipiku.
"Oh iya, kamu ujian apa hari ini?" tanyamu.
"Hari ini aku ada ujian statistik, doain aku bisa ya..." rajukku. 
Kaupun mengelus kepalaku dan memberiku bonus senyum simpulmu yang membuang semua angkuh.
Tapi aku melihatmu sungguh berbeda hari ini... Kamu kenapa Arga, batinku. Sebenarnya aku pun ingin bercerita tentang mimpiku semalam. Arga, aku takut...aku takut kamu pergi Arga...

"Ve, nanti siang setelah kamu ujian aku tunggu kamu disini ya. Konsen sama ujian kamu, gak usah mikirin aku terus," katamu. 
Ah, bodoh ya, aku selalu menyukai semua yang sederhana darimu. Mungkin, karena caramu, atau, memang benar aku mencintaimu. Ah, kamu.

"Kenapa nggak sekarang aja sih?" kataku, sedikit memaksa. Aku takut, aku malah tak bisa berpikir apa-apa selain kamu. Berharap soal yang keluar nanti membahas tentang kamu, yang bisa aku pastikan akan terjabar dengan begitu detail dan benar. Karena hampir setiap kamu telah melekat dimanapun. terlebih di otak.

Kamu diam.Berpikir. Raut yang terukir disana kemudian berbeda. Kamu seperti bukan orang yang selama ini aku kenal. Tak ada riang disudut matamu yang indah itu. Aku berdoa dalam hati. Bahwa mimpiku takkan menjadi nyata. Ah, kamu!

Kamu masih diam. Aku melihat ada resah yang kamu sembunyikan dari aku. 
"Arga, aku tahu kamu mau bilang sekarang. Ayolah... Aku janji, akan tetap konsentrasi," rajukku lagi.

Kamu menatapku, sangat dalam. Kamu membetulkan dudukmu. Menghadap ke arahku. Bibirmu mulai bergerak. Aku berusaha menebak apa yang kau katakan. Tapi aku tak mau. Aku memilih menunggu. Aku yakin kamu bisa merasakan detak jantungku yang memburu.

"Ve, terima kasih telah menjadi yang berharga bagiku," katamu sambil menggenggam tanganku. Tanganku yang dingin, hampir beku.
"Maksudnya?" tanyaku. Mencoba salah mengerti. Usahaku gagal untuk merunut bahwa mimpi itu takkan menjadi nyata.

Mimpi bahwa kamu memilih untuk mengakhiri hubungan yang baru bermula ini. mimpi bahwa kamu lebih memilih gadis itu daripada bersamaku.

"Maaf.." kata itu tersendat dari mulutmu. Ragu. Ada sesuatu yang menahan. Aku berharap kamu mampu mengubah keputusan. Aku yakin kamu bisa lebih bahagia bersamaku.

"Aku nggak bisa melanjutkan hubungan kita. Aku tahu dari awal keputusan ini salah. Tapi aku nggak mau berbohong kalau aku sudah cinta sama kamu sejak dulu. Tapi aku nggak mau melukai masing-masing dari kalian karena keegoisanku," jelasmu memburu. Kulihat mata coklatmu mulai berkaca-kaca.

Aku diam. Diam yang menyesakkan dada. Tak tahu bagaimana harus bersikap. Tak tahu bagaimana menjalani sisa hari yang selalu bercerita tentang kamu.

"Veri maafin aku," katamu sambil menyerahkan diktat ke tanganku. Tangan kita bersentuhan. Sentuhan yang mungkin menjadi sentuhan yang terakhir.

Aku menatap punggungmu yang semaikin menjauh dariku. Aku menarik nafas panjang, menahan agar air mata ini tak membanjir. Aku beranjak, melangkah gontai. Membiarkan semua harapan membuyar, berserakan. Ini bukan cinta yang telah lapuk. Mungkin, cinta yang pernah terbungkam dalam suatu perjalanan, yang kemudian kita sesalkan.

Arga, mungkin aku kau sakiti. Tapi, kamu tak akan menjadi yang terbenci. Arga, ketika kau butuh untuk pulang membawa keluh dan sesalmu, aku harap, pintu hatiku masih terbuka untukmu. Ya, aku yakin salah satu sekat di hatiku akan membiarkan kamu masuk suatu saat nanti. Suatu saat yang hanya akan dimiliki orang perorang seberuntung diriku. Dan seberuntung dirinya yang memilikimu.

"Drrt.. drrt..." telepon genggamku bergetar. 
Ada pesan singkat darimu. Dengan cepat aku membuka pesan itu.

Cinta akan terajut disaat yang tepat. Mungkin nanti.

Dan aku tak mampu untuk membalas. Cerita tentang kamu usai hari ini. Menyisakan luka. Menyisakan harapan yang entah kemana muaranya. Selamat jalan.



Tulisan kolaborasi @wulanparker dan @beeNFI

Saturday, February 25, 2012

Pulang



Semalaman aku berpikir tentang pesan ibu sebelum aku berangkat dengan pilihan pekerjaan yang baru. Ibu sepertinya juga lelah melihatku sering berpindah-pindah tempat kerja. Dan kali ini aku pun berharap, aku akan menjadikannya pilihan terakhir.

Walau berat, harus jauh dengan ibu, aku harap aku sanggup melewati hari-hari yang mungkin juga akan terasa lebih berat. Ya, aku sudah bertekad memilihnya, ini impianku.

Memang tidak akan menjadi mudah meninggalkan dan melepaskan segala sesuatu yang kupunya sebelumnya. Ya, aku sudah memiliki karier yang bagus, posisi yang kuat di pekerjaanku sebelumnya. Tapi satu hal yang tidak pernah kudapatkan. Dan itu adalah sebentuk ‘kepuasan’. Entah kenapa hingga hari ini aku tidak pernah sekali pun merasa puas. Aku menginginkan lebih. Aku mau segala sesuatunya sempurna.
Banyak orang yang menyangsikanku, banyak orang juga yang dengan jelas-jelas menghina dan mencaci-maki setiap keputusanku. Aku bergeming. Tak peduli dengan ucap dan laku orang-orang lain di sekitarku.

“Aku yang memutuskan apa yang terbaik untuk hidupku.” Itu yang selalu aku dengungkan setiap saat. Itu juga yang selalu menjadi kekuatanku selama ini.

Aku melirik jam di pergelangan tanganku, ah, satu jam lagi aku akan bertemu dengan klien. Mereka ingin membuat sebuah iklan untuk produk makanan bayi. Ya, ini tantangan pertama di tempat kerjaku yang baru.

“Ken, nanti sila kamu buat konsepnya, sampai iklan itu layak tayang dan sesuai dengan yang dikehendaki klien kita,” kata Pak Adam kepala divisiku. Tentu saja aku harus siap dengan tugas ini. Apalagi, klien kali ini bukan perusahaan abal-abal. Mereka sudah banyak dikenal masyarakat, dan sekarang, mereka sedang mengeluarkan produk terbaru mereka. Ah, aku harus bisa. Aku meyakinkan diriku sendiri.

“Akan saya persiapkan semuanya. Bapak jangan khawatir. Saya tidak akan mengecewakan bapak sedikit pun.”

Pak Adam mengangguk, tanda ia mempercayaiku. Aku merasa lebih tenang sekarang. Aku tahu tantangan di depanku memang bukan hal yang biasa dan mudah untuk diselesaikan. Tapi, dengan sekian dukungan yang diberikan kepadaku, aku tahu aku bisa melakukannya.

“Ken, kamu bisa kontak Wulan. Dia akan memberitahumu tentang apa saja yang akan kamu perlukan ketika bertemu klien kita nanti. Bagaimana? Kamu bisa? No kontaknya bisa kamu tanya di bagian personalia.”
Satu jam pertemuan dengan klien cukup memberiku bayangan tentang konsep apa yang akan aku tuang dalam iklan itu nantinya. Sebelum keluar ruangan, Wulan memberikan berkas dari klien.
“Ini berkasnya, bisa dilihat lebih detil tentang produk mereka,” ujarnya seraya tersenyum. “Oke, terima kasih,” jawabku mantap.

Aku punya waktu tiga minggu untuk meyelesaikan iklan itu. Pikiranku, penuh tentang iklan itu. Hingga aku pun tak sempat bertanya kabar tentang ibu.

Tidak ada yang pernah menyangka segala sesuatu yang kupunya akan terasa berbeda sekarang. Di saat segala sesuatu bisa kuraih dengan mudah. Ada hal yang tetap membuatnya tidak sempurna. Dan baru kini aku tahu bagaimana rasanya.
“Ken, aku turut berduka cita dengan kabar yang kuterima kemarin.”
“Tidak apa Wulan. Terima kasih.”
“Kamu sudah mengunjungi Ibumu? Maaf jika aku membuat kamu merasa tidak nyaman.”
“Tidak masalah Wulan. Jangan merasa terbebani dengan itu.”

Tanya Wulan membuatku sadar. Aku memang sudah kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupku. Nyatanya memang aku sudah dapatkan semua yang kumau dalam hidupku. Aku tahu, kali ini segala sesuatunya akan sempurna sesuai kehendakku. Tapi, aku tak sadar, ada seseorang yang justru menangis karena ketidak-sempurnaanku menjaganya. Aku tak pernah sadar telah begitu sering menyakitinya.
Aku meraih telepon genggamku. Aku sengaja menelepon ke rumah, Tiara, adikku yang menjawabnya.

“Tiara, bagaimana keadaan ibu? Apakah kakak boleh biacara dengan ibu sebentar saja…” pintaku.
“Ibu sedang istirahat kak, belum kuat betul, nanti aku sampaikan kalau kakak telepon,” jawab Tiara. Aku terdiam.
“Kak, kalau bisa, pulanglah, aku tahu ibu sangat merindukanmu,” lanjut Tiara. Ah, darahku mengalir cepat seketika. Aku juga rindu pada ibu. Tapi, kantor belum memberikan cuti pada karyawan baru sepertiku.
“Kamu bisa minta ijin Pak Adam, untuk menjenguk ibumu sebentar. Mungkin, beliau akan segera membaik dengan kehadiranmu Ken,” kata Wulan setelah aku menceritakan kondisi ibuku.
Wulan memegang erat tanganku. “Ibumu akan baik-baik saja. Aku yakin. Segeralah menemuinya.”
Aku mengangguk. Benar apa yang Wulan ucapkan. Aku harus segera menemui Ibu.

Pagi ini aku berangkat, aku akan pulang ke rumah, menemui ibuku. Wulan mengantarku pergi ke bandara. Ada rasa takut yang berlebihan, tentang ibu. Yah… aku sangat mengkhawtirkannya. Wulan seakan mampu membaca apa yang sedang aku pikirkan.
“Berdo’alah, agar kamu lebih tenang. Tuhan akan selalu membantumu, menjaga ibu. Berikan senyummu untuk ibu,” katanya.
Aku hanya bisa diam. Berusaha menenangkan diriku sendiri. Meyakinkan bahwa Tuhan juga akan menyempurnakan maafku, pada ibu.

Sepanjang perjalanan itu pun akhirnya aku tersadar. Betapa memang kesempurnaan bukanlah hal yang harus kukejar selalu. Dunia memang bisa aku genggam dalam kedua tanganku. Dunia memang bisa aku taklukan. Tapi aku tahu, semua itu tidak akan pernah menjadi sempurna tanpa kehadirannya. Tanpa kehadiran cinta. Cinta yang begitu tulus menguatkanku hingga menjadi seperti sekarang. Cinta ibu kepadaku.

Dalam hening, akhirnya aku angkat kedua tanganku. Aku bermunajat kepadaNya. Menyimpan sekian harap dalam balutan doa yang kuucap. “Semoga Engkau selalu melindunginya selalu. Berikan aku kesempatan untuk membahagiakannya. Berikan aku waktu  untuk membuatnya gembira. Kabulkanlah segala sesuatunya, aku memohon itu kepadamu, Tuhan.”

Tulisan Kolaborasi : Teguh Puja @teguhpuja dan Wulan Martina @wulanparker

Thursday, February 23, 2012

Langkah Nadia



Nadia berangkat sekolah dengan rasa malas yang lebih hebat daripada biasanya. Hari ini pun ada ulangan Kimia, Nadia semalaman hanya membaca novel, tak menyentuh bahan ulangan. Ya, sudah seminggu ini Nadia merasa sekolah Nadia bukan sesuatu yang menyenangkan lagi. Ini karena Nadia mendapat kabar dari papa, bahwa papa akan dipindah tugas ke Surabaya. Ah, bagaimana bisa Nadia meninggalkan Bandung yang sudah menjadi kota kecintaannya. Karena semua teman dan impian telah ia miliki di kota kelahirannya itu.

Lupakan ulangan Kimia. Pindah sekolah adalah hal yang paling rumit di seluruh jagat raya ini. Ya... setidaknya bagi anak sekolah seperti Nadia. Pindah sekolah berarti harus meninggalkan Bandung, teman, mimpi buat kuliah di ITB atau UNPAD, dan... meninggalkan Chandra, si sobat sejak sama-sama ketahuan mencuri jambu air waktu SMP dulu. Pindah sekolah juga berarti harus siap jadi anak baru, harus siap untuk ikut peraturan baru, harus siap mencari teman baru, harus siap untuk mulai membiasakan dengan suasana baru. Oh... jangan lupa... harus siap di-bully bila ada yang tak suka. Walaupun sekarang sudah kelas tiga, tapi tetap namanya anak baru pangkat senior turun jadi junior. "Apa siap aku dengan semua itu???" batin Nadia.

"Nad, kamu serius mau pindah ke Surabaya?" tanya Chandra ketika mereka sedang makan siang di kantin.

Nadia mengangguk cepat. Ia berusaha menyembunyikan kekhawatirannya di depan Chandra.

"Yaaah... siapa lagi dong yang bakal main sepeda tiap sore keliling komplek?" celetuk Chandra sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Nadia diam, menatap Chandra dengan mulut yang masih penuh dengan bakso.

"Trus, kamu udah siap jadi bahan bully-an teman-teman barumu? Haha..." Chandra seakan menggerus perasaan Nadia dengan banyolan yang bernada ejekan itu.

Uuuhh andai Chandra tahu, Nadia sedang membangun benteng supaya dia lebih kuat saat bertemu dengan teman-teman baru. Dan pastinya, ia juga harus membangun impian baru.

***
Percakapan siang itu di kantin sekolah sesaat sebelum les di sekolah benar-benar membuat Nadia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Bahkan sampai Pak Bambang memanggilnya beberapa kali pun tak dihiraukannya.

 "Nadia!" panggilan itu disertai tepukan pelan di bahunya. Nadia mendonggakkan kepala. Matanya 
berhadapan dengan mata Pak Bambang. Dirinya gelagapan. Tak sanggup ditatap oleh Pak Bambang, guru muda yang baru tiga bulan mengajar di sekolahnya.

"Eh, iya Pak. Maaf." gumamnya.

"Kalau Saya menerangkan, dengarkan. Jangan pikirin Chandra terus." sahut Pak Bambang dan beliaupun kembali ke depan kelas. Anak-anak sekelas riuh menertawakannya. Ah... bagaaimana mungkin dia sanggup meninggalkan kegilaan mereka saat kebersamaan tiga tahun ini sudah hampir selesai...

***

"Udah siap Nad?" tanya papa.

Ya, pagi ini, mereka siap berangkat ke Surabaya. Sebagian barang sudah dikirim terlebih dahulu. Sekarang, tinggal Nadia, Kak Dito, mama dan papa akan berangkat dengan pesawat.

Chandra sudah menunggu di bandara, ia memang sengaja mengantar Nadia.

"Nad, baik-baiklah di sana. Jangan bandel. Suatu hari kamu bakal bisa meraih semua impian kamu. Iya, menjadi sutradara dan atlet bulutangkis,hehehehe..." pesan Chandra disusul dengan tawanya yang khas. Ia berikan pada Nadia sebuah kotak warna ungu, sebagai kenang-kenangan buat Nadia.

"Buka nanti waktu kamu pulang dari sekolah hri pertama." kata Chandra waktu menyerahkan kotak berwarna ungu itu.

***

Masih ada dua jam sebelum sekolah hari pertama berakhir. Tapi tak tersisa sedikit pun kesadaran Nadia untuk pulang ke rumah dan membuka kado dari Chandra. Dengan malas diikutinya pelajaran terakhir hari ini. Pelajaran Fisika yang diajar oleh Bu Rani. Tuh kan... pindah sekolah benar-benar tak mengenakkan. Tak ada lagi Pak Bambang dengan senyum dan pandangan mautnya.

"Nadia..." panggil seorang cewek berambut pendek saat Nadia melangkah keluar gerbang sekolah.
"Eng... siapa itu tadi namanya? Dita? Dila? Atau Dina ya?" Nadia sibuk mengingat nama cewek yang berlari ke arahnya. "Annisa" nama yang tertera di baju sekolahnya. "Ya... Nisa." ucap Nadia dalam hati.
"Rumahmu di Jalan Rambutan kan? Aku juga. Yuk pulang sama aku aja." ajaknya.

Nadia teringat kejadian sepulang sekolah tadi saat melihat kado pemberian Chandra. Ada boneka monyet berwajah lucu di dalam kotak tersebut. Selembar kertas tersangkut di telinga boneka tersebut. "Hai... namaku Ndut. Aku anak baru disini. Mau yah jadi temanku." Teman baru. Ya, dan tadi di sekolah pun dirinya sudah mendapat teman baru. Tapi tak sama seperti temannya di Bandung. Nadia lalu memeluk erat boneka pemeberian Chandra.

***

Ini Surabaya, Nadia, dan disini adalah pertemuanmu dengan Annisa. Annisa menyemangati dirinya sendiri. Nadia mulai bersemangat menikmati hari-harinya. Awalnya hanya bersama Annisa. Dan sekarang, ia mulai memberanikan diri untuk berteman dengan yang lain.

"Nadia, kamu sudah senang sekolah disini?" tanya Annisa ketika mereka pulang bersama. 
Nadia mengangguk pelan. "Tapi Nis, aku masih suka kangen Bandung," celetuk Nadia. Lalu Nadia pun menceritakan segala kegiatannya di Bandung, yang ia rindukan. Yang jelas, Nadia ingin maen teater, seperti dulu. Nadia bosan dengan kegiatannya yang itu-itu saja.

"Aku juga gitu kok. Sampai sekarang aku juga masih kangen sama teman-temanku di Yogya. Aku nggak akan pernah ikhlas buat ninggalin Yogya." jawaban Annisa sungguh mengejutkan. "Tapi, walaupun nggak ikhlas bukan berarti aku nggak berbuat apapun disini." lanjutnya lagi. 

"Bandung itu masa lalu. Saat ini yang ada Surabaya. Besok entah dimana." Itu ucapan Annisa sebelum masuk ke rumahnya." Itu prinsip Annisa sekarang. Tapi... bagaimana denganku?" batin Nadia. Pelan-pelan ia mulai merunut hari-harinya selama disekolah yang baru.

"Nad, Sabtu ini kita jalan-jalan yuuk...kita keliling Surabaya, mumpung Papa tidak terlalau sibuk," ajak Mama sepulang Nadia dari sekolah. "Hmm asik tuuhh, kita kuliner ya Ma, kita makan bebek goreng," sambut Nadia senang. Mungkin ini sederhana, tapi Nadia berusaha menikmatinya. Semangat papa, mama, Kak Dito juga Annisa mulai menyatu dengan diri Nadia.

***

Sekarang, Nadia pun sudah berani ikut dalam komunitas-komunitas kesukaannya. Nadia hanya perlu memindahkan tempat untuk melakukan hal-hal yang ia suka. Nadia tetap bisa menyusun mimpi-mimpinya. Nadia tetap akan bisa melangkah untuk meraih impiannya. Ya, itulah Nadia, yang yakin dengan apa yang dimilikinya sekarang.

Senyum masih mengembang di wajah Nadia. Dirinya masih terbayang kejadian tadi pagi disekolah. Tadi pagi Kepala Sekolah mengumumkan nama-nama murid yang berhak mengikuti crash program, yaitu bimbingan belajar dari bimbel pilihan sekolah buat sepuluh orang murid, tiga kali seminggu dengan sistem satu murid satu pengajar, gratis. Nama Nadia masuk di urutan ke-tiga. 

"Nad ada tamu." panggilan Mama mengagetkan lamunan Nadia. Annisa tidak pernah mau masuk langsung ke kamarnya bila bertamu, ia akan duduk di ruang tamu atau teras depan sampai Nadia mengajaknya masuk ke kamar. 

"Hei... Apa kabar?" sapa tamu tersebut. Nadia bengong. Ternyata, Chandra berdiri di depan pintu.

I'll be there for you
(When the rain starts to pour)
I'll be there for you
(Like I've been there before)
I'll be there for you
('Cause you're there for me too)

Nadia hanya bisa diam, ia tersenyum. Sampai saat ini Nadia masih mengantongi semangat yang dibekalkan Chandra untuknya. Senyum dan segala kenangan yang pernah diberikan Chandra menjadi alasan untuk Nadia selalu berjuang. Memperjuangkan impiannya. Dan saat ini, Chandra benar-benar datang, iya, Chandra ada di depan matanya. Alasan apa lagi bagi Nadia, untuk tidak merasa bahagia.



Tulisan kolaborasi @wulanparker dan @putripwu

Tuesday, February 21, 2012

Tujuh Belas Tahun




Kata orang, usia remaja adalah saat-saat yang paling indah serta paling rawan dalam hidup. Kenapa? Karena pada saat itu, keingintahuan kita akan sesuatu hal begitu tinggi, kepercayaan dengan teman begitu besar, dan ingin melakukan segala sesuatu yang belum pernah kita lakukan sebelumnya.

Remaja menurutku tidak lantas juga identik dengan jatuh cinta dan patah hati seperti tayangan-tayangan FTV dan sinetron yang sering kita konsumsi sehari-hari. Huh, sebagai seorang remaja aku kesal sekali melihat itu semua. Seakan-akan dunia remaja itu hanya sebatas hura-hura dan cinta-cintaan saja. Padahal dunia kami kan cukup luas.

Oiya sebelum aku terlalu banyak mengoceh disana-sini, sebaiknya kita berkenalan dulu. Kan ada pepatah yang mengatakan bahwa, tak kenal maka tak sayang. Namaku Rere, umurku 16 tahun. Saat ini aku duduk di bangku SMA kelas 11 IPA.

Tahun ini adalah tahun yang sungguh spesial bagiku, karena dua minggu lagi aku akan genap berumur 17 tahun atau istilah kerennya sih perayaan Sweet Seventeen gitu. Usia 17 yang katanya adalah titik awal perubahan seorang remaja. Perayaan ulang tahunku kali ini akan diadakan dengan sederhana, namun cukup meriah. Pestanya diadakan di sebuah rumah makan Jepang yang cukup ehm... berkelas, dan aku mengundang teman-teman dekatku serta keluarga dari Mama dan Papa.

Pokoknya pesta perayaan Sweet Seventeen-ku kali ini tidak akan kalah dengan teman-temanku yang lain.
***

Tiga hari sebelum perayaan sweet seventeen Rere...
"Re, kamu lagi dimana?" Mama meneleponku saat aku sedang jam belajar. Terpaksa aku harus ijin dengan guruku untuk mengangkat telepon darinya.
"Aku ada di sekolah, Ma. Ada apa?" tanyaku balik. Aku mulai was-was saat mendengar nada suara Mama yang seperti orang khawatir.
"Kalo gitu, kamu bereskan tasmu dan ijin ke guru piket ya untuk pulang cepat. Mama jemput kamu di sekolah."
"Kenapa, Ma?" TUUTTTT.... Telepon dari Mama terputus begitu saja. Pandanganku langsung memburam. Ada apa ini sebenarnya?

Tak berapa lama, Mama datang ke sekolah, dan langsung meminta ijin ke guru piket supaya aku boleh untuk pulang lebih dahulu. Ada hal penting, katanya. Setelah masuk ke mobil, barulah aku tau hal penting itu. Papa kecelakaan dan saat ini dirawat di ICU.

Aku langsung tercengang. Kenapa ini harus terjadi di saat menjelang perayaan sweet seventeenku?

Mama mondar-mandir di depan ruang ICU. Aku belum pernah melihat mama sekalut ini. Aku ingin menenangkan mama, tapi aku tak tahu harus berbuat apa. Tetiba seorang perawat keluar dari ruang ICU. Mama buru-buru menghampirinya dan menanyakan keadaan papa.
"Bagaimana suami saya?" tanya mama sambil menahan isakan tangisnya.
"Kita tunggu saja Bu, sedang diusahakan agar kondisi bapak membaik," kata perawat itu lalu berlalu meninggalkan kami.

Aku menatih mama agar duduk di kursi ruang tunggu. Tubuhnya dingin, matanya sayu dan mama tak seperti biasanya. Mama duduk di sebelahku, lalu dia mendekapku.
"Ma, papa baik-baik saja kan Ma?" tanyaku terbata, aku tetap berlindung di pelukan mama. Mama mengangguk, dan mendekapku makin erat.

Aku masih ingat, papa berpamitan kepada kami, papa akan dinas ke Medan selama satu minggu. Papa memastikan sebelum acara pesta ulangtahunku, papa sudah sampai lagi di Bandung. Iya, papa sudah ada di Bandung saat ini, tapi... kenapa harus seperti ini? Aku pun tak mampu membendung air mataku sendiri. Aku memeluk mama semakin erat.

"Ma, papa pasti sembuh kan Ma..." tak kuasa aku pun meronta, mengkhawatirkan papa, yang terbaring sendirian tanpa daya.

Mobil yang mengantar papa dari Jakarta menuju Bandung bertabrakan dengan truk di tol. Papa mengalami luka dalam yang cukup serius. Papa sudah menjalani operasi tadi, dan sekarang, kami menunggunya siuman. Tuhan, ijinkan papaku selamat dan sembuh kembali. Doaku sepenuh hati.

Tetiba, handphone Mama berdering, dari resto yang akan menjadi tempat acara ulang tahunku nanti. Dari pembicaraan Mama, sepertinya mereka menanyakan kepastian tmpat yang kami pesan. Lalu aku meminta ijin pada mama untuk bicara pada pihak resto itu.

"Boleh Rere ngomong sama mereka Ma? Kita batalin aja ya Ma..." ujarku pada Mama.
"Tapi Re, kan temen-temen kamu juga udah tau semua," kilah Mama. Aku menggeleng.
"Kamu nggak papa, Re?" tanya Mama lagi.
Aku mengacungkan jempolku pada mama.
 Mama pun mengatakan pada pihak resto itu bahwa kami membatalkan acara itu.
Ya, semua, aku hanya ingin papa sembuh kembali itu saja.

Bayangan tentang kemanjaanku pada papa seketika semburat, berlarian tak bisa aku hentikan. Apa saja yang aku minta, papa pasti mengusahakannya. Papa itu sangat sayang keluarga. Aku selalu merasa nyaman kalau ada papa. Saat ini, aku ingin menjaga papa. Aku ingin papa sembuh, aku ingin melihat senyum papa.


Tulisan kolaborasi @bellazoditama dan @wulanparker


Sunday, February 19, 2012

Untuk Ibuku



“Dek, kamu gak sekolah, ini sudah siang loh. Kak Danar juga sudah berangkat…” Ibu Sari membangunkan Satrio yang belum bangun juga. Padahal ini sudah pukul setengah tujuh. Seharusnya, Satrio berangkat bersama Kak Danar.

“Iya Bu, sebentar lagi. Satrio masih capek, kelamaan main futsalnya kemarin, Kak Danar siih..” Ujar Satrio dari balik selimut. Ia mencoba mencari-cari alasan.

Ibu Sari hanya menggelengkan kepala, kemudian kembali melanjutkan menjahit pesanan kebaya. Meski begitu, ia sedang menebak-nebak kenapa Satrio mendadak malas ke sekolah. Ah, pasti ada apa-apa nih, batinnya entang putra bungsunya yang masih duduk di kelas dua SMU itu.

Telepon rumah berbunyi, “Siapa ya yang menelpon pagi – pagi begini? Apa jangan – jangan Bu Salim yang mau ambil pesanan kebaya, duh, belum selesai lagi.” gumam Ibu Sari. Maklum mereka hanya tinggal bertiga di rumah mungil itu, dan semenjak suaminya meninggal, Ibu Sari harus berjuang menjadi penanggung kebutuhan keluarga. Dan saking sibuknya mengejar orderan karena mendekati waktunya bayaran uang sekolah, Ibu Sari kelabakan meladeni pelanggan.

“Halo, selamat pagi..ohya Ibu wali kelas Satrio? Oh, Satrio punya hutang? Wah..maaf Bu saya juga nggak ngerti kok bisa begitu ya Satrio, ini ada di rumah sekarang, Bu. Nanti coba saya bicarakan Bu, terima kasih pemberitahuannya.”

Mendengar kabar bahwa anak bungsunya ternyata memiliki hutang uang buku yang cukup banyak yang telah dibayarkan oleh Ibu Sari kepadanya, membuatnya lemas sesaat dan terduduk di meja jahit. Ia tak habis pikir kenapa anaknya bisa begitu, buat apa uang sebanyak itu untuk seorang anak SMA seperti Satrio. Ia kemudian berjalan ke arah kamar Satrio sambil memegang kepalanya yang terasa agak pusing.

“Satrio, bangun Nak, hari ini ibu buatkan nasi goreng sosis kesukaan kamu,” Bu Sari duduk di tepi pembaringan Satrio, sambil mengguncang-guncang tubuh Satrio yang masih terbalut selimut.

Agak lama Satrio mengintip dari balik selimut. Ibunya masih ada di sebelahnya. Satrio pun nyengir, bergegas bangun lalu mencium pipi ibunya. Bocah SMA yang hobi sepakbola ini tetiba saja manja. Ibunya pasti bingung, sebingung Satrio menyembunyikan kegelisahannya pagi ini. Uuuh… harus gimana nih, aku harus jawab apa ya kalau ibu bertanya. Satrio bercakap dengan dirinya sendiri.

Namun ketika Satrio hendak duduk di meja makan, ia mendapati ibunya terkulai lemas di lantai dan menyenderkan tubuhnya ke pinggir kaki meja makan. “Bu, ada apa Bu? Ibu sakit?”, tanya Satrio panik.

“Nggak apa – apa kok, nak, coba bantu Ibu ke tempat tidur, mungkin hanya cape saja.” Satrio kemudian mengangkat tubuh Ibu Sari dan menggantungkan tangan kanan ibunya ke pundaknya, berdua mereka berjalan tertarih – tatih ke kamar.

“Bu, apa mau kubelikan obat saja?”
“Nggak perlu,nak, lagian kita masih banyak kebutuhan, kan lebih baik buat bayar hutangmu saja, ohya tadi wali kelasmu telpon, kamu disuruh ke sekolah hari ini. ” tanpa mempedulikan tubuhnya yang lemah, Ibu Sari meraih dompet yang ada di dalam lemari dekat tempat tidurnya, sedangkan muka Satrio tiba – tiba berubah, terkejut mendengar apa yang dikatakan ibunya.
“Ini, nak, ambillah, dan kasih ke wali kelasmu ya.”

Mata Satrio berkaca – kaca, “Bu, jangan Bu, ini salahku Bu, Ibu terlalu baik, aku pakai uang buku itu untuk ke warnet, Bu, awalnya aku cuma mau cari bahan untuk tugas sekolah, tapi lama – lama aku malah main game, maafkan aku Bu.”

Satrio menyelimuti ibunya yang telah berbaring di tempat tidur. Pikirannya lalu melayang pada hari kemarin, ketika ia entah bagaimana bisa, semena-mena terbius candu terhadap game online yang akhir-akhir ini juga menjangkit di sebagian besar teman-teman sekolahnya. Padahal, sekali waktu, Kak Danar sudah mengingatkannya agar tidak lagi bermain game online yang ternyata memang cukup menguras uang sakunya. Sampai – sampai ia memaksakan dirinya mengambil sedikit demi sedikit uang yang diberi ibunya untuk membeli buku pelajaran itu sampai habis terpakai.

“Tidak apa-apa, nak, yang penting jangan diulang lagi ya, semua orang pernah berbuat salah, mungkin ini salah Ibu juga yang kurang memperhatikan kamu beberapa minggu ini, karena sibuknya pesanan Ibu, kan sebentar lagi kamu juga perlu bayar uang sekolah.”

“Jangan, Bu, Satrio sudah berencana mau kerja part time jadi loper koran, Bu, lumayan uangnya bisa dikumpulkan sedikit demi sedikit, Bu, Satrio janji tidak akan mengganggu waktu sekolah dan waktu belajar ya Bu, uang Ibu disimpan saja.” kini Ibu Sari pun ikut meneteskan air mata melihat kedua tangan anaknya yang menyerahkan kembali uang yang sudah diberikan padanya.

“Tidak apa-apa, nak, ini memang tugas Ibu, adalah tanggung jawab Ibu demi kalian, ini adalah amanah dari Bapakmu, demi apapun Ibu akan terus berjuang untuk kalian..”

“Sst..Ibu..sudah jangan banyak bicara dulu, Ibu perlu istirahat, aku bikinkan teh manis hangat ya,” Satrio tidak tahan lagi mendengar kata – kata Ibunya yang begitu mengasihi dia, ia sangat menyesal dengan apa yang telah diperbuat. Ia tidak menyadari betapa Ibunya sudah berjuang untuk dirinya tanpa mempedulikan kesehatannya. Di pagi hari itu sambil membuatkan teh untuk Ibunya ia bertekad dalam hati, untuk selalu berjuang bagi Ibunya, sekalipun sepertinya masa depannya tidak pasti karena keadaan ekonomi mereka, namun satu hal ia percaya akan kasih Ibunya yang akan terus membuatnya bertahan.



Tulisan kolaborasi @dreamofmay dan @wulanparker