Tuesday, January 11, 2011

Kejutan Jingga


Senja itu, ia datang padaku, berbisik, “Aku dikhitbah..”, matanya berbinar-binar. Aku memeluknya mendekap dengan senyum bahagia.

Aku masih ingat… K.H.I.T.B.A.H adalah mantra yang paling kami tunggu sejak tahun lalu.

Aku turut bahagia, kini ia bisa merengkuhnya. Yang aku tahu, aku banyak belajar darinya tentang banyak hal. Mungkin juga karena ada satu sejarah kami yang punya nada yang sama.

Iya, kami sama-sama pernah terlena. Terlena oelh cinta yang melebihi rasa kepada Yang Maha Sempurna. Hingga saat sesuatu itu tak lagi sempurna, kami merasa menjadi makhluk yang paling menderita.

Syukurlah, malaikat penolong masih mau menegur dan mengajak melewati lajur-lajur tak berlumpur.

Sekarang, ia telah membuktikan perjuangan itu, keyakinan bahwa Alloh memiliki cinta yang lebih, dan nikmat itu bisa terjadi kapan saja. Iya, kapan saja, tak perlu lama-lama.

Dia telah menemukan labuhan hatinya. Ia akan mengawali segalanya, dengan tahta “menerima” segalanya.

Aku masih merasakan dekapannya. Ia bahagia. Ia katakan, aku juga akan bisa. Aku mengangguk, percaya.

Aku membalas bisikannya, “Semoga, kita lebih sabar menerima karunia-Nya, dengan segala lebih dan kurangnya.” Iya, karena kita hanya makhluk yang tak sempurna, yang akan lebih dewasa, dengan memahami apa saja melalui cinta Yang Maha Sempurna.